Wira memeriksa tugas yang ia berikan pada Nayla. Pria yang memakai jas abu-abu itu duduk tepat di samping Nayla membuat dirinya sedikit canggung, tapi tidak dengan Wira yang biasa saja.
"Biar ku lihat" Ia menggulung kebawah layar laptopnya.
Sepasang mata Wira fokus pada laptop. Tapi Nayla malah menatap Wira yang sangat berjarak minim padanya.
"Okay, bagus juga kerjamu." Wira menoleh ke arah Nayla, kedua pasang bola mata mereka saling bertemu. "Apa kamu melakukannya lagi?"
"Em,, me-lakukan apa Presdir?" Nayla terbata-bata ia langsung menurunkan pandanganya. Hatinya semakin berdebar. Anggap saja Nayla di buat nervous oleh Wira.
"Menikmati ketampananku." Bisik Wira membuat bulu kuduk Nayla merinding.
"Tidak Presdir, apa ini sudah benar?" Nayla mengalihkan pembicaraan. "Sudah, sekarang ikut aku."
Wira menarik tangan Nayla untuk berdiri dan membawanya keluar dari ruangan. "Presdir, saya bisa jalan sendiri."
"Hm, kamu memang berjalan sendiri."
"Bukan, tapi tangan saya. Nanti membuat orang lain salah sangka"
"Cih, peduli sekali kamu dengan orang lain."
Pria itu melepaskan tangannya, mereka masuk ke dalam mobil Wira. "Kita mau kemana Presdir?"
"Mau membuatmu jatuh cinta." Jawaban singkat dari Wira tapi mampu membuat Nayla terdiam. Satu jam kemudian mobil mereka memasuki area yang sangat luas dan tidak ada bangunan-bangunan seperti rumah maupun gedung.
"Ayo turun."
Nayla patuh mengikuti Wira turun dari mobil. "Selamat datang Tuan, senang bisa bertemu dengan anda lagi." Sapa pramugari yang berdiri di depan awak pesawat jet milik Pranata Group.
Wira hanya senyum pada Pramugari itu, ia menuntun Nayla untuk ikut masuk ke dalam. "Wahh, apa ini pesawat pribadimu Presdir?" Nayla melihat seisi awak pesawat itu tidak ada penumpang lain.
"Hm benar, duduklah di sini."
"Baik, terima kasih Presdir."
"Sebenarnya kita mau kemana Presdir?" Tanya Nayla lagi karena masih penasaran. "Nanti kamu akan tahu."
Mereka duduk berdampingan setelah semuanya siap, pesawat pribadi milik Wira itu melakukan lepas landas dari area bandara. Saat ingin terbang Nayla memejamkan matanya, tangannya sudah meremat ujung dress nya.
"Apa kamu phobia ketinggian?" Nayla menggelengkan kepalanya.
Wira meraih tangan Nayla dan menggenggamnya, bukannya canggung tapi gadis itu malah memegang erat tangan Wira. "Sepertinya kamu memang sangat takut." Bisik Wira tepat di telinga Nayla.
Hembusan nafas Wira bahkan bisa di rasakan Nayla, gadis itu membuka matanya perlahan. "Ini baru pertama kalinya saya naik pesawat Presdir." Jawab Nayla sukses membuat Wira tersenyum.
"It's okay, sebentar lagi kamu akan terbiasa."
Berada di ketinggian 1,600 kaki, Nayla bisa menikmati pemandangan dari atas pesawat. Dia tersenyum menikmati indahnya di atas awan.
"Kamu suka?"
"Hm, indah sekali." Jawab Nayla tersenyum. Senyuman itu membuat hati Wira berdesir, entah apa yang ia rasakan saat ini.
"M-maaf Presdir." Nayla melepaskan tangannya yang dari tadi terus menggenggam tangan Wira.
"Bersiaplah akan ada yang lebih seru setelah ini."
"Benarkah?" Wira mengangguk.
Pesawat yang membawa Wira dan Nayla telah berhenti di sebuah landasan yang luas. Di sana terdapat sebuah garasi helikopter yang begitu besar.
Pria tampan yang sukses itu membawa Nayla ke sebuah helikopter yang telah di siapkan.
"Ayo naik" Wira menuntun Nayla masuk ke dalam sisi kanan.
Kemudian ia menyusul di kursi kemudi. "Presdir yang akan mengendarai helikopter ini?" Tanya Nayla dengan rasa khawatir.
"Hm, aku biasa mengendarai ini saat perjalanan bisnis di berbagai Kota." Jawab Wira memakai perlengkapan yang di gunakan untuk terbang.
Nayla di buat kagum oleh pria di sebelahnya. Setelah memastikan semua pengaman telah di pasang. "Bersiaplah" Wira mulai menerbangkan helikopternya.
"Wwaaaahhh.... Wahh...."
Gadis itu merasa takjub di bawa helikopter yang semakin lama semakin tingggi. "Wuuhh... Ini keren sekali Presdir." Senyum Nayla tak henti terlukis di wajahnya. Tapi tangannya mengepal kuat sabuk pengaman karena takut sekaligus bahagia.
Dia begitu menikmati penerbangannya bersama Wira di dalam helikopter. "Nikmatilah pemandangan yang sebenarnya Nayla." Ucap Wira dengan bangganya.
Tiga puluh menit mereka kembali ke landasan helikopter. Nayla di bantu turun Wira, baru saja turun dari helikopter kaki Nayla terasa lemas. Dia hampir saja jatuh.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Hm, saya nggak apa-apa Presdir."
"Kita duduk di sana sebentar."
Wira menuntun Nayla untuk duduk sebentar di kursi. Dia memberikan air mineral agar Nayla lebih baik. "Terima kasih Presdir." Nayla meminum air yang di berikan Wira.
Tidak lama hujan turun, "Hujan Nayla, ayo kita ke mobil." Wira menarik tangan gadis itu. Sebagian baju mereka sudah basah terkena hujan sebelum masuk ke mobil.
Nayla tertawa pelan pada Wira yang juga ikutan tertawa. "Ada apa?" Tanya pria itu menatap Nayla.
"Hujannya penutup momen bahagia saya Presdir." Jawab Nayla tersenyum.
"Kamu menyukai hujan?" Nayla mengangguk. "Tapi tidak saat ada petir."
Wira menatap dalam Nayla dengan tatapan yang sulit di artikan. "Bajumu basah" Nayla melirik bajunya. "Baju Presdir juga basah, he he he." Dia kembali tertawa kecil. Membuat Wira menghangat dengan situasinya saat ini.
Di bawah guyuran hujan deras, mereka masih berada di dalam mobil. "Pakailah ini Nayla" Wira mengambil jaket yang ada di belakang kursi kemudi. "Terima kasih Presdir."
Suara petir mengagetkan Nayla yang sedang memakai jaket Wira. "Aaa.." Gadis itu reflek memeluk tangan Wira yang duduk di sampingnya.
Wajah cantiknya berlindung di lengan kekar Wira. Pria pemilik lengan kekar melirik ke arah Nayla yang ketakutan. Karena mereka sedang berada di landasan yang sangat luas. Maka suara petirnya akan terdengar lebih kencang dari biasanya.
Wira menikmati hujan yang memang menjadi kesukaannya. Air yang turun dari kaca mobil membuat hatinya begitu tenang. Lagi-lagi suara petir itu datang. Nayla semakin memeluk erat lengan Wira.
"Maaf Presdir."
Nayla menjauh dan duduk kembali ke posisi semula. Dia merasa tidak enak melakukan hal itu pada Wira. Petir kembali menggelegar, Nayla menggigit bibir bawahnya dan mengepal erat tangannya sendiri. Matanya terpejam karena jantungnya berdebar.
Dia mencoba menenangkan diri. Sebagai pria yang yang normal Wira melihat itu merasa dirinya tertantang. Dia menekan stirnya melihat Nayla.
"Kamu menggigit bibirmu?" Wira tidak beralih menatap Nayla.
Gadis itu mendongak menatap Wira di sebelahnya. Detik itu juga Wira menyambar bibir Nayla yang sudah membuatnya candu. Dia melahapnya lembut, namun penuh hasrat.
Nayla yang mendapat serangan mendadak, mematung di tempat. Ia memejamkan matanya mengikuti permainan yang di berikan Wira.
Pria itu menekan tengkuk Nayla membuat ciumannya mendalam. Wira juga menggigit kecil bibir gadis itu agar ia membuka mulutnya. Ketika mendapatkan akses, Wira terus menyerangnya tanpa henti.
Setelah puas Wira menghentikan ciumannya, Nayla langsung menunduk karena malu. Wira menghapus bekas pagutannya di bibir Nayla menggunakan ibu jari. Suasana berubah menjadi kaku.
"Kita pulang sekarang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments