11| Bertemu Lucane

...SELAMAT MEMBACA...

 "Hell, datanglah."

Bersama panggilan itu, angin berembus kencang. Langit gelap memayungi Erpetra dan dari balik tebalnya awan kelabu menyembul seekor makhluk bersayap gagah, semua orang menyipitkan mata begitupun Lucane yang merasa kepalanya bergelenyar menyadari itu adalah makhluk yang diagungkan di Diabolus, naga dari neraka.

Bom! Hell dalam wujud naga setengah dewasa mendarat, membuat beberapa anggota pasukan terpelanting karena gelombang angin yang tercipta. Hell langsung bersujud di hadapan Seana.

Seana memperkirakan bahwa usia Hell sekitar 200 tahun dan itu masih termasuk bayi. Kendati demikian, Hell bisa mengubah wujud menjadi setengah dewasa. Para naga akan disebut dewasa jika mereka telah melewati usia 600 tahun.

"Itu familiar Putri bungsu?"

Pasukan Magna bergidik ngeri. Tidak ada satu pun yang mampu memanggil naga untuk jadi familiar, tapi sekarang naga itu berada di depan mata mereka dan merendahkan kepala agar menerima sentuhan Seana.

"Hell, bunuh iblis terkutuk itu." Seana mengarahkan telunjuk ke arah Lucane yang masih mengudara. "Walau tidak bisa, setidaknya beri dia luka yang dalam tapi jika kamu bisa, robek-robek saja tubuhnya, leburkan tulangnya lalu lelehkan dagingnya dengan semburan apimu."

Seana memberi perintah pada Hell bersamaan dilepaskannya energi membunuh yang kuat dan saat itu pula energi tersebut membuat Lucane menatap lekat gadis kecil yang baru saja memanggil familiar. Energi itu membuat hati Lucanne tersengat, rasa pedih yang berusaha ia hilangkan beberapa pekan terakhir justru muncul kembali dan jauh penuh kerinduan serta rasa sakit.

"Yang Mulia ... tidak, dia manusia." Lucanne mengerutkan dahi keras dan menggeleng pelan, berusaha menepis terkaan tak masuk akal tersebut.

"Ah, sial!" Lamunan Lucane sirna ketika semburan api nyaris melahapnya. Hell mulai menyerang dari bawah dengan kepala mendongak ke arahnya, lalu sepasang kaki naga itu menekuk, bersiap untuk melesat.

Kini Seana bisa melihat bagaimana Hell dan Lucane saling menyerang, terlihat sepeti kilat saling menyambar di gelapnya langit sementara itu Zielda hanya bisa melirik sekilas apa yang baru saja dipanghil adik bungsunya karena orc terus menyerang tanpa memberi jeda. Setiap kali Zielda berhasil memotong salah satu bagian tubuh, orc tersebut melakukan regenerasi dalam sekedip sehingga Zielda benar-benar kesulitan.

"Haruskah kugunakan?" Zielda lantas melompat mundur demi mengambil waktu untuk menyalurkan berkat Dewa Tyr ke dalam pedang, itu hanya sebagian dari kekuatannya.

Fhuuh ... Zielda mengembuskan napas, memasang pedangnya untuk siap menebas, ia harus menyerang dengan tepat dan cepat karena jika gagal maka musuh akan memberi serangan yang mematikan.

"Serangan pertama kehancuran." Zielda menatap tajam lalu melesat bagai kilat, menebas secara horizontal lalu tanpa memberi jeda langsung menjadi vertikal, tepat menghancurkan tiga baru Mana di dada orc.

"Sial!" Lucane mendelik jauh ke bawah mendapati orc yang telah diberi kekuatan kebangkitan menjadi orc malapteka malah berakhir mengenaskan di tangan manusia.

Lucane sungguh tidak tahu apa-apa. Ia berpikir manusia tidak memiliki kekuatan semacam itu dan hanya mengandalkan sihir, tapi mereka justru bisa diberkati kekuatan dari dewa!

"Aku tidak bisa berlama-lama denganmu, Naga kecil." Lucane menyeka sedikit sayatan panjang di wajah yang perlahan mengatup, sembuh tanpa bekas.

Hell mendelik lebar ketika Lucane kabur dalam sekedip.

"Tidak apa, Hell. Kerja bagus! Sekarang kamu bisa kembali ke neraka." Seana mengirim telepati pada Hell.

Dari atas sana, Hell mengangguk dan kembali menembus awan kembali ke neraka. Sekarang, Hutan Erpetra benar-benar mati, hitam dan gersang kemudian apa yang harus ia lakukan untuk membawa sesuatu untuk ayahnya sementa ke empat orc dikalahkan oleh Zielda, bukan dirinya.

"Haah, dia sunggunh manusia yang hebat. Orc yang mengalami kebangkitan hampir setara dengan iblis tingkat tinggi tapi ia bahkan mengalahkannya hanya dengan setengah kekuatannya? Sungguh mengagumkan," batin Seana.

"Kakak, kamu terluka."

Seana setengah berlari. Zielda tersenyum tipis lalu berjongkok agar adik bungsunya tersebut melakukan penyembuhan terhadap wajah juga leher jenjang yang sempat diserempet tongkat batu pemukul orc.

Tangan kecil Seana yang lembut dan hangat menangkup rahang Zielda lalu menyalurkan kekuatan penyembuhan. Tidak berhenti sampai situ, kini Seana berdiri di tengah-tengah sambil menyatukan kedua telapak tangan seperti memohon, memejamkan mata dan mulai meminta dalam hati agar Hutan Erpetra kembali mendapat kehidupan.

Ting!

Bagai permukaan air di laut, sebuah cahaya muncul dan menciptakan riakan cahaya di tanah. Rambut keperakan Seana tergerai dan diliputi cahaya keemasan, angin yang berembus di sekitarnya membuat rambut Seana melambai-lambai, setengah berkibar.

Plash!

Riakan cahaya di atas tanah berubah menjadi ombak besar dengan gelombang dahsyat, menampar seluruh kehidupan yang sekarat di Erpetra dan perlahan kehidupan kembali muncul, tanah yang tandus mulai ditumbuhi rerumputan dan tanaman liar, pepohonan kembali bewarna, daunnya bahkan lebih rimbun dari sebelumnya. Semilir angin yang sejuk kembali melingkup Erpetra dan Seana mengembuskan napas perlahan dengan tubuh terkulai lemas. Siapa sangka kekuatan penyembuhan akan menguras habis Mana. Yah, tidak heran karena Erpetra adalah salah satu hutan terbesar yang berada di luar Ludovica.

“Seana ... “

Sayup-sayup Seana menangkap suara Zielda, tapi kepala dan matanya kian memberat, kesadarannya pun menipis hingga akhirnya tidak sadarkan di dan tergeletak di tanah yang sepenuhnya telah diselimuti rerumputan.

“Kekuatan dari Dewi Panacea bagai mukjizat.”

Pasukan Magna menengadah ke langit, melihat awan-awan tebal kelabu mulai ditembus oleh cahaya matahari, mengusir kegelapan.

“Kita harus kembali dan melaporkan kejadian ini pada Yang Mulia.” Zielda membopong Seana dengan hati-hati.

Sedangkan itu di Diabolus, Istana Ikthsar, peristirahatan penguasa.

“Manusia menjadikan naga neraka sebagai familiar? Kamu tidak salah mengira, kan, Lucane?”

Algrus mendengus sambil mengetuk-ketukan jari di lengan singgasana, matanya memicing tak senang karena Lucane gagal membawa berita baik padahal beberapa pekan terakhir rencana itu sudah begitu matang.

“Benar, Yang Mulia. Anak itu bahkan mengetahui dimana kelemahan dari monster yang saya beri kebangkitan.”

Cahaya aneh di mata Algrus berkilat tajam, ia menompang dagu sambil memikirkan beberapa kemungkinan. Apakah anak itu berkaitan dengan bangsa iblis? Semacam manusia setengah iblis atau mungkin Femina Saeva memiliki kekuatan gila yang bisa memisahkan jiwa? Hah, Algrus mengembuskan napas, dipikir-pikir tidak masuk akal ada kekuatan semacam itu.

“Apa perlu saya selidiki lebih jauh tentang anak itu, Yang Mulia?”

Algrus geleng kepala. “Jangan dulu. Sebaiknya kita fokus menebar malapetaka.”

“Baik, Yang Mulia.”

Algrus bangkit dari singgasana, menyibak sedikit jubah kebesaran yang ekor jubahnya panjang dan menyentuh lantai. Tanpa bicara lagi, Algrus meninggalkan ruang takhta dan berjalan ke lorong lengang, ada pintu di ujung sana.

Menggunakan sihir penyegel yang kuat, Algrus berhasil membuka pintu di ujung lorong tersebut kemudian masuk dan menatap lekat tubuh pucat dan kaku kakak angkatnya dalam peti hitam berpadu keemasan, Femina Saeva.

Algrus menyunggingkan senyum, kilat penuh rasa cinta menari-nari di mata merah pekatnya yang terkena pantulan dari pendar nyala api.

“Setelah kami benar-benar berada di puncak, kakak baru boleh bangun.” Algrus meraih beberapa helai rambut hitam Femina, memilinnya lalu dilepaskan dengan lemah.

...***...

Sudah dua hari sejak Seana bertemu Lucane ketika ekspedisi di Erpetra dan sejak itu pula ia gelisah. Algrus hendak menundukkan semua ras di bawah kaki bangsa iblis, itu adalah tujuan yang jelas, tapi Seana tidak menginginkannya. Orc yang dibangkitkan adalah malapetaka pertama, selanjutnya dimana lagi mereka akan menaruh malapetaka? Seana merasa harus bertanggung jawab, ia harus kuat lebih cepat dan mencegah semua menjadi begitu runyam.

“Aku masih lemah. Sial! Tubuh anak ini pun bukan wadah yang bagus untuk menggunakan kekuatan sepenuhnya. Jika aku melakukannya, tubuh anak ini akan hancur berkeping-keping.” Seana mengembuskan napas, kepalanya terasa pening.

“Nona!”

Frena mengintip dari balik pintu, menyengir aneh.

“Masuklah.” Seana menjawab dari ranjang, masih mengenakan baju tidur dengan wajah bantal.

“Tada! Ini adalah undangan untuk masuk Academy Solis!” Frena tersenyum lebar sambil memampangkan undangan itu di depan dada.

...BERSAMBUNG ......

Terpopuler

Comments

panty sari

panty sari

thor wajah mc cewe dong

2024-02-10

1

Anramu

Anramu

seil jaga seina😭

2023-08-27

1

Nani Kurniasih

Nani Kurniasih

mantap gak tuch, yg lain mah piaraannya doggy, lah seana mah naga 🐲🤩

2023-08-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!