Besok Kita Akan Menikah

Wira ingin sekali tahu apa alasan gadis itu selalu menghindar ketika di tanya tentang kejadian pada waktu itu.

Bukan hanya menghindar ketika bertemu, tapi dulu setelah kejadian malam itu. Nayla bahkan tidak mengizinkan Wira untuk bertanggung jawab padanya.

Sebagai pria Wira merasa di remehkan. Dia ingin tahu alasan Nayla yang sudah menolaknya. Wira menyunggingkan senyum memegang kunci remot di tangannya.

"Aku tidak akan membuka pintunya sebelum kamu mau menjawabnya!" Ucapnya kekeh.

"Tidak akan"

Pria itu semakin merasa di tantang oleh Nayla. "Ya sudah kamu akan tetap di ruangan ini." Wira mencoba menghela nafasnya agar tidak terpancing emosi.

"Saya mohon buka pintunya Presdir" Nayla juga melakukan hal yang sama, dia mencoba melunak agar Wira membuka pintunya.

"Tidak akan, coba saja jika kamu berani mengambilnya."

Kunci remot itu Wira masukkan ke dalam kantong saku celananya. Dia tersenyum puas di hadapan Nayla, lalu pura-pura fokus membaca dokumennya kembali.

"Dia benar-benar membuat kesabaranku menipis!" Batin Nayla merasa kesal.

"Oh jadi Presdir pikir saya tidak berani mengambil kuncinya? Baiklah saya akan mengambilnya." Nayla mengibaskan poni yang menutupi keningnya. Lalu melepaskan tasnya ke lantai dan berjalan ke arah Wira.

Pria itu mendadak mematung, dia menatap Nayla yang berjalan ke arahnya. Benar saja, gadis itu sudah mendekat padanya di samping kursi kebesarannya.

Tangan Nayla memutar kursi itu hingga Wira dan dirinya saling berhadapan. Tetapi Wira tetap dengan posisi duduknya, dan Nayla berdiri tepat di depannya.

"Lebih baik Presdir keluarkan kuncinya sebelum aku yang mengambilnya!" Nayla masih memintanya baik-baik.

Mata Wira malah tertuju pada bibir ranum milik Nayla, dekat sekali dengan posisinya. "Kamu pikir aku akan menuruti perintahmu?" Jawab Wira menatap dalam Nayla.

"Baiklah"

Karena Wira tidak juga memberikan kunci remot itu, maka tangan putih milik Nayla mencoba meraih dan menyentuh saku celana Wira.

Pria itu semakin menatap intens Nayla, karena gadis itu benar-benar ingin merogoh sakunya.

Beberapa kali Nayla coba tapi tidak berhasil, karena posisi Wira sedang duduk. Tentu saja celana bahan yang ia kenakan lebih sesak hingga tidak ada space untuk tangan Nayla bisa masuk ke dalamnya.

"Kamu merabaku?"

Tangan Wira menghentikan tangan Nayla yang terus merogoh sakunya. "Apa?!" Kedua tatapan mereka saling memandang.

"Ini sama saja kamu sedang merabaku Nayla." Ucap Wira pelan.

Merasa malu Nayla menjauhkan tangannya. "Cepat berikan kuncinya Presdir?!" Raut wajahnya sudah memerah.

"Ada apa dengan wajahmu?"

"Wajahku?" Wira mengangguk.

Dia bangun dari kursinya dan menghimpit Nayla di dinding. "Aah" Kaget gadis itu karena tiba-tiba Wira mendorongnya.

"Dengan melihat apa yang barusan kamu lakukan, sepertinya kamu memang berani. Tapi kenapa dulu kamu menolakku Nayla? Jawab!!"

"A-apa maksud Presdir, tolong lepaskan.." Tangan gadis itu di genggam kuat di sisi dinding. "Jawab dulu pertanyaanku Nayla!!" Wira semakin marah di buatnya.

Dia sudah cukup sabar untuk menghadapi Nayla, tapi Wira bukanlah pria yang rela memohon terus menerus untuk menunggu sebuah jawaban.

Dirinya selalu di hormati dan di segani para pebisnis. Tapi Nayla telah membuat dirinya merasa tidak di hargai.

"Ahh, lepaskan Presdir. Ini sakit sekali" Nayla meringis tangannya merasa di cengkeram kuat-kuat pada Wira.

"Sepertinya kamu menginginkannya sekali lagi?!" Wira menaikkan satu alisnya seperti di rasuki iblis, dirinya merasa berontak.

Nayla menggeleng dengan cepat. "Tidak Presdir, ku mohon lepaskan.." Suara Nayla melemah.

Wira menyeret tangan gadis itu masuk ke dalam kamar miliknya di balik rak buku. Nayla semakin ketakutan melihat Wira marah.

"Jangan Presdir saya mohon.."

"Presdir.."

Kini Nayla dan Wira sudah berada di dalam kamar, Nayla bergerak mundur merasa takut pada Wira. "Apa aku harus mengulang kejadian itu agar kamu mau menjawabnya?!" Nayla menggelengkan kepalanya lagi.

Wira melepaskan jasnya dan juga dasi yang ia kenakan. "Jangan.." Nayla mulai menangis ketakutan.

Gadis itu beringsut mundur hingga terjatuh di ranjang. Dengan cepat Wira menindihnya, "Hiks... Tidak Presdir jangan.."

Nayla menyilangkan kedua tangannya di dada, dan memejamkan matanya ketakutan. Wira segera menarik kedua tangan Nayla dan meletakkanya ke atas.

Kini posisi mereka sudah sangat intim. Rasa panas seperti membara di dalam tubuh Wira. Yang tadinya ia ingin menyentak Nayla, malah terbuai akan ulahnya sendiri.

"Dulu kamu sudah memaksaku untuk melakukannya dan dulu kamu juga sudah menolakku untuk tanggung jawab. Kamu sudah meremehkan aku Nayla!" Wira benar-benar marah.

"Kini biar aku tunjukkan seberapa kuat dan hebatnya aku, sampai kamu tidak bisa meremehkan dan menolakku lagi!"

"Ahh.."

Nayla meringis ketika Wira mengikat tangannya dengan dasi. "Hiks,, Presdir jangan.. Sungguh waktu itu saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya bingung karena itu juga yang pertama bagi saya." Jawab Nayla dengan suara seraknya karena menangis.

"Dan saya tidak ada maksud apa-apa untuk menolak, tapi karena saya belum mengenal anda dan merasa tidak pantas untuk Presdir." Jelas Nayla membuat Wira menghentikan aksinya.

"Benarkah?"

Nayla mengangguk lemah, "Tolong jangan lakukan lagi Presdir.." Pinta Nayla yang sudah kehabisan daya.

"Besok kita akan menikah!"

Wira melepaskan dasi yang mengikat tangan Nayla. Dia membantu gadis itu duduk, Wira juga merapihkan rambut Nayla yang sempat berantakkan akibat ulahnya.

"Presdir jangan bercanda. Kita tidak mungkin menikah" Jawab Nayla lagi yang tidak akan merasa pantas bersanding dengan Wira yang memiliki segalanya.

"Aku harus mengganti apa yang telah aku rusak, dan aku bukan pria yang suka tidur dengan banyak wanita. Kehormatanmu sudah hilang bersamaku. Jadi sebagai gantinya aku akan bertanggung jawab menikahimu."

Deg! Lagi-lagi Nayla harus tersayat hatinya mendengar ucapan Wira dengan jelas sekali.

"Tapi saya tidak meminta Presdir untuk menikahi saya. Anda berhak menikah dengan wanita yang Presdir cintai." Nayla tidak ingin egois meskipun mahkotanya telah hilang.

"Satu lagi, saya tidak suka penolakkan!" Tegas Wira.

"Bagaimana kalau saya tidak mencintai Presdir? Saya hanya ingin menikah dengan orang yang mencintai saya dan juga mencintai orang itu." Jawab Nayla memberanikan diri.

"Nayla!!!" Bentak Wira.

"Sebaiknya Presdir lupakan saja kejadian waktu itu, saya tidak akan menuntut apapun dari Presdir. Saya menganggap kejadian malam itu murni keteledoran saya. Jadi Presdir tidak perlu merasa bersalah." Ucap Nayla dari lubuk hatinya.

Entah kenapa mendengar penjelasan itu membuat darah Wira menjadi naik. Di dorongnya kembali tubuh Nayla hingga terjembab di atas ranjang.

Nayla kembali ketakutan ketika Wira sudah menindihnya kembali. "Presdir,,,"

"Sudah aku katakan aku tidak suka penolakkan, itu sama saja kamu meremehkan aku."

Wira melahap bibir ranum milik Nayla, "Mmmhh..." Ia terus mencium bibir yang sudah pernah membuatnya candu waktu itu.

Nayla berusaha mendorong dada bidang yang telah menindihnya. Nafasnya sudah kelelahan, ia butuh oksigen lebih saat ini.

"Mmmhh.."

Pria itu bukannya melepaskan malah semakin memperdalam ciumannya. Tubuhnya terasa berdenyut, Wira seperti menginginkan lebih dari ini. Nayla sudah berhasil membuatnya candu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!