Mengantarnya Pulang

Di sebuah restoran Chinese dalam Mal, Zack, Wira dan juga Lukas melakukan pertemuan bisnis. "Jadi bulan depan kita akan berangkat ke Jepang, aku ingin melihat proyek itu sendiri." Usul Wira pada mereka yang ada di sana.

"Okay boleh tuh, aku ikut sama kau kesana Wir." Timpal Lukas selaku teman bisnis Wira. "Baik Presdir, saya akan menyiapkan keberangkatan anda bulan depan." Zack lah yang selalu menyiapkan semua kebutuhan Wira.

"Sehabis ini gimana kalau kita ke Havana Club dulu Wir?"

"Hm, ajak Zack saja bersamamu. Dia lebih butuh hiburan di banding denganku." Wira menyerahkan Sekretarisnya pada Lukas.

Zack sudah mengabdi pada Wira selama delapan tahun. Meskipun umur mereka sama, tapi Zack selalu bersikap formal padanya meskipun itu di luar kantor.

Itu hal yang Wira sukai dari Sekretarisnya. Baginya Zack selalu penuh wibawa dan sopan santun padanya.

"Ah tidak, saya akan pulang saja sehabis ini Presdir." Jawab Zack malu-malu. "Oh ayolah Zack, kita ke sana. Biar aku yang mentraktirmu" Ajak Lukas yang benar-benar ingin ke sana.

"Sudahlah Zack kau ikut saja dengan Lukas, kau bisa bersenang-senang di sana."

"Baik Presdir jika anda memaksa." Suara tawa mereka pecah dalam restoran itu.

Ponsel Wira berdering dia langsung mengangkatnya. "Halo?"

"Benarkah?"

"Baiklah aku akan segera memeriksanya."

Zack merasa ada yang genting dari sambungan telepon Wira. "Ada apa Presdir?" Tanyanya khawatir. "Perusahaan di Jepang mengalami kendala yang harus di selesaikan malam ini. Aku akan pergi ke kantor sekarang. Kau ikutlah bersama Lukas, Zack."

Wira memakai jasnya kembali. "Biar saya ikut dengan anda Presdir." Zack ikut berdiri, "Tidak Zack, aku akan mengatasinya sendiri. Lukas aku kembali ke kantor dulu."

"Kau hati-hati bro, jika ada kesulitan kau bisa menelponku." Jawab Lukas dengan senang hati. "Ah baiklah."

Setibanya di kantor Wira langsung pergi ke ruang kerjanya. Dia melepaskan jasnya dan duduk membuka laptop.

Manik matanya terus fokus membaca email masuk dari Jepang. Tiba-tiba pandangannya beralih ke sebuah gelas bekas jus stroberi yang ia minum sore tadi.

"Kenapa gelas ini masih ada di meja?"

Seharusnya gelas itu sudah di bereskan oleh petugas kebersihan. Wira tidak mempedulikan soal itu, dia kembali fokus ke laptopnya.

"Halo, bagaimana?" Tanya Wira di sebuah telepon.

"Sekarang juga kau ubah metodenya seperti yang barusan aku sudah kirimkan padamu." Pinta Wira pada orang kepercayaannya di Jepang. Orang yang mengurus perusahaannya di sana.

"Aku tunggu hasilnya malam ini."

Sambil menunggu telepon dari Jepang untuk mendapatkan hasil, Wira pergi ke pantry untuk membuat sesuatu di sana.

"Ponsel siapa ini?"

Pria itu mendapati ponsel di atas meja kitchen. Di nyalakannya ponsel itu terdapat foto Nayla bersama Ibunya.

"Ini ponselnya, apa dia ada di sini?" Gumamnya pelan. "Nayla!!!" Panggilnya di dalam pantry. "Nayla apa kau ada di sini?" Wira melihat ke sekitar pantry tapi tidak ada orang sama sekali.

"Tadi gelas jus masih di atas meja, dan sekarang ponselnya ada di sini malam-malam____" Wira berpikir keras.

"Astaga!! Jangan-jangan dia masih di dalam."

Wira berlari kembali ke ruangannya, ia langsung membuka rak buku berwarna hitam yang tinggi itu. Betapa syok Wira melihat Nayla ada di dalam kamarnya.

Gadis itu duduk di bawah sambil menekuk lututnya dan menunduk. "Astaga, Nayla!!" Wira menghampirinya dan bersimpuh di depan gadis itu memastikan keadaannya.

"Nayla, kenapa kamu masih di sini?" Pria tampan itu mengangkat kepala Nayla untuk melihatnya. "Presdir.." Nayla senang karena akhirnya ada yang datang. Tapi tidak dengan tubuhnya yang sudah lemas.

Sebab pagi tadi Nayla tidak sarapan, dan siang pun dia tidak berselera makan. Hingga malam masih terkunci di dalam tidak makan dan minum apapun membuat tubuhnya lemas dan sedikit demam.

"Ya Tuhan kamu demam, ayo naiklah.." Wira membantu Nayla untuk naik ke tempat tidurnya, gadis itu duduk di atas ranjang. Kepalanya terasa pusing dan berputar.

"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu masih ada di sini? Aku kira kamu sudah selesai membersihkan kamar ini lalu keluar."

"Sa-ya tidak bisa membuka kamar ini Presdir" Jawabnya lemah. "Astaga, maaf aku lupa memberitahumu. Kamar ini bisa di buka kalau kamu menekan lampu kecil yang menempel di sana." Wira menunjukkan lampu kecil yang ada di dinding.

"Apa kamu baik-baik saja?" Nayla mengangguk lemah.

"Biar aku antar kamu ke rumah sakit!" Wira bersiaga ingin mengangkat tubuh Nayla, tapi gadis itu menolak. "Tidak usah Presdir, saya nggak apa-apa. Hanya lemas saja"

"Ya sudah berbaringlah sebentar di sini, aku akan ambil sesuatu untukmu, tunggulah.." Wira kembali ke pantry membuat teh hijau di tambah gula dan mengambil beberapa cookies miliknya di sana.

"Ini aku bawakan teh untukmu, minumlah agar lebih baik"

"Hm, terima kasih Presdir." Nayla meminum teh yang di buatkan pria tampan itu. Pria yang awalnya dingin dan cuek, kini seperti berbanding terbalik.

"Aku akan kembali bekerja, tetaplah di sini. Dan makanlah kue ini, aku sudah memesan makanan untukmu."

"Tidak usah Presdir, saya bisa langsung pulang saja. Maaf telah merepotkan anda" Nayla tidak enak hati telah merepotkan Wira.

Dia kekeh ingin pulang tapi Wira mencegahnya. "Diam dan istirahatlah, aku atasanmu dan tidak suka di bantah."

"B-baiklah Presdir, terima kasih" Bibir manis Nayla menarik perhatian Wira yang tengah menatapnya.

Sebuah memori di mana Nayla mencium dirinya di atas sofa rumahnya waktu itu menggerayangi pikiran Wira.

Takut khilaf Wira segera keluar dari kamar itu dan kembali ke kursi kerjanya. "Kenapa aku baru sadar bahwa dia sangat cantik," Wira memijit pelipisnya yang terasa pusing juga.

Dering ponselnya berbunyi Wira pun segera mengangkatnya. "Halo, bagaimana?"

"Berhasil Presdir" Jawab pria di seberang sana. Wira menghela nafasnya lega. "Good Job." Dia mematikan ponselnya dan melirik jam di mejanya.

"Sudah jam 12 malam. Sebaiknya aku mengantarnya pulang."

Di dalam mobil Nayla duduk di samping Wira yang akan mengantarnya pulang. "Presdir sebenarnya saya bisa pulang sendiri, tidak perlu di antar." Nayla canggung duduk di sampingnya.

"Sudahlah, lupakan gengsimu. Ini sudah malam, tidak baik seorang wanita pulang sendirian selarut ini." Jawab Wira yang fokus menyetir.

"Saya tidak gengsi Presdir, hanya saja tidak pantas jika Presdir mengantar saya pulang." Nayla sedikit geram di katai gengsi oleh Wira.

"Ternyata bisa marah juga." Gumam Wira pelan.

"Apa?"

"Tidak, sudah diamlah."

Mobil audi R8 milik Wira berhenti di depan rumah Nayla. "Sekali lagi terima kasih karena Presdir sudah mengantar saya pulang. Hati-hati di jalan"

"Hm, baiklah"

Nayla turun dan berpamitan. Wira kembali melanjutkan perjalanannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!