Berhak Bertanya

Pagi hari sekali Nayla sudah datang ke kantor. Dia membersihkan ruangan Wira dengan rapi dan kinclong.

"Ruangan sebesar ini hanya untuk ruang kerja saja, bahkan rumahku saja hanya 20% dari tempat ini. Sungguh orang kaya sangat berbeda."

"Apa kamu sudah lebih baik?"

Suara bariton Wira mengejutkan Nayla. "Presdir sudah datang? Saya sudah tidak apa-apa Presdir.

"Ya, banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Tolong buatkan aku teh hijau." Wira melepaskan jas nya dan duduk di kursi kebesarannya.

"Baik Presdir, saya buatkan dulu."

Nayla keluar dari ruangan Wira dan masuk ke dalam pantry. Ia membuatkan teh hijau dan mengambil beberapa camilan yang memang Wira sediakan di sana.

"Permisi Presdir, ini teh hijaunya."

"Hm"

Gadis itu meletakkan nya di meja dan keluar dari ruangan Wira. Di depan dia melihat Zack yang sedang berjalan.

"Selamat pagi Pak."

"Pagi"

"Mau saya buatkan teh atau kopi?" Tawar Nayla yang memang sudah menjadi tugasnya.

"Tidak, terima kasih. Aku bisa membuatnya sendiri." Zack kemudian masuk ke ruangannya.

"Ternyata tidak hanya Presdirnya tapi Sekretarisnya juga sedingin kulkas hi hi hi." Nayla tertawa kecil terheran melihat sikap Zack yang hampir mirip dengan Wira.

Nayla kembali membersihkan ruangan demi ruangan yang ada di lantai 34. Setelah selesai dia pergi ke lantai 35 yang terletak di atas gedung Pranata Group karena penasaran.

"Waahhh, ternyata di sini sangat indah.."

Manik mata Nayla di sapa hangat oleh pemandangan di atas sana. Terdapat beberapa bunga mawar yang tersusun di setiap barisan sudut gedung.

"Bunga mawarnya cantik sekali, siapa ya yang sudah merawat bunga ini?" Nayla memegang bunga mawar merah dan putih di dekatnya.

"Aku yang setiap hari merawatnya."

Suara pria tiba-tiba muncul di belakang Nayla. "S-siapa kamu?" Nayla melihat perawakan pria itu dari atas hingga bawah.

"Aku Irwan yang merawat bunga-bunga di atas sini." Irwan mengulurkan tangannya pada Nayla. Dan gadis itu berjabat tangan padanya.

"Nayla."

"Bunga-bunga di sini kesukaan Presdir, aku di tugaskan khusus untuk merawatnya." Jelas Irwan sambil menyemprot bunga-bunga di dekatnya.

"Oh begitu.. Aku baru pertama kali kesini."

"Sangat indah bukan?"

"Hmm, indah dan harum sekali" Nayla menikmati lagi pandangan di atas sana. Irwan terpesona melihat wajah Nayla yang cantik.

"Aku baru melihatmu, kamu karyawan baru di sini?" Irwan penasaran, tubuhnya tinggi memiliki alis tebal, dan kulit kuning langsat.

"Ah, iya aku baru bekerja di sini sekitar 6 bulan."

Irwan mengangguk, "Sering-seringlah kesini jika kamu merasa suntuk atau lelah." Usul pria itu dengan tersenyum.

"Iya terima kasih." Nayla ikut tersenyum.

Zack datang ke ruangan Wira. "Maaf apa semalam ada masalah dengan perusahaan di Jepang Presdir?" Dia berdiri di depan meja Wira.

"Hm, tapi sudah beres. Aku merubah metode peluncuran produk baru kita. Akan aku kirimkan ke surel mu untuk kau pelajari."

"Baik Presdir, dan siang ini kita ada rapat dengan Divisi Pemasaran" Zack memberitahukan jadwal Wira sebagai mana mestinya.

"Baiklah"

Siang harinya saat jam istirahat Nayla dan kedua temannya seperti biasa sedang makan bersama. "Nay, kemarin sore kita sempet nungguin kamu di bawah loh. Tapi kamu nggak angkat teleponnya, jadi kita pulang deh nggak jadi nonton." Ucap Fatma yang raut wajahnya merajuk.

"Iya maaf ya Fat, aku ngga sengaja ketiduran di atas."

"What?? Kamu ketiduran Nay?" Siska tak habis pikir, Nayla mengangguk dia terpaksa berbohong. Karena tidak mungkin memberitahu yang sebenarnya pada mereka. "Iya aku nggak sengaja ketiduran. Lain kali kita jadi pergi nonton deh" Ucap Nayla.

"Tapi nggak ketiduran lagi kan?" Ledek Fatma dengan intens. "He he he nggak kok Fatma cantik." Nayla menggombal membuat Siska memutar malas bola matanya. "Hih, gombal banget Nay."

Di seberang meja makan yang mereka tempati, Siska melihat Irwan mengunyah makan siangnya di sana. "Fat, Nay lihat ke sana.. Ada pangeran tampan lagi makan siang aaaaa..." Siska terkagum-kagum dan senyum sendiri.

"Dia kan,," Nayla tahu kalau itu adalah pria yang tadi pagi bersamanya di atas.

"Kamu kenal Nay?" Fatma melahap makanannya yang hampir habis. "Pagi tadi aku bertemu dengannya di atas." Ucap Nayla sambil minum segelas air.

"Cool banget kan yah" Lagi-lagi Siska terlena.

"Dasar nggak bisa lihat cowok cakep dikit" Ejek Fatma dan ketiganya tertawa.

Sore harinya pukul 5 sore semua karyawan Pranata Group beriringan pulang kerja. Mereka semua telah selesai melakukan aktifitas dan pekerjaannya di kantor.

Ketika Nayla hendak turun ke lantai bawah, ia melirik ke jendela kaca ruang Presdirnya. "Apa dia tidak pulang? Aku samperin tidak yah? Ah tapi nanti dia meledekku lagi. Sudahlah Nay itu bukan urusan kamu." Akhirnya Nayla memutuskan untuk pulang.

Melewati lift dia bertemu dengan Zack, "Loh pak Zack sudah mau pulang?" Tanyanya ramah sekali. "Hm, iya mau pulang." Zack melirik ke jam tangannya dan menunggu lift itu naik ke lantai 34.

"Tapi kok Presdir tidak pulang ya Pak?" Nayla memberanikan diri bertanya. "Terkadang Presdir memang pulang lebih akhir. Dan saya nggak pernah boleh nungguin dia kecuali ada pekerjaan darurat yang memang harus melibatkan saya." Jelas Zack sederhana.

"Oh begitu ya Pak."

"Hm."

Wira memang tidak suka karyawannya pulang tidak tepat waktu. Jika memang pekerjaan itu tidak darurat, itu tidak mewajibkan karyawan untuk lembur. Biasanya banyak karyawan lembur di tanggal 25 ke atas. Karena mereka sibuk dengan pekerjaan di akhir bulan, seperti merekap data atau lain-lainnya.

Setelah Zack turun menggunakan lift. Nayla kembali ke ruangan Wira, dia mengetuk pintu pelan dan masuk. "Maaf, Presdir tidak pulang apa sedang lembur?" Tanyanya hati-hati sekali dan dirinya masih berdiri di dekat pintu.

Wira yang tengah membolak balik kertas dokumen itu melirik ke arah Nayla. Kacamata yang ia pakai membuat dirinya semakin tampan.

"Hm, lantas kenapa kamu tidak pulang?"

"Mm, tadi saya lihat Presdir masih ada di tempat. Apa Presdir butuh sesuatu sebelum saya pulang. M-mau di buatkan kopi atau yang lainnya?"

Nayla merasa perhatian karena Wira memang atasannya. Rasanya sedikit tidak pantas saja jika dia pulang lebih dulu.

"Hm, tidak. Aku sedang tidak ingin minum. Kamu masuklah!"

"S-saya?"

"Iya kemarilah."

Satu demi satu langkah Nayla berjalan ke hadapan Wira. "Ada apa Presdir?" Gadis itu nampak ragu. "Ada yang ingin aku tanyakan." Wira meletakkan kacamatanya di meja.

"Duduklah!"

"Tidak apa Presdir, saya di sini saja." Nayla tersenyum kaku. "Aku menyuruhmu duduk Nayla." Tidak ingin membantah dia segera duduk dengan cepat. "Baik Presdir."

"Aku ingin bertanya padamu soal kejadian waktu itu." Deg! Jantung Nayla terasa sedetik berhenti, manik matanya berubah menjadi tatapan yang sulit di artikan.

Wira menangkap raut wajah Nayla seperti tidak suka pada ucapannya. "A-aku bertanya karena aku berhak untuk bertanya." Ucap pria itu perlahan agar Nayla tetap tenang.

Detik kemudian Nayla bangkit dan hendak pergi meninggalkan bangku itu. "Maaf tapi saya harus pulang sekarang, permisi." Ucapnya cepat dan pergi menuju pintu.

"Kenapa pintu ini tidak bisa di buka?" Gumamnya ketika tangan mungil itu menarik handle pintu tidak bisa di buka.

"Kenapa?" Tanya Wira tersenyum.

Nayla menengok ke belakang, dia melihat Wira sedang memegang kunci remot di tangannya. Ya benar, pintu ruangan itu sudah Wira kunci. Karena dia tahu Nayla pasti akan pergi tanpa mau menjawab.

"Tolong buka pintunya Presdir!" Pinta Nayla geram, dia mengepal kuat tangannya sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!