Terkunci Di Dalam

Pada hari minggu ini Nayla libur bekerja, dia membantu Ibunya memasak di rumah. "Sini biar Nay aja yang cuci berasnya Bu." Dia mengambil wadah beras yang di pegang Luna lalu mencucinya.

"Gimana kerja kamu Nay, kamu nyaman nggak kerja di sana?" Tanya Luna sambil mengiris bawang.

"Nyaman Bu, karyawan di sana baik-baik semua. Nay senang kerja di sana." Tapi bayangan wajah Wira muncul di benaknya, membuat Nayla bergeleng kepala.

"Syukurlah kalau kamu nyaman kerja di sana."

Frans meminum teh yang ada di atas meja. "Di sana banyak pria tampan nggak Nay?"

"Memangnya kenapa Yah?" Nayla berganti duduk di samping Frans sambil memotong sayuran. "Ya barang kali ada yang kepincut sama kamu, he he he." Ledek Frans membuat Nayla tertawa.

"Ayah ini bisa aja. Mana ada yang mau sama Nay Yah." Nayla merasa dirinya biasa saja dan tidak membayangkan jika ada pria di kantornya yang mau dengannya.

"Loh kenapa? Anak Ayah kan cantik, baik, sayang sama keluarga. Ayah yakin suatu saat akan ada seseorang yang menyukai kamu." Frans meyakinkan anaknya.

Nayla tersenyum melihat Ayahnya, "Ayah ini memang paling bisa memuji Nay."

"Loh memang kenyataannya begitu kok."

"Iya Ayah, semoga saja Nay dapat pria yang baik hati juga nantinya." Luna ikut tersenyum mendengar perbincangan putrinya bersama Frans.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Wira berangkat dari rumahnya menuju kantor. Pukul 7 pagi dia sudah sampai di kantornya dan naik ke atas ruangannya.

Di mana pada waktu bersamaan Nayla sedang membersihkan ruangan Wira. Di dalam aturan membersihkan ruangan Presdir hanya dari jam 7 hingga 8 pagi saja.

Wira sudah melihat ada troli alat kebersihan di depan ruangannya yang berarti ada seseorang di dalam sana.

"Ehemm.." Pria itu pura-pura berdehem lalu duduk di kursinya.

"Presdir, anda sudah datang?"

Nayla kaget ketika ada Wira sudah datang sepagi ini. "Apa ada masalah?" Jawabnya cuek, Wira pun membuka laptopnya.

"T-tidak Presdir, hanya saja saya masih bersih-bersih di ruangan anda."

"Lanjutkan saja."

"Baiklah."

Gadis itu kembali menyalakan vacuum cleaner untuk membersihkan lantai di ruangan Wira. Kemudian Wira berjalan mendekati Nayla.

"Apa kamu akan terima tawaran Jhon kemarin?"

Tangan Nayla menekan tombol off di vacuum cleaner yang ia pegang. "Ya?" Dia masih pura-pura tidak mengerti maksud Wira.

"Kamu mengenal Jhon bukan?" Langkah Wira terus maju hingga gadis itu berjalan mundur ke belakang. "T-tidak.. Maksud saya iya Presdir."

"Lantas kamu adalah orang yang pernah ikut bersamaku ke Hotel malam itu bukan?" Tubuh Wira terus maju membuat Nayla bergetar berjalan mundur.

"Kamu juga yang sudah pernah datang ke rumahku dan mengotori jas mahal milikku."

"Maaf saya nggak mengerti maksud Presdir." Ucapannya membuat Wira menatap tajam gadis itu. Langkah Nayla terhenti di dinding marmer yang ada di belakangnya.

Kini ia tidak bisa lari kemana pun, Wira meletakkan kedua tangannya di tembok, mengunci tubuh Nayla yang ada di depannya.

"Jawab aku!"

Nayla menunduk ketakutan, dia bingung harus menjawab apa pada Wira.

"I-iya benar Presdir." Bibirnya gemetar tangannya juga meremat ujung seragam yang Nayla pakai. "Lantas kenapa kamu berpura-pura tidak mengenaliku kemarin?"

"Lihat aku!"

Pelan-pelan Nayla menatap wajah Wira dengan ragu. Mata indah yang mempunyai bola mata bewarna coklat itu membuat Wira menatapnya dalam.

"Sa-saya tidak ingat jika yang kemarin itu adalah Presdir." Gadis itu memberanikan diri menjawabnya, tapi dia terus mengelak agar bisa menghindari Wira.

"Apa kamu cepat melupakan orang yang sudah pernah tidur bersamamu?" Ucapan Wira membuat hati Nayla bagai tersambar petir.

Sepasang bola mata itu masih saling menatap. Tangan Nayla mengepal kuat, ingin rasanya ia marah di hadapan Wira. Tapi apa yang bisa dia lakukan saat ini.

"Jangan asal bicara Presdir!" Jawab Nayla dengan nada agak tinggi. "Tolong biarkan saya melanjutkan pekerjaan saya." Pinta Nayla dengan baik sebelum ia tersulut emosi.

"Cih, sepertinya kamu memang orang yang seperti itu." Wira kemudian keluar meninggalkan Nayla di ruangannya sendiri.

Air mata lolos di pipi Nayla saat pria itu sudah pergi. "Hiks,,, kenapa dia harus membahasnya lagi." Nayla benar-benar ingin menangis mengingat kejadian waktu itu.

Wira pergi ke atas gedung, entah kenapa hatinya merasa kesal mendengar jawaban Nayla yang terasa melupakan dirinya.

"Semudah itu kah dia bisa melupakan seseorang yang pernah tidur bersamanya?" Wira memandang jalan raya dari atas gedungnya.

"Apa dia sekarang sudah terbiasa seperti itu?"

Pada jam istirahat Fatma sedang makan bersama Nayla di kantin perusahaan. "Nay kamu kenapa dari tadi melamun terus? Makanan kamu keburu kering deh itu." Fatma aneh melihat temannya tidak selera makan malah melamun.

"Aku sedang tidak ingin makan Fat."

"Memangnya ada masalah apa, cerita dong.."

"Nggak apa-apa kok Fat, aku cuma lagi ngerasa suntuk aja." Nayla meminum air yang ada di sebelahnya.

"Biar nggak suntuk, gimana kalau nanti malam kita nonton bioskop?" Usul Fatma yang memang ingin nonton film. "Hmm, boleh. Ajak Siska juga ya biar seru." Akhirnya Nayla menerima ajakkan temannya untuk nonton bioskop.

"Beres itu, pulang kerja kita langsung saja ya.."

"Iya Fat"

Zack masuk ke dalam ruangan Wira. "Ini laporan penjualan bulan ini Presdir, nanti malam anda juga ada pertemuan dengan Tuan Lukas di Mal XXX."

"Hm, apa tidak ada tempat lain selain di Mal?" Wira menerima dokumen yang di serahkan Zack padanya.

"Tuan Lukas sendiri yang memintanya, Presdir."

"Ya baiklah nanti malam kita kesana."

"Baik."

"Zack aku minta jus stroberi, minta petugas untuk membawanya ke ruanganku."

"Baik Presdir, saya permisi dulu."

Sekretaris Zack pergi ke pantry dan meminta Nayla membuatkan jus storberi untuk Wira. Beberapa menit kemudian Nayla datang membawa jus stroberi untuknya.

"Permisi Presdir, saya membawakan jus stroberi yang anda minta."

"Hm, letakkan di meja!"

Setelah menaruhnya Nayla pamit untuk keluar. "Tolong bersihkan kamar yang ada di belakang rak buku itu." Nayla masih bingung sama perintah dari Wira.

"Ya?"

"Aku minta tolong kamu bersihkan kamar yang ada di balik rak buku itu sekarang." Wira menatap Nayla sekejap dan kembali membaca laporan yang dia pegang.

"Baik Presdir."

Gadis itu keluar mengambil alat kebersihan lalu masuk ke dalam kamar yang di katakan Wira. Kamar yang suka menjadi tempat istirahat jika sedang penat. Tapi kamar itu lebih sering kosong.

Di dalam Nayla membersihkan kamar itu. "Ternyata di sini ada kamar yang tidak terlihat dari luar." Gumamnya menatap sekeliling kamar.

"Aku mulai dari sana dulu deh."

Butuh waktu 30 menit untuk membereskan kamar Wira. "Hahh,, akhirnya selesai juga. Aku bisa keluar sekarang"

"Loh ini kok nggak bisa di buka, bagaimana cara membukanya?" Nayla tidak bisa membuka pintu yang terlihat seperti dinding dari dalam. Dia terkunci di dalam kamar.

Ia berusaha menggedor pintu itu dari dalam. Tapi sayang Wira tidak bisa mendengarnya karena kamar itu di pasang kedap suara.

"Bagaimana ini, tolong buka pintunya Presdir.." Teriak Nayla dari dalam. Ia terus berusaha membuka pintunya tapi tidak bisa.

Wira pergi keluar ruangannya untuk melakukan meeting sore ini di lantai 29. "Zack, sehabis meeting kita langsung pergi ke Mal saja. Ada yang mau aku beli sebelum bertemu Lukas."

"Baik Presdir."

Saat jam pulang kerja Fatma dan Siska menunggu Nayla di gerbang perusahaan Pranata Group. "Haduh Nayla kok belum keluar ya Sis?" Siska duduk sambil memainkan ponselnya.

"Biar aku telepon Nayla dulu."

"Iya sebaiknya kamu telepon Sis, kasih tahu kalau kita udah nunggu dia di sini."

Siska mencoba menghubungi Nayla tiga kali, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Ponsel Nayla berdering di dalam pantry, gadis itu tidak membawanya ketika membersihkan kamar Wira.

"Nggak di angkat Fat, mungkin Nayla lagi sibuk. Kita undur nontonnya besok saja kalau gitu." Usul Siska yang tidak mau memaksakan kehendak.

"Yahh,, padahal aku ingin sekali nonton film Suzana. Ya sudah ayo kita pulang saja." Akhirnya mereka berdua pulang.

Nayla terduduk di lantai dan menangis, sudah dua jam dia terkunci di dalam sana tidak bisa keluar. "Hikkss,,, bagaimana ini? Aku tidak bisa keluar dari sini."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!