Berkelahi

Nayla sudah kembali ke Kota M, sore ini dia sudah kembali ke rumahnya.

"Nay.." Luna menghampiri putrinya yang baru saja pulang ke rumah. "Ibu.." Nayla memeluk Ibunya. "Kamu kok ke luar Kota nggak pamit sama Ibu sih Nay."

"Maaf ya Bu, itu semua dadakan. Jadi Nay ngabarin Ibu pas sudah ada di sana."

"Begitu ya,, tapi kamu baik-baik saja kan Nay?"

"Iya Bu. Nay baik-baik saja kok. Nayla cuma ikut atasan Nay kerja ke luar Kota Bu." Nayla merindukan Ibunya. "Syukurlah kalau gitu. Ibu masakin makanan kesukaan kamu ya. Nanti kita makan malam bersama. Kamu istirahat saja dulu" Nayla mengangguk, Luna tersenyum dan pergi ke dapur.

Pukul tujuh malam keluarga Nayla melakukan makan bersama di meja makan berukuran kecil namun begitu pas untuk mereka.

"Kata Ibu kamu habis kerja ikut atasan dari Kota J Nay?" Tanya Frans dalam kegiatan makannya. "Iya Ayah."

"Gimana soal kerja kamu, apa ada kesulitan Nay?"

"Humm,, sejauh ini Nay masih bisa mengerjakannya kok Yah" Nayla tersenyum pada Frans.

"Oh ya, Ibu sama Ayah akan pergi ke rumah Bude kamu di kota S. Mungkin sekitar dua minggu di sana." Ucap Luna.

"Ibu sama Ayah mau apa ke rumah Bude selama dua minggu?" Nayla menghentikan makannya. "Ibu mau antar Ayah kamu berobat alternatif di sana Nay. Kata Bude kamu ada orang yang mau bantu menyembuhkan sakitnya Ayah."

"Ayah sama Ibu berdua saja kesana nya? Nay ikut yaa.."

"Loh, kan kamu kerja Nay. Ayah sama Ibu ke sana karena ingin berobat. Supaya Ayah bisa kerja lagi. Sudah kamu tenang saja, nanti kami akan selalu kabari kamu kok." Frans mengusap punggung Nayla yang mulai sedih.

"Ayah sama Ibu yakin mau kesana?" Raut wajah Nayla berubah sendu. "Iya Nay, doakan Ayah kamu ya supaya pulang dari sana bisa sembuh." Jawab Luna menenangkan hati Nayla.

"Iya Bu Yah, kalian hati-hati ya di sana. Jaga kesehatan dan jangan sampai telat makan." Nayla berpesan pada kedua orang tuanya.

"Iya sayang.." Jawab Luna tersenyum hangat.

"Kamu juga jangan lupa makan, Ayah yang khawatir kamu telat makan karena nggak ada kami di rumah." Frans menggoda putrinya agar tersenyum.

"Nggak kok Yah. Ayah sama Ibu tenang saja." Nayla menjawabnya tersenyum.

Pagi-pagi sekali Frans dan Luna berangkat dari rumahnya menuju Kota S. "Nay, Ibu sama Ayah berangkat yaa.. Kamu hati-hati di rumah. Jangan lupa kabarin Ibu kalau ada apa-apa." Ucap Luna sebelum berangkat.

"Iya Bu, Ayah... Hmm,, Nay pasti akan merindukan kalian." Nayla memeluk Ibu dan Ayahnya.

"Ayah sama Ibu hati-hati yaa.."

"Iya sudah kami berangkat ya.." Nayla mengangguk.

Frans dan Luna membawa tas nya ke dalam taksi, mobil yang mereka tumpangi pun jalan menuju stasiun kreta api.

Hari ini adalah hari minggu. Nayla libur bekerja dan membersihkan rumahnya. "Yah,, rumah jadi sepi deh kalau nggak ada Ibu sama Ayah" Nayla mengeluh sambil menyapu lantai rumahnya.

Berbeda dengan sebuah rumah yang cukup mewah dan luas. Ricky di marahi sang istri yang bernama Fiona.

"Kamu itu gimana sih Pah? Kenapa sampai bisa si Wira itu tahu apa yang sudah kamu lakukan selama ini?!" Fiona begitu marah karena sekarang suaminya sudah di keluarkan dari Pranata Group.

"Ya ini semua gara-gara si Edi yang bodoh itu Mah!!" Ricky meninju udara di depannya. Dia juga nampak kesal sekali.

"Tapi kan Papah masih punya saham 5% dari Pranata Group. Mamah nggak begitu khawatir, pokoknya Papah harus cari cara agar 5% itu jangan sampai hilang juga dari keluarga kita!!" Fiona mengancam Ricky sangat serius.

"Iya Mah, Mamah tenang saja. Papah sudah suruh Malika pulang." Ricky membuka kacamatanya dan mengusap wajahnya kasar.

"Malika mau pulang dari Paris, memangnya dia bisa meninggalkan sekolah modelingnya di sana Pah?"

"Sudah Mamah tenang saja. Sekolah modeling bisa di pikirkan nanti. Papah sudah minta Malika pulang, mungkin lusa dia akan sampai rumah."

"Ya sudah Mamah percayakan semua sama Papah. Kita nggak bisa anggap enteng Wira lagi Pah!" Fiona meluapkan amarahnya.

"Iya Mah iya. Papah sudah suruh orang untuk beri dia pelajaran!" Seringai licik terbit di wajah Ricky yang frustasi.

"Maksud Papah?"

Malam hari ini Wira mengendarai mobilnya keluar dari istana megahnya. Dia menggunakan Audi R8 berwarna abu silver. Di tengah jalan hujan turun deras tanpa permisi.

Wira menyalakan musik berjudul Celine Dion ~ Because Of You, untuk menemaninya di perjalanan.

Raut wajahnya begitu damai, hingga tiba-tiba ada dua mobil sedan hitam berhenti menghadang di depan dan juga belakang mobil Wira. Jalanan yang ia lewati begitu sepi malam ini. Di tambah hujan turun sangat deras.

Pria tampan yang sedang menikmati musiknya langsung menginjak rem mendadak.

"Siapa mobil itu?!" Kesal Wira karena mengusik perjalanannya.

"Keluar lo!!"

Seorang pria memakai topeng wajah menggedor pintu kaca mobil Wira. Tidak lama enam orang menyusul mengelilingi mobil Wira.

"Keluar lo sekarang atau gua pecahin kaca mobil ini!!!" Teriak pria bertopeng berbadan kekar itu.

Mau tidak mau Wira keluar dari mobilnya. Dia mengeluarkan tongkat baseball yang ada di kursi belakang.

"Mau apa?" Tanya Wira dengan wajah tak bersahabat.

"Banyak bacot lo, rasakan ini!!"

Terjadi perkelahian antara Wira dengan enam orang pria bertopeng suruhan seseorang itu. Satu per satu pria bertopeng itu berhasil di kalahkan Wira.

Hujan deras mengguyur semua orang yang tengah berkelahi. Salah satu dari pria bayaran itu berhasil memukul wajah Wira. Darah segar mengalir di sudut bibir seksinya.

"Argh,,, brengsek!!"

Bugghh.. Bug... Bugh!!!!

Semua berhasil di kalahkan Wira. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Bukannya pulang pria itu malah memarkirkan mobilnya di depan rumah Nayla. Wira yang sudah basah kuyup karena hujan mengetuk rumah Nayla.

"Presdir??" Nayla kaget karena kondisi Wira saat ini sudah berantakan.

"Apa yang sudah terjadi?" Nayla tidak tahan melihat wajah Wira yang babak belur. Dia menutup mulutnya dan memasang wajah cemas.

"Apa aku boleh masuk?" Nayla mengangguk.

Wira duduk di sofa sederhana dalam rumah Nayla. Gadis itu dengan cepat mengambil kotak obat dari dalam lemari.

"Presdir nggak apa-apa? Pakai ini dulu.." Nayla memberikan handuk bersih untuk menutupi tubuh Wira yang basah.

"Saya bantu bersihkan lukanya ya Presdir." Pria itu tidak menjawab apapun, dia hanya mengangguk.

Dengan hati-hati Nayla membersihkan luka di sudut bibir Wira. Bibir pria itu terlihat sedikit membiru karena kedinginan.

"Tahan yaa, ini akan sedikit sakit." Setelah membersihkan dengan kapas steril, Nayla mengoleskan salep untuk luka Wira.

"Sshhh..."

"Sakit ya, maaf.." Nayla spontan mengucapkan maaf.

Tanpa di sadari wajah mereka sangat dekat. Nayla lalu meniup pelan luka di bagian dahi Wira. Pria itu menatap Nayla dalam sekali.

Bibir yang suka membuatnya candu sekarang berada di hadapannya. "Presdir habis berkelahi?" Wira diam saja.

"Hmm."

"Seperti anak kecil saja berkelahi." Nayla membereskan obat-obatnya di atas meja.

"Aku tidak ingin berkelahi, tapi ada sekelompok laki-laki menghadang ku di tengah jalan." Jelas Wira tidak terima. Wajahnya sangat dingin bagai kutub utara.

"Huh, seram sekali. Mau apa ya orang itu menghadang Presdir?" Nayla berpikir pelan. "Aku tidak tahu, aku hanya melindungi diriku." Wira melipat kedua tangannya di dada.

"Baju Presdir basah, apa tidak di salin dulu agar lebih baik?"

"Aku tidak bawa baju ganti."

"Kalau begitu pakai saja baju Ayah saya. Kalau Presdir mau, tapi jika tidak mau juga nggak apa-apa."

"Baiklah, tidak apa."

Nayla bangkit dari sofa, "Saya ambilkan dulu bajunya, tunggu sebentar di sini." Tak lama dia kembali membawa kaos dan celana milik Frans.

"Presdir salin di kamar saya saja. Di sebelah sini" Nayla mempersilahkan Wira untuk mengganti pakaiannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!