12| Masuk Akademi

...SELAMAT MEMBACA...

Pipi Seana tampak merah dan mengembung karena terlalu kencangnya topi mantel terpasang selain itu betis pendek dan berisinya dipasangi kaus kaki merah muda dengan bagian atas berenda itu senada dengan sarung tangan yang ia kenakan. Saat ini Seana mengenakan mantel tebal dengan tudung mantel membungkus kencang kepalanya membuat ia seperti buntalan kapas yang bisa menggelinding kapan saja jika disenggol.

“Kenapa kamu jelek sekali, sih?” Ronav berjongkok di hadapan Seana, mencubit kedua pipi gadis itu dengan gemas namun ekspresi Seana begitu dingin. “Sial! Adikku imut sekali!”

“Lihat mata birunya yang begitu dingin, seperti lautan tenang dengan kraken terlelap di dalamnya.” Lucas ikut bergabung, berjongkok di sebelah Ronav sambil menangkup salah satu tangan kecil Seana, menggosok-gosokan tangan gadis itu ke wajahnya.

“Hei. Seana akan babak belur karena tangan kalian.”

Ronav dan Lucas abai ketika Zielda mengintrupsi mereka. Lagi pula ini adalah hari keberangkatan Seana ke akademi jadi mereka harus puas menikmati keimutan adik bungsunya.

Seana sungguh tak paham mengapa bisa begitu dekat dan menerima perlakuan manusia-manusia yang bertingkah kekanak-kanakan di depannya. Sesaat setelah berita dirinya akan masuk ke akademi, Zielda, Ronav, Lucas bahkan kaisar datang ke Istana Malam Gemerlap.

“Karena kamu tidak membawa pulang sesuatu dari ekspedisi kemarin untukku, maka kamu harus berjanji untuk tidak mempermalukan Zalmitic di sana. Ekhem! Juga harus rajin mengirim surat padaku.” Kaisar berujar.

Seana melirik pria paruh baya itu. Padahal dia harus terbaring lemah setelah menggunakan kekuatan suci dari Panacea tapi masih diungkit janji kemarin? Sungguh orang tua perhitungan, pikir Seana.

Sedangkan itu di Regtura, Solis Akademi, dalam ruang staff.

“Katanya anak bungsu Yang Mulia akan masuk kemari.” Syira memecah kesunyian di ruang rapat, berkumpulnya para pengurus tinggi akademi.

“Anak haram itu? Katanya dia hanya tahu bersembunyi dan diam saja ketika orang-orang menindasnya. Dia bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang Zalmitic.” Damiez menyahut, wajah tampan pemuda tersebut mengerut dongkol.

“Aku tidak tahu kamu itu terlalu lama terkurung disini atau malas membaca surat kabar. Anak itu diberkati Dewi Panacea jadi bisa dibilang hanya dia penyelamat kehidupan jika suatu hari bangsa iblis memulai peperangan dengan kita,” celetuk Hastin, Kepala Departemen.

“Kamu yang bertanggung jawab mengurus penyambutan anak itu, kan, Damiez? Aku harap kamu tidak berlebihan menanganinya.” Glora, Kepala dari seluruh ketua jurusan di akademi.

Damiez mendengus sambil melirik Syira, mereka berdua berada di jabatan sebagai ketua dan wakil ketua himpunan keanggotaan. Mereka bertanggung jawab atas keseluruhan aktivitas organisasi dan memegang kebijaksanaan umum organisasi baik di dalam maupun luar akademi. Namun, Syira yang sebagai ketua lebih banyak menghabiskan waktu mengurus surat-surat dan sisanya dilimpahkan pada Damiez yang malas mengurus berkas-berkas yang tidak ada habisnya di ruang kerja.

“Anak itu berusia 12 tahun, tapi berdasarkan formulir tentangnya, anak itu pendek dan mungil, mungkin lemah. Kudengar anak itu penuh kelembutan dan suka makanan manis, aku tidak sabar untuk melihatnya.” Syira memandangi biodata Seana, namun sedetik kemudian ia mendelik keji pada Damiez yang menyebikkan bibir.

“Walau begitu jangan pilih kasih. Seperti tahun-tahun lalu ujian harus memiliki tingkat kesulitan yang sama. Jika anak itu gagal, maka dia tidak pantas diterima di Solis Academy,” ucap Mikael, Asisten Direktur Eksekutif Akademi.

“Tentu saja.” Semua orang disana mengulum senyum penuh makna.

...***...

Solis Academy adalah perguruan terbesar yang pernah ada di Kekaisaran Zalmitic. Akademi ini terletak di sebuah pulau yang berada jauh di luar kekaisaran. Solis Akademi berada di atas pulau yang diarungi laut jernih, udara yang hangat juga kaya akan spesies flora dan fauna sehingga banyak orang memimpikan mengenyam pendidikan disana.

Seana akui itu, sungguh! Setelah menempuh perjalanan selama empat hari akhirnya kapal besar yang ia tumpangi menyandar di dermaga. Tahun ini, sebagai seorang manusia, Seana akan mengenyam pendidikan selama tiga tahun di Solis Akademi.

Alangkah jauhnya. Seana mengeluh ketika melihat jalur panjang dan menanjak menuju bangunan akademi. Akademi itu berada di gundukan paling tinggi lalu sepertinya banyak monster mengintai sepanjang jalur tersebut.

“Ujiannya sudah dimulai, ya?” Seana mengembuskan napas. Pantas saja banyak yang mengeluhkan ujian masuk ke akademi ini karena baru turun dari kapal, mereka akan diserang di sepanjang jalan menuju akademi.

“Nona! Jangan lupa rajinlah mengirim surat!” Frena berteriak setelah kapal ditarik kembali, meninggalkan pulau.

Seana bisa lihat kepala pelayan, kesatria, juga dayangnya itu menahan kesedihan ketika meninggalkannya seorang diri. Saat berada di akademi, status seseorang sebagai keluarga bangsawan tidak berlaku, mereka setara dengan murid lainnya.

“Baiklah, setidaknya aku butuh tunggangan yang besar.” Seana melotot sambil menyeringai lebar.

Ia menurunkan kedua koper kecilnya, lalu memasang sikap waspada sambil memegang belati pemberian Zielda. Setidaknya ia akan menyerang lebih dulu dan mencari monster atau hewan buas mana yang bagus untuk jadi tunggangannya.

“Ahaha, masa, sih?” Damiez menggunakan teropong untuk mengamati gadis kecil bermantel tebal yang bersiap menyerang. Ia kesulitan melihat wajah anak itu karena topi mantel begitu besar di kepala kecil anak itu.

“Kenapa?” Syira bertanya, mereka berada di atas benteng utama akademi sejak ada kapal menyandar, itu pertanda bahwa putri bungsu kaisar sudah datang.

Damiez menurunkan teropong sambil melirik Syira. “Anak itu cebol.”

“Hah?” Syira mengerutkan dahi bingung.

Sementara Seana sudah menggila, tidak membiarkan satu pun monster serigala lepas dari pandangannya, gadis itu hanya terfokus untuk menangkap yang paling besar disana untuk menjadi tunggangan.

“Ah, serigala pintar~" Seana tersenyum riang sambil menangkup rahang pemimpin serigala yang meringkuk ketakutan melihat mantel, tangan, sepatu serta belati Seana dilumuri darah rekan-rekannya.

Hewan itu sudah tidak bisa melawan ketika Seana menekannya dengan energi khas ratu iblis, serigala tersebut meringkuk seperti anak anjing.

Seana lantas mengambil dua koper kecilnya, menyarungkan kembali belati pada pinggang lalu menaiki punggung serigala tersebut. “Akhirnya aku punya tunggangan, hm, hm, ini sangat nyaman, lalala~"

Seana bersenandung kecil ketika serigala mulai melesat sementara Damiez yang mengamati sejak tadi langsung menjatuhkan teropong hingga sepasang kaca lensanya hancur.

“Padahal itu Wolfier, monster serigala yang masih memiliki hubungan keturunan dengan Fenrir!” Damiez mengguncang tubuh Syira.

“Aku tidak mau melihat karena kupikir anak itu akan terluka aku juga sudah memanggil tim sihir penyembuh.”

Syira merinding, ia pun menyaksikan lewat teropong lain tadi.

“Apakah aku lulus?”

Seana sudah berada di depan benteng, mendongak untuk bertanya pada Damiez dan Syira. Lidah kedua orang itu terasa kelu, bagian putih mata mereka bergetar penuh kengerian. Anak kecil bermata biru dengan pipi mengembung karena topi mantel terlalu mencekik wajahnya muncul sambil menunggangi ketua Wolfier. Ujian itu diselesaikan dalam waktu 15 menit, rekor terbaru dan tercepat di Solis Akademi.

Keduanya saling pandang dan mengangguk kaku. Penjaga di pintu masuk lantas membuka jalan untuk Seana yang baru turun dari serigala namun sebelum benar-benar masuk, ia melirik serigala yang tampak sedih karena kawanannya tidak ada yang tersisa.

Seana mendengus lalu menyatukan kedua telapak tangan, memunculkan selarik cahaya yang melesat langsung ke jalur yang ia lewati sebelumnya, kemudian cahaya itu berpencar untuk hinggap di jasad para serigala, kawanan serigala hidup lagi karena memang kenyataannya Seana tidak membunuh mereka, hanya membuat sekarat.

Auw ...

Seana terdiam melihat mata pemimpin serigala berbinar ketika melihat kawanannya berdiri seperti sedia kala.

“Itu bayaran untuk tunggangannya, sekarang pergilah. Hush!” Seana mengibaskan tangan dan segera masuk tanpa menoleh lagi ke belakang.

“Wah, jadi itu kemampuan Dewi Panacea? Tidak seperti sihir, kekuatannya mengeluarkan cahaya emas dan energi yang menenangkan.” Syira berdecak kagum.

“Anak itu ... bukankah cukup berbahaya, Syira?” tanya Damiez.

Syira terkikik. “Apa kamu tidak lihat kalau anak itu baru saja menyembuhkan para serigala? Sudahlah hentikan pikiran negatifmu, sebaiknya pandu dia ke tempat tinggal barunya karena aku harus mengurus banyak berkas.”

Damiez mendengus dan menghampiri Seana. “Aku yang akan memandumu, sekarang ikuti aku.”

...BERSAMBUNG ......

Terpopuler

Comments

Ririn Santi

Ririn Santi

sembarangan, seana di katain cebol/Grimace/

2024-02-12

3

Ifarim

Ifarim

jadi tontonan lucu bnget yaa inimah

2024-01-02

4

Ifarim

Ifarim

uuuuuhhh lucuuunyaaa perhatian merekaa

2024-01-02

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!