14| Permintaan duel resmi

...SELAMAT MEMBACA...

“Memang kenapa kalau ibuku seorang la*cur? Yah, aku akan melayani kalian jika sudah besar nanti, kulayani kalian untuk dimakamkan dengan baik.” Seana kini duduk di atas meja dengan kaki menyilang, tersenyum mengejek melihat mulut-mulut jahat tadi tidak lagi melontarkan kalimat jahat tentang ibunya.

Zenin menegang, bibirnya terkatup rapat dengan ujung lidah menempel kuat di langit-langit mulut. Bagaimana bisa anak berwajah bulat dan menggemaskan menunjukkan aura mengerikan yang membuatnya tertekan sampai demikian. Tidak, Zenin harus bergerak dan melaporkan kejadian ini pada pihak akademi dengan begitu Seana akan langsung dikeluarkan sebelum memulai hari pertama karena di akademi tidak boleh menumpahkan darah jika tidak dalam duel secara resmi atau dalam kondisi tertentu yang disetujui pihak akademi. Seana telah melanggar kebijakan akademi.

Seana tersenyum tipis melihat Zenin berusaha lepas dari energi tekanannya, jadi dengan sengaja ia hanya membebaskan gadis itu. Tidak terpaku begitu lama, Zenin lari terbirit-birit untuk memanggil Damiez ke kantin, melaporkan hal gila apa yang Seana perbuat pada murid lain.

Damiez tidak percaya namun tetap mengikuti Zenin namun ketika sampai disana suasana kantin tampak tenang, tidak ada keributan seperti apa yang Zenin ceritakan namun, ya, suasana sedikit mencekik dan canggung lalu Seana tampak khidmat menikmati makanannya.

Jemari-jemari Zenin mendadak dingin, telapak tangannya berkeringat lalu sepasang bagian putih matanya gemetar gelisah karena tidak ada satupun jejak-jejak penyerangan atau perkelahian.

“P-pak, saya sungguh melihatnya!” Zenin berusaha meyakinkan.

“Hei, dimana anak-anak yang mulutnya terluka karena anak haram itu?!” Zenin bertanya pada semua murid di kantin, bersuara lantang dan penuh amarah.

Damiez diam, rautnya berubah berang mendengar sebutan Zenin pada Seana. Perkataan itu termasuk penghinaan terhadap keluarga kekaisaran. Walau memang itu kenyataan, tapi tidak patut diucapkan ditempat terbuka seperti ini.

Seana menyelesaikan makan malamnya, memandangi Zenin dengan sok sedih sambil menopang wajah menggunakan sebelah tangan sementara tangan bebas lainnya memegang garpu dan di arahkan ke Zenin seolah mengolok-ngolok gadis itu dan mengingatkan kejadian tadi. Seana menggunakan kekuatan penyembuh pada anak-anak tadi sambil memberi sebuah nasihat jika tidak ingin berakhir lebih buruk ke depannya, mereka harus meninggalkan Zenin dan beralih padanya.

“Apa kamu sungguh menyerang anak-anak yang sering bersama Zenin disini, Seana?”

Damiez berdiri di samping Seana yang duduk di kursi. Tatapan dingin dan penuh selidik itu membuat Seana berusaha menahan senyum sambil menampilkan raut wajah bingung.

“Menyerang?” Seana melirik Zenin lalu beralih menatap semua murid di tingkat sembilan tersebut.

“Anak-anak yang mana?” Seana lantas mendongak, menatap Damiez penuh keluguan.

Haah ...

Damiez mengembuskan napas dan menatap berang ke arah Zenin. “Apa ini sebuah tuduhan tak mendasar, Zenin? Kamu adalah pemimpin di Kadet tingkat sembilan, tapi bagaimana bisa kamu tidak bisa menjaga lisan dan tindakanmu!”

Hardikan Damiez membuat kepala Zenin tertunduk lebih rendah, gadis itu mengamit jemari dengan gelisah dengan telapak tangan basah oleh keringat dingin. Sungguh, Seana ingin kembali ke kamar lalu melepas tawa kemenangan melihat Zenin.

“Selamat malam, Pak.”

Sekelompok anak-anak yang Damiez sering jumpai bersama Zenin muncul, penampilan mereka rapi dan tidak ada yang terluka sama sekali. Oleh dari itu, Zenin benar-benar nyaris mati tersedak ludah sendiri, padahal tadi semuanya meraung kesakitan dan penuh darah, tapi bahkan tidak ada setitik pun noda darah di pakaian mereka.

Damiez melirik skeptis pada Seana. Jika benar dugaannya, anak itu menggunakan berkat Dewi Panacea demi menghilangkan jejak, tapi tidak ada bukti yang tertinggal jadi walaupun Zenin benar, anak itu tidak bisa menang karena sepertinya anak-anak di depannya, tidak, tapi seluruh murid di tingkat sembilan ini tidak akan membuka mulut meski dipaksa karena keberadaan Seana telah mendominasi rasa takut mereka.

Walau begitu, Damiez berusaha bertanya lagi, “Apa benar tadi kalian diserang oleh murid baru ini?” Damiez mengarahkan sebelah telapak tangan pada Seana.

Zenin menyeringai lalu melirik Seana, berpikir kali ini anak itu akan kehilangan kata-kata setelah Damiez mengajukan pertanyaan serupa. Anak buahnya itu pasti akan membeberkan semuanya, tapi detik berikutnya bersama jawaban yang lolos dari salah satu anak buahnya membuat Zenin melongo tak percaya.

“Apa maksud, Bapak? Kami baru saja datang untuk makan malam. Lalu, kami baru melihat murid baru yang Bapak maksud.”

“Hei, Esie! Kamu mau mati, ya! Berani-beraninya kamu memberi pengakuan palsu!” Emosi Zenin memuncak, ia meraih kerah gadis yang melontarkan jawaban tadi dan hendak melayangkan tamparan, namun Damiez menarik paksa kerah belakang tengkuk Zenin.

“Sudah cukup. Sebaiknya kamu makan malam di kamar dan beristirahat, Zenin. Kamu berlatih sangat keras hingga hilang konsentrasi.”

“Tapi, Pak, saya sung—“

“Cukup, Zenin. Apa kamu ingin memperburuk situasi ini apalagi kamu hampir melanggar peraturan untuk tidak menyerang murid lain tanpa alasan yang jelas? Selain itu kamu juga sempat menghina keluarga kekaisaran. Walaupun status kalian ditiadakan saat disini, bukan berarti kalian bisa bersikap sewenang-wenang.”

Damiez ingin menyudahi ini. Jika Zenin semakin keras kepala, Seana mungkin akan mengambil tindakan lain dengan menggunakan penghinaan tadi untuk menciptakan masalah internal antara keluarga Zenin dan kekaisaran. Anak kecil berwajah bulat yang tersenyum lugu itu sangat picik dan juga mengerikan dari ke empat anak kaisar yang berada di akademi ini.

Zenin tidak bisa berkata apa-apa lagi jadi dia kembali ke asrama namun sebelum itu matanya dipenuhi kemarahan pada anak buahnya, murid di sekitar serta Seana.

Semua murid hanya memalingkan mata. Lagi pula sejak Zenin menjadi pemimpin di tingkat sembilan, gadis itu terus melakukan perundungan pada murid yang memiliki status lebih rendah. Tak main-main, Zenin bahkan mampu mengeluarkan seseorang dari akademi dengan segala tipu muslihat dan Celin nyaris jadi salah satu korbannya.

“Fufufu ... dasar anak bau kencur.” Seana mengejek sambil bersenandung kecil ketika melangkah untuk mengembalikan nampan berisi makanan di tempat kotor.

...***...

Esok harinya, di kawasan asrama Kadet tingkat enam, Zenin tergesa-gesa mendatangi salah satu kamar dan mengetuk penuh kehati-hatian. Kepala anak itu tertunduk begitu dalam ketika pintu terbuka dan menampakan seorang pemuda berambut hitam berkulit tan, tampangnya seperti anak nakal.

“Ini masih pagi, kenapa kamu mengganggu waktuku?” Alis pemuda itu menukik tajam bersama ekspresi mengerut dingkol.

Zenin menggeleng cepat lalu berujar dalam satu tarikan napas. “Anak haram itu telah mengambil posisi saya sebagai Pemimpin di Kadet sembilan!”

Sontak sepasang alis pemuda tadi terangkat. Dia adalah anak kesebelas kaisar, Geas Saviero.

“Coba ulangi lagi.” Geas mengorek ujung lubang telinganya dengan jari telunjuk.

“Pagi ini semua anak-anak di tingkat sembilan menjauhi saya, mereka tidak lagi mau mendengar perintah saya. Mereka kini berada di bawah kaki anak itu.”

Geas lantas tertawa lalu menarik Zenin masuk. Meminta cerita yang lebih lengkap dan setelahnya Geas hanya mampu tertawa dan menjenggut rambut Zenin hingga kepala gadis itu mendongak. “Hei, kamu habis mimpi buruk, ya? Katamu anak itu menyerang keenam anak buahmu dalam hitungan detik? Kamu kira dia anak iblis atau semacamnya?”

Seana Salvatrice. Geas tidak akan lupa dengan anak lusuh yang setiap kali berpapasan dengan orang-orang hanya bisa menundukkan kepala dan jika mendegar secuil hinaan akan terisak dan berlari entah kemana. Jadi, mana mungkin anak itu melakukan semua ini.

“Hei, katanya kamu ingin keluargamu semakin dekat dengan kaisar, apa cuman segini usahamu?” Geas mendesis, matanya memancarkan cahaya kecaman.

Pupil Zenin bergetar takut. “S-saya akan membuat anak itu sadar akan posisinya.”

Sudut bibir Geas terangkat. “Bagus, jangan kecewakan aku lebih dari ini.”

Geas lantas mendorong kasar Zenin hingga keluar dari kamarnya. Merasa sangat kesal karena dua anggota keluarga kaisar itu membuat harga dirinya kian jatuh, Zenin langsung menghadiri kelas pertama bersama Seana.

“Aku menantangmu, Duel!”

Di depan semua murid tingkat sembilan, Zenin melempar sarung tangan pada Seana. Itu adalah permintaan duel secara resmi dan kejadian ini disaksikan oleh guru pengajar tingkat sembilan, Charon.

"Ah, sudah kuduga dia akan melakukan ini."

Zenin mengingatkan Seana pada Vilan. Orang semacam ini tidak akan diam setelah mendapat pelajaran sekali saja. Maka dari itu pelajaran kedua harus diberikan dengan sangat keras. Sambil memungut sapu tangan putih Zenin, Seana menoleh pada guru lelaki di depan papan tulis.

“Pak, jika saya menang apakah posisi Pemimpin di tingkat ini jadi milik saya?” Seana tersenyum lebar sambil memancarkan kengerian lewat mata.

Charon angguk kepala kemudian maju diantara dua muridnya. “Benar. Tapi dalam duel ini kami tidak bisa bertanggung jawab penuh atas kejadian fatal yang terjadi selama duel kecuali kamu mengangkat tangan atau mengatakan menyerah ketika duel berlangsung.”

“Kalau begitu saya menerima tantangan Pemimpin Kadet Tingkat Sembilan, Zenin.” Seana melempar balik sarung tangan tersebut tepat mengenai wajah Zenin.

“Anak sialan! Aku akan membuatmu tidak bisa bangun lagi!” Zenin memaki dalam hati bersama wajah yang kian memanas karena geram melihat Seana menunjukkan senyum angkuh setelah melempari wajahnya dengan sapu tangan.

...BERSAMBUNG ......

Terpopuler

Comments

Itzz Moon 1408

Itzz Moon 1408

hahhh,,dsar manusia

2024-02-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!