...SELAMAT MEMBACA...
Bibir Viscount Yesar bergetar mendapati surat dari Akademi Solis. Sambil menahan bahu yang gemetar karena tahan tawa, ia menyerahkan surat itu pada Kaisar lalu tak lama desahan kasar terdengar dari Kaisar.
“Pasti di akademi sedang berisik sejak kemarin,” komentar Kaisar.
Itu adalah laporan tentang Seana selama berada di akademi, tentang apa saja yang anaknya itu perbuat ditambah masalah baru yang dibawa gadis itu sebelum pulang. Jadi setelah surat diterima, Kaisar memanggil Seana.
Gadis kecil berambut perak dengan mata biru besar yang terlihat lugu itu menatap kaisar sambil memegang kue kering besar di kedua tangan, pipinya mengembung ketika memasukkan satu demi satu cemilan dalam mulut.
“Hah, bagaimana aku bisa memarahinya.” Kaisar membatin sambil mengusap wajah kasar.
“Kenapa kamu kemari tanpa izin pihak akademi?” tanya Kaisar.
Seana menelan kasar makanannya lalu minum secepat mungkin sebelum menjawab tanpa peduli di sudut bibirnya terdapat beberapa remahan kue kering. “Saya buru-buru.”
“Setidaknya Anda perlu menemui salah seorang guru atau mengatakannya pada teman sekamar Anda bahwa akan pulang.” Viscount Yesar ikut bersuara.
“Ah, iya, itu ... aku lupa.” Seana menunduk.
Ia memang pulang tanpa pemberitahuan lebih dulu lalu berangkat tengah malam menggunakan Hell sebagai tunggangan, tapi dalam ingatannya sudah ia tinggalkan sepucuk surat di nakas, ujungnya ditimpa vas bunga.
“Eh? Tapi aku meninggalkan sepucuk surat di kamar.” Seana menautkan alis sambil angkat kepala lagi, menatap ayahnya.
Kaisar mengembuskan napas. “Maksudmu surat ini?”
Kaisar memampangkan secarik kertas dengan tulisan super jelek, monster saja akan mengira itu adalah jimat kutukan atau sihir peledak.
Yah, itu karena aku belum terbiasa menulis huruf di dunia manusia.
Seana menggaruk pipi canggung, tidak mengira hasilnya sejelek itu.
“Ruang kamar gelap ditambah saya buru-buru jadi hasilnya sedikit jelek.” Seana beralasan sambil menatap arah lain karena saat ini baik kaisar atau viscount Yesar menatapnya tajam.
“Sedikit jelek? Bukankah jelek sekali?” komentar Viscount Yesar dalam hati.
“Pihak akademi mencarimu dan mengirim surat, mengatakan kamu kabur dari akademi dan entah pergi kemana tapi kami sudah mengirim balasan dan mengonfirmasi kepulanganmu kemari. Tapi, Seana ...,” Kaisar menatap tajam anak bungsunya, “tidak ada kapal di dermaga, jadi kamu naik apa untuk bisa sampai kemari?”
Seana tidak lagi melirik kue kering di meja.
“Naik naga.”
“Naga?”
Kaisar dan Viscount Yesar saling pandang. Memang pernah ada kabar bahwa Seana telah memiliki familiar, dan itu seekor naga. Rumor itu berseliweran di pasukan Magna, hanya saja apa itu sungguhan?
“Dimana makhluk itu?”
Seana mengerucutkan bibir lalu telunjuknya mengarah ke langit-langit ruangan. “Neraka.”
Kaisar mengusap wajah yang tampak lelah hanya karena berbincang bersama Seana. Tidak mau pusing lebih jauh, Kaisar menghela napas dan berusaha mencari pembahasan lain. Bagaimana pun masalah yang diperbuat Seana sebelum kemari tidak bisa dibandingkan dengan perbuatannya saat sampai, berkat anak itu Ronav selamat dari kematian.
“Berkatmu Ronav bisa kembali membuka mata, tapi karena itu pula kondisimu sempat dalam bahaya. Jadi jangan pikirkan apapun dan beristirahatlah selama yang kamu inginkan sebelum kembali ke akademi.”
Senyum Seana merekah, tadi ia berpikir akan mendapat hukuman berat, tapi syukurlah itu tidak terjadi. Setelahnya ia segera kembali ke paviliun tapi saat sampai sudah ada Ronav yang langsung membawanya dalam gendongan. Pria rupawan itu tersenyum begitu manis hingga membuat Seana tidak berkedip, sungguh pemandangan luarbiasa. Kalau saja ia masih berstatus ratu iblis dan tidak memiliki ikatan dengan Ronav, mungkin pria itu sudah ia culik ke dalam Diabolus. Sejujurnya, Ronav adalah tipe pria idamannya.
“Kakak terlihat makin tampan.” Seana memuji sambil menyentuh wajah Ronav dengan kedua tangan.
Ronav tertawa geli, padahal sebelumnya ia hanya mampu memasang wajah tanpa senyum dan lebih memilih memendam segala emosi tapi sekarang ia ingin lebih dekat dengan adik bungsu yang telah menyelamatkan hidupnya.
“Ini semua berkat Seana,” ucapnya diselingi tawa melihat Seana benar-benar menunjukkan kekaguman pada wajah tampannya.
“Oh, ya, Kak.”
“Ada apa?”
“Katanya kakak melawan seorang iblis, seperti apa wujud iblis itu?”
“Dia hanya gadis muda berkulit merah muda dan memiliki tempramen buruk.”
“Kakak hampir mati saat melawannya, tapi apakah dia juga dalam kondisi buruk?”
Ronav diam sejenak. “Tidak. Hanya saja aku berhasil memotong tangannya dengan pedang suci.”
“Ah, kasihan sekali Grisa.” Seana menggeleng sambil membatin.
“Lagi pula kenapa kakak pergi ke tempat berbahaya seperti itu?” Seana tidak peduli jika pertanyaannya seperti mengintrogasi, ia ingin tahu lebih banyak tentang itu.
Ronav mengamati adiknya, berpikir Seana begitu mengkhawatirkannya. Menceritakan hal buruk mengenai utusan yang kembali dalam kondisi mengenaskan tidaklah baik bagi anak seusia Seana jadi Ronav hanya menunjukkan senyum sambil membawa Seana masuk, memperlihatkan beragam makanan manis di kamar gadis kecil itu.
“Lebih baik kamu fokus menghabiskan kue-kue itu.” Ronav mengulum senyum sementara Seana bersorak riang, akhirnya dia akan membahagiakan perutnya.
...***...
Ah. Tidak, apa yang telah kulakukan padamu, Kakak!
Air mata Algrus tumpah dengan deras tanpa henti setelah menyadari bahwa tubuh kakak angkatnya tidak menunjukkan kondisi tidur abadi melainkan meninggal. Tidak ada jiwa yang tersegel dalam raga itu padahal ia yakin rencana menidurkan Femina untuk waktu lama sudah seratus persen berhasil.
Kedua tangannya gemetar saat hendak menyentuh wajah Femina dalam peti, wajah itu semakin pucat dan dingin, akan rusak jika tidak ada jiwa di dalamnya. Tanpa berlama-lama dengan kesedihan, ia segera berkelebat memasuki ruang terlarang dimana dalamnya terdapat sebuah buku kuno dengan energi jahat.
“Bagaimana pun aku harus mengembalikan jiwanya!”
Algrus memandang serius buku tersebut sebelum membuka halaman dimana terdapat cara mengembalikan jiwa dari alam kematian ke dalam kehidupan.
Sementara itu, di waktu bersamaan Seana berada dalam kamar yang hanya diterangi satu buah lentera sambil duduk di lantai memperhatikan kelabang beracun yang ternyata disimpan oleh Frena.
“Frena memang sangat hebat, untung saja aku tidak membunuhnya waktu itu dan hanya membuat pelipisnya sobek.”
Senyum Seana merekah, berpikir harus dia apakan serangga beracun dalam botol kecil itu karena sepertinya serangga beracun di depan matanya saat ini adalah serangga beracun terkuat milik Grisa. Seana yakin karena terlalu terdesak gadis iblis itu terpaksa mengeluarkan serangga beracun terbaik.
“Kamu tampak berbeda dengan serangga Grisa lainnya, hm... haruskah kujadikan kamu peliharaan?” tanya Seana.
Seolah paham apa yang dikatakan gadis bermata biru depannya, serangga itu menggeliat antusias lalu terdiam memandangi Seana dari dalam botol.
“Ah, aku punya ide.” Senyum Seana merekah.
Sungguh, Eleos yakin bahwa sekarang jam 11 malam tapi Seana mengajaknya ke sebuah daerah rawan monster sambil menunggangi seekor naga, Eleos ulangi lagi, seekor Naga!
“Wah, lihatlah, Eleos! Ini ladang monster!”
Seana merentangkan tangan ketika Hell menurunkannya tepat di tengah-tengah pertikaian segerombol orc dan kera iblis.
Mana negatif terasa begitu pekat dan Seana memejamkan mata demi menikmatinya karena malam ini ia akan memiliki banyak sumber daya untuk meningkatkan kekuatan kegelapannya dan tentu memberi makan peliharaan barunya.
“N-nona, sepertinya sekarang mereka mulai bekerja sama untuk menyerang kita.” Eleos menelan ludah saat dua jenis monster menatap marah ke Seana.
Seana mengibaskan tangan lalu mengeluarkan serangga beracun dari dalam botol setelah itu ia sendiri mengeluarkan belati pemberian Zielda sambil menyeringai.
“Ini mudah, Eleos.”
Aura intimidasi ratu iblis dilepaskan hingga dalam beberapa detik monster sulit bergerak, kaki mereka seolah ditindih beban lalu dalam sekedip hal itu Seana manfaatkan untuk menerjang para monster, menancapkan belati tepat di dada kiri tiap monster. Di sisi lain, serangga beracun berhasil melumpuhkan beberapa monster, tidak mau kalah oleh serangga, Eleos pun ikut menyerang.
Tepat ketika aura intimidasi habis, para monster menyerang secara babi buta tapi kawanan mereka sudah tewas terlalu banyak jadi mudah bagi Seana maupun Eleos menghabisi sisanya.
Senyum Seana terulas amat lebar melihat Eleos berdiri tegap dengan pakaian berlumur darah, dada pemuda itu kembang kempis karena cukup kelelahan namun Seana bisa lihat kalau energi yang terpancar dari kesatrianya kian meningkat ditambah sorot mata itu mengatakan bahwa ia baru mulai serius.
“Yang benar saja, dia lebih kuat dari dugaanku, fufufu. Hanya butuh beberapa tahun lagi, kuyakin Eleos bisa menandingi salah satu Pilar Penjaga Diabolus." Seana membatin riang.
Eleos sendiri terkejut setelah menyeka keringat di pelipis dan mendapati nona kecil itu menatapnya dengan kekehan diiringi ekspresi mengerikan, seolah sekarang dirinya akan menjadi sasaran selanjutnya.
"Yah, anggap saja aku tidak melihatnya." Eleos memalingkan wajah ke sembarang arah sambil mengusap tengkuk yang mendadak jadi merinding.
...BERSAMBUNG ......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Ifarim
plis ngakak bnget😭
2024-02-06
2
Nani Kurniasih
ada notifikasi langsung meluncur baca
2024-01-10
0