...SELAMAT MEMBACA...
Satu kasur kayu kecil, nakas dua laci, lemari juga kamar mandi dalam ruang. Seana angguk-angguk kepala melihat kamar asramanya kemudian mulai membereskan barang setelahnya seorang kakak tingkat datang dan memberikannya seragam baru yang akan dikenakan selama di akademi.
“Akhirnya aku bisa beristirahat.”
Seana langsung melempar tubuh ke ranjang kayu, memandang langit-langit kamar sembari tersenyum kecil. Dia yang ratu iblis kini menikmati kehidupan sebagai manusia, menurutnya sedikit menyenangkan ketimbang di Diabolus dengan berdiam diri sambil mengecam tindakan-tindakan bawahan yang hendak menebar kekacauan. Seana senang makan-makanan manusia, banyak makanan mengandung gula, daging pun diolah dengan beragam cara sehingga melahirkan cita rasa yang luar biasa sementara di Diabolus hanya ada daging monster yang diolah begitu-begitu saja, kediaman pun di dominasi warna gelap selain itu penghuninya lebih banyak diam, terlalu kaku dan formal.
“Kamu ada di dalam Seana Salvatrice?”
Seana mendengus dan membuka pintu, mendapati Damiez berdiri disana. “Saya disini.”
“Kalau begitu ikuti aku, kamu perlu mengetahui beberapa hal sambil melihat-lihat akademi.”
Seana berusaha menahan rasa kesalnya. Seharian ini dia belum istirahat dan masih ada kegiatan lain? Walau begitu, Seana mengikuti Damiez, mendengar apa yang dikatakan untuknya.
“Kami membagi sembilan tingkatan dalam akademi. Kamu berada di tingkat sembilan yang berarti tingkat terendah. Kamu ...,” Damiez melirik Seana lalu melanjutkan, “... Kadet tingkat sembilan, Seana Salvatice.”
“Bagaimana caranya untuk naik tingkat?” tanya Seana.
“Ada dua cara, pertama kamu kalahkan mereka yang berada di tingkat lebih tinggi atau yang kedua menyelesaikan tiga misi selama berada di tingkat ini.”
“Keuntungan jika berada di tingkat lebih tinggi?” Seana mulai bersemangat dengan sistem akademi dunia manusia.
“Kamu memiliki pelayanan fasilitas lebih baik, seperti asrama, menu makanan, liburan, juga berkesempatan lulus lebih cepat. Putri mahkota menyelesaikan pendidikannya hanya dalam satu tahun setengah.”
Wah, seperti yang diharapkan, Zielda memang yang terbaik!
Seana jadi begitu bangga, senyumnya merekah sementara Damiez menggosok pangkal hidung melihat anak bungsu kaisar tersebut terkekeh tanpa sebab, sedikit mengerikan dan lucu secara bersamaan.
“Di setiap tingkatan kami memilih pemimpin dan di tingkat ini pemimpinnya adalah Zenin.”
“Baiklah, mulai besok kamu mulai masuk kelas. Jangan membuat masalah di hari pertama," nasihat Damiez
Seana angguk kepala, kemudian segera kembali ke asrama. Sesaat sampai, Seana langsung berlari ke ranjang, memeluk gulingnya dengan erat dan terlelap dalam hitungan detik, tapi rasanya hanya seperkian menit ia mengatupkan mata tapi matahari sudah terbenam, digantikan malam.
Telinga Seana berdenging mendengar bunyi dari lonceng raksasa, pertanda semua murid memasuki waktu makan malam di kantin sesuai tingkatan. Seana melangkah gontai menuju kantin, bersipapas dengan anak perempuan seusianya yang memiliki tubuh lebih tinggi dan besar, namanya Celin.
“Wah, kamu anak salah satu pengajar disini, kah? Kamu tersesat ya?” Celin berjongkok di hadapan Seana.
“Hah, bocah sialan ini bilang apa?” sudut bibir Seana berkedut kesal.
“Aku murid baru disini, Seana Salvatrice.” Seana menetralkan emosi, dia terus menekankan bahwa orang dewasa tidak boleh terbawa amarah hanya karena ucapan ketidaktahuan anak yang lugu.
Raut wajah Celin berubah menjadi bersalah dan canggung. “M-maaf, kan, aku!” Celin membungkukkan kepala berulang kali.
Seana hanya mengembuskan napas sambil melihat anak-anak keluar dari asrama menuju arah kantin kadet sembilan.
“Kita bakal terlambat dapat makanan kalau begini.”
Seana berjalan lebih dulu dan Celin segera mengekor. Anak kecil berwajah seperti boneka putri di musim salju itu memiliki aura tak biasa, sorot matanya membuat Celin bergidik. Ah, diingat-ingat katanya memang ada murid baru yang akan datang hari ini dan katanya itu anak bungsu kaisar, apakah anak berambut perak dengan bola mata besar kebiruan adalah orangnya? Celin melirik Seana tanpa berkedip, mulai dari antri makanan sampai berada di bangku yang sama untuk menikmati makan malam.
“Hah? Lebih baik aku makan daging orc.” Seana berkomentar dongkol melihat lauk makanannya hanya sayur sup tanpa daging lalu sepotong roti meslin serta tiga dadu daging kecil di nampan makanannya.
“M-maaf, apa kamu anak bungsu kaisar?” Celin berbisik.
Seana menoleh, mulutnya penuh oleh makanan sehingga Celin menahan napas sangking gemasnya, Seana terlihat seperti tupai yang memenuhi mulut dengan kacang.
Em! Seana angguk kepala dan fokus makan lagi.
“Apa kamu juga diberk—akh!”
Celin memekik tertahan sesaat kepalanya berdenyut setelah dilempari senampan makanan. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui pelakunya, itu pasti ulah anak buah Zenin.
“Hei, kamu tidak lihat aku lagi makan, ya?” Seana mendelik tajam pada segerombolan anak yang baru saja melempari Celin nampan yang isi makanannya pun bersimbur dan mengotorinya.
“Heh, siapa cebol ini?”
Salah satu teman Zenin mengarahkan telunjuk pada Seana, memandang penuh ejekan dan remeh.
“J-jangan. Mereka adalah anak buah Zenin, mereka kuat.” Celin memperingat sambil mencekal lengan baju Seana.
Seana menepis Celin yang berusaha menahannya. Hari ini ia sudah cukup lelah dan butuh tidur, tapi ada saja kejadian tak mengenakkan. Sambil turun dari bangkunya, Seana berdiri di depan rombongan Zenin sambil melepehi makanan yang masih ada dalam mulutnya ke arah wajah anak lelaki yang menyerang Celin.
Semua murid disana melotot. Anak yang baru mereka lihat hari ini sudah berani membalas perbuatan anak buah Zenin.
“Sialan, beraninya kamu meludahiku!” anak itu tidak terima, ia mengusap wajah kasar lalu mencekal kerah baju Seana.
“Dasar anak tidak tahu sopan santun." Seana nenghardik seperti orang tua.
Ah!
Lagi, semua terkejut. Seana baru menegur anak itu dan melayangkan tamparan. Tangan kecil mungil dan pendeknya menciptakan suara tamparan yang renyah dan pipi si korban merah, menyiplak jelas bekas tangan Seana.
“Baj*ingan!” Anak itu langsung melempar tubuh Seana.
Seana terjerembab dan dibantu berdiri oleh Celin.
“Hei, apa yang terjadi disini?”
wanita berambut pirang dengan bola mata cokelat cerah muncul sambil membawa makanan. Ia terkejut melihat situasi ini juga kehadiran anak ke 12 kaisar yang berdiri dibantu murid yang ia kucilkan karena enggan menerima setiap perintah yang ia keluarkan.
“Hah? Anak bungsu kaisar sudah ada disini, ya? Kenapa kamu terjatuh?”Zenin meletakkan makanannya di meja kemudian mengulurkan tangan pada Seana.
Zenin mengertakkan rahang melihat Seana tidak kunjung menyambut uluran tangan untuk bersalaman padahal jika diterima, Zenin hendak meremukkan tangan kecil gadis itu. Seana mendongak, menatap Zenin dengan dingin, seakan tahu apa yang akan terjadi jika ia menerima uluran tangan itu.
“Anak buahmu bersikap kekanak-kanakan.”
Pft ... Hahaha!
Zenin tertawa keras lalu menepuk pundak teman-temannya. “Hei, kalian dengar anak ini bilang apa? Kalian kekanak-kanakan!”
“Ah, yaampun, jadi dia anak bungsu kaisar? Berarti dia anak haram itu? Kudengar ibunya seorang la*cur.”
“Sungguh dia anak itu? Hahah! Bukankah ibunya adalah la*cur yang sukses hingga berhasil tidur dengan kaisar?”
“Hahaha, aku jadi penasaran seperti apa tampang ibunya, apa persis sepertinya. Kalau begitu bagaimana jika besar nanti dia menjadi seperti ibunya. Haruskah kita memintanya melayani kita?"
Anak-anak di belakang Zenin mulai mengolok-ngolok dengan suara lantang. Celin maju ke depan dan berusaha membela Seana yang kini diam dengan kemarahan yang berusaha ditekan sekuat tenaga.
“Hei, kalian keterlaluan!” intrupsi Celin.
“Hei, kamu diam saja. Kamu dari keluarga bangsawan yang hancur, kan? Ayahmu yang baron itu bangkrut dan jadi budak judi, kan?"
Celin tersentak, mengepalkan tangan kuat sambil menahan rasa kesal karena itu sebuah fakta yang tidak bisa ditepisnya.
“Heh, bukankah mereka cocok. Anak la*cur dan seorang anak dari budak penjudi."
“Hei, bicaralah.” Salah satu anak maju sambil menoyor kepala Seana tiga kali.
Seana kemudian angkat kepala, menyeringai sambil melebarkan mata. “Hei, tanganmu itu menjengkelkan, ya.”
Argh!
Anak tadi berteriak nyaring ketika dalam sekejap Seana menancapkan garpu di atas punggung tangannya, kemudian detik berikutnya anak-anak yang mengatai ibunya ikut berteriak dan merintih kesakitan.
Mulut-mulut anak tadi Seana beri luka sayatan besar di sudut bibir hingga mengucurkan darah. Mereka menutup mulut, membiarkan darah mengalir dari sela-sela jari dan mengotori seragam mereka.
Zenin melotot dan bergidik ngeri melihat Seana yang terkikik setelah melakukan hal keji demikian.
“Memang kenapa kalau ibuku seorang la*cur? Lalu ... Yah, aku akan melayani kalian jika sudah besar nanti, kulayani kalian untuk dimakamkan dengan baik.” Seana kini duduk di atas meja dengan kaki menyilang, tersenyum mengejek melihat mulut-mulut jahat tadi tidak lagi melontarkan kalimat jahat tentang ibunya.
...BERSAMBUNG ......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Ririn Santi
hah....kalian salah mencari lawan/Chuckle/
2024-02-12
1
Itzz Moon 1408
ikut kerasa sakitnya
2024-02-11
1
Titin Sampita
Ha...ha ....ha aku ikut tertawa melihat kejadian dari sini, itu baru salam perkenalan kawan masih banyak salam lainnya /Facepalm/
2024-01-15
0