Lupakan Saja

Di sebuah kamar yang kecil, Nayla duduk di tepi tempat tidurnya yang tidak besar.

"Nay.."

"Nayla Ibu masuk yaa"

Luna masuk ke dalam kamar putrinya, sudah hampir seminggu Nayla terlihat murung dan jarang bicara pada mereka.

"Nay.." Luna menepuk bahu anak gadisnya.

"Ibu, maaf Bu Nay nggak tahu kalau Ibu masuk." Lamunannya terhenti. "Sebenarnya kamu ada apa Nay, kamu jarang makan dan suka menyendiri di kamar. Apa terjadi sesuatu pada kamu?"

Luna ikut duduk di samping putrinya. Dia merasa Nayla tak seperti biasanya belakangan ini. "Nay nggak apa-apa kok Bu. Maafin Nay yang sudah nggak kerja di Butik lagi ya Bu. Nay akan cari kerjaan baru secepatnya kok."

Nayla merasa tidak enak hati pada Ibunya karena sudah berhenti bekerja di Butik, sebab ia tidak ingin bertemu lagi dengan pria bernama Wira.

"Nay, Ibu lagi bahas kamu. Bukan soal kerjaan, Ibu masih punya tabungan kok. Uang yang setiap bulan kamu kasih ke Ibu, selalu Ibu tabung sisanya. Kamu tenang saja ya" Luna mengusap pucuk rambut Nayla agar tidak bersedih lagi.

"Makasih ya Bu" Nayla memeluk Ibunya, hatinya terasa sedikit tenang. Tapi tidak dengan pikirannya yang kacau.

"Kamu benar nggak mau cerita sama Ibu?"

"Nay nggak apa-apa kok Bu."

"Ya sudah, kapanpun kamu mau cerita sama Ibu. Ibu akan selalu siap mendengarnya, ingat yaa.. Jangan kamu simpan sendiri masalah kamu." Pinta Luna dengan lembut.

"Baik Bu."

Setelah Luna pergi dari kamarnya, gadis itu termenung lagi dalam kesendirian.

"Apa yang sudah terjadi bukan sepenuhnya salah pria itu. Ini semua juga karena kebodohanku. Tapi sekarang aku harus gimana? Hikss.. Hiks..." Nayla tak sanggup menahan air matanya.

Kesucian yang telah ia jaga selama dua puluh tahun rusak begitu saja karena kecerobohannya. Tidak ada yang bisa di salahkan, gadis itu terus menyesalinya.

Wira masuk ke dalam ruangan Jhon tanpa izin. "Jhon.."

"Wira, what happened?"

"Apa benar Nayla sudah berhenti kerja di Butik ini?" Wira bahkan tak sempat duduk.

Jhon yang berdiri karena terkejut Wira masuk tanpa mengetuk pintu, dia duduk kembali di kursinya.

"Iya tiba-tiba saja Nayla mengundurkan diri. Gue juga bingung alasannya apa, habis gue tanya dia nggak mau jawab sama sekali. Bilangnya lagi ada masalah keluarga."

"Terus lo izinin dia buat berhenti kerja?"

"Ya ampun Wira, mending lo duduk dulu deh ye.. Gue itu kan nggak bisa memaksakan kehendak seseorang ya. Meskipun dia karyawan terbaik gue. Jadi gue nggak bisa nahan Nayla gitu aja buat kerja di sini!" Jhon menjelaskan panjang lebar agar temannya itu mengerti maksudnya.

"Tapi tunggu-tunggu.. Hubungannya sama lo apa?"

"Nggak ada apa-apa. Gue balik dulu!" Wira segera keluar dari ruangan Jhon.

Belum ada satu menit Wira keluar, pria itu kembali lagi ke ruangan Jhon.

"Gue minta alamatnya Nayla, Jhon." Pinta Wira di hadapan Jhon. "Buat apa? Coba jelasin ke gue sebenarnya ada masalah apa. Kali aja gue bisa bantu."

"Ya lo bantu gue kasih alamatnya Nayla sekarang, cepat! Nanti gue ceritain." Dia tidak ingin membuang-buang waktunya.

Jhon pun memberikan alamat rumah Nayla, dan Wira segera pergi menuju rumah gadis itu.

"Permisi.."

"Selamat sore.."

Wira mengetuk pintu rumah Nayla, tak berapa lama Luna membukakan pintu rumahnya. "Ya, cari siapa ya Mas?"

"Hm, begini.. Apa benar ini rumahnya Nayla?"

"Iya benar. Masnya siapa ya?" Luna memperhatikan perawakan Wira. Ia menebak bahwa pria ini bukan orang biasa.

"Boleh saya bertemu dengan Nayla, Bu?"

"Maaf Mas, tapi Nayla baru saja keluar naik motornya." Faktanya Nayla memang baru saja pergi dari rumah.

"Maaf kalau boleh tahu, pergi kemana ya Bu?" Wira sangat ingin bertemu dengan Nayla. "Soal itu saya kurang tahu Mas."

"Baik Bu, kalau gitu saya permisi dulu. Maaf sudah menganggu"

"Tidak apa Mas, apa ada pesan untuk Nayla? Nanti biar saya sampaikan." Pria itu enggan berbicara banyak pada Luna. Dia ingin bicara langsung pada Nayla.

"Hm tidak ada Bu."

Wira kembali melajukan mobilnya keluar dari lokasi rumah Nayla. Saat melewati danau yang sepi, dia seperti melihat Nayla di sana.

"Nayla.."

Suara bariton yang cukup familiar memanggil namanya membuat Nayla ketakutan. Ia pun segera bangkit dari duduknya, dan berlari ke arah motornya.

"Nayla tunggu!!"

Pria tampan itu berusaha mendekati Nayla agar tidak pergi. "Tunggu!" Akhirnya dia mendapati gadis itu.

"Okay, saya mau bicara sama kamu. Tolong kamu jangan pergi dulu.." Wira mencoba menghela nafasnya dan berusaha tenang agar Nayla tidak takut.

"Maaf, tapi saya harus pergi."

Nayla terus menghindar dari Wira, entah kenapa hatinya merasakan sakit jika melihat pria itu.

"Nay.. Soal waktu itu saya benar-benar minta maaf dan_"

"Cukup, jangan di bahas lagi. Itu memang bukan sepenuhnya salah anda, dan juga bukan sepenuhnya salah saya. Saya rasa kita tidak perlu bertemu lagi. Lupakan saja kejadian malam itu, anggap saja tidak pernah terjadi." Cukup gemetar bibir Nayla mengatakannya dengan tegas.

Dia sama sekali tidak menatap wajah Wira, membuat Wira menjadi merasa bersalah atas kejadian waktu itu.

"Saya akan bertanggung jawab!" Ucapan yang tegas membuat langkah Nayla yang ingin pergi terhenti.

"Mari kita menikah." Ajak Wira dengan yakin.

Dia bukanlah pria yang bejat, semua yang terjadi telah melibatkan dirinya. Meksipun Wira belum pernah berpacaran dan belum mengenal Nayla, tapi menikah bukanlah satu hal yang mengerikan.

Hanya saja dari dulu ia belum pernah menginginkan sebuah pernikahan hingga usianya yang sekarang.

"Apa?" Nayla berbalik menatap Wira dengan nanar.

"Saya akan menikahi kamu" Jawab Wira lagi dengan yakin. Wajahnya masih sama seperti biasanya dingin dan datar.

"Tidak perlu, anda bisa menikah dengan orang yang anda cintai. Permisi" Nayla meninggalkan Wira seorang diri.

Ada rasa berdenyut di hati Nayla saat mengutarakan jawabannya. Entah apa rasa itu, dia tidak bisa mengartikannya.

Merasa seperti orang bodoh Wira pun kembali ke dalam mobil setelah di tinggal Nayla pergi, ia pulang ke rumahnya sore itu.

Satu tahun kemudian...

Nayla sudah mendapatkan pekerjaan yang baru di sebuah perusahaan bonafit. Meskipun hanya sebagai office girl. Tapi ini cukup untuk menghidupi keluarganya.

Sudah enam bulan dia bekerja di tempat barunya, dan sudah selama itu juga dia dan Wira tidak pernah bertemu lagi. Nayla mencoba melupakan apa yang sudah terjadi dan tetap bangkit kembali.

Sama hal nya dengan Wira yang kembali menjalani hidup seperti biasanya, hari-harinya ia habiskan dengan bekerja dan bekerja. Tapi ingatan bersama dengan Nayla tidak pernah ia lupakan.

Dia juga bingung dengan dirinya sendiri, terkadang Wira mencoba melupakan ingatannya dengan gadis itu. Tapi selalu saja bayangan wajah Nayla muncul di benaknya.

"Nay, tolong bersihkan ruangan Manager Keuangan di lantai 28 ya. Soalnya Vani lagi bersihin aula untuk acara nanti malam di kantor ini." Ucap Fatma yang satu tim dengan Nayla.

"Baiklah aku naik ke atas dulu ya.."

"Iya,, semangat ya Nay"

"Pasti, kamu juga ya.."

"Siap.."

Sesuai dengan permintaan temannya, Nayla menuju lantai 28. Di mana letak ruangan Manager Keuangan berada di lorong sebelah kanan. Ia berjalan sambil mendorong troli berisikan alat kebersihan.

Ketika Nayla sudah masuk ke dalam ruangan Manager Keuangan. Seorang pria baru saja keluar dari ruangan yang ada di sebelahnya. Wira berjalan sambil menelpon sambil keluar dari ruang karyawannya.

Malam harinya di aula lantai 3 pukul delapan malam. Terdapat banyak orang di sana, semua karyawan office girl maupun office boy bekerja lembur malam ini. Mereka ikut menjaga kebersihan di acara tersebut.

"Nay kamu tahu tidak. Kalau di acara ini katanya Presdir perusahaan kita alias pemilik gedung ini bakalan hadir nanti." Ucap Fatma kegirangan, ia menantikan sosok Presdir yang tampan itu.

"Memangnya siapa pemiliknya?" Tanya Nayla santai.

Mereka bertiga berjaga di sudut ruangan. "Iya aku juga nungguin banget Presdir itu hadir." Ucap Siska yang sudah lama bekerja di sana.

"He he kalian ini yaa,, ternyata kerja sambil ngefans sama pemilik perusahaan ini." Ledek Nayla tertawa pelan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!