...SELAMAT MEMBACA...
Akibat ulah kemarin, Geas dikurung selama seminggu di perpustakaan untuk memahami kembali peraturan akademi dan menyalinnya dalam tiga buku besar. Jemari-jemarinya terasa kaku dan pegal tapi emosi terhadap Seana tidak kunjung padam, kalau saja status sebagai anak kaisar bisa digunakan leluasa maka hukuman semacam ini mudah dihilangkan untuknya.
Di sisi lain, Seana menghadiri kelas dan antusias belajar. Di Diabolus pembelajaran tidak berjalan sedamai ini jadi, di hari pertama anak-anak akan diperkenalkan dengan berbagai macam monster dan setelah memahami beberapa mereka akan dilatih untuk bertarung dengan monster-monster tersebut sementara di dunia manusia, lebih banyak teori tentang kehidupan, walau membuat jenuh dan nyaris tertidur, bagi Seana ini semua tidak bisa dibandingkan dengan Diabolus yang penuh kekacauan.
“Seandainya Diabolus senormal ini, aku yakin mereka tidak akan berpikir untuk menebar kekacauan.”
Lagi. Seana terhanyut dalam pikiran sendiri, banyak penyesalan yang ia sayangkan. Mengenal dunia luar menjadi salah satu tujuan barunya agar membawa perubahan ke dalam Diabolus kemudian hari, menjadikan dunia suram itu menjadi hangat dan penuh keceriaan bukan selalu tentang kekacauan.
“Dunia Iblis adalah tempat yang sebisa mungkin tidak boleh kita sentuh, jalan masuk ke dunia itu berada di Pulau Milvi yang berada di timur laut Kekaisaran kita.”
Pengajar menekan kuat ujung tongkat pada sebuah peta besar yang di pampang depan murid, nada dan tatapannya jadi serius dan menakutkan.
“Pulau Milvi adalah satu dari tiga wilayah misterius yang belum terjamah oleh siapapun. Orang-orang yang masuk ke hutan itu tidak pernah kembali.”
Pengajar terus menjelaskan tentang keberadaan bangsa iblis namun murid bertubuh paling kecil disana justru memasang wajah setengah kantuk, bahkan pengajar yakin sebentar lagi akan ada liur menetes di sudut bibir gadis itu. Sambil memejamkan mata sejenak, pengajar langsung berujar keras dan mengejutkan semua murid di kelas tingkat 9.
“Seana Salvatrice!”
Seana tersentak, langsung duduk tegap dan melotot ke depan. “Ya, Guru?”
“Maju dan beritahu dimana pintu masuk menuju dunia iblis.”
Seana maju tapi peta terlalu besar dan tinggi jadi dia butuh sesuatu untuk pijakan, tubuh yang seperti bocah berusia 8 tahun itu membuatnya dalam situasi sulit. Mendengar sedikit tawa tertahan di belakang ketika ia hendak menaiki bangku, Seana menoleh dan menghadiahi pelototan sehingga tidak satu pun yang menahan tawa melainkan ketakutan.
“Aku sudah menjelaskannya, jika kamu tidak bisa menjawab maka berdirilah sampai jam pelajaranku selesai,” kata Pengajar.
Seana memandang pengajar itu sejenak sebelum mengarahkan tangan kanan di salah satu titik pada peta. “Pulau Sanguira adalah jalan masuk menuju dunia iblis.”
“Berdirilah sampai kelasku selesai.” Pengajar itu mengembuskan napas dan mulai fokus ke semua murid di depan namun Seana mengerutkan dahi, dia jelas benar karena dirinya adalah penguasa dari dunia itu.
“Tapi saya benar, Guru.” Seana membela diri.
“Aku yakin kamu masih belum sadar sepenuhnya, jadi segarkan pikiranmu dengan berdiri di depan.”
Sudut bibir Seana berkedut, ia ingin terus menyela tapi jika melawan pihak akademi maka nilainya akan jadi buruk sementara Seana ingin lulus dengan nilai memuaskan sepanjang sejarah keluarga kekaisaran, setidaknya ia ingin mengalahkan reputasi Zielda. Jadi yang bisa ia lakukan adalah memaki dalam hati sambil berdiri di depan papan tulis dengan raut dongkol.
Setelah kelas usai, Pengajar bernama Lias itu memasuki ruang Himpunan Anggota, dimana ada Syra dan Damiez di dalamnya.
“Sepertinya kamu butuh secangkir teh.” Syira tersenyum sambil menuang teh untuk Lias.
“Anak bernama Seana itu hampir tertidur saat aku mengajar lalu bukan hanya itu, ketika aku mengajukan soal dan dia salah menjawab, anak itu berusaha membela diri.”
Damiez geleng-geleng kepala. Sejak kedatangan Seana, murid tingkat sembilan selalu terlibat masalah oleh karena itu, ia harus memberi perhatian lebih pada tingkat yang kini dipimpin oleh anak bungsu kaisar.
Syira tertawa pendek. “Bisa kamu ceritakan lebih jelas?”
Lias lantas bercerita, awalnya Syira menganggapnya lucu tapi lama kelamaan raut wajah ketua himpunan anggota itu jadi pucat.
“Itu ... jika tidak memperhatikan bagaimana bisa di peta seluas itu dia menunjuk Hutan Sanguira? Lagi pula Pulau Sanguira adalah satu dari tiga wilayah misterius yang tidak mampu dikuasai oleh Kekaisaran kita karena tidak satu pun utusan yang dikirim kesana kembali dalam kondisi hidup.” Syira berujar pelan, nadanya sedikit menyimpan kengerian.
Dia ingat ketika pertama kali melihat jasad yang kembali dari balik tebalnya kabut di laut menuju Pulau Sanguira. Sebagian jasad itu sisa tengkorak sementara sebagian lainnya berubah menjadi daging busuk yang dipenuhi tanaman dengan serangga beracun.
Ketimbang Pulau Milvi, Sanguira mungkin paling masuk akal menjadi tempat untuk masuk ke dunia iblis. Lagi pula, Pulau Milvi sebagai tempat masuk dunia iblis baru sekedar dugaan belum pasti.
“Sepertinya hanya kebetulan. Putri bungsu kaisar tidak mungkin tahu hal semacam ini karena setahuku anak itu selalu mendekam di istana.” Damiez menyahut, duduk di samping Syira.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Hastin, Ketua Departemen.
Pria berambut cokelat masuk sambil membawa beberapa lembar kertas di tangan.
Syira mengembuskan napas dan mengambil alih kertas di tangan hastin. “Apa ini?”
“Ah, itu informasi dari Istana. Katanya Pangeran Ronav pergi ke Sanguira lalu berhadapan dengan iblis wanita berkemampuan pembusukan dan racun serangga. Akhirnya kita tahu pelaku yang menyebabkan setiap utusan kembali dalam kondisi mengenaskan, jadi sudah dipastikan bahwa Sanguira adalah gerbang pertama dunia iblis.” Hastin menjelaskan seraya duduk di samping Lias.
“Ada apa?” Hastin mengernyit melihat Lias menatapnya dengan mata terbelalak, Damiez menghentikan pergerakan menuang teh sedangkan Syira tertawa paksa sambil memandangi kertas.
...***...
Di balik tebalnya kabut yang menyelimuti separuh lautan menuju Pulau Sanguira, seorang gadis bertubuh ramping dan berkulit merah muda memaki bahkan berkali-kali meraung.
“Sial! Sial! Aku sangat benci manusia yang diberkati kekuatan dewa! Argh, sialan!”
“Bisakah kamu tenang sedikit, Grisa?”
“Apa kamu pikir aku bisa tenang setelah kehilangan satu tanganku, Lucane!”
Lucane mendengus. Dua hari lalu seorang manusia berhasil melewati kabut dan bertarung dengan Grisa, penjaga gerbang pertama Diabolus. Hal tidak terduga terjadi, manusia itu datang seorang diri dan berhasil kembali sebelum jasadnya dihias oleh Grisa. Lucane menangkap pertarungan terjadi cukup sengit dari cerita Grisa. Manusia itu diberkati Dewi Themis, kemampuannya yang bisa melihat masa depan seperkian detik benar-benar membuat pergerakan Grisa terbaca.
“Sayang sekali, mulai sekarang kamu hanya bisa menggunakan satu tangan untuk melahirkan serangga-serangga beracun menyebalkan itu.” Maley muncul setelah mendapat kabar kericuhan di gerbang pertama Diabolus, mendapati rekannya kehilangan tangan kanan.
“Lagi pula pria itu tidak akan bertahan dalam seminggu, serangga terkuatku telah masuk ke dalam tubuhnya, tidak ada yang bisa membunuh serangga itu kecuali aku.”
“Kamu yakin?” Maley tersenyum sarkas.
Raut wajah Grisa berubah sendu. “ ... dan Master.” Lanjutnya.
Maley tertawa hambar. Yah, itu bukan masalah karena lagi pula masternya masih tertidur damai dalam peti jadi nyawa pria itu pada akhirnya akan membusuk dan digerogoti serangga beracun terkuat milik Grisa.
...BERSAMBUNG ......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments