Hujan deras adalah hal yang di sukai Wira, ia menikmati turunnya hujan di balik kaca jendela rumahnya.
"Indahnya.." Gumam Wira pelan.
Air yang turun begitu deras tak pernah sedetik pun pria itu mengalihkan pandangannya.
Wira merasa nyaman saat hujan turun, rasanya ia ingin bermain di bawah hujan. Tapi hal itu belum pernah ia lakukan lagi semenjak kedua orang tuanya pergi.
Nayla segera masuk ke dalam rumah Wira. Taman rumahnya cukup luas, Nayla sudah basah kuyup karena guyuran hujan deras yang tiba-tiba turun.
"Bagaimana ini, semoga saja bajunya tidak basah." Gadis yang memiliki tinggi 165cm itu sedikit gugup dan takut.
Ia pun menekan bel pintu rumah Wira. Tidak ada pelayan dalam rumah Wira jika malam hari. Semua pelayan akan datang pagi hari dan pulang di sore hari.
Ding..Dong...
Ding... Dong...
Tak lama Wira membukakan pintu rumahnya, melihat gadis di hadapannya sudah basah kuyup.
"Selamat malam Tuan, maaf saya telat mengantarkan pesanan anda." Ucap Nayla yang sedikit gemetar karena kedinginan.
"Hmm"
"Ini Tuan pesanan anda, sekali lagi saya mohon maaf jika terkena hujan sedikit." Nayla tetap jujur dan akan bertanggung jawab jika Wira sampai marah.
Gadis itu tahu seberapa mahalnya pakaian yang ia antar.
"Kalau tahu basah kenapa di antar?" Jawab Wira datar.
Nayla menunduk, ia sedikit takut menghadapi Wira. Tapi ia adalah gadis yang kuat. Dia mencoba memberanikan diri membereskan masalah ini.
"Maaf tadi saya hampir sampai di rumah Tuan, tapi hujan deras begitu saja turun membuat saya kehujanan."
"Memangnya kau kesini pakai apa?" Wira nampak heran.
"Itu Tuan, saya pakai speda motor."
Sungguh di luar dugaannya, karena sekelas Manager di Butik Jhon Richard yang mendapatkan gaji cukup tinggi, menggunakan motor dalam mengantar pesanannya.
"Berikan itu pada saya!" Wira meminta paperbag nya dan membukanya di depan Nayla.
Masih ada lapisan kotak yang melindungi pakaian Wira, tapi saat di buka setelan jas yang dia pesan tetap ada yang basah.
"Astaga.." Nayla terkejut.
"Sekali lagi saya mohon maaf Tuan." Ucap Nayla menunduk.
"Kalau sudah begini mau bagaimana?!" Tanya Wira sedikit kesal.
Duaaarrrrrr...
"Aaaaaa...."
Nayla terkejut dan reflek memeluk Wira yang ada di depannya. Suara petir yang keras membuat hati gadis itu menciut.
Pria yang tengah di peluk dengan erat saat ini mematung menahan kesal. Dia begitu kesal karena ulah Nayla kotak baju yang ia pegang terpental ke halaman rumahnya. Seketika pakaian itu langsung basah dan kotor.
Deeeddaaaaarrrr....
Lagi-lagi suara petir yang keras harus datang dan membuat Nayla semakin memeluk Wira erat.
"Lepaskan!!" Pinta Wira dengan nada yang cukup dingin dan marah.
Sangat terpaksa Nayla melepaskan pelukannya dan sadar jika dia telah membuat masalah menjadi besar.
"M-maaf Tuan, saya tadi reflek karena takut sekali dengan petir."
Detik selanjutnya mulut gadis cantik itu ternganga melihat pakaian Wira sudah tergeletak di bawah. "Ya Tuhan..." Nayla segera mengambil pakaian itu dan melebarkannya.
Matanya membelalak tak percaya, pakaian Wira sudah basah dan kotor. Lututnya terasa lemas, harga setelan yang mencapai lima ratus juta itu bagai tak ada harganya.
Siapa sangka, Nayla malah pingsan dan terjatuh di lantai. Wira pun ikutan panik karena tidak ada orang lain selain dirinya.
"Heii..."
Pria itu mencoba membangunkan Nayla, "Heii bangunlah..."
"Ck, menyusahkan saja!!"
Dalam derasnya hujan, Wira menggendong gadis itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia menidurkan tubuh Nayla di atas sofa ruang tamu.
"Heii.." Wira menepuk-nepuk pelan lengan Nayla yang bajunya sudah basah.
"Benar-benar menyusahkan saja, aku harus bagaimana?"
Wira memang tidak ada pengalaman dalam hal ini, di tambah ia sedang bersama lawan jenis. Tentu membuat dirinya bingung. Apa lagi Wira juga tidak pernah dekat dengan wanita,
Dengan cepat pria itu menyelimuti Nayla dengan selimut tebal, dan memberikan minyak aroma terapi yang di tempelkan ke hidung Nayla.
Beberapa saat kemudian Nayla tersadar dari pingsannya. Kepalanya terasa berat dan badannya terasa dingin.
"Mmmh..."
Gadis itu meringis dan memegangi pelipisnya. "Kau sudah sadar?" Suara bariton itu membuat Nayla tersadar bahwa ia sedang berada di dalam rumahnya Wira.
"Astaga.. Maaf Tuan" Dengan cepat Nayla duduk dan menunduk minta maaf.
"Sekali lagi saya minta maaf dan akan bertanggung jawab soal pakaian anda Tuan." Ucap Nayla dengan yakin.
"Bertanggung jawab seperti apa? Saya bahkan belum memakainya, tapi kau sudah merusaknya." Jawab pria itu dengan dingin.
Wira duduk di hadapan Nayla, wajahnya begitu tampan tapi sangat dingin.
"Dengan cara apapun saya akan bertanggung jawab Tuan. Saya akan membersihkan pakaian anda." Nayla berusaha meyakini Wira agar memaafkannya.
"Tidak perlu, saya akan telepon Jhon sekarang!" Wira bangkit hendak menelpon Jhon mengenai masalah ini.
"Jangan Tuan, saya mohon.." Nayla memegang pergelangan tangan Wira dan memohon.
Baru pertama kali Wira di sentuh oleh wanita yang belum ia kenal sama sekali. "Saya akan bertanggung jawab dan menggantinya. Tolong jangan bicara masalah ini pada Mr.Jhon" Pinta Nayla memohon.
"Menggantinya?"
"Iya Tuan."
Sebuah mala petaka bagi Nayla karena telah mengucap akan menggantinya. Itu sama saja Nayla membuat dirinya terbunuh perlahan.
"Haduh Nayla kenapa kamu harus mengatakan hal yang mana mungkin kamu mampu sih,," Batinnya merutuki kebodohannya.
"Dengan uangmu?" Tanya Wira dengan dingin sedingin kulkas.
"Iya Tuan."
"Saya akan menerima tanggung jawabmu, kirimkan uang itu sekarang juga ke rekening saya." Titah Wira saat itu juga.
"Tapi Tuan,,,"
"Baiklah anggap saja kau tidak bisa menggantinya, sekarang kau boleh pergi!" Wira malas jika harus berdebat dengan wanita.
"Lalu bagaimana dengan pakaian anda Tuan, saya akan mencoba membersihkannya." Nayla tetap memberikan solusi terbaiknya.
"Tidak, saya tidak akan memakai pakaian itu lagi, kamu bawa kembali saja pakaian itu!"
"Izinkan saya membersihkan pakaian ini Tuan, saya akan mencucinya dengan bersih hingga baru lagi." Mohon Nayla penuh harap.
Wira menghela nafasnya sejenak, meskipun terkenal dingin. Ia tidak ingin kasar pada wanita.
"Tidak perlu, kau boleh pergi!" Pinta Wira dengan pelan.
Ia kemudian pergi meninggalkan Nayla yang masih berdiri di sana.
Wira tidak ingin membuat momen hujan ini menjadi kekacauan. Ia pun masuk ke dalam kamar dan menenangkan dirinya yang tengah rindu keluarganya.
"Ya Tuhan Nayla,,, bagaimana ini? Kau sudah membuat kesalahan besar, kali ini kau pasti tidak akan di maafkan oleh Mr.Jhon." Gumam Nayla yang menangis.
Nayla membawa keluar pakaian yang sudah basah itu bersamanya.
Keesokan harinya masih sangat pagi sekali Nayla terbangun dari tidurnya, tiba-tiba sudah ada setelan jas milik Wira tergantung di dalam kamarnya.
"Ini kan,,, bagaimana bisa ini sudah bersih kembali seperti baru?" Nayla bahkan tak percaya, ia mengucek-ngucek kedua matanya bersamaan.
"Nay, kamu sudah bangun?" Luna masuk ke dalam kamar Nayla.
"Ibu,,, Apa yang sudah terjadi pada pakaian ini?" Nayla masih belum percaya hal ini.
"Oh ini, semalam kamu pulang basah kuyup, terus Ibu lihat baju ini ada di bangku. Sekalian saja ibu cuci dan keringkan. Ibu juga sudah menyetrikanya."
"Memangnya ini punya siapa Nay?" Tanya Luna penasaran.
"Aaaa... Ibu makasih ya,,," Nayla memeluk Ibunya sangat bahagia. "Ibu memang malaikat Nay." Gadis itu mencium pipi Luna.
"Kalau gitu Nayla mau siap-siap dan langsung antar baju ini ke yang punyanya ya Bu." Nayla bergegas mandi, Luna masih saja mematung melihat tingkah anaknya yang membingungkan.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Nayla." Doa Luna selalu mengiringi putrinya.
Dengan terburu-buru Nayla mengendarai speda motornya menuju rumah Wira.
Baru saja gadis itu ingin menekan bel rumahnya, Wira sudah membuka pintu yang hendak berangkat ke kantor.
"Kau?" Wira terkejut.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Nayla dengan senyum yang manis dan ramah.
"Mau apa lagi kesini?"
"Tentu saja saya ingin membawakan baju Tuan yang kemarin. Anda boleh memeriksanya lebih dulu" Ucap Nayla penuh senyum memberikan tas hitam itu pada Wira.
Tanpa aba-aba Wira sendiri pun membuka tas tersebut dan mengeluarkan pakaiannya. Dapat di lihat tidak ada yang kotor sama sekali pada pakaian itu.
Pakaiannya pun cukup wangi, dan tidak ada yang rusak.
"Apa benar ini pakaian yang semalam?"
"Tuan pasti bisa membedakan mana barang asli dan KW, tentu saja saya membawa pakaian Tuan yang di pesan kemarin." Gadis itu berbicara seolah meledek Wira.
"Sudahlah, saya mau berangkat." Wira membawa tas baju itu ke dalam mobilnya.
"Baik, hati-hati di jalan Tuan, semoga hari anda menyenangkan." Ucap Nayla penuh bahagia.
Setelah mobil Wira keluar, Nayla baru bisa bernafas lega. "Huh,, akhirnya masalah ini bisa di atasi. Ini semua berkat Ibu, semoga saja dia tidak mengadu pada Mr.Jhon." Harap Nayla agar Jhon tidak mengetahui ketidak sengajaan yang dia buat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments