Pemandangan

Wira menghentikan aksinya, dia kembali duduk dan merapikan kemejanya. Gadis itu juga ikut membenarkan posisinya. Dia duduk di samping Wira.

"Ayo kita pulang! Aku akan mengantarmu." Ucap Wira memakai jasnya kembali.

"Tidak perlu, saya tidak ingin pulang bersama pria yang berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain." Jawab Nayla menatap Wira dingin.

"Mulai sekarang aku yang memegang kendali, karena besok kita akan menikah." Wira tetap tidak ingin di bantah.

"Apa seperti ini cara Presdir menghadapi orang lain?"

"Yes, I control and rule." Jawab Wira singkat.

Pria itu menekan lampu dan dinding kamar itu langsung terbuka. Nayla mengepalkan tangannya dan mengikuti Wira di belakangnya.

"Saya rasa Presdir bukanlah orang yang akan melakukan hal itu. Pernikahan adalah sebuah hal yang sakral bagi saya. Saya tidak ingin di nikahi Presdir."

Nayla mengambil tasnya yang ada di lantai dan ingin keluar dari ruangan Wira. Tapi sayang pria itu kembali menghentikan langkahnya lagi dengan menahan handle pintu.

"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari sebuah pernikahan? Itu hanya status saja." Ucap Wira dengan menatap gadis yang ada di depannya.

Nayla tidak habis pikir mendengar penuturan Wira, "Sayang sekali Presdir bisa sukses dalam berkarir. Anda punya segalanya tapi tidak mengerti banyak apa itu arti sebuah hubungan pernikahan. Saya harus mencintai orang itu sebelum menikah dengannya." Jawab Nayla dengan percaya diri.

Wira menaikkan satu alisnya. "Apa kamu baru saja meremehkanku?"

"Tidak, mana berani saya meremehkan anda Presdir." Nayla semakin terlihat seperti gadis yang pintar.

"Tidak perlu cinta, menikah denganku kamu akan menjadi Nyonya Pranata Group." Wira semakin di buat penasaran dengan Nayla.

"Tidak, aku perlu cinta untuk hidup bersama seseorang."

"Kalau begitu kamu akan mencintaiku."

Lagi-lagi Nayla tekekeh dengan perkataan yang keluar dari bibir Wira. "Hei, apa kamu baru saja tertawa?!"

"Maaf, tapi Presdir lucu sekali. Sudahlah saya ingin pulang Presdir, permisi" Nayla menurukan tangan Wira yang menghalangi pintu.

"Apa yang lucu Nayla? Kamu pasti akan jatuh cinta padaku!"

Nayla tersenyum lalu pergi. Wira mengikut Nayla dan mengejarnya. "Lewat sini" Dia menarik tangan Nayla untuk masuk ke dalam liftnya.

"Ta-tapi ini bukan lift saya Presdir"

"Apa kamu tidak lihat sedang bersama siapa saat ini?" Ucap Wira dengan gaya cool nya. "Baiklah" Nayla menurut saja tidak ingin berdebat dengannya.

"Kamu harus berhenti bekerja dari Office Girl." Ucap Wira sambil mengemudikan mobilnya di jalan raya.

"Hanya itu pekerjaan yang saya miliki saat ini. Saya tidak bisa."

"Lakukan saja!"

"Mungkin bukan sekarang, tapi lain waktu." Jawab Nayla karena memang dia menginginkan pengalaman bekerja yang lebih, bukan hanya menjadi petugas kebersihan selamanya.

"Besok kamu akan tahu sendiri"

Hari telah berganti seperti biasa Nayla berangkat ke tempat kerja menggunakan motor masih pagi sekali. "Huh senangnya kalau berangkat pagi, udaranya masih fresh."

Nayla memasuki ruangan tempat dia menaruh tas dan berganti seragam, juga tempat menyimpan alat-alat kebersihannya.

Ia masuk ke dalam ruangan Wira yang paling utama. "S-selamat pagi Presdir, anda sudah datang." Sapanya terkejut karena sudah ada Wira di dalamnya.

"Mulai hari ini kamu menjadi asisten pribadi saya!" Pinta Wira yang duduk di sofa dalam ruangannya. Pria itu menikmati secangkir kopi yang ada di atas meja.

"A-apa Presdir, asisten pribadi anda?"

"Hm, ganti seragammu sekarang. Pakaianmu ada di kamar" Wira menyesap kembali kopinya. "Tapi kenapa saya tiba-tiba di jadikan asisten pribadi Presdir?"

"Sudahlah, kita tidak jadi menikah hari ini. Maka kamu harus menjadi asisten pribadi saya." Jawab Wira dingin.

Nayla menghela nafasnya, ia tidak mengerti maksud Wira. Tapi apa boleh buat, dia masih membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya.

"Baiklah Presdir."

Gadis itu masuk ke dalam kamar Wira, di sana Nayla melihat ada lima paperbag berisi baju-baju. "Astaga, bukan kah ini baju rancangan Mr.Jhon?" Bukan main Nayla di buat semakin bingung.

"Presdir, baju mana yang anda maksud? Saya hanya melihat baju yang ada di dalam tas ini." Tanya Nayla karena tidak ingin sampai salah memakainya.

"Itu semua baju untukmu."

"Tapi ini rancangan Mr.Jhon, apa tidak ada baju yang biasa saja? Saya masih bisa menggunakan baju saya Presdir."

"No, itu untukmu dan pakailah."

"Tapi__"

"Nayla"

"Ya baik Presdir, saya akan memakainya." Tidak mau pusing Nayla segera berganti pakaian. Dia memilih dress berwarna navy yang memiliki reseleting dari bawah hingga atas di bagian belakangnya.

Nampak pas sekali di tubuh langsing Nayla. Lalu dia keluar dan menemui Wira yang sampai membuatnya melongo.

"Sudah Presdir, terima kasih untuk bajunya. Tapi apa ini tidak berlebihan?"

"Ehemm.. Mulai hari ini kamu akan bekerja untukku" Wira berdehem menetralkan pandangannya yang sempat terpesona pada kecantikan alami Nayla.

"Lalu tugas saya apa Presdir?"

"Kamu bisa mengetik dan menggunakan komputer?" Nayla mengangguk. "Baiklah itu akan mempermudah."

Wira bangkit dari sofa, dia mengambil beberapa dokumen di rak bukunya, dan mengambil sebuah laptop.

"Ini, sekarang kamu bantu aku mengetik semuanya." Wira meletakkan semuanya di meja sofa.

Nayla mendengarkan apa yang di katakan atasannya itu. "Baiklah Presdir" Tanpa menunggu lama, ia melakukan tugasnya.

"Aku beri waktu satu jam"

"Baik Presdir"

Zack masuk ke dalam ruangan Wira. "Selamat pagi Presdir"

"Hm"

"Ini jadwal anda hari ini Presdir." Zack memberikan jadwal Wira hari ini, matanya melirik ke arah Nayla yang berpakaian berbeda. Sekretaris itu memiringkan kepalanya.

"Selamat pagi Pak." Sapa Nayla ramah.

"Pagi Nayla."

"Baiklah Zack, tolong kau laporkan pada Jeni bahwa Nayla sudah tidak bekerja sebagai office girl lagi. Dia ku pindahkan tugas menjadi Asisten pribadiku." Ucap Wira sambil menerima agenda yang di berikan Zack.

"Ya?"

"Kau mendengarnya tidak Zack?"

Masih agak sedikit bingung tapi Zack mematuhi perintahnya. "Baik Presdir, akan saya lakukan." Wira mengangguk-angguk.

Lagi-lagi Nayla menyunggingkan senyum pada Zack sebelum pria itu pergi. "Senyummu terlalu kelebaran." Ucap Wira dingin dan beralih duduk di kursi kerjanya.

Belum ada satu jam Nayla sudah menyelesaikan tugasnya. "Presdir, saya sudah mengerjakan semuanya. Apa ada yang harus saya kerjakan lagi?" Tanya Nayla pada Wira yang sibuk berkutat dengan laptopnya.

"Tetap di sana, aku akan memeriksanya." Pria itu tidak mengalihkan pandangannya dari laptop.

Nayla diam-diam memandangi Wira dari tempat duduknya. Wajah yang tampan, hidung yang mancung, alis yang rapi dan tebal. Mata elangnya yang terkesan dingin tapi mematikan.

Di waktu yang sama Wira melirik ke Nayla yang tengah menatapnya. "Cih, apa kamu menikmati ketampananku?" Ucapnya percaya diri.

Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya. "Tidak, aku sedang menatap pemandangan yang ada di belakang Presdir." Nayla mengelak.

"Jika kamu duduk di sana, yang terlihat hanyalah langit. Tidak ada pemandangan lain." Jawab Wira yang lebih mengetahui.

Memang benar yang Nayla lihat di belakang Wira hanya sebuah pemandangan langit yang ia dapatkan. Nayla diam saja tidak ingin menjawab.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!