Hari sudah malam, langit semakin gelap karena hujan telah membasahi bumi. Nayla di antar pulang Wira ke rumahnya.
.
"Kamu sudah pulang Nay?"
"Sudah Bu."
"Kalau gitu ayo kita makan sama-sama." Ajak Luna untuk makan malam bersama Frans. "Iya kesini Nay, kita makan sama-sama ya" Frans ikut mengajaknya.
Nayla duduk di kursi makan sederhana milik keluarganya. "Kayaknya anak Ayah sedang bahagia nih." Frans menuangkan nasi untuk anak gadisnya.
"He he he, apa sih Ayah" Nayla tersipu malu karena ketahuan wajahnya berseri.
"Iya kayaknya anak Ibu lagi bahagia hari ini. Cerita dong.. Ini jangan lupa pakai sayurnya ya" Luna mengambilkan sayur ke dalam piring Nayla.
"Ibu kok ikut-ikutan kayak Ayah si.. Nay kan jadi malu. Hari ini Nayla di pindahkan kerja Bu, Yah."
"Loh kamu di pindahkan kerja? Pindahkan kemana?" Tanya Frans lalu menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Nayla di pindahkan menjadi Asistennya Presdir di kantor Bu." Raut wajah Frans dan Luna bersamaan menatap anaknya.
"Loh kok sekarang Ayah sama Ibu yang diam gitu?" Gadis itu mengentikan makannya.
"Kamu jadi Asisten Presdir di kantor kamu Nay? Kok bisa sayang, mmm.. Maksud Ayah posisi itu kan agak sulit." Frans tak percaya dengan kelulusan yang di miliki anaknya mampu menjadi Asisten Direktur.
"Nggak kok Yah, kerjaanku nggak begitu sulit. Hari ini aku di suruh menyalin data dan naik pesawat." Nayla keceplosan naik pesawat. Awalnya ia tidak ingin bercerita.
"Naik pesawat kemana?" Luna yang gantian terkejut.
"Mmm, itu,, N-nayla naik pesawat ikut Presdir nya Bu." Nayla melahap sisa makananya di piring.
"Sudah dulu ya Bu, Yah. Nayla mau mandi dulu."
"Ya sudah apapun kerjaan kamu selagi itu benar, Ayah dan Ibu akan selalu dukung kamu Nay." Frans memberikan semangat untuk Nayla.
"Terima kasih Ayah, Ibu. Kalian memang yang terbaik." Nayla mencium kening Frans dan juga Luna. Kemudian ia pergi ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.
Sama hal nya dengan Wira yang sudah sampai di rumahnya. Ia masuk ke dalam kamar mandinya melakukan ritual mandi.
Keduanya selesai mandi secara bersamaan di tempat masing-masing. Nayla melilitkan handuk di kepalanya. Dirinya sudah lengkap memakai baju tidur.
Sedangkan Wira masih melilitkan handuk di pinggangnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas.
Ia duduk di tepi ranjang, menyalakan suara hujan dan mengambil ponselnya.
"Besok jam 7 pagi aku jemput. Bersiaplah setelah aku sampai."
"Baik Presdir."
Pesan yang di kirimkan Wira ke Nayla membuat gadis itu bertanya-tanya. "Ada apa ya dia mau jemput aku besok pagi. Sudahlah sebaiknya aku segera tidur." Ucap Nayla.
ia menarik selimutnya dan mulai merebahkan dirinya di kasur. Manik matanya menatap langit-langit di kamarnya.
"Tadi itu,,," Gumam Nayla membayangkan naik pesawat dan helikopter bersama Wira. "Dia terlihat tampan dan gagah sekali." Puji Nayla yang terpesona dengan ketampanan Wira.
Wajah Nayla mulai merona. Saat bayangan Wira menciumnya di mobil muncul. "Hmm,,, tidak tidak tidak.. Kamu nggak boleh jatuh cinta sama dia Nay.." Nayla menguatkan hatinya sendiri.
Pagi ini Wira sudah sampai di depan rumah Nayla. Gadis itu segera keluar membawa tas jinjingnya. Menggunakan baju kemeja berwarna biru muda dan celana bahan hitam press body.
"Selamat pagi Presdir." Sapa Nayla.
"Hm, masuklah."
Keduanya segera berangkat dari rumah Nayla. Wira menjalankan mobilnya dengan tenang. "Sebenarnya Presdir tidak perlu repot-repot menjemput saya. Saya bisa berangkat pakai motor ke kantor." Ucap Nayla.
"Hari ini kita akan ke cabang perusahaan yang ada di Kota J."
"Apa, ke Kota J? Kenapa Presdir tidak memberitahu saya sebelumnya, saya belum ada persiapan apa-apa Presdir." Nayla terkejut dan tidak habis pikir.
"Persiapanku sudah di siapkan Zack, dia akan menyusul ke sana dan membawanya. Kamu harus siap dalam keadaan apapun menjadi Asistenku." Jawab Wira dengan sedikit raut wajah yang dingin.
"Ba-baik Presdir."
"Hari ini saya dapat kabar mendadak, jadi kita harus terbang kesana sekarang juga."
"Iya Presdir."
Perjalanan ke luar Kota dari M ke Kota J cukup memakan waktu 4 jam selama di pesawat. Dan ereka sudah tiba di Kota J.
Zack dan Nayla berjalan di belakang Wira, mereka memesan tiga kamar Hotel yang berbeda lantai.
"Ini kunci kamar anda Presdir, dan ini untukmu Nay."
"Terima kasih Pak." Nayla menerima key card dari Zack.
"Berkumpul di lobi setengah jam lagi." Ucap Wira lalu berjalan menuju kamarnya. Nayla sebagai Asistennya pun harus mengikuti langkah Wira.
"Kalau begitu saya akan mengantar barang-barang ini ke kamar Presdir." Nayla hendak menarik koper milik Wira.
"Tidak perlu, nanti biar pelayan di sini yang membawanya. Kau ke kamarmu saja. Nanti berkumpul di lobi seperti yang di katakan Presdir." Ucap Zack penuh wibawanya.
"Baik Pak, terima kasih."
"Panggil saja Zack, jangan Pak."
"Maaf, tapi itu terkesan tidak sopan."
"Tidak apa, tidak perlu ragu. Panggil saya Zack."
"Mm,, baik Zack."
Nayla kemudian menyusul Wira yang sudah hampir tertinggal jauh. Mereka masuk ke lift yang sama. "Presdir, kamar saya di sebelah mana?"
"Lihatlah di kuncinya."
Nayla melihat kunci yang ia pegang. Terdapat nomor 315 di key card nya. "Nomor 315" Ia mengangguk-angguk.
Pintu lift terbuka Nayla terus membuntuti Wira di belakangnya sampai ke depan pintu kamar.
"Kamar Presdir nomor 316" Gumam Nayla. Itu artinya kamar mereka bersebelahan.
"Untuk apa kamu masih berdiri di sini?"
"Mmm,, i-itu.. Apa Presdir membutuhkan bantuan?"
"Mau bantu aku mandi?" Ledek Wira dengan wajah yang serius. Nayla menaikkan kedua alisnya. "Maaf i-itu tidak dalam tugas saya Presdir." Nayla mengelak se sopan mungkin dan tersenyum ramah.
Senyuman yang terlukis di wajahnya membuat Wira tidak kuasa menahan. "Akan aku masukkan ke dalam daftar tugasmu."
"Mm, jika tidak ada yang Presdir butuhkan saya akan ke kamar. Presdir bisa menelpon saya jika butuh sesuatu." Nayla menundukkan wajahnya memberi hormat.
"Baiklah."
Wira masuk ke dalam kamarnya, dan Nayla juga masuk ke kamar yang di sebelahnya. Matanya takjub ketika masuk ke dalam kamar miliknya.
"Astaga, apa aku salah masuk kamar?"
Dia buru-buru mengambil ponselnya dalam tas. Lalu mengirimkan pesan pada Wira.
"Presdir, apa anda salah memesankan kamar untuk saya?"
"Tidak, ada apa?"
"Kamar ini terlalu besar dan mewah untuk saya. Saya bisa memakai unit kamar yang biasa saja."
"Nikmati saja perjalananmu di Kota ini, kita akan stay sampai pekerjaan beres. Ini termasuk salah satu untuk membuatmu jatuh cinta."
Wira dengan mudahnya mengetik dan mengirim pesan pada Nayla. Membuat wajah gadis itu memerah. "Membuatmu jatuh cinta, gampang sekali dia mengatakan hal itu terus." Ujar Nayla lalu duduk di ranjang empuk kamar hotelnya.
"Hmm,, ini empuk sekali ya Tuhan.." Nayla merebahkan dirinya.
Dia juga berkeliling melihat kamar mandi dan seisi kamar itu. Kemudian lanjut pindah ke area balkon yang memperlihatkan suasana di Kota J yang ramai.
"Indah sekali.." Gumamnya.
Pria yang menunggu balasan dari Nayla itu membolak-balik ponselnya. "Kenapa dia tidak membalasnya? Apa dia tidak suka dengan kamarnya?"
Dua kamar Suite yang di pesan Wira untuknya dan Nayla, akan menemani perjalanan mereka di Kota J.
Pintu kamar Nayla ada yang mengetuk. Gadis itu langsung keluar dari balkon dan membuka pintunya.
"P-presdir?"
Wira langsung masuk ke dalam kamar Nayla. "A-ada apa Presdir?"
"Apa kamar ini tidak bagus, kamu tidak suka?" Wira melihat seluruh kamar itu mirip dengan yang di pakainya.
"T-tidak Presdir, kamar ini sangat bagus. Saya sangat suka." Nayla tersenyum ramah.
"Lantas kenapa kamu tidak membalas pesannya?" Tanya Wira melipatkan kedua tangannya di dada.
"B-benarkah, maaf Presdir. Terima kasih untuk kamarnya." Ia terus tersenyum pada Wira yang ada di depannya.
"Ya sudah kalau gitu. Aku akan kembali ke kamar."
"Baik Presdir."
Wira berjalan menuju pintu, tapi sayang kakinya yang sudah memakai sandal hotel itu tersandung karpet dan menubruk Nayla yang di depannya.
Gadis itu terjembab di atas sofa single dekat ranjang. Tubuh kekar Wira mengungkungnya, bibir Wira bahkan sempat mencium kening gadis itu.
Sesaat kedua pasang mata itu bertatapan. Lalu Wira bangun menahan malu.
"****!! Kenapa karpet ini bisa bergeser dari tempatnya?!!" Wira kembali memperhatikan karpet yang sedikit terlipat membuat dirinya terjatuh.
Nayla ikut berdiri dan terdiam. "Mm, a-apa Presdir baik-baik saja?"
"Hmm, kamu nggak apa-apa kan?" Nayla mengangguk.
"Ya sudah, sebentar lagi kita ke lobi"
"Baik Presdir."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments