...SELAMAT MEMBACA...
“Ini sangat buruk, Yang Mulia.”
Dokter terbaik dan saintess yang diberkati kekuatan penyembuh menunduk tak berdaya di hadapan Kaisar dan Viscount Yesar yang berdiri di sisi ranjang dimana Ronav terbaring dengan sekujur tubuh dipenuhi urat hitam keunguan.
“Di dalam tubuhnya ada makhluk hidup beracun, kami tidak bisa mengeluarkannya karena makhluk itu memiliki energi jahat yang besar.”
“Racun yang dikeluarkan dalam tubuh Pangeran juga merupakan racun tingkat tinggi.”
“Jika dikeluarkan paksa, kondisi Pangeran akan kian memburuk.”
Kaisar mengusap wajah kasar, tidak menduga bahwa sesuatu di balik kabut bahkan bukan tandingan putranya.
“Bagaimana dengan Putri bungsu? Bukankah beliau diberkati Dewi Panacea?”
Saintess menggeleng. “Kita harus mengeluarkan dulu makhluk itu setelahnya baru penyembuhan bisa dilakukan. Berkat Dewi Panacea tidak bisa dilakukan jika menyebabkan kematian di saat proses penyembuhan. Sebab bagaimana pun, makhluk jahat juga adalah makhluk yang diberkati hidupnya.”
“Kita tidak akan tahu jika belum mencobanya,” sergah Lasius. Di samping anak ke tujuh itu berdiri Zielda dan Lucas.
Dokter dan saintess melirik Ronav, sudah lima hari berlalu sejak hari itu dan berdasarkan kondisi Ronav saat ini, bertahan sampai pagi adalah sebuah keajaiban. Sementara untuk menjemput Seana dari akademi paling cepat tiga hari.
“Kak Ronav!”
“Seana?” Lasius dan Zielda menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka lebar, menampakkan Seana yang terengah-engah dengan rambut perak berantakan dan peluh membasahi wajah.
“Kapan kamu kemari?” Lasius bernapas lega saat Seana mulai berdiri di sisi ranjang, menatap Ronav cukup lama.
“Ini ulah Grisa. Sial, kalau aku tidak langsung kemari setelah mendengar kabar dia pergi ke Sanguira dan berhadapan dengan iblis wanita, kematiannya sudah ditentukan hari ini.” Seana mengabaikan pertanyaan Lasius, fokus menyentuh urat hitam di wajah Ronav.
“Itu ...,” Seana memandang semua orang dewasa di dalam kamar, “bisakah kalian meninggalkanku dengan Kak Ronav saja?”
“Apa yang mau kamu lakukan?” Lasius maju selangkah, dibanding semua saudaranya hanya Ronav yang dekat dengannya. Kondisi Ronav saat ini pasti menyenangkan sebagian saudara, dan mungkin salah satu saudara itu adalah Seana. Mengingat betapa sadisnya bocah itu membuat Lasius tidak percaya jika meninggalkan Ronav bersama Seana.
Seana memicing kesal ke Lasius. “Aku tidak datang jauh-jauh dengan setengah mati hanya untuk membunuh kakakku sendiri, jadi simpan saja kekhawatiranmu itu.”
Apa?
Semua orang di kamar bergidik ketika aura intimidasi terpancar dari tubuh gadis kecil yang menunjukkan ketersinggungan atas pertanyaan Lasius. Selain itu, bagaimana bisa Seana berujar melampaui aura orang dewasa.
“Jangan memaksakan diri, kuharap kamu tidak membahayakan dirimu dan melewati batas kemampuanmu.” Zielda menyentuh dan mencium punggung tangan Seana lalu menarik Lasius serta Lucas keluar.
Kaisar tercenung, cukup lama ia memandangi Seana yang bergeming di sisi Ronav sampai akhirnya pintu tertutup rapat.
Di sisi lain, Seana sungguh tidak paham. Kenapa dia langsung berlari pulang setelah mendengar kabar tersebut padahal manusia yang berumur beberapa biji jagung ini hanya sering memberikannya kue dan bertindak kontradiktif terhadap perkataan sendiri.
“Aku benci tubuh kecil dan pendek.” Seana mengeluh saat naik ranjang lalu memposisikan diri duduk di sisi kanan Ronav, telapak tangan kanannya terulur menyentuh perut pria itu.
Yang berada dalam tubuh Ronav adalah kelabang kaki seribu berukuran dua kali lipat pada umumnya, serangga itu akan kian membesar dalam tubuh yang dihinggapi sebelum akhirnya meledak dan menebar gas beracun. Saat masih hidup maupun mati, serangga milik Grisa tersebut masih mampu mengeluarkan racun mematikan.
Grisa adalah iblis berusia 900 tahun, salah satu orang terkuatnya. Gadis penjaga gerbang pertama Diabolus itu dulunya seorang anak yang dibuang oleh keluarga sendiri karena memiliki kemampuan menjijikkan, kekuatan itu dulu tidak sehebat sekarang. Berkat bantuan ratu iblis sepertinya, Grisa dibawa dan dididik untuk menerima latihan khusus di bawah ke pemimpinannya.
“Padahal anak itu selalu bersikap manis padaku dengan berkata menjaga gerbang pertama Diabolus dengan baik. Jika ada pendatang akan dia usir tanpa merengut nyawa.”
Seana mengela napas lalu pejamkan mata sambil mengalirkan aura ratu iblis. Selama melatih Grisa, Seana menyalurkan energi sihir miliknya dalam tubuh gadis itu agar serangga-serangga beracun ciptaan gadis itu tunduk padanya karena bagaimana pun kekuatan Grisa sangat berbahaya sebab hanya pemilik aslinya yang mampu memerintah serangga, dengan begitu energi yang ia campur dalam tubuh Grisa memiliki beberapa kesamaan dan sulit dibedakan.
Perlahan serangga menggeliat merasakan energi aneh dari luar dinding perut, tak lama serangga mulai berjalan keluar dari mulut Ronav, menghampiri Seana dan terlihat nyaman di telapak tangan.
“Kamu mungkin akan berguna.” Seana memasukkan serangga dalam botol kecil di balik mantel besar yang dikenakan.
“Uhuk! Uhuk! Hah ... hah...,"
Ronav batuk dan muntah darah, napasnya kian berat bersama dada kembang kempis secara cepat. Serangga memang sudah dikeluarkan, tapi racun itu sudah menyebar terlalu banyak. Seana meraih tangan kanan Ronav, ditangkup sembari menyalurkan kekuatan penyembuh.
“Racun ini sangat mematikan!”
Kepala Seana bergelenyar saat menyadari butuh lebih banyak Mana untuk proses penyembuhan, menyelamatkan seseorang dari ambang kematian ternyata sulit. Keringat mulai membanjiri pelipis dan telapak tangan, konsentrasi pun terganggu, ditambah ia harus melawan racun dengan kekuatannya, sungguh tubuh lemahnya harus bertahan sejauh mungkin karena jika menyerah maka Ronav akan mati.
Hah.
Seana bisa menarik napas setelah selesai. Kini tubuh Ronav tidak lagi memiliki urat hitam, kondisinya jauh lebih baik walau masih pucat dan kurus. Setidaknya Ronav sudah aman, sekarang Seana harus mengkhawatirkan diri sendiri karena pandangannya mulai kabur sebelum darah meleleh dari sepasang lubang hidung.
“Hah, aku merasa akan mati dua kali,” gumam Seana sebelum pingsan di sisi kakaknya.
...***...
Shh ...
Sudut bibir Seana membentuk senyum tipis ketika deru angin yang lembut menyapa kulit, rasa sejuk dan nyaman membuatnya benar-benar terbuai. Belum lagi suara gesekan daun oleh angin terdengar halus, sinar matahari terasa hangat, semua makin sempurna ketika hidungnya menangkap aroma yang menenangkan.
“Ah ... apa aku di surga? Mengingat dosa yang kuperbuat karena tidak mampu mengendalikan mereka, sepertinya aku masih hidup,” lirihnya setelah edarkan pandang dan mendapati beberapa orang duduk di sofa depan ranjang yang ia tiduri.
“Kak, iblis kecil sudah bangun!” Lucas segera mendekati Seana.
“Berhenti memanggilnya iblis kecil, dia adalah malaikat tahu.” Lasius menyanggah.
Melihat Seana sudah sadar, Eleos segera berlari memanggil dokter. Seana tertidur selama dua hari penuh, dan selama itu pula dia berada di Paviliun Malam Gemerlap ditemani Eleos, Frena dan Douglas. Tentu saja, beberapa saudaranya datang menjenguk, terkadang Zielda dan Lucas akan berjaga malam karena sepertinya keberadaan Seana menjadi ancaman saudara lain dan situasi saat ini begitu menguntungkan bagi mereka yang memendam benci pada Seana.
“Dokter bilang kamu sudah pulih, tapi perlu istirahat yang cukup.”
Setelah kepergian dokter, Zielda muncul dan duduk di tepi ranjang, mengusap punggung tangan adiknya itu. Mata biru Seana bergerak ke arah mantel dimana dia menyimpan serangga beracun. Tapi mantel itu tidak tahu ada dimana.
“Bagaimana kondisi Kak Ronav?” tanya Seana.
“Dia pergi ke Sanctia sejak kemarin.”
“Kenapa? Seharunya Kak Ronav istirahat, racun dalam tubuhnya baru saja dihilangkan.”
Zielda mengembuskan napas dan memberitahu bahwa Seana sudah tidak sadar dua hari dan Ronav yang sudah merasa lebih baik terus menyalahkan diri karena hampir membuat adik bungsunya dalam keadaan berbahaya. Oleh karena itu, pria itu sangat terpukul dan terus berada di Sanctia sejak kemarin demi berdoa untuk kesembuhan Seana.
“Manusia memang terlalu perasa, padahal itu hanya hal sepel—“
Ah! Seana langsung tutup mulut, lupa bahwa dirinya sekarang adalah manusia, perkataan itu mungkin akan memunculkan kecurigaan namun beberapa detik setelah perkataan Seana membuat mereka terbengong, tawa meledak dalam kamar itu.
“Sudah kukatakan, kan, dia itu iblis kecil.” Lucas tertawa paling kencang.
...BERSAMBUNG ......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Nani Kurniasih
lanjut Thor. seru
2024-01-09
1