16| Dihajar

...SELAMAT MEMBACA...

Seana diam melihat Zenin berada di ruang perawatan dengan lengan dan kaki patah kemudian wajah gadis itu bengkak dan lebam.

“Apa yang terjadi?”

Seana mendekat, menarik kursi di sisi ranjang ruang perawatan lalu duduk disana sambil bersedekap tangan. Zenin belum kunjung menjawab tapi kekehannya terdengar cukup kesal karena Geas dengan tidak tahu malu memerintah anak di tingkat enam untuk menghajarnya bahkan pria itu berencana untuk membuat murid-murid di tingkat sembilan mengalami hal serupa.

Zenin baru hendak menjawab tapi tiba-tiba beberapa murid muncul digotong murid lainnya dan mereka babak belur. Kini, semua murid yang baru masuk tadi menatap jengkel pada Seana tapi mereka tidak berani untuk mengutarakan rasa marah. Sejak Seana masuk dan menjadi ketua dalam sehari, murid di kadet 6, 7, dan 8 mulai menganggu mereka dan tidak ada satu pun yang hendak mengadukan ini ke pihak akademi.

“Hei, apa yang terjadi?”

Seana mendekati anak-anak itu namun yang ia dapati hanya tatapan sinis dan kebencian. Cukup, Seana mulai kesal dengan kondisi ini. “Katakan siapa yang melakukannya, Zenin?” Seana melirik Zenin dengan serius.

Zenin bangun terduduk sambil menyentuh ulu hati yang terasa berdenyut. Lalu dengan keraguan, gadis itu menyebut nama Geas dan hal tersebut membuat sudut bibir Seana berkedut. Sungguh, ia paling tidak suka dengan saudara-saudara raga barunya ini, kenapa mereka begitu terobsesi dengan takhta sampai rela membunuh satu sama lain, tidak ada bedanya dengan iblis.

“Hei, berapa yang terluka lalu luka mereka di bagian apa saja?” Seana bertanya.

...***...

“Apa-apaan ini?!”

Dua hari kemudian, Geas dikejutkan dengan anak-anak asrama di kadet enam terluka. Kaki dan tangan mereka ada yang patah lalu wajah mereka bengkak dan lebam, seperti kondisi murid di kadet 9.

Mereka kemudian menjelaskan bahwa malam kemarin ketika tertidur, setiap kamar dimasuki seseorang dan mereka dibuat babak belur ketika masih terbaring di ranjang. Mereka gemetar ketakutan ketika bercerita tentang kejadian yang menimpa masing-masing dan mulai berasumsi bahwa itu perbuatan iblis yang menyelinap ke dalam akademi.

Geas masih menduga-duga, tapi pagi ini tanpa menyelesaikan kelasnya, ia pergi untuk berjalan-jalan di kadet tingkat 9 dengan gusar yang hendak meledak kapan saja lalu ia melongok ke dalam kelas adiknya, mendapati Seana tampak ceria ketika memperhatikan Charon menjelaskan pelajaran.

Setelah kelas selesai 15 menit kemudian, Seana, Celine dan Zenin yang baru pulih keluar dari kelas dan saat itu pula Geas sudah menunggu di depan sana dengan perasaan dongkol bersama antek-anteknya. Mereka memiliki tubuh lebih tinggi dan besar, satu tahun lebih tua dari mereka bertiga.

“Ah, sepertinya sesuatu yang menyenangkan baru saja terjadi padamu, ya?” Geas menatap rendah dan dingin adiknya.

Seana yang pendek dan kecil mendongak untuk melihat wajah kakak lelakinya, memang yang paling tampan hanya Ronav, pikir Seana.

“Iya, sangat menyenangkan. Ah, kenapa wajah teman-teman kakak diwarnai begitu?” Seana mengulum senyum sarkas sambil melempar pandang pada murid kadet 6 lainnya di belakang Geas.

“Ho, jadi kamu tahu aku ini saudaramu? Padahal kupikir kita tidak terlalu dekat jadi jangan panggil aku Kakak, anak haram!”

Seana terkikik lalu kembali menjawab. “Tentu saja aku tahu. Wajahmu sedikit berkabut dari pada yang lain. Uh, tentu tidak bisa dibandingkan dengan Kak Ronav, wajahmu itu berada di tingkat terakhir dalam keluarga kita.”

Sudut bibir Geas berdenyut kesal lantas tangannya terkepal, hendak menghantam kepala Seana namun gadis kecil itu menghindar dalam sekejap. Seana tahu bahwa abak kesebelas keluarga kekaisaran ini diberkati oleh Otos, dewa yang memiliki tubuh bak raksasa, kekuatan luar biasa. Jika terkena tinju itu, mungkin tempurung kepalanya akan hancur.

“Kak, baru saja kamu hampir membunuhku. Apa kamu tidak takut dengan konsekuensinya?” Mata Seana berkilat tajam.

Geas tergelak. “Kamu pikir aku takut?”

“Ya, kupikir begitu karena kamu langsung datang kemari untuk memastikan apakah luka pada anak-anak di kadet enam adalah ulahku. Yah, tentu saja benar. Aku membayarnya sesuai apa yang kamu lakukan pada rekanku. Aku adalah pemimpin di Kadet Tingkat Sembilan, jadi jangan bertingkah seenaknya lagi.” Seana melebarkan mata ketika menjelaskan, memancarkan kengerian melalui energi tekanan yang sedikit dilepaskan.

Kemarahan yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah. Sambil mengangkat kedua tangan yang terkepal, Geas menghantamkannya di lantai hingga koridor dan dinding menciptakan retakan dan bergemuruh. Semua murid di tingkat sembilan memekik dan mulai berlarian panik. Celin dan Zenin yang berada di belakang Seana menatap sengit pada Geas.

“Hentikan ini! Kamu sudah melewati batas!” Zenin berseru ketika langit-langit ruangan menjatuhkan sedikit reruntuhan kecil.

“Apa yang sedang kamu lakukan, Geas!” Damiez muncul, menghardik tindakan Geas.

Geas menghentikan tindakan, menatap Damiez dengan gurat kekesalan. “Dia adalah pelaku dari luka-luka yang kadet enam alami, Pak!”

“Apa kamu memiliki bukti?” Seana menyahut.

Geas tersentak sementara Damiez mengembuskan napas. Sejak Seana masuk, masalah baru mulai bermunculan. Entah masalah apalagi yang akan terjadi selama tiga tahun ke depan selama anak itu mengemban pendidikan di akademi ini.

“Siapa lagi kalau bukan kamu yang melakukannya.”

Seana menahan senyum lalu berujar sedih. “Dua hari lalu juga murid di kadet sembilan terluka parah, Pak. Tapi saya belum mengetahui pelakunya, hampir setengah rekan saya terluka, mereka mengalami patah tulang dan tangan cukup serius bahkan ada yang matanya hampir pecah karena terlalu kuat dihajar.”

Zenin dan Celin mengerutkan dahi, semua? Padahal mereka yakin hanya setengahnya.

“Semua katamu? Kami hanya membereskan sekitar 10 orang saja, jangan melebih-lebihkannya!”

Semua orang disana terdiam, termasuk Geas yang terkejut karena masuk ke dalam perangkap Seana. Gadis kecil itu kini menyembunyikan senyum di balik tangan yang membungkam mulut. “Ya ampun, maaf, sepertinya aku salah menghitung karena terlalu panik pada saat itu. Jadi kalian hanya membereskan sepuluh, ya, ditambah Zenin jadinya sebelas, kan.”

“Sialan! Kamu ini memang harus dibunuh!” Geas hendak melayangkan tinju namun Damiez memblokir serangan itu hanya dengan satu tangan walau begitu tangan Damiez sedkit berdenyut. Geas tidak main-main ingin membunuh Seana.

“Hentikan. Kamu ikut ke ruanganku dan bertanggung jawablah atas tindakanmu.” Damiez berujar pada Geas.

“Pak, tapi dia juga melakukan yang sama, jadi kita impas!”

Seana meneleng dari balik punggung Damiez. “Apa kamu punya bukti?”

Kedua tangan Damiez bergetar hebat, dia sungguh kesal melihat senyum angkuh gadis kecil itu lalu sambil menuruti keinginan Damiez, Geas kembali berujar penuh kecaman.

“Setelah semua ini selesai, aku akan datang menantangmu secara resmi! Kupastikan kamu meringkuk dan bersembunyi lagi di kastel tua itu!”

Seana tertawa pelan. “Maaf, Kakak. Sepertinya kamu ketinggalan informasi. Aku sekarang tinggal di Paviliun Malam Gemerlap.”

Geas melongo, tak percaya apa yang baru saja didengar namun yang pasti wajah lelaki itu merah padam karena malu dan marah karena Seana masih saja bisa menjawabnya. Anak itu sungguh membuatnya kesal setengah mati.

“Seminggu lagi aku akan menantangmu!” putus Geas sembari mengikuti Damiez untuk mempertanggung jawabkan tindakannya.

...BERSAMBUNG...

Terpopuler

Comments

Ifarim

Ifarim

Semangattt terussssssss kaka
aku tunggu kelanjutannya

2024-01-06

4

Utari Rahmawati

Utari Rahmawati

di tunggu up nya kak

2023-09-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!