06I Tantangan Duel

...SELAMAT MEMBACA...

“Dia sungguh menjarah monster di Hutan Monslan.”

Para anggota tim yang dibawa Eglos mengembuskan napas letih setelah memasukkan hasil buruan terakhir sebelum meninggalkan Hutan Monslan. Ini sudah sebulan berlalu sejak mereka menerima tawaran Seana untuk pergi berburu bersama dan gadis kecil itu jauh lebih mengerikan ketimbang awal pertemuan.

“Baiklah, sebelum pulang kita harus makan lebih dulu.”

Ah!

Anggota tim Eglos memekik saat Seana datang sambil mengeret Orc besar yang lehernya dibelit tali tambang sebagai alat penarik. Gila! Padahal mau dilihat bagaimana pun Seana hanyalah anak kecil tapi tenaganya tidak manusiawi ditambah mereka belum tahu identitas Seana sesungguhnya. Di sisi lain, Eleos dan Eglos hanya mengembuskan napas, keduanya jadi akrab dalam sebulan setelah tercengang tanpa henti dengan tingkah gila dan keji Seana.

Bukan hanya membunuh monster tanpa henti, Seana bahkan menguliti monster-monster tersebut tanpa ampun lalu yang lebih gila mereka dipaksa untuk bertahan hidup dengan mengonsumsi daging monster. Oleh karena itu, setiap kali Orc melihat mereka maka Orc akan lari terbirit-birit begitupun monster lain di Monslan yang masuk kriteria makanan layak bagi Seana.

“Hei, jika kalian mau bergabung aku akan memberi posisi ketua guild pada majikanmu.” Eglos melirik Eleos yang sibuk memperhatikan bagaimana Seana memerintah anggota Eglos untuk membuat perapian.

“Mau kuberitahu sesuatu?” Eleos melirik Eglos. Sejujurnya ia lelah setiap kali tawaran itu meluncur dari Eglos.

“Ya! Ya! Katakan.” Eglos mendekatkan diri dengan antusias.

“Dengar, sebenarnya majikanku itu ... “

Sekujur tubuh Eglos menegang dan berkeringat.

...***...

“Apa kamu mengatakan sesuatu pada, Eglos?” tanya Seana.

Eleos angguk kepala. “Saya memberitahu identitas Nona karena dia terus memaksa kita untuk bergabung dengan guildnya.”

Seana mengembuskan napas. Pantas saja sepanjang perjalanan pulang Eglos memperlakukannya begitu hormat bahkan terlalu sopan. Seana tidak akan memusingkan itu karena ia sangat merindukan kasur, tapi ketika sampai di kediaman betapa terkejutnya Seana melihat tanah halaman seperti dibajak lalu bunga-bunga rusak dan berceceran.

“Apa yang terjadi disini?” Eleos segera masuk, memeriksa kondisi di dalam.

“N-nona.”

Wajah Eleos menjadi pucat mendapati perabotan tua dalam kediaman hancur berkeping-keping lalu Douglas berdiri tegap untuk menyambut Seana di depan pintu. Wajah tua Douglas lebam lalu pelipis pria lansia tersebut sedikit lecet, emosi Seana kian tersulut setelah melihat kondisi di dalam.

“Apa yang terjadi selama aku tidak ada, Douglas?”

Douglas lantas bercerita. Sebulan lalu sejak Seana pamit untuk pergi selama sebulan, kediaman tampak begitu tenang tapi setelah dua pekan berlalu, Vilan Fanesty, anak ke delapan kaisar, datang untuk mengajak Seana berduel tanpa alasan yang jelas namun Douglas memberitahu bahwa Seana sedang keluar. Tidak berhenti, selama sepekan penuh Vilan terus menanyakan keberadaan Seana tapi jawaban Douglas tetap sama sehingga Vilan membuat kekacauan dan mengancam Douglas agar memberitahu dimana keberadaan Seana, tapi Douglas hanya menjawab nonanya tersebut akan kembali pekan depan. Vilan berpikir Douglas mengelabuinya demi melindungi Seana yang lemah jadi karena gusar, ia datang di pagi hari dan memerintah para bawahannya untuk mengacaukan kediaman Seana dan sekarang Frena diseret ke kediaman Vilan sebagai sandera.

Kaisar tidak akan turun tangan karena ini adalah persaingan yang diwajarkan, hanya saja Seana tidak menyangka bahwa sudah ada yang terusik. Seana lantas pergi menuju kediaman Vilan setelah memberi perintah pada Eleos untuk memanggil dokter mengobati seluruh pekerja di kediaman.

“Cepat cium kaki kami satu persatu. Kamu itu hanya pelayan dari anak haram, jadi cepat lakukan.”

Sekelompok pelayan wanita di kediaman Vilan tertawa nyaring melihat Frena bersimpuh di tanah halaman. Wajah Frena penuh lebam dengan area mata serta sudut bibir sedikit bengkak. Frena menolak untuk mencium kaki para pelayan Vilan hingga tubuhnya menerima beragam pukulan dan tendangan.

“Hei, cepat!” Dayang pribadi Vilan menjenggut rambut Frena ke belakang, memaksanya untuk mendongak, menatap tepat ke arah matahari yang begitu terik.

“Ya ampun, kenapa kamu bisa berakhir demikian, Frena?”

Para pelayan menoleh ke sumber suara. Gadis kecil berwajah mungil dengan kulit cerah nan halus tersenyum sambil melangkah begitu santai dengan tangan tersembunyi di balik punggung. Rambut perak panjang sepinggang gadis itu tergerai dan melambai lembut oleh hembusan angin kemudian mata biru secerah langitnya menyipit penuh makna melihat dayangnya diperlakukan buruk.

“N-nona, jangan kemari.” Frena melotot.

Ah!

Dayang pribadi Vilan, Amne, menendang perut Frena lalu memandang rendah Seana.

“Akhirnya Nona kecil keluar dari lubang tikus, ya. Jika mau menyelamatkan pelayan itu silakan merangkak untuk menemui Putri Vilan.”

Seana tersenyum sambil memiringkan kepala, “Benarkah? Tapi aku tidak mau merangkak, bagaimana jika kamu jadi tungganganku?” Senyum Seana berganti seringai.

Amne mengeritkan gigi dan para teman di belakangnya pun mendecakkan lidah mendengar kata-kata Seana. Amne jelas menolak dan hendak menjenggut rambut perak Seana yang tergerai, ia berniat menyeret Seana langsung ke hadapan Vilan, tapi baru maju selangkah wajah Amne memucat bersama jeritan yang memekakan telinga.

Kedua punggung kaki Amne ditancap sebuah kayu runcing sepanjang jengkal orang dewasa, kakinya ditembus oleh kayu yang ujungnya telah diruncingkan Seana selama menuju kediaman Vilan. Darah Amne mengalir deras dan rembes ke tanah berumput.

Seana mendekat setelah menunduk kilat untuk menancapkan kayu runcing itu di kedua punggung kaki Amne lalu ia tersenyum polos pada Amne. “Ayo cepat merangkak! Kamu, kan, harus jadi tungganganku.”

Seana langsung melepaskan energi intimidasi seorang ratu iblis setelah menyalurkan Mana positifnya untuk melindungi Frena. Semua pelayan termasuk Amne langsung menyentuh leher, napas mereka tercekat di kerongkongan. Seana tidak mampu menyembunyikan rasa puas melihat orang-orang kurang ajar itu bersimpuh dengan wajah memerah karena sulit meraup oksigen.

"Kamu kembalilah ke kediaman kita," perintah Seana pada Frena.

"Kita? Nona ... " Mata Frena berkaca-kaca lalu ia cepat pergi dari sana walau sedikit terseok-seok.

Amne sudah dalam posisi siap jadi tunggangan, sesuatu yang besar menekan tubuhnya secara paksa untuk memposisikan diri seperti itu kemudian Seana naik di atas punggung Amne dan menyuruh dayang itu pergi ke Vilan, membiarkan pelayan lain pingsan setelah kepergiannya.

...***...

Di temani saudara ke tujuh dan ke empatnya, yakni Lasius dan Lucas, Vilan tertawa terbahak-bahak menceritakan kekacauan apa yang telah ia perbuat di kediaman Seana. Mereka bertiga berada di taman pribadi Vilan sambil menikmati secangkir teh dan kue kering di Gazebo.

“Bukankah kamu terlalu kekanak-kanakan, Vilan,” komentar Lasius.

“Anak itu sudah masuk dalam persaingan, Kak. Bukankah wajar jika dia sedikit terkena serangan?” Vilan mendecakkan lidah dengan ekspresi kesal.

Vilan sudah jengkel sejak ayahnya memanggil Seana di ruang takhta waktu itu. Anak haram yang hanya tahu bersembunyi mulai berlagak angkuh di hadapan ayah dan saudara lain jadi Vilan ingin sedikit menggertak.

Lucas hanya tertawa kecil lalu berceletuk melihat pemandangan di depan. “Sepertinya seranganmu mendapat balasan, Vilan. Adik kecil kita yang manis sudah datang.” Mata merah Lucas menyipit penuh nafsu melihat darah berceceran sepanjang jalan dari dua kaki Amne yang masih disematkan dua kayu.

“G-gila, anak itu memang tidak waras, ya?” Vilan menutup mulut, dia tidak pernah berlaku sekeji itu.

“Pu-putri ... “ Suara Amne bergetar, wajahnya sudah lengket oleh air mata.

Seana melompat turun dari tubuh Amne lalu bersenandung kecil mendekati Vilan yang berdiri sambil menatapnya.

“Padahal kepala pelayanku sudah bilang bahwa aku akan kembali, tapi kenapa Kakak sangat tidak sabar? Kediamanku itu sudah cukup tua dan jelek, tapi orang-orang kakak malah makin memperburuk kondisinya. Jadi aku membuat sedikit kekacauan di tempatmu.”

Lucas menyimak sambil menikmati kue kering, memandangi betapa imutnya adik bungsu mereka yang bertindak tanpa perasaan dan membuat Vilan terbakar amarah dan rasa malu.

“Aku terima duelnya.” Lantas Seana melempar sarung tangan ke dada Vilan.

...BERSAMBUNG ......

Terpopuler

Comments

Itzz Moon 1408

Itzz Moon 1408

aku suka gaya mu saena

2024-02-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!