Lupa Mengetuk Pintu

Nayla duduk di kursi depan Wira. Wajahnya yang cantik cukup membuat pria itu terdiam sebentar. "Ada apa Presdir?"

"Sebenarnya kamu pintar, kenapa dulu tidak melanjutkan kuliah?" Tanya Wira hati-hati tapi raut wajahnya masih terkesan datar.

"Hm, soal itu.. Dulu ekonomi keluarga saya cukup sulit. Selama bekerja di butik Mr.Jhon pendapatan saya di pakai untuk melunasi hutang Ayah saya yang di tuduh memakai uang bengkel mobil tempatnya bekerja.

Lalu Ayah saya jadi sakit-sakitan dan sudah tidak bekerja lagi. Jadi saya yang harus membantu ekonomi keluarga saya. Saya belum ada kepikiran untuk melanjutkan kuliah waktu itu." Jelas Nayla dengan sejujurnya.

Wira merasa iba mendengar penjelasan yang di berikan Nayla. Ada rasa kagum dari sikap mandirinya Nayla.

"Ayah kamu di tuduh mengambil uang perusahaan?"

"Iya Presdir."

"Maaf, tapi berapa nominalnya?"

Nayla menatap wajah Wira sekilas. "Tiga ratus juta Presdir. Dan bagi keluarga saya itu bukan uang yang sedikit."

Pria itu sedikit kaget dan menaikkan satu alisnya. "Tiga ratus juta?" Nayla mengangguk. "Tapi sudah lunas atau belum Nay?" Wira merasa semakin penasaran dengan sosok Nayla.

"Masih tersisa 120 juta lagi Presdir." Jawab Nayla sedikit ragu. "Jadi kamu masih harus membayar sisanya?" Nayla mengangguk lagi.

"Apa tidak ada penyelidikkan terlebih dulu, sebelum menuduh Ayah kamu yang mengambil uang itu?" Wira malah mengajukkan pertanyaan lagi. Yang membuat Nayla sedikit tidak nyaman, karena masalahnya jadi di ketahui Wira.

"Sudah Presdir, tapi entah kenapa Ayah saya tetap harus menggantinya. Tapi saya yakin Ayah saya tidak melakukan hal itu." Nayla kekeh dengan penjelasannya. Ia jadi ikut merasa kesal mengingat dulu Ayahnya harus keluar dari bengkel dan mengganti rugi uang yang hilang. Nayla menggigit bibir bawahnya ke dalam menutupi rasa kesalnya.

Tatapan Wira semakin dalam, entah apa yang pria itu pikirkan di hadapan Nayla. Tiba-tiba dia bangkit dari kursinya dan menghampiri Nayla.

Gadis yang tengah duduk itu terkejut di kala Wira menghampirinya dan langsung mencium bibirnya dengan agresif.

"Mmm..." Nayla terkunci di kursi yang ia duduki sekarang ini. Tangannya berusaha mendorong dada Wira.

Pria itu merasa candu dengan bibir Nayla, setiap gadis itu menggigit bibirnya sama saja seperti memancing singa jantan yang siap menerkamnya. Bahkan di hadapan gadis itu, Wira mulai tidak bisa menahan hasratnya. Wira sendiri juga bingung dengan tubuhnya yang selalu respon pada Nayla.

"Presdir waktunya____"

Zack datang di saat waktu yang tidak tepat. Ia melihat Wira mencumbu Nayla di kursi begitu agresif. Zack segera menutup matanya. "Maaf Presdir saya tidak melihat apapun."

Dia langsung berlari keluar dari ruangan Wira. "Huft,,, mataku ternodai, habis sudah aku setelah ini." Zack merasa bersalah karena langsung menyelonong masuk ke ruangan Wira tanpa mengetuk pintu.

Wira menghentikan ciumannya. Nayla menghirup udara dalam-dalam. Dia seperti kehabisan nafas karena ulah Wira.

"Jangan menggigit bibirmu lagi!" Bisik Wira di telinga Nayla membuat tubuhnya bergidik.

"Kita bahas lagi nanti. Sekarang kita ke ruangan meeting." Wira merapihkan jasnya dan tersenyum pada Nayla yang masih memaku di tempat.

Spontan Nayla langsung merapihkan riasannya dan mengikuti Wira di belakangnya.

"Astaga, kenapa dia selalu menciumku tiba-tiba,, membuat jantungku seperti naik roller coaster. Aku tidak boleh hanyut dan tidak boleh jatuh cinta padanya." Batin Nayla yang tidak ingin jatuh cinta pada Wira.

Karena pria itu memiliki segalanya, dia merasa tidak pantas untuk bersanding dengannya yang hanya dari keluarga biasa saja.

"Presdir?" Zack kaget karena Wira sudah keluar dari ruangannya.

"Zack, setelah meeting ke ruanganku!"

"B-baik Presdir." Zack memejamkan matanya erat, lalu ia mengekor di belakang Wira bersama Nayla. "Habislah aku setelah ini. Ternyata Presdir punya hubungan sama Nayla." Batin Zack dengan wajah lesu.

Sedangkan Nayla dia hanya diam berjalan di samping Zack, lebih tepatnya masih malu karena Zack memergokinya tadi.

Ricky duduk bersama Wira di ruangan meeting. "Wira silahkan duduk." Ucapnya menyambut kedatangan Wira.

"Langsung saja kita mulai." Jawab Wira datar dan terkesan dingin.

"Kantor ini mengalami kendala dalam pengoperasian produk seminggu yang lalu. Jadi terpaksa saya menghentikan produksi sampai akhir bulan ini." Ujar Ricky memulai perbincangan.

"Kendala apa sampai tidak ada laporan masuk ke pusat? Apa harus selama itu sampai menutup pengoperasian produk hingga akhir bulan?" Tanya Wira tidak main-main.

"Begini Wira,, kamu tenang dulu. Perusahaan WinMax memberhentikan kerja sama dengan kantor ini sementara. Karena mesin-mesin produk yang kita pakai darinya masih dalam proses tahap jadi." Jawab Ricky dengan ragu-ragu. Wajahnya sudah mulai pucat berhadapan dengan Wira langsung.

"Jika perusahaan WinMax menghentikan kerja samanya sementara. Lalu kenapa anggaran kantor ini terus masuk ke sana?"

"Sial, dari mana dia tahu semua itu. Padahal aku sudah menyuruh Edi untuk melakukan tugasnya dengan benar." Batin Ricky kesal karena ketahuan.

Edi merupakan divisi keuangan kantor cabang yang bekerja sama dengan Ricky di balik perusahaan.

"Maksud kamu bagaimana Wira?" Ricky masih berpura-pura tidak paham.

"Zack berikan datanya!"

"Baik Presdir."

Zack menyerahkan data ke Ricky di atas meja. Pria paruh baya itu mulai gelagapan. "Wira, ini semua salah paham. Sepertinya ada kesalahan teknis. Paman akan memeriksanya kembali."

"Aku tidak suka ada pengkhianat di kantor ini. Sekalipun itu Paman, aku tidak akan segan-segan melakukannya sesuai prosedur."

"Paman bisa berhenti dari kantor ini!"

"Wira dengarkan paman dulu, jangan mengambil keputusan begitu saja. Paman yakin ini hanya salah paham."

"Zack, lanjutkan pengoperasian produk di kantor ini besok! Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun yang di luar logika!"

"Baik Presdir."

"Segera ganti Direktur Keuangan kantor ini!"

"Baik, saya akan melakukannya Presdir." Jawab Zack.

"Wira kamu tidak bisa seperti ini sama Paman. Paman sudah banyak berjasa di kantor ini dan memajukan kantor ini!" Ricky mulai tidak terima karena di berhentikan dari Pranata Group.

"Sebanyak 75 Miliyar di tahun kemarin yang sudah Paman gelapkan, sebanyak 89 Miliyar uang perusahaan yang Paman gelapkan tahun ini. Dan aku tidak ingin di tahun selanjutnya Paman mengambil yang bukan hak nya." Tegas Wira dengan tatapan tajamnya.

"Masih baik aku tidak melaporkan Paman ke pihak yang berwajib. Tapi bukti nyata, seseorang tidak akan pernah puas jika sudah terlanjur mengambil yang bukan hak nya. Dia akan terus mengambil dan mengambilnya. Lebih tepatnya mencuri!"

"Wira.."

Nayla tertegun mendengar nominal uang yang di gelapkan Paman Wira. Ricky bahkan sudah tidak bisa berkutik lagi.

"Wira tolong berikan Paman kesempatan.."

"Sayang sekali Paman, aku bukan orang yang suka memberi belas kasihan pada orang seperti Paman."

Wira kemudian keluar dari ruangan bersama Zack dan juga Nayla. Ricky mengamuk di ruangan meeting. Ia melempar laptopnya ke sembarang arah.

"Aarrrghhhh!!! Lihat saja kamu Wira!! Kamu pikir kamu bisa menghentikan aku begitu saja!!"

Nayla berdiri di ambang pintu. Zack sedang masuk ke dalam ruangan Wira.

"Besok kita akan kembali ke Kota M, urus semua besok pagi Zack. Aku anggap masalah di kantor ini sudah beres hari ini." Titah Wira yang membelakangi Zack.

Pria itu menatap jendela ruangan yang menyuguhkan bangunan-bangunan Kota J dari atas gedung kantornya.

"Baik Presdir, saya akan menyiapkan semuanya."

Baru saja Zack merasa lega karena Wira tidak akan membahas soal kejadian yang ia lihat tadi. "Zack tunggu!" Tapi rasa itu sirna begitu saja.

"I-iya Presdir."

"Apa kau sudah lupa caranya mengetuk pintu sebelum masuk?" Wira membalikkan badannya menatap intens Zack yang berdiri di depannya.

"M-maaf Presdir. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Zack menunduk tidak berani menatap Wira. "Jika kamu mengulanginya lagi. Aku akan mengirimmu ke cabang terakhir!"

"Baik Presdir."

"Kau boleh pergi"

Zack menghela nafasnya lega karena bisa keluar dari ruangan Wira dengan selamat. "Huftt.. Selamat,, selamat" Ucap Zack memegangi dadanya.

"Zack, ada apa?" Tanya Nayla ragu.

"Tidak apa, kau sudah bisa masuk Nay." Zack lalu pergi begitu saja.

Dengan ragu Nayla masuk ke ruangan Wira. Ia melihat Wira sedang berdiri menatap ke luar jendela.

"Presdir, apa anda ingin minum sesuatu?"

"Hm, apa saja."

"Baiklah, saya akan kembali lagi." Nayla berinisiatif membuatkan jus orange sebagai penyegar. Dia tidak tega melihat Wira habis bertengkar dengan Pamannya tadi.

"Kejam sekali Pamannya berbuat seperti itu padanya. Dia memang pria yang tegas, dan tidak bisa di bohongi." Nayla sedikit kagum pada Wira.

Nayla kembali ke ruangan Wira, pria itu sudah duduk di kursi kerjanya.

"Presdir, ini saya bawakan jus jeruk. Saat cuaca panas sangat cocok minum jus ini." Dia meletakkan gelas jus di atas meja Wira.

"Hm, terima kasih."

Wira menenggak jus yang di buatkan Nayla. Gadis itu melihat bagaimana jakun Wira naik turun meminum jusnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!