Zack lebih dulu tiba di lobi, kemudian Nayla menyusul datang ke lobi. "Apa Presdir masih di kamarnya?" Zack menanyakan Nayla yang baru saja datang dengan baju yang sama.
Berbeda dengan Zack yang sudah mengganti setelan jasnya sebagai Sekretaris Wira.
"Sepertinya Presdir masih di kamarnya."
"Baiklah, kita tunggu di sini saja sebentar lagi."
"Hum, iya."
Nayla dan Zack duduk di sofa hitam yang berada di tengah lobi. Tidak perlu menunggu lama Wira datang menghampiri keduanya. Pria itu juga sudah mengganti setelan jasnya. Membuat Nayla melirik dirinya sendiri.
"Hanya aku yang memakai baju sama seperti tadi. Mereka berdua telah berganti pakaian. Ini semua karena pria itu tidak memberitahu aku semalam." Gumam Nayla dalam hatinya.
"Mari Presdir, mobil anda sudah siap di depan. Kita akan pergi ke kantor cabang sekarang."
"Hm, baiklah."
Ketiganya masuk ke dalam mobil. Zack duduk di depan bersama supir yang mengemudi mobil mereka. Sedangkan Nayla dan Wira duduk di kursi belakang.
"Presdir, apa ada yang harus saya pelajari sebelum tiba di sana?" Tanya Nayla hati-hati. Pasalnya dia belum banyak mengerti tentang tugasnya.
"Ikuti saja aku, selalu di sampingku kemana pun aku pergi." Jawab Wira yang tengah memainkan ponselnya.
"Baik Presdir"
Tiba di perusahaan cabang Pranata Group, Wira dan yang lainnya di sambut pimpinan dari kantor cabang tersebut.
"Mari Presdir, saya antar ke ruangan anda." Ucap Ricky selaku pimpinan cabang.
"Sepertinya perusahaannya memang sedang ada hal serius." Ucap Nayla dalam hatinya. Ia terus mengekor di belakang Wira bersama Zack.
Banyak pasang mata karyawati di kantor itu melirik ke arah Wira. Nayla tahu bahwa mereka mengagumi ketampanan Wira.
"Aku akan melihat berkasnya dulu, berikan semuanya padaku sekarang juga." Ucap Wira pada Zack berada di ruangan kerja.
"Baik Presdir, saya akan mengambilnya."
Zack kemudian pergi dari ruangan itu, menyisakan Nayla dan Wira di dalamnya. Ricky juga tengah sibuk mengumpulkan para pemegang saham dan menyiapkan data yang akan di serahkan pada Wira.
"Presdir, butuh sesuatu?" Tanya Nayla hati-hati.
"Duduklah, buat apa berdiri terus!"
Wira menyuruh gadis itu duduk. "Hum, baik Presdir." Nayla duduk di kursi dekat Wira. Dia tidak berani duduk sembarangan di ruangan itu.
"Nanti kamu harus memeriksa data yang kita bawa dengan data yang akan di bawa Zack sebentar lagi. Cari kesamaan dan perbedaannya." Pinta Wira dengan serius.
"Baik Presdir, saya mengerti."
Tidak lama Zack datang membawa berkas yang di minta Wira. "Ini Presdir, semua berkas yang anda minta sudah ada di sini." Zack menyodorkan dokumen penting itu padanya.
"Baiklah, aku tidak ingin ada pengkhianat di dalam perusahaanku. Zack kau juga harus meneliti berkas ini lagi."
"Baik Presdir."
Lima belas menit kemudian Wira, Zack dan Nayla pergi ke ruangan meeting. Di mana semua para pemegang saham di sana sudah hadir termasuk Ricky.
"Ya Tuhan aku gugup sekali bertemu orang-orang penting di sini." Batin Nayla merasakan gugup yang luar biasa. Ia mencoba mengontrol rasa gugupnya.
Dengan penuh tatapan dingin dan wibawa. Wira memimpin meeting tersebut. Nayla mendengarkan semua yang di katakan Wira dalam meeting itu.
Beberapa kali ia mencatat hal penting di catatannya. Sesekali manik mata Wira melirik ke arah Nayla. Meeting pun selesai dalam satu jam.
"Kita makan siang dulu. Zack aturlah makan siangnya."
"Baik Presdir."
Ketiganya masuk ke dalam mobil. Zack pun selalu siap menuruti perintah atasannya itu. Dia memilih restoran jepang untuk makan siangnya.
Zack juga sudah melakukan reservasi sebelum tiba di restoran tersebut.
"Silahkan Presdir, saya sudah menyiapkan makan siang anda."
"Hm"
Ketiganya turun mengikuti Wira di belakangnya. Nayla dan Zack mengimbangi langkah Wira yang lumayan cepat ketika berjalan.
Tanpa sengaja Nayla hampir terjatuh karena sepatunya miring. "Aakh."
"Kau tidak apa-apa Nay?"
"Hum, nggak apa-apa Zack. Terima kasih."
Zack yang berjalan di sampingnya tentu saja menolong Nayla agar tidak terjatuh. Hal itu di sadari Wira yang menoleh ke belakang.
"Kalau jalan hati-hati." Ucap Wira dengan pelan.
"Baik Presdir."
Selesai makan siang, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Zack sudah kembali ke kamar nya yang berbeda lima lantai dari kamar Wira.
Menyisakan Wira dan Nayla yang hendak masuk ke kamar mereka. "Presdir, saya akan minta izin keluar sebentar sore ini. Apa boleh?" Nayla menghentikan langkah Wira yang ingin masuk ke kamarnya.
"Mau kemana?"
"Saya tidak bawa baju kesini Presdir. Jadi saya hendak membeli beberapa baju untuk salin." Ucap Nayla apa adanya.
"Tidak perlu, aku akan menyuruh seseorang untuk membelikan pakaian untukmu. Kamu tidak boleh berpergian sendiri di sini. Karena sekarang kamu sedang bertugas denganku." Jelas Wira dengan suara dinginnya.
"Baik Presdir"
Tidak ingin menentang perkatan Wira, Nayla hanya bisa pasrah. Ia pun masuk ke dalam kamarnya setelah Wira lebih dulu masuk.
"Sebentar-sebentar dia baik. Tapi habis itu berubah dingin seperti kulkas. Dasar pria mood swing." Kesal Nayla yang merebahkan dirinya di kasur.
"Sepertinya aku butuh mandi. Tapi dengan apa aku salin setelah mandi? Sedangkan bajuku belum datang. Apa dia yakin akan membelikan baju untukku?" Nayla ragu-ragu untuk mandi karena tidak punya baju salin.
"Ah, aku pakai ini saja." Ia mengambil bathrobe dalam kamar hotel itu, kemudian melalukan ritual mandi.
Nayla kagum dengan kamar mandi yang memilik bathub, semua peralatan di kamar itu sangat mewah dan mahal.
"Ya ampun... Kapan lagi aku bisa singgah di hotel yang mewah ini. Rasanya aku seperti mimpi."
Nayla kemudian berendam di dalam bathub, tanpa sadar ia ketiduran di dalam bathub itu.
Wira berkali-kali mengetuk pintu dan bel pada kamar Nayla. Tapi Nayla tak kunjung membukakan pintu.
"Kemana perginya dia? Kenapa lama sekali membukakan pintu?"
Pria itu terus mengetuk pintu kamar Nayla, sesekali ia memanggil namanya. Dan mencoba menghubungi Nayla lewat ponselnya, tapi tidak di angkat juga oleh gadis itu.
Wira merasa khawatir, akhirnya ia menghubungi Zack untuk meminta kunci cadangan kamar Nayla.
"Presdir, ini kuncinya. Apa terjadi sesuatu pada Nayla?" Zack datang dengan cepat membawa kuncinya.
"Tidak apa, kau bisa pergi Zack. Aku akan mengeceknya sendiri."
"Baik Presdir."
Wira masuk membawa beberapa paperbag yang merupakan baju-baju Nayla yang baru di beli orang suruhannya.
"Nayla!!" Panggil Wira.
Pria itu menggeledah pandangannya ke setiap sudut kamar. Tapi ia juga tidak menemukan Nayla. "Nayla.."
"Kemana dia pergi?"
Satu-satunya yang belum Wira periksa adalah kamar mandi. Lalu pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Ia mendorong pintu kaca kamar mandi itu, nampaklah Nayla yang tengah berendam di dalam bathub. Tubuhnya setengah pucat, sepertinya Nayla ketiduran dan kedinginan.
"Nayla, apa yang kamu lakukan?"
Dengan cepat Wira meraih handuk dan mengangkat tubuh polos Nayla dari bathub. Gadis itu terbangun dan terkejut.
"P-presdir apa yang kau lakukan?"
"Turunkan saya!"
Wira menaruh Nayla di atas ranjang kamar itu. Nayla yang kedinginan, bibirnya bahkan sudah setengah keriput itu beringsut mundur.
"Apa kamu sudah gila Nay? Untuk apa berendam selama itu di kamar mandi?" Wira nampak marah, wajah dinginnya tersirat jelas di hadapan Nayla. Tapi tak bisa di pungkiri mata Wira mengkhawatirkan Nayla.
"Sa-saya nggak sengaja tertidur." Nayla menjawabnya dengan lesu.
Entah kenapa tubuhnya sekarang terasa sangat dingin dan lemas. Ada sekitar dua jam Nayla berendam ketiduran di dalam bathub.
"Ceroboh sekali kamu! Jangan pernah mengulangi hal ini lagi."
"I-iya Presdir."
"Sekarang ganti bajumu, aku sudah menyiapkan beberapa pakaian untukmu."
"Bisakah Presdir keluar dulu."
"Hm, aku akan masuk lima menit lagi."
Wira berjalan keluar dari kamar Nayla. Ia menghela nafasnya panjang. Pria itu mengusap kasar wajahnya.
"Sial, kenapa dirinya begitu menggoda sekali!" Kesal Wira yang sempat melihat tubuh Nayla tanpa pakaian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments