Seorang pria yang memiliki wajah tampan memegang sebuah mic di tangannya. "Selamat malam, selamat datang untuk para hadirin semuanya. Saya di sini mewakili perusahaan untuk membawakan acara ini." Ucap pria itu penuh dengan wibawa.
"Terima kasih karena sudah hadir dalam rangka 70 tahunnya Pranata Group. Langsung saja saya panggilkan bintang kita malam hari ini, silahkan untuk Presdir Wira Pranata. Tepuk tangan untuk seseorang yang telah sukses membawa perusahaan ini maju." Ucap Zack dengan penuh kharisma.
Langkah kaki pria tampan bernama Wira berjalan di karpet merah yang membawa dirinya naik ke atas panggung.
Suara sorak gembira dan pujian serta tepuk tangan memeriahkan acara ulang tahun pada ruangan megah nan mewah itu.
"Selamat malam semuanya, tamu terhormat saya dan seluruh karyawan saya. Terima kasih karena sudah berkesempatan hadir di acara 70 tahunnya Pranata Group. Yang saya harap akan terus berjaya dan maju di masa depan.
Tepat di Bulan November ini, saya selalu berbahagia menyambut di mana Pranata Group terlahir. Tentunya saya juga berterima kasih kepada seluruh karyawan dan Kolega saya yang sudah membantu memajukan perusahaan ini hingga menduduki perusahaan termaju No.2 se Asia Tenggara."
Wira tersenyum bahagia menyambut acaranya. Suara tepuk tangan sampai tidak ada hentinya. Tapi tidak dengan Nayla yang syok melihat keberadaan Wira di depan matanya.
Sosok yang selalu ia hindari, dan berharap tidak pernah bertemu lagi. Tetapi dirinya malah bekerja di sebuah perusahaan milik pria itu tanpa sepengetahuannya.
Betapa merasa bodohnya lagi Nayla terjebak pada perasaan ini. Perasaan yang ia benci, dan tepat di bulan november tahun lalu kejadian itu menimpanya.
"Tampan sekali ya Presdir kita itu, aaa aku jadi tidak ingin bekerja malam ini.." Siska terkagum-kagum pada Wira.
"Nggak mungkin.." Gumam Nayla tubuhnya ikut gemetar.
"Nay kamu nggak apa-apa?" Fatma melihat wajah Nayla memucat.
"Aku nggak apa-apa Fat. Aku mau keluar sebentar ya, nanti aku akan kembali lagi." Nayla pamit untuk keluar dari ruangan itu sebentar.
Suara sambutan pria itu masih terus terdengar di telinga Nayla. Tak sengaja manik mata Wira menangkap sosok gadis yang selalu ada di benaknya.
"Baiklah,, tolong nikmati acara ulang tahun ini dengan penuh bahagia. Terima kasih" Wira menyelesaikan sambutannya dan memberi kode pada Zack agar segera melanjutkan dengan beberapa hiburan.
Langkah Wira terburu-buru keluar dari ruangan. Dia ingin memastikan bahwa itu adalah Nayla.
Gadis yang di cari Wira duduk di bangku taman. Ia melamun menahan tangisnya. "Bisa-bisanya aku malah bekerja di perusahaannya. Dasar bodoh kau Nay" Dia memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Bodoh.. Bodoh..Bodoh.."
Tangannya yang terus memukul kepalanya itu terhenti, ketika tangan kekar sudah menggenggamnya. Nayla bangkit lalu menengok ke belakang.
Kedua pasang manik mata mereka saling bertemu. Tatapan sendu milik Nayla menatap mata elang yang indah milik Wira.
Beberapa detik mereka cukup menikmati tatapannya.
"Ternyata benar yang tadi adalah dirimu." Ucap Wira penuh arti.
Tersadar dari tatapannya, Nayla menunduk lalu membuang wajahnya ke samping. "Apa kamu mengenaliku?" Ia berpura-pura tidak mengenal Wira.
"Cih, he he he. Tentu saja aku tahu kamu itu siapa?!" Wira berdecih dan kemudian terkekeh melihat tingkah Nayla.
"Maaf tapi sepertinya kamu salah orang. Permisi"
Gadis itu ingin pergi dari taman, tapi pergelangan tangannya di raih Wira dan membuat tubuhnya berbalik menabrak tubuh kekar itu.
Kedua tubuh merekabsaling bersentuhan tak menyisakan jarak. Bahkan tangan Wira juga tidak melepaskan tangan Nayla.
"Kamu benar tidak mengenaliku, lalu kenapa pergi begitu melihatku?"
Deru nafas keduanya saling menderu, Nayla merasa jantungnya berdetak lebih cepat. "Lepaskan!! Dasar gila" Dia melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Wira.
Pria itu tersenyum melihat tingkah Nayla, ada rasa bahagia bisa bertemu dengannya lagi. Dan ia jadi mengetahui bahwa Nayla bekerja di perusahaannya sekarang. Itu semua Wira ketahui dari seragam yang di pakai Nayla tadi.
Nayla pulang ke rumahnya pukul dua belas malam. Ia di tunggu Luna di ruang tamu yang sudah tertidur. "Bu bangun, Bu.." Gadis itu membangunkan Ibunya.
"Nayla, kamu sudah pulang sayang?"
"Iya sudah Bu, maaf ya Nay pulangnya larut banget. Soalnya tadi di tempat kerja Nay lagi ada acara, jadi semua karyawan harus lembur."
"Iya nggak apa-apa kok. Kamu sudah makan belum Nay?" Luna merasa kasihan melihat Nayla yang sekarang bekerja sebagai Office Girl.
"Sudah kok, Ibu pindah ya ke dalam. Nay juga mau langsung istirahat." Luna mengangguk dan pindah ke dalam.
Setelah bersih-bersih sebelum tidur, Nayla merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memori bersama Wira kembali muncul dalam benaknya.
"Ya Tuhan, kenapa harus bertemu lagi dengannya. Semoga saja aku bisa tetap bekerja meskipun ada dia sebagai pemiliknya."
Lain di sebuah kamar yang mewah, Wira duduk di tepi ranjang. Suara hujan yang biasa ia setel sebelum tidur menemaninya malam ini.
"Apa dia tidak mengenaliku? Itu tidak mungkin."
"Apa dia sudah benar-benar melupakan kejadian waktu itu? Kalau memang iya, berarti dia sama sekali tidak menyesal. Ck,, sudahlah itu bukan urusanku lagi sekarang." Wira merebahkan tubuhnya dan menutup matanya.
Tidak lama nafasnya mulai teratur dan sudah terlelap. Tapi di menit selanjutnya bayangan sebuah kecelakaan yang terjadi pada orang tuanya dulu muncul di mimpinya.
"Maamaaa... Papaaa...." Dalam mimpi Wira menangis karena tidak bisa menolong mereka.
"Hiks.. Maaa..."
Kelopak matanya terbuka lebar, keringat sudah membasahi kening Wira. "Huh,,,huhh,,huh.." Nafasnya terasa berat ketika sadar dari mimpinya.
Hari terus berganti, pagi ini hari ini Nayla bekerja seperti biasanya di kantor. Dia biasa membersihkan bagian lantai 20 bersama Fatma temannya.
"Nay, nanti kita makan siang sama apa ya?" Fatma mengepel bagian lantai sebelah kiri dan Nayla di sebelah kanan.
"Kayaknya makan bakso siang nanti enak kali yah?" Usul Nayla membayangkan segarnya makan bakso di siang hari.
"Wah ide bagus tuh, aku juga sudah lama tidak makan bakso. Boleh lah nanti kita ke tukang bakso dekat lampu merah ya?"
"Siap, jangan lupa ajak Siska juga nanti."
Seorang wanita berpakaian kantor datang menghampiri keduanya yang tengah asik mengepel lantai.
"Nayla"
"Ya Bu saya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Mulai hari ini kamu yang akan bersih-bersih di lantai 34 ya, sehabis ini kamu bisa naik ke atas. Tapi sebelum kamu ke atas, kamu ke ruangan saya dulu ya!" Ucap Bu Jeni yang bertanggung jawab pada karyawan bagian kebersihan.
"Baik Bu."
Fatma merasa kehilangan teman satu timnya. "Yah Nay, kamu bakalan pindah ke atas. Pasti kita nanti jarang ketemu dong." Raut wajahnya sedikit sedih.
"Iya Fat, maaf ya. Tapi tenang saja waktu istirahat kan kita masih bisa ketemu, he he he." Nayla tetap memberikan semangat pada temannya.
"Tapi Nay, bukannya di lantai 34 itu pas banget sama ruangannya Presdir kita yah? Wah beruntung banget kamu Nay bisa naik ke atas." Puji Fatma merasa ingin juga naik ke atas.
"Benarkah? Aku tidak tahu soal itu. Kalau gitu aku ke ruangan Bu Jeni dulu ya, Fat."
"Iya sudah sana, semangat ya Nay!!"
"Okay, kamu juga ya.."
Setelah mendapatkan cara kerja dan informasi dari Bu Jeni. Nayla naik ke lantai 34 menggunakan lift, tiba di sana manik matanya terus menjuru ke setiap sudut.
"Sepi sekali di sini.." Nayla merasa sunyi.
"Bu Jeni bilang, hal yang utama di bersihkan adalah ruangan di lorong sebelah kanan. Sepertinya itu dia ruangannya."
Gadis itu berjalan membawa alat kebersihannya ke ruangan yang ada di ujung lorong. Setiap kakinya menyusuri lorong, bola mata Nayla terus di buat terlena oleh desain yang begitu mewah dan indah.
"Gedung ini memang benar-benar mewah sekali."
Lagi-lagi Nayla harus mengingat Wira dalam pikirannya. "Huh tidak mungkin, sudah lupakan saja."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments