Berawal Dari Salahku

Ricky merupakan paman dari Wira Pranata. Adik dari mendiang Papanya. Seorang pria paruh baya yang memimpin perusahaan cabang milik Pranata Group.

"Sial, rencanaku tidak boleh gagal. Aku harus bisa menarik semuanya." Ujarnya yang tengah duduk di kursi kebesarannya dalam ruang kerja.

"Kejadian lima belas tahun adalah kesempatan untukku. Tapi kenapa anak itu malah semakin tidak bisa di kalahkan. Kenapa otaknya sangat cerdas sekali." Kesal Ricky mengepalkan tangannya. Menatap tajam ke sembarang arah di depannya.

"Aku harus menjalani rencana keduaku." Seringai licik terbit di wajah Ricky. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Halo anak Papa sayang. Waktunya kamu pulang Nak, Papa punya hal menarik untuk kamu." Ucapnya dalam sambungan telepon.

Di dalam kamar Nayla buru-buru mengenakan pakaiannya. Dia memakai setelan hoodie putih yang di belikan Wira untuknya.

"Kenapa juga aku harus ketiduran di kamar mandi itu. Sekarang badanku terasa dingin dan kepalaku pusing."

Gadis itu memegangi kepalanya yang rambutnya masih setengah basah. Tak lama Wira kembali masuk ke kamar Nayla lagi.

"Presdir, bagaimana anda bisa masuk?"

Wira menaikkan sebuah keycard yang di minta tadi pada Zack. "Aku memintanya pada Zack, kejadian ini tidak boleh terulang lagi." Pinta Wira dengan nada menekan.

"I-iya Presdir, saya minta maaf."

"Ya sudah, aku kesini hanya untuk memberikan baju-baju itu padamu." Wira menunjuk paperbag yang ada di ranjang. Dan salah satunya sudah di pakai Nayla.

"Hum, iya terima kasih Presdir."

Tiba-tiba Nayla memandang Wira seperti berputar-putar. "Presdir, kenapa anda berputar?" Detik selanjutnya Nayla pingsan di lantai.

Bruggh...

Pria itu menghela nafasnya lalu mengangkat Nayla ke atas ranjang. "Ck, kenapa dia selalu menyusahkan."

"Zack, datanglah ke kamar Nayla. Jangan lupa bawakan aku kotak obat." Wira memerintah Zack melalui ponselnya.

Dia duduk di samping ranjang memandang wajah Nayla yang tengah pingsan.

"Sebenarnya dia sangat cantik.. Kejadian waktu itu berawal dari salahku yang sudah mengajaknya pergi ke Hotel untuk menemaniku ke pesta. Jika dia tidak ikut bersamaku. Mungkin aku tidak akan melakukan hal itu padanya." Wira mengingat kejadian yang sudah berlalu pada Nayla.

Dimana dirinya telah merenggut kesucian Nayla dengan sadar.

Awalnya Wira merasa bersalah dan ingin bertanggung jawab. Tapi dia tidak menyangka jika Nayla enggan menikah dengannya.

"Cih, tapi berani sekali dia menolakku. Wanita saja sampai rela antri untuk bisa mendapatkanku." Ia sedikit kesal mengingat Nayla menolak mentah-mentah untuk menikah dengannya.

"Akan aku buat dirimu jatuh cinta"

Zack datang membawakan kotak obat yang di minta Wira. "Presdir ini kotak obatnya. Apa yang sudah terjadi, haruskah saya menghubungi Dokter?" Tanya Zack bingung melihat Nayla terbaring lemah.

"Biar aku berikan minyak kayu putih ini dulu padanya. Jika dia belum sadar dalam lima belas menit, kau boleh menghubungi Dokter!"

Wira dengan cekatan menggosokkan minyak ke bagian pinggir kepala dekat pelipis, bagian leher, tangan dan juga telapak kaki Nayla tanpa rasa risih.

"Baik Presdir."

"Tolong buatkan teh hangat Zack."

"Baiklah."

Zack menuju meja yang menyediakan kettle panas untuk membuat teh. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Nayla, Presdir?"

"Dia pingsan karena ketiduran di bathub. Entah berapa lama dia sudah berendam di sana." Jawab Wira datar.

"Ada-ada saja Nayla ini, tapi kenapa Presdir begitu perhatian padanya. Bahkan sampai mengoleskan minyak langsung padanya. Pasti gadis ini mempunyai sesuatu hubungan pada Presdir." Batin Zack meletakkan teh di atas nakas sebelah ranjang.

Benar saja, sepuluh menit kemudian kelopak mata Nayla bergerak, ia mulai mengerjapkan matanya. "Kamu sudah sadar?" Tanya Wira menatapnya intens.

"Hummm... A-apa terjadi sesuatu?" Nayla bertanya pelan, suaranya bahkan serak. Dia mulai mendudukkan dirinya.

"Minumlah dulu teh ini Nay." Zack menyodorkan teh yang ia buat. "Terima kasih Zack."

"Kamu tadi pingsan, istirahatlah malam ini. Kita lanjutkan pekerjaan kita besok pagi." Ujar Wira pada Nayla. Ia berniat mengerjakan tugas kantornya lagi setelah makan malam.

Tapi melihat kondisi Nayla membuat Wira tidak tega jika harus kembali bekerja. "Saya minta maaf Presdir."

"Hm, jika kamu butuh sesuatu. Kamu bisa menghubungi resepsionis Hotel, aku atau Zack!"

"Baik Presdir, sekali lagi terima kasih." Nayla memijat keningnya yang masih pusing.

"Ayo keluar Zack."

"Baik Presdir."

Kedua pria itu keluar menginggalkan Nayla sendiri di dalam kamarnya. Wira kembali ke kamarnya, ia merasa ada yang kurang. Kesunyian dalam kamar hotel itu tidak bisa membuatnya istirahat.

Lalu Wira memainkan ponselnya menyetel suara gemericik hujan yang begitu membuat hati tenang. Pria itu duduk di sofa single dan memejamkan matanya.

Bayangan kedua orang tuanya yang meninggal di dalam mobil yang meledak muncul di pikirannya. Wira menghela nafasnya kasar. Dia sulit tidur nyenyak saat malam hari.

Keesokan harinya Nayla sudah tampak lebih baik, dia menggunakan setelan blazer berwarna merah. Sangat pas di warna kulitnya yang putih. Polesan pelembab bibir membuat bibirnya yang sudah merah alami itu semakin merona dan glosy.

"Bajunya bagus sekali, aku bahkan belum pernah membeli baju seperti ini. Ternyata dia orang yang baik." Ucap Nayla yang berdiri di hadapan kaca.

Nayla menghampiri Zack yang baru saja datang di lobi. "Nay, apa kau sudah lebih baik?"

"Iya sudah Zack, maaf ya aku jadi merepotkanmu dan Presdir."

"Tidak apa-apa. Santai saja" Zack menjawabnya dengan raut wajah yang datar.

"Huh, dia sama saja seperti atasannya. Sangat datar di ajak bicara." Batin Nayla merasa kaku berbicara pada Zack.

Wira datang dengan setelan jas berwarna abu-abu.

Rambut yang tertata rapi, alis yang tebal, mata elangnya yang selalu menatap dingin ke semua orang, dan jangan lupakan bibirnya yang seksi kemerahan. Benar-benar seperti turunan eropa dan turki.

"Ya Tuhan, kenapa dia tampan sekali pagi ini." Batin Nayla hampir melongo melihat Wira yang menghampirinya.

"Ayo Zack kita berangkat!"

"Mari Presdir"

Nayla mengekor di belakang Wira memasuki mobil. Aroma parfum maskulin milik Wira membuat hidung Nayla terasa nyaman di dekatnya.

"Kau sudah siapkan semuanya kan Zack?"

"Sudah Presdir."

"Bagus, aku harap dalam dua hari semuanya sudah selesai." Harapan Wira agar bisa kembali secepatnya ke Kota M. "Akan saya usahakan Presdir."

Nayla diam saja duduk di sebelah Wira, sesekali ia melirik ke arah pria di sebelahnya yang sibuk memainkan ponselnya.

Dering ponsel Nayla berbunyi, terdapat nama Ibu di layar panggilan masuk. Dia sungkan untuk mengangkatnya.

"Kenapa tidak di angkat?"

"Hm, ini dari Ibu saya Presdir. Saya akan menelpon kembali nanti." Jawab Nayla ramah dan tersenyum. Wira mengangguk paham lalu fokus pada ponselnya lagi.

"Haduh, semalam aku lupa menghubungi Ibu karena ketiduran. Pasti Ibu khawatir karena semalam aku tidak pulang ke rumah." Batin Nayla merasa cemas.

Setibanya di kantor cabang, Wira masuk ke ruangannya. Ruangan yang memang khusus untuknya jika berada di kantor itu.

"Presdir, ini saya sudah memeriksa data yang anda berikan kemarin. Saya juga sudah merangkum data yang berselisihan atau tidak sesuai dengan data yang di berikan Presdir."

Nayla menyodorkan berkas yang sudah ia rangkum subuh tadi. Meskipun ia habis pingsan, tapi dia ingin menunjukkan bahwa dirinya layak bekerja di kantor Pranata Group. Nayla bersemangat mengerjakan semuanya dengan teliti. Berharap apa yang ia kerjakan benar dan memuaskan untuk dirinya.

"Biar aku periksa dulu."

Wira menerima berkas yang di berikan Nayla. Sebenarnya ia sudah tahu perselisihan data yang ada. Tapi dia ingin melihat potensi Nayla lebih jauh.

"Duduklah, aku ingin bertanya padamu!" Titah Wira yang menyuruh Nayla duduk di kursi depannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!