07| Kemunculan Panacea

...SELAMAT MEMBACA...

“Aku terima duelnya.” Seana melempar sarung tangan ke dada Vilan.

Mata Vilan bergerak ke bawah, memandang sarung tangan yang jatuh menutupi ujung sepatunya. Kilat kemarahan memenuhi mata cokelat cerah Vilan lalu bersama ledakan emosi, Vilan hendak menggunakan sihir tanah untuk mengubur Seana hidup-hidup tapi dalam sekedip Ronav muncul di tengah-tengah sambil menyentil dahi kedua adiknya.

Ronav Hesar, anak ketiga kaisar sekaligus sosok yang diberkati Dewi Themis, dewi yang digambarkan sebagai keadilan. Kemampuan utamanya mampu melihat masa depan seperkian detik, memprediksi inti sebuah peristiwa, ia memilki karunia ramalan.

Rambut pirang dan mata amber Ronav bersinar di bawah teriknya matahari, itu terlihat amat serasi, indah dan mewah. Untuk sesaat Seana berpikir ada dewa muncul di antara mereka.

“Ya ampun, adik bungsu hampir meneteskan liur,” kelakar Lucas.

Seana yang tertangkap basah langsung memalingkan wajah cepat, bersemu.

“Bagaimana bisa kamu yang paling dewasa memulai sebuah pertengkaran?” Ronav melirik Vilan yang langsung menunduk malu.

“Aku hanya mau bermain-main denganny-“

“Apa? Bermain? Mana ada kekerasan disebut bermain!” Seana mengarahkan telunjuk pada Vilan, kedua kakinya terbuka lebar bersama sebelah tangan berkacak pinggang.

Pfft! Lasius dan Lucas menahan tawa, pundak keduanya gemetar melihat Seana membela diri.

“Kamu ...,” Ronav menghadap Seana, mendekat lalu membawa Seana dalam gendongannya.

Seana berkedip dua kali, mata besar birunya menelisik jauh ke dalam sinar mata Ronav yang indah lalu tak lama daun telinga kakaknya menjadi merah.

“Ekhem!” Ronav berdehem mengusir kegugupan lalu berkata, “Kamu harus diberi hukuman karena melakukan tindakan yang kejam.” Ronav kemudian berjalan meninggalkan kediaman Vilan sambil menggendong Seana dengan sebelah tangan.

Lasius dan Lucas saling pandang sementara Vilan memungut sapu tangan Seana penuh dendam. Hari ini dia dipermalukan di depan tiga saudara lain maka dari itu, Vilan berniat membuat masalah baru.

Sementara itu di kediaman anak ketiga kaisar, Ronav Hesar.

“Katanya aku mau dihukum?”

Seana membatin. Ronav menyodorkan beragam kue dan dessert manis lembut, penuh cream dan potongan buah.

“Hukumanmu habiskan itu.”

Ronav menunjuk semua makanan manis di meja dengan suara agak dingin. Seana bisa saja menolak, tapi selain daging monster yang dimakan selama sebulan penuh, lidahnya tidak pernah mengecap sesuatu yang lembut dan manis jadi tanpa malu dan ragu tangan mungil Seana meraih beberapa kue dan melahapnya cepat.

“Apa-apaan Zielda. Dia bilang anak ini imut, tapi bukankah dia sangat, sangat imut?! Bagaimana bisa anak selucu dan semanis ini diabaikan? Sial! Pipinya menggembung seperti tupai saat mulutnya dipenuhi makanan!” Ronav menunduk, seluruh wajahnya terasa panas sangking gemas melihat Seana.

Seana mengernyit. “Ada apa, sih, dengan manusia itu?”

...***...

Tubuh mungil dan pendek Seana telah terbalut dress vintage putih selutut. Wajah yang semula tirus kini sudah gembil dan jauh lebih segar ketimbang beberapa bulan lalu. Rambut keperakan Seana disanggul agak tinggi, menyisakan bayi-bayi rambut di bagian tengkuk dan sekitar atas dahi serta dekat telinga, kemudian wajah mungil gadis itu diberi sedikit riasan tipis, kaki kecilnya telah dipasang sepatu putih berkilauan dan kini, terwujudlah gadis terimut dari keluarga kekaisaran, Seana Salvatrice.

Zielda, Ronav, Lucas, Eleos, Douglas serta seluruh penghuni kediaman Seana sudah ada disana sejak pagi, memperhatikan bagaimana telatennya Frena dan beberapa dayang lain membantu Seana bersiap untuk pembaptisan di Sanctia.

Setiap anak yang telah memasuki usia 12 tahun akan melakukan pembaptisan di Sanctia, itu akan melalui upacara suci untuk menghilangkan roh serta niat jahat, mendapat dan menerima berkat serta rahmat dari Dewa-Dewi dan hari ini untuk pertama kali dalam hidupnya Seana akan menginjakkan kaki di tempat yang diharamkan bagi bangsa iblis. Sanctia, tempat ibadah untuk memuja Dewa-Dewi.

“Sial! Aku tidak bisa melewatkan ini!”

Ronav mengarahkan bola sihir di depan meja rias Seana, itu adalah alat sihir untuk merekam sesuatu di sekitar, cukup diletakkan lalu mengalirkan Mana ke dalamnya, maka itu akan mulai bekerja.

Seana sungguh gusar mendengar coleteh dan pandangan semua orang pada penampilannya. Kini ia telah bersiap untuk meninggalkan Istana menuju Sanctia Pantodynamos, salah satu tempat beribadah terbesar di Kekaisaran.

“Jadi, kenapa Kakak-kakak sekalian ada di keretaku?”

Seana duduk, melipat tangan depan dada sambil menatap sinis ke tiga saudara yang tiba-tiba masuk dalam keretanya sementara Eleos dan Frena berada di kereta lain, tiga orang itu mengusir bawahannya ke kereta lain di belakang.

“Ya ampun, bukankah adik bungsu kita ini terlalu dingin?” Lucas menyentuh dada dengan perasaan pedih dibuat-buat.

Seana mengernyit jijik padahal Lucas yang paling tidak dekat dengannya, berbeda dengan Zielda dan Ronav yang telah terlibat perbincangan dengannya jadi kenapa Lucas begitu tertarik padanya? Seana mengembuskan napas, bagaimana pun mereka hanya anak-anak dan dia adalah yang paling tua, setingkat leluhur mereka.

"Sepertinya kamu sangat kesal melihatku. Apa karena mata merahku membuatmu risi?" Lucas tersenyum jenaka.

Seana mendengus dan melirik Lucas sekilas. "Untuk apa aku ris dengan mata merah cantik itu, aku hanya kesal karena kakak senang menjahiliku."

"Apa katamu?" Lucas terkesiap.

"Apa?"

"Kamu bilang mataku cantik."

Seana mengerutkan dahi. "Apa itu terdengar aneh? Dari sekian mata yang kulihat, mata Kakak memiliki warna merah jenih yang indah, itu sungguh membuat iri." Seana sedikit merengut karena matanya ditubuh pertama tidak seindah mata Lucas. Bagaimana bisa mata manusia memiliki warna merah yang begitu cantik ketimbang bangs iblis, itulah yang Seana pikirkan saat pertama kali bersitatap dengan mata merah jernih anak ketiga kaisar tersebut.

Lucas tidak bicara lagi tapi sepanjang perjalanan terus tersenyum membuat Seana hanya mengedikkan bahu acuh sementara Ronav dan Zielda saling pandang tak mengerti perubahan sikap Lucas.

Tidak butuh waktu lama mereka sampai ke Sanctia Pantodynamos setelah melewati portal sihir teleportasi. Tempat itu lebih terkesan mewah dan megah ketimbang istana, pendeta-pendeta muda berpakaian serba putih berlalu lalang dan menyambut Kaisar yang ternyata datang lebih dulu. Seana pikir bahwa kaisar tidak akan hadir karena mungkin ia yang disebut ‘aib keluarga kekaisaran’ tidak akan mendapat berkat Dewa-Dewi.

“Kemarilah.”

Seana tergugu ketika tangan besar dan kasar kaisar terulur ke arahnya yang baru turun dari kereta kemudian sepanjang jalan menuju ruang upacara pembaptisan, seluruh atensi berpusat pada kaisar yang menuntun anak bungsunya. Padahal sebelum-sebelumnya kaisar memang menemani anak lain setiap kali memasuki masa pembaptisan di Sanctia Pantodynamos namun entah kenapa kali ini ekspresi sang kaisar sedikit lebih cerah, senyumnya seolah ditekan sekuat tenaga, mempertahankan raut wajah bengis yang penuh keagungan.

Setelah sampai, proses pembaptisan dilakukan jam sembilan pagi dimulai dari tahap-tahap dasar hingga inti. Petugas Sanctia mulai membaca orasi di mimbar, suaranya bergema seolah akan menembus ke langit kemudian Seana dipanggil maju menghadap Paus Kekaisaran, Paulus Rivtes, di belakang Paus tersebut ada seorang pemuda berusia 18 tahun yang menatap Seana intens, seolah memandang jauh sampai ke jiwa gadis kecil tersebut.

Paus lantas meraih tangan kecil Seana, melantunkan puji-pujian lalu menjauhi Seana. Ia menatap seluruh hadirin terutama Kaisar yang duduk di bangku paling depan ditemani beberapa anaknya. Mereka semua menunggu sebuah keajaiban turun untuk menunjukkan bakat seperti apa yang dimiliki Seana.

Seana mendengus malas, ia ingin pulang sekarang tapi ketegangan semua orang mencekik udara di sekitar. Seana berpikir dewa tidak akan muncul memberkati seorang ratu iblis, jika pun muncul itu pasti Dewa kegelapan dan kehancuran.

“Ini semua anugerah yang luar biasa! Anak ke 12 kekaisaran Zalmitic diberkati oleh Dewi Penyembuhan Dunia, Sang Panacea! Dia akan menjadi Saintess yang menyelamatkan kehidupan, dia diberkati kekuatan yang amat mulia.” Paus berdiri tegap, mengumandangkan apa yang ia rasa dari Seana, tangannya terlentang bangga dan puas.

Sesaat suasana senyap, tidak ada yang bersuara karena tercengang. Selama beribu-ribu tahun Panacea tidak pernah menurunkan karunia-Nya pada keluarga kekaisaran Zalmitic, tapi itu tidak terjadi hari ini sehingga detik berikutnya semua orang riuh, melempar pujian pada Seana dan keluarga kekaisaran.

“Hah?” sudut bibir Seana berkedut, matanya terbelalak tak percaya.

T-tidak ini pasti salah paham, aku ini iblis! Ratu iblis! Bagaimana bisa diberkahi Panacea? Apakah dia tidak tahu aku adalah iblis? Tapi, kan, dia seorang dewi. Tidak! Aku yakin Paus ini membual, dia salah membaca aliran Mana dalam tubuhku!

Seana berusaha mendekati Paus, memberitahu bahwa itu mungkin salah paham dan berharap melakukan penilaian ulang, tapi dalam sekejap ruangan bergemuruh bersama munculnya semburan cahaya emas dari atap kaca ruangan yang menjulang tinggi, menghadirkan replika Panacea dalam wujud wanita yang terbentuk dari Mana suci emas transparan, sosok replika Panacea memeluk dan mendaratkan ciuman di kening Seana.

...BERSAMBUNG ......

Terpopuler

Comments

Ririn Santi

Ririn Santi

geli hati membayangkan kebinggungan seana/Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-02-11

3

Itzz Moon 1408

Itzz Moon 1408

/Facepalm//Facepalm/auto trcengang dewa lain

2024-02-11

1

Anramu

Anramu

OMG!

2023-08-27

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!