Menyukai Situasi Ini

Zack datang ke kantor bersama Wira pagi ini. Mobil yang di tumpangi mereka berhenti di pintu masuk perusahaan.

"Zack jangan lupa bawakan barangku yang ada di bagasi." Ucap Wira lalu turun dari mobil. "Baik Presdir."

Dia masuk ke dalam lift sendirian, tiba di lantai 34 pintu lift pun terbuka. Langkah kaki Wira terus menyusuri lantai marmer menuju ruangannya.

Trekkk..

Pria itu mendorong pintunya dan masuk ke dalam.

"Waw,, rupanya ada kamu di sini?" Tak di sangka ternyata Wira bertemu Nayla di dalam ruangannya sendiri.

Selama bekerja di Butik, Nayla selalu menjadi karyawan terbaik. Begitu pun sekarang ia bekerja di Pranata Group tetap menjadi karyawan yang rajin dan tidak pernah absen, meskipun jabatannya hanya petugas kebersihan.

Maka dari itu Jeni menugaskan Nayla yang mebersihkan lantai 34 termasuk juga ruangan Presdir Pranata Group.

Nayla yang sedang membersihkan rak buku merasa kaget ada yang membuka pintu ruangan itu, ia langsung menoleh ke belakang.

Bibirnya kelu dan sulit untuk menjawab ucapan pria di hadapannya.

"Apa ini waktunya bersih-bersih di ruanganku?" Wira menatap dalam gadis yang ada di depannya.

"Ru-ruanganmu?" Wira mengangguk santai. Dia masih berdiri tepat di hadapan Nayla. Akhirnya Nayla sadar bahwa inilah ruangan Wira pemilik perusahaan tempat dia bekerja.

Keadaan masih saja hening, gadis itu malah semakin kaku. "Maaf, saya baru saja di tugaskan hari ini untuk bersih-bersih ruangan yang ada di lantai ini." Nayla menunduk menggigit bibir bawahnya tidak berani menatap Wira.

"Hm, lanjutkan saja!"

"Baik"

Wira duduk di kursi kebesarannya, sebelumnya ia tidak pernah menemukan ada petugas kebersihan yang membereskan ruangannya saat dirinya ada di tempat.

Tapi kali ini ia membiarkan Nayla melakukan tugasnya.

Zack datang ke ruangan Wira membawa barang-barang dalam sebuah kotak. Dia membulatkan matanya saat melihat ada seorang petugas kebersihan di ruangan Presdirnya.

Sekretaris itu menaruh cepat kotak yang ia pegang di atas meja sofa.

"Siapa yang menugaskanmu bersih-bersih di ruangan ini sekarang?" Zack menegur Nayla yang masih melanjutkan bersih-bersihnya.

"Maaf Pak, saya petugas baru yang di tunjuk Bu Jeni untuk bersih-bersih di ruangan ini." Nayla semakin merasa ada yang salah sekarang ini.

"Iya, tapi apa kamu tidak tahu jam berapa aturan membersihkan ruangan ini?" Zack sama saja seperti Wira, tatapannya dingin tapi masih lembut dalam bicara.

"Zack, biarkan saja dia bersih-bersih!"

Wira yang sedari tadi memperhatikannya, membiarkan Zack untuk tidak memarahi gadis itu. "Maaf Presdir, lain kali kejadian ini tidak akan terulang lagi."

Dia meminta maaf pada Wira, karena merasa lalai dan tidak tahu apa yang sudah terjadi.

"Hm, kau boleh kembali ke ruanganmu."

"Baik Presdir."

Setelah Zack kembali ke ruangannya, kini hanya Wira dan Nayla berdua dalam ruangan itu. "Jika sudah selesai kamu bisa keluar dari sini."

Ucapan Wira membuat gadis itu menjadi canggung dan mempercepat gerakan bersih-bersihnya. "Baik Presdir."

"Hufttt,,, akhirnya aku bisa keluar dari ruangan itu. Rasanya jantungku sudah mau copot jika harus lama-lama di dalam sana." Nayla bernafas lega karena bisa keluar dari ruangan Wira.

Zack pergi ke pantry yang sedang ada Nayla duduk di sana. "Siapa namamu?" Tanyanya berada di belakang Nayla. Gadis itu berdiri di depan Zack.

"Nama saya Nayla, Pak."

"Saya Zack Sekretaris Predir Wira." Pria itu juga memperkenalkan dirinya.

"Nayla, tolong buatkan kopi untuk Presdir. Catatan apa yang di sukai dan tidak di sukai Presdir ada di samping kulkas sana."

"Baik Pak, saya akan buatkan kopinya sekarang."

"Sekalian kamu antar ke ruangannya ya, terima kasih." Nayla mengangguk dan Zack pergi dari pantry.

Perlahan Nayla menuangkan kopi ke dalam cangkir. "Kopinya dua sendok dan gulanya satu sendok. Air panasnya 80%, tidak suka minum teh pakai gula. Suka jus stroberi saat sore hari dan tidak pakai ice." Semua Nayla baca dari awal hingga akhir.

"Baiklah kopinya sudah siap, semangat Nay. Kamu pasti bisa meskipun harus melihat dia setiap hari!" Nayla menyemangati dirinya sendiri.

Nayla mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam, di sana Wira sedang membaca sebuah map yang ia pegang. Pria itu terlihat berbeda jika sedang memakai kacamata.

"Permisi Presdir, saya membawakan kopi anda."

"Hm taruh saja di meja!" Jawab Wira tanpa menoleh.

"Baik."

Waktu istirahat untuk para pekerja telah tiba. Nayla, Siska dan Fatma tengah memesan bakso untuk makan siang mereka.

Ketiganya duduk di kios kecil milik pedagang bakso. "Nay, kata Fatma kamu hari ini pindah ke lantai atas ya?" Tanya Siska sambil minum es teh manis.

"Iya Sis, aku pindah ke atas."

"Waahhh,,,, beruntung banget ya kamu bisa ketemu sama Presdir kita. Aku bisa kesem-sem kalau tiap hari ketemu pria tampan seperti dia." Siska membayangkan wajah Wira yang selalu menjadi pusat perhatian para wanita.

"Ah biasa aja kok."

"Yakin nih Nay? Nanti kalau kamu sampai terpesona baru tahu rasa deh." Ejek Fatma yang dia juga mengagumi ketampanan Wira. Tapi sukses membuat Nayla terdiam.

Kemudian mereka saling tertawa dan bercanda menghibur diri agar tidak lelah.

Pukul tiga sore Nayla baru saja selesai membersihkan pantry. Ponselnya berdering dan terdapat nomor tidak di kenal menelponnya.

"Halo?" Jawab Nayla.

"Tolong bawakan dua gelas jus stroberi ke ruanganku sekarang." Titah Wira ternyata dia yang telah menelpon Nayla.

"Presdir?" Dia kaget bukan main.

"Hm, aku akan menghubungimu lewat sini jika butuh sesuatu. Jadi pastikan kamu selalu mengangkatnya."

"Tapi Presdir__"

Tut,, sambungan telponnya sudah di putus oleh Wira. Dia tersenyum puas di bangkunya.

Sesuai perintah Wira, Nayla membawakan dua gelas jus stroberi tanpa ice ke ruangan Presdirnya. "Permisi, saya membawa jus stroberi pesanan Presdir." Ucap ramah Nayla membawa nampan di tangannya.

Terlihat ada seorang pria yang merupakan tamu Wira di ruangan itu, tapi begitu Nayla menaruh jusnya di atas meja sofa. Jhon terkejut bahwa orang itu adalah Nayla.

"Nayla?!!"

"Mr.Jhon?"

Keduanya sama-sama saling tidak menyangka. "Apa kau mengenalnya?" Tanya Wira pada Jhon berpura-pura tidak tahu.

"Lo lupa? Dia kan karyawan terbaik gue dulu di Butik."

"Benarkah?" Wira semakin memanas-manasi momen ini. Raut wajah Nayla seperti menahan malu.

"Sumpah demi apa, jadi lo yang udah ngerebut karyawan gue Wir?" Jhon berlagak kesal ternyata Nayla bekerja di tempat Wira.

"Gue ngerebut? Coba tanyakan sama karyawan terbaik lo." Wira meminum jus stroberi yang ada di atas meja.

Nayla masih mematung di tempat, dia bingung harus bicara apa dengan Jhon. Karena dia tidak mungkin menceritakan kejadian tahun lalu.

"Benar begitu kan Nayla?"

"Bukan Mr, saya baru bekerja di sini selama enam bulan." Jawabnya pasrah. "Oh, jadi benar kamu Nayla yang dulu kerja di Butik Jhon?" Wira semakin menyukai situasi ini.

Gadis itu seolah tidak bisa mengelak lagi. "Iya Presdir."

"Nay mending kamu balik kerja sama saya lagi ya?" Tawar Jhon dengan penuh harap. Manik mata Nayla melirik ke arah Wira yang duduk bersantai di atas sofa.

"Ada apa?" Tanya Wira memiringkan sedikit kepalanya ke kanan.

"M-maaf Mr, tapi saya sudah nyaman bekerja di sini." Jawab Nayla jujur, pada kenyataannya Pranata Group selalu mensejahterakan karyawannya.

Tapi tidak dengan Wira yang mendengar kalimat itu, seolah Nayla sedang berjujur pada dirinya.

"Huhu Nay, selama kamu keluar dari Butik banyak banget pelanggan yang nanyain kamu. Mau yah balik kerja sama saya lagi?" Jhon terus merayu Nayla.

"Wir, nggak apa-apa kan kalau Nayla harus kerja sama gue lagi? Lo nggak keberatan kan?"

Pria itu menanggapinya dengan mengangkat bahu. "Itu terserah padanya saja." Jawab Wira singkat. Nayla semakin di buat pusing saja sekarang ini.

"Maaf Mr, saya permisi dulu. Masih banyak yang harus saya kerjakan." Nayla segera pergi dengan sopan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!