02| Dipanggil Kaisar

...SELAMAT MEMBACA...

“Jadi, bagaimana lagi aku mengajari seorang bawahan yang membangkang pada majikannya? Aku sangat berdebar.”

Seana diam sambil menyentuh dagu, berpikir keras bagaimana cara membalikkan keadaan lalu dalam sekedip mata birunya menangkap pedang tersampir di pinggang kesatria. Mengetahui apa yang selanjutnya akan ia lakukan, Seana tersenyum angkuh pada si kesatria, ia tidak akan melakukan sesuatu sebelum diserang lebih dulu.

“Aku hanya memberi hukuman terhadap bawahan yang bersikap kurang ajar pada majikannya. Mau kamu mengatakan aku aib, pada kenyataannya kamu sudah melayaniku sejak kaisar memerintahkanmu berada disini.”

Kesatria tersentak, perkataan itu benar tapi harga dirinya sebagai kesatria tercoreng karena harus melayani keturunan yang dibuang. Melihat betapa angkuhnya Seana membuat si Kesatria mendorong Seana hingga terjerembab lalu tanpa rasa kemanusiaan menaruh kaki di atas tangan kurus Seana.

“Lihatlah, kamu saja tidak bisa melawan. Jika kamu masih mau hidup maka bersikaplah seperti sebelumnya, patuh dan berlagak seperti budak!”

Kesatria itu lantas tergelak panjang disusul kekehan kecil pendukung di balik punggungnya. Di sisi lain, Douglas yang melihat pemandangan tersebut bergegas untuk menyelamatkan sang nona dari penindasan namun belum sempat buka suara untuk menegur si kesatria, darah bersimbur dari kepala kesatria yang terpisah dari tubuh.

Dalam sekejap, Seana menarik pedang di pinggang kesatria dan menebas tanpa keraguan setelah itu ubin mengilap menjadi kotor oleh darah disusul pekikan para penghuni kediaman. Seana berdiri masih dengan pedang berlumur darah di tangannya lalu menoleh ke arah Douglas.

“Tangkap orang-orang yang mendukung tindakan kesatria ini, aku akan mendisiplinkan mereka.” Seana memberi perintah.

Douglas membeku, sekujur tubuhnya merasakan kengerian luar biasa pada sosok Seana.

“Mohon ampuni kami, Nona!”

“Kami bersumpah tidak akan mengulangi hal yang sama!”

“Kami berjanji untuk melayani Anda bahkan jika nyawa bayarannya!”

Orang-orang di belakang kesatria tadi langsung bersimpuh, menyembah pengampunan. Seana menutup mulut dengan sebelah tangan demi menyembunyikan senyum penuh kemenangan lalu saat Douglas mendekat dan hendak memberi perintah penangkapan, Seana mengangkat telapak tangan sebagai tanda berhenti.

“Biarkan mereka kembali bekerja, Douglas. Lebih baik bereskan jasad pembangkang itu."

...***...

Kabar tentang Seana yang membunuh kesatria telah menyebar di seluruh istana kekaisaran, namun banyak orang tidak percaya hal tersebut kecuali kakak-kakaknya yang memang melihat jasad si kesatria dengan kepala dan tubuh terpisah diangkut.

“Apa? Yang Mulia ingin aku menemuinya?”

Ini sudah tiga hari berlalu sejak menjadi putri bungsu kaisar lalu tiba-tiba ajudan dari istana utama datang untuk menyampaikan perintah kaisar. Seana tidak terlalu terkejut jika semua orang tahu kegilaannya beberapa hari lalu tapi, tidak disangka itu mencuri perhatian seorang ayah yang bahkan tak menganggap keberadaannya.

“Benar, Putri. Maka dari itu, Saya datang untuk menjemput Anda.”

Sekarang, Seana sudah berada di ruang takhta. Ruang itu pencahayaannya hanya berasal dari atap kerucut yang tersumpal kaca jadi ruangan cukup gelap karena pencahayaan yang minim. Namun bukan itu yang menarik perhatian, melainkan sisi kanan kiri jalan setapak menuju singgasana diisi oleh anak-anak tertua kaisar, mereka adalah orang-orang terkuat yang memiliki kemampuan hebat dan telah diakui langsung oleh kaisar.

“Apa benar kamu mengeksekusi mati seorang kesatria yang kupercayakan untuk menjagamu?”

Suara berat bergaung dalam ruangan. Energi membunuh amat besar membuat napas Seana tercekat di kerongkongan namun, jika terjatuh sekarang karena memanjakan tubuh lemahnya maka pria paruh baya bertubuh besar penuh luka itu akan meremehkannya lagi.

“Ya, saya melakukannya.” Seana menjawab dengan kepala terangkat lebih tinggi.

Hah!

Energi membunuh kaisar hilang dalam sekejap setelah melihat kilat penuh kebencian di mata putri bungsunya. Ini mengejutkan, sebelumnya tidak ada anak seusia itu yang berani menjawab sambil menatap matanya tapi Seana melakukannya bahkan berusaha bertahan dari energi membunuh yang dikerahkan pada tubuh ringkih yang bisa hancur kapan saja tersebut.

“Kenapa kamu melakukannya?”

“Sebelumnya seorang pelayan memperlakukan saya seperti budak, menyuruh saya membersihkan seluruh kediaman kemudian seorang kesatria datang dan menginjak tangan saya sambil memberi saran tentang bagaimana seharusnya saya hidup jika tidak ingin mati. Walaupun saya disebut sebagai aib keluarga kekaisaran, bagaimana pun juga saya seorang Zalmitic jadi saya hanya mempertahankan harga diri sebagai majikan mereka.”

Saudaranya tertegun, mata mereka membeliak melihat sorot mata Seana tak goyah saat membeberkan fakta tersebut dan tentu beberapa dari mereka menahan amarah setelah tahu bahwa kesatria dan pelayan disana memperlakukan keturunan Zalmitic demikian.

“Tapi kenapa kamu harus membunuhnya di tempat terbuka?” Kaisar menatap Seana begitu dingin.

Seana melebarkan mata sambil menunjukkan sedikit senyum. “Kenapa saya harus menahan diri lagi? Tidak ada cara lain untuk membuat mereka tunduk pada orang yang dianggap tidak berguna sebelumnya. Saya tidak mau direndahkan lebih jauh karena mulai sekarang saya akan hidup seperti yang saya inginkan.”

Eh?

Semua perhatian langsung terpusat ke Seana kemudian tak lama setelahnya kaisar berdiri dan membelakangi semua orang. “Kalau begitu kembalilah.”

Seana menunduk rendah dengan tangan kanan menyilang ke dada kiri. “Kalau begitu saya undur diri, Yang Mulia.”

Setelah kepergian Seana, tawa kaisar menggelegar dalam ruangan namun sebagian dari anak-anaknya merasa tidak senang dengan perubahan anak haram tersebut.

“Akan ada angin baru di Zalmitic,” batin Kaisar.

...***...

“Haah, rasanya aku mau mati.”

Seana sudah kembali ke kediaman dan disambut oleh pelayan dengan luka jahit di pelipis, namanya Frena, korban pertamanya.

“Apakah Yang Mulia memarahi Anda?”

Seana melirik Frena menuang teh earl grey dalam cangkir porselen di atas meja. “Tidak sama sekali tapi, aura permusuhan dari saudara lain membuatku sesak.”

“Anda harus berhati-hati. Walau penerus sudah dipilih, mereka semua saling bersaing di belakang kaisar karena tidak menutup kemungkinan penerus dipilih ulang berdasarkan kemampuan yang dimiliki.”

Seana menyesap teh sambil mendengarkan, ternyata Frena cukup pandai dan tahu banyak hal jadi Seana cukup senang karena tidak membunuh Frena saat itu.

“Siapa penerus yang telah dipilih saat ini?”

“Putri Zielda Hamiera, anak tertua kaisar.”

“Apa dia cukup hebat?”

Frena langsung menegapkan tubuh, matanya bahkan penuh semangat. “Sangat luar biasa! Putri mahkota bisa membelah gunung hanya dengan satu ayuban pedang dan tidak berhenti disitu, saya dengar beliau berhasil membunuh monster tingkat malapetaka!”

“Apa kamu tidak berlebihan?” Seana menatap Frena skeptis.

“Apa yang dikatakannya itu benar. Apa kamu mau melihatnya, Sayangku?”

Sekujur tubuh Seana meremang saat tiba-tiba muncul wanita berambut merah bak api dari jendela sayap yang terbuka lebar di sisinya.

Apa dia Zielda Hamiera? tapi kenapa dia muncul disini?!" 

Seana melotot sementara Zielda sudah masuk sambil menatap Seana dengan lapar.

...BERSAMBUNG ......

Terpopuler

Comments

Anramu

Anramu

keknya bapaknya sayang deh tapi pura pura gak peduli😭

2023-08-27

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!