Entah kenapa Wira merasa tidak ada yang beres dalam diri Nayla.
"Apa kau minum sesuatu di pesta tadi?"
"Tidak, aku hanya minum yang di bawakan pelayan." Jawab Nayla yang sudah gelisah.
"Sialan, pasti pria tadi sudah menaruh sesuatu di dalam gelas itu. Kalau begini jadi aku yang repot!" Kesal Wira pada pria yang menggoda Nayla di acara tadi.
"Sekarang jawab pertanyaanku, di mana rumahmu?" Tanya Wira dengan serius, jarak mereka berdua bahkan lebih dekat.
"Mmh,,, Tuan kenapa anda terlihat tampan sekali dari dekat?" Nayla semakin meracau bebas, ia bahkan menyentuh wajah wira dengan jemari lentiknya.
"Astaga.." Keluh Wira merasa pusing di buat Nayla.
Karena merasa tidak nyambung di ajak berbicara, dan melihat keadaan Nayla yang semakin liar. Wira memutuskan untuk pulang ke rumahnya membawa gadis itu.
Sepanjang jalan hujan lah yang menemani perjalanan mereka hingga sampai di depan rumah Wira. Pria tampan itu membawa Nayla masuk ke dalam.
"Ahh kenapa rasa panas ini semakin tidak tahan, Tuan tolong aku.. Berikan aku air!" Pinta Nayla memohon, setengah sadar.
"Aku harus bagaimana sekarang? Sebaiknya aku telepon Zack saja!" Wira baru ingin menekan ponselnya, tapi Nayla malah membuangnya dan meronta di hadapannya.
"Berikan aku air Tuan, aahh panas sekali..."
Tubuh Nayla menggeliat tak karuan, ia bahkan tak sadar jika sekarang sedang berada di dalam rumah Wira. "Apa yang kau lakukan?!"
Nayla mengungkung Wira di atas sofa, ada rasa yang bergejolak dalam tubuh gadis itu. Ia bahkan sulit mengendalikan dirinya.
"Aku juga tidak tahu ada apa denganku, Tuan."
Wira paham jika Nayla sedang dalam pengaruh obat perangsang yang sengaja di taruh pria tadi untuknya.
Tanpa ada rasa canggung, Nayla mencium bibir Wira tanpa permisi. Kedua mata pria itu melotot tak percaya.
"Tuan aku mohon..."
Nayla tak mengerti apa yang ia mohonkan sejak tadi pada Wira. Tapi rasanya ia ingin sekali menyudahi rasa panas ini.
Ciuman pertama Nayla ia berikan pada Wira, lagi dan lagi ia terus mencium bibir yang merona milik Wira.
Merasa tidak tahan Wira segera membawa Nayla ke dalam kamarnya. Dia juga pria normal yang bisa mengikuti kehendak Nayla. Selama ini Wira tidak pernah bermain wanita, tapi bukan berarti dirinya tidak menyukai wanita.
Rasa yang baru pertama kali Wira rasakan ini, membuat dirinya juga penasaran.
Di menjatuhkan tubuh Nayla di atas tempat tidur mewah milik Wira. Tak lupa pria itu menyalakan suara hujan dengan remot di atas nakasnya.
Ia berganti menyambar bibir Nayla yang telah membuatnya mabuk kepayang. "Mmhh..." Lenguhan Nayla terus terdengar hingga pikiran Wira tak bisa jernih.
Tangan gadis itu bahkan melingkar di leher Wira dengan erat. Wira membuka jasnya dengan cepat dan juga kemejanya.
"Bukankah ini yang kau inginkan?" Ucap Wira kembali mengungkung Nayla di bawahnya.
Kelopak mata Nayla sudah sayu, dia mengangguk begitu menginginkan yang lebih dari ini.
Sedetik kemudian Wira berpikir keras untuk menjernihkan otaknya yang sudah kepayang. "Tidak, aku tidak akan mengotorinya." Pria itu segera bangkit tapi tangan Nayla menahannya dan menariknya kembali.
"Tuan aku menginginkanmu..." Suara serak Nayla membuat buyar pikiran jernih Wira.
"Baiklah, aku tidak akan berhenti!" Wira melahap kembali bibir merah gadis itu.
Kedua pakaian mereka sudah berserakan di lantai. Malam ini menjadi yang pertama untuk Wira dan juga Nayla.
Mereka melakukannya di iringi suara hujan yang menyerta di kamar mewah itu.
Pagi harinya Nayla di bangunkan oleh rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia menatap langit-langit dalam kamar terasa asing.
"Arrhh,, sakit sekali" Nayla meringis di area pangkal pahanya merasa sakit.
"Aku di mana?" Ia masih belum tersadar sepenuhnya.
Begitu duduk suara hujan terdengar jelas di telinga Nayla, ia menoleh ke kiri dan kanan. Mulutnya ternganga mendapati wajah tampan Wira tengah tertidur dengan tubuh polosnya yang tertutup selimut.
"Astaga apa yang sudah terjadi?" Hatinya melemah, merasa tercabik saat melihat dirinya juga tidak memakai sehelai benang pun.
Nayla mencoba berpikir keras, namun pikirannya belum sepenuhnya pulih. Dia berusaha berdiri dan memakai kamar mandi milik Wira di kamarnya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Nayla keluar dari kamar itu dengan pakaian lengkapnya. Rumah mewah milik Wira cukup membuat dirinya bingung di mana letak pintu keluarnya.
Dia berhasil menemukan pintu keluar rumah Wira, ketika dirinya sudah keluar. Nayla merasa ada yang aneh. "Bukankah tadi suara hujan? Tapi kenapa di luar tidak hujan?"
"Ah sudahlah, aku harus pergi dari sini!"
Dalam taksi yang di tumpangi Nayla, dia kembali melamunkan ingatan yang sudah terjadi pada dirinya semalam.
Nayla sudah mengingatnya, air mata jatuh begitu saja di pipinya. "Ya Tuhan.." Dia memijit keningnya yang terasa pusing.
"Aku pasti sudah gila" Ia menyesali perbuatannya.
Berbeda dengan Wira yang baru saja bangun dari tidurnya. Ia mencari keberadaan Nayla yang sudah tidak ada di sampingnya.
"Kemana dia pergi?"
Wira melihat sisa permainan semalam yang ia lakukan bersama Nayla. Ada bekas noda merah di atas sprei abu muda miliknya.
Pria itu menyesali perbuatannya semalam, yang telah menodai Nayla. Ini memang bukan sepenuhnya salah Wira, seandainya saja Nayla tidak di ajak bersamanya ke acara itu. Mungkin kejadian semalam tidak akan terjadi.
Dia duduk di tepi ranjangnya, mengingat kembali apa yang telah terjadi malam tadi. "Apa dia sudah pulang?" Wira masih mempertanyakan keberadaan Nayla sekarang ini.
Satu minggu berlalu...
Semenjak kejadian itu Wira sering melamun dan tidak fokus bekerja. Ia masih belum bisa menerima sepenuhnya apa yang sudah terjadi. Bukan karena ia tidak menerima jika Nayla adalah gadis biasa. Tapi ia masih bingung harus bertanggung jawab seperti apa pada gadis itu.
"Apa aku harus diam saja?" Gumamnya menatap kosong layar PC di atas meja kerjanya.
"Presdir?"
"Presdir.." Tegur Zack sekali lagi.
"Ah, ya ada apa?" Wira mencoba fokus pada Sekretarisnya.
"Ini data yang baru saja Presdir minta. Apa anda baik-baik saja, Presdir?" Zack merasa khawatir pada Wira karena sehabis malam itu, di mana dia di tinggalkan dalam Butik sendirian.
"Aku baik-baik saja. Tolong kau wakili meeting sore nanti ya, Zack."
"Baik Presdir."
Dia merasa ada yang aneh pada diri Wira. Hal ini baru Zack lihat pertama kali selama bekerja delapan tahun bersamanya.
Wira keluar dari gedung miliknya dan menuju ke Butik Jhon Richard milik temannya.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pelayan wanita yang menjaga Butik itu. "Apa Jhon ada di sini?"
"Mr.Jhon ada di ruangannya Tuan, apa anda ingin bertemu dengannya?"
"Kalau Manager Nayla ada?" Dia langsung saja menanyakan keberadaan Nayla. Karena ada yang ingin Wira bicarakan padanya.
"Maaf Tuan, kalau Manager Nayla dia baru saja berhenti bekerja tiga hari yang lalu." Jawab pelayan Butik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments