...SELAMAT MEMBACA...
Seana mengembuskan napas bosan ketika pagi yang sama selalu terulang, duduk di balkon sambil menikmati secangkir teh hitam ditemani sepiring kue kering. Ini sudah mau tiga bulan sejak dirinya tinggal di kekaisaran, menjadi anak kedua belas kaisar.
Sungguh, Seana penasaran dengan kondisi di luar sana, kekacauan macam apa yang ditebar Algrus. Semua orang membicarakan monster-monster iblis kemudian beberapa ras mengeluh karena tidak satu pun dari mereka dibiarkan lolos setelah bertemu iblis.
"Sepertinya kamu sangat bosan, ya."
Mata Seana berbinar, ia segera turun dari kursi dan memeluk Zielda yang menyandar di pagar balkon. Kenapa dia lupa? Zielda memimpin salah satu pasukan kekaisaran bernama 'Magna' dan selalu berpergian untuk menangkap monster.
"Iya aku sangat bosan. Kudengar hari ini Kakak ada tugas di luar, bisakah aku ikut?"
"Tapi disana banyak monster, berbahaya."
"Aku tidak takut. Selain itu, aku bisa membantu jika ada yang terluka."
"Memang kamu sudah bisa menggunakan berkat Dewi Panacea?" Zielda mengernyit.
Seana angguk kepala lalu menepuk pelan sebuah bunga nyaris mati yang tertanam dalam pot kecil di sudut pagar balkon. Muncul partikel-partikel cahaya di sekitar bunga lalu dalam sekejap bunga tersebut berdiri tegap dan segar.
Zielda tepuk tangan sambil beroh ria. Ini sudah dekat bagi Seana untuk masuk akademi, jadi Zielda pikir tidak apa-apa mengajak adiknya berjalan-jalan memburu monster sekaligus memperkenalkannya pada anggota pasukan yang ia pimpin. Seana, kan, hanya tahu berkeliaran di kediaman tua itu, pikir Zielda.
"Kalau begitu bersiaplah besok. Kakak akan menjemputmu. Ah, sebelum itu minta izin pada Ayah."
Seana angguk kepala. Sorenya, Seana mengenakan gaun merah muda selutut, dengan kepala disematkan bando berpita besar dengan rambut dibiarkan tergerai, kaki kecil berisinya melangkah tergesa-gesa di sepanjang koridor menuju ruang kerja kaisar.
Para pekerja disana mulai berbisik, mengomentari penampilan Seana yang menggemaskan.
"Aku ingin menemui Yang Mulia."
Seana berujar pada dua penjaga di depan pintu kemudian setelah mendapat izin dari dalam Seana bergegas masuk dan menyampaikan keinginannya.
Kaisar diam sejenak, mengamati Seana lebih lekat. Anak itu semakin hari semakin menggemaskan, tapi berdasarkan cerita-cerita yang beredar akhir-akhir ini, katanya Seana bersikap begitu keji ketika menghadapi serangan kakak-kakaknya.
"Disana berbahaya, lagi pula dua pekan lagi kamu harus bersiap ke akademi." Kaisar fokus kembali pada tumpukan berkas di meja.
Seana berusaha menahan kesabaran. Sudah diam cukup lama hanya untuk menjawab permintaan izinnya, kaisar malah menolak. Wajah Seana mengembung, memerah karena menahan emosi. Viscount Yesar yang setia membantu Kaisar dalam segala urusan menunduk dan menahan tawa, betapa menggemaskannya anak bungsu itu.
Kaisar berdehem. "Baiklah kamu boleh pergi, tapi bawakan sesuatu untukku sebagai bentuk bahwa kamu berguna disana."
Mata biru Seana berbinar. "Sesuatu? Apa itu?"
"Seperti taring monster, atau kulitnya, apapun itu yang penting bagian dari monster yang kamu kalahkan sendiri."
Seana angguk antusias sambil mengacungkan jempol pada Kaisar. Viscount Yesar dan Kaisar saling pandang, apakah guru etika mengajari hal seperti itu? Tidak mencerminkan etika bangsawan sama sekali. Seharusnya Seana membungkuk rendah sambil mengangkat rok gaunnya sedikit, kebiasaan dasar yang sering ditunjukkan oleh anak-anak perempuan lainnya.
Seana mengangkat sebelah alis. Di Diabolus, menunjukkan ibu jari adalah pertanda persetujuan dan pujian.
"Kalau begitu mari saya antar." Pundak Viscount Yesar bergetar menahan tawa.
Seana hanya mengedikkan bahu tak acuh kemudian menunduk sejenak dan izin undur diri. Dia akan mulai berkemas untuk eskpedisi besok!
"Omong-omong, apa yang biasa manusia bawa ketika hendak menangkap monster, ya?" Seana berpikir keras.
...***...
"Lucunya. Ketua benar, dia seperti gumpalan kapas."
"Tapi kenapa banyak sekali barang yang dia bawa?"
"Dia pendek dan mungil. Jika dia lari ketakutan saat melihat monster, aku akan menangkapnya lebih dulu."
"Ya, ya, kupikir aku yang akan menangkapnya lebih dulu. Kau, kan, tidak berpengalaman mengurus anak kecil."
Seana mengembuskan napas mendengar coleteh para rombongan Zielda di belakang. Mereka menunggangi kuda, dan salah satu orang disana menggendong bendera, lambang pasukan Magna.
Seana sendiri duduk di depan Zielda, satu tunggangan dan kini mereka telah menjauhi istana menuju wilayah barat bernama Erpetra, hutan yang berada di sekitar bukit berbatu.
"Erpetra merupakan hutan yang belum dijamah monster, tapi baru-baru ini warga desa yang tinggal di sekitarnya bilang melihat iblis berkeliaran kemudian satu persatu warga mulai menghilang."
Zielda menjelaskan. Seana mengernyit, untuk apa iblis menculik manusia, sebelumnya mereka hanya menakut-nakuti dengan menghancurkan tempat tinggal, lalu mengirim monster untuk memporak-porandakan kehidupan disana. Perasaan Seana tidak enak karena Algrus yang ia kenal sebagai adik penurut dan baik hati kenyataannya adalah iblis penuh tipu muslihat sampai tega berkhianat.
Perjalanan ditempuh selama sehari penuh, dan setelah fajar tiba akhirnya mereka sampai di Erpetra namun betapa terkejut Seana mendapati desa disana sudah rata. Rumah warga lebur, menjadi puing-puing lalu terdapat jejak-jejak penyerangan yang brutal.
"Sepertinya ini iblis tingkat tinggi." Zielda mendesah kasar.
"Hutannya tidak jauh dari sini, haruskah kita kesana sekarang?"
Zielda angguk kepala pada wakilnya dan mulai melakukan perjalanan kesana.
"Ya ampun, ini benar-benar gila."
Hutan Erpetra dilingkup kabut hitam, segala makhluk hidup di dalamnya layu dan menghitam.
"Haruskah aku menggunakan kekuatanku, Kak?" tanya Seana.
Zielda menggeleng, lebih baik digunakan untuk situasi darurat seperti mengobati luka korban.
"Ini sangat mudah."
Zielda menarik pedang, dalam satu kali ayunan, hembusan besar tercipta dari pedangnya, mengusir kabut hingga tak tersisa tapi kondisi hutan tetap menyedihkan.
"Jangan terpisah, kita tidak perlu membagi rombongan."
Zielda mulai memimpin jalan, memasuki hutan lebih dalam. Udara hangat mulai berubah menjadi begitu dingin, sampai tubuh kecil Seana menggigil, untungnya salah seorang anggota pasukan langsung memberikan sihir penghangat pada Seana.
Groar!
Gila!
Kalau saja tidak melompat mundur bersama satu tebasan dilepaskan, Zielda yakin tubuhnya sudah dilumat oleh tongkat pemukul batu bergerigi orc.
"Ini tidak normal. Orc apa yang sebesar itu? Mereka bertubuh seperti raja orc!"
Semua anggota mendesis waspada, mereka memasang kuda-kuda untuk mulai menyerang. Muncul tiga orc berukuran besar, tiga kali lipat dari orc pada umumnya.
"Mereka dibangkitkan."
Seana memecah kebingungan semua orang. Anak kecil yang bahkan tidak pernah ikut dalam perburuan monster menjawab ketidaktahuan mereka tentang kejadian abnormal ini.
"Kebangkitan?" Zielda mengerutkan dahi.
Seana lantas menunjuk batu Mana yang menyisip di tengah dada monster berwajah babi itu, batu Mana nya hitam pekat, itu adalah Mana negatif yang ditanam oleh iblis.
"Monster berevolusi berkat bantuan iblis, mereka telah menjadi budak iblis dan bertindak sesuai apa yang dikatakan iblis yang membantu mereka."
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
Seana diam sejenak, mencari alasan yang tepat agar tidak dicurigai. "Berkat kemampuan Panacea aku bisa mendeteksi kutukan. Batu Mana itu termasuk dalam kutukan yang membangkitkan kekuatan jahat makhluk hidup."
"Bagaimana cara cepat membunuhnya?"
"Hm, sepertinya cukup hancurkan bat—"
Percakapan terhenti, Orc mulai menyerang. Menghantamkan tongkat batu secara membabi buta, mata mereka telah diliput kegelapan. Zielda geram karena perkataan Seana terputus akibat serangan dadakan itu.
"Bede*bah!" maki Zielda bersama serangan yang dilakukan secara zigzag. Seana yang berada dalam gendongannya hanya diam dengan sedikit rasa mual.
Tiga orc tadi sudah tumbang namun mereka beregenerasi sangat cepat, hidup kembali setelah kepalanya ditebas oleh Zielda.
"Hancurkan batu Mana-nya, Kak!" Seana menunjuk batu itu, kemudian para pemanah dari rombongan mulai membidik, tepat mengenai sasaran.
"Wah-wah! Hebat sekali! Padahal kupikir tidak ada yang tahu kelemahannya."
Semuanya mendongak, mendapati seorang iblis pria melayang di atas sambil bertepuk tangan. Mana yang memancar dari iblis itu begitu pekat dan Seana tahu betul siapa sosok itu, Lucane!
Mata merah Lucane berkilat penuh selidik ke bocah yang memberi arahan pada pasukan kekaisaran Magna. Padahal ini adalah kekacauan kecil yang ia ciptakan sebagai permulaan untuk menimbulkan ketakutan bagi ras manusia, tapi mengapa ada anak manusia yang tahu hal semacam ini, hanya iblis yang tahu cara kerja dan penyelesaiannya.
Zielda menyebikkan bibir, menyerahkan Seana pada orang terkuat di pasukannya kemudian dalam satu kali ancang-ancang untuk menggapai Lucane, Zielda melompat begitu tinggi sambil mengangkat pedang, siap menebas Lucane.
Lucane tidak menghindar, justru tersenyum sambil menjentikkan jari. Ctak! Saat itu pula pedang Zielda bersinggungan dengan pedang super besar yang dipegang oleh orc bertubuh dua kali lipat lebih besar dari 3 orc sebelumnya dan di dada orc itu tersemat 3 batu Mana hitam.
Akibat benturan dua senjata tersebut, gelombang angin tercipta begitu dahsyat, merobohkan beberapa pohon yang akarnya sudah melemah.
"Tidak akan kubiarkan kamu menyentuh Tuanku."
Semua orang terkejut, Orc itu baru saja bicara! Orc yang memiliki kesadaran dan kepribadian seperti manusia! Tangan Seana gemetar sangking murkanya, itu terbentuk karena Orc mengonsumsi banyak manusia!
"Kalian benar-benar menyalahgunakan kuasaku!"
Seana melompat dari gendongan wakil master Magna, lalu dalam satu kali jentikan pula, Seana memanggil familiarnya.
"Hell, datanglah."
...BERSAMBUNG ......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Itzz Moon 1408
seru nihhhhh
2024-02-11
1
Anramu
seina lucu bgtt
2023-08-27
1
Nani Kurniasih
suka banget novel genre kayak gini tuch 😍😍 semangat update ya kak 👍😉👍😉
2023-08-24
1