"Kalau kalian mau pulang dulu nggak papa, aku mau ngisi daya dulu buat hubungin Sella." Riani berkata dengan terus melangkahkan kedua kakinya menuju tempat pengisi daya.
Ia menghubungkan smartphone dengan kabel charger dan beberapa detik kemudian terlihat layar hitam menyala dengan presentase baterai tersisa nol persen.
"Oke deh kalau gitu aku balik dulu ya, Ri. Capek, mau istirahat," ujar Difki, ia melangkah menjauh dari Riani.
"Aku juga, Ri. Maaf nggak bisa nemenin kamu." Tri menyusul.
Riani mengangguk, beberapa saat ia melihat kepergian kedua temannya. Dua punggung yang berjalan membelakangi dirinya itu semakin menjauh.
Riani bisa merasakan kekecewaan yang mereka alami. Mereka terlihat tidak bahagia, mereka terlihat tidak puas dengan perjalanan kali ini karena tidak menghasilkan sesuatu yang mengesankan.
Perasaan sedih dalam hatinya kembali muncul dan terus menyalahkan dirinya sendiri yang hanya menjadi beban teman-temannya. Riani merasa menyesal, seharusnya ia tidak perlu ikut perjalanan ini agar ketiga temannya bisa mendapatkan kebahagiaan mereka.
"Kamu nggak mau ganti baju dan bersih-bersih dulu, Ri?" tanya Nindira yang masih setia di samping Riani.
Riani menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak melihat ke arah Nindira yang tengah berbicara kepadanya. "Nggak usah lah, Ra. Aku buru-buru pengin lihat kondisi ibumu."
"Tapi kalau ibumu udah sadar terus curiga gimana?"
Seketika Riani terdiam. Ia menoleh ke arah Nindira berada. "Iya juga ya, kan kemarin aku izin ke rumah kamu."
"Nah!" ujar Nindira, membenarkan.
"Aku numpang mandi di tempat kost kamu ya, Ra."
Nindira menganggukkan kepala. "Kita pulang sekarang aja, HP kamu biar di-charge di kost-an aku."
Melihat kembali ke arah smartphone yang sudah terhubung ke pengisi daya, Riani menganggukkan kepalanya. Kabel charger itu kembali dilepas membuat smartphone yang kehabisan daya itu kembali mati.
Dengan menggunakan angkutan umum, Riani dan Nindira berdesak-desakan untuk menuju ke tempat kost Nindira.
Setengah jam berlalu dan mereka turun di depan gang. Jalanan yang macet dengan banyak kendaraan berlalu-lalang membuat perjalanan sedikit terhambat.
"Ayo buruan, Ra," ujar Riani yang sudah tidak sabar ingin segera sampai di kediaman Nindira.
Langkah kedua kaki mereka berjalan dengan cepat menyusuri jalan gang yang tidak terlalu sempit. Pintu gerbang kost dibuka dan keduanya masuk ke dalam menuju ke kamar yang ada di lantai dua.
Nindira mengeluarkan kunci untuk membuka pintu kamar kost-nya. "Masuk, Ri."
"Maaf ya, Ra, aku numpang mandi."
"Nggak papa kok, Ri. Oh, kalau kamu nggak ada baju ganti biar pake punyaku dulu."
"Kamu baik banget, Ra. Aku masih ada baju bersih kok." Riani melepaskan tas dari gendongannya. Ia mengambil satu stel pakaian yang memang sudah ia siapkan dan juga peralatan untuk mandi. "Aku bersih-bersih dulu ya, Ra."
"Sini HP kamu biar aku charge," ujar Nindira, telapak tangannya menghadap ke atas.
"Oh." Riani mengambil smartphone di dalam tas selempang, begitu pula dengan charger-nya. "Makasih ya, Ra."
Perempuan itu bergegas menuju ke kamar mandi. Guyuran air dingin terasa sangat segar. Tubuh yang tadinya terasa begitu lelah kini kembali bertenaga.
Beberapa menit kemudian, Riani keluar dengan tubuh yang wangi. Ia mengenakan setelan blouse warna hijau peach yang dikombinasikan dengan celana putih. Rambutnya basah, berantakan.
"Aku pinjem alat rias kamu boleh?" tanya Riani.
"Oh, boleh dong, Ri, masa nggak boleh sih? Kamu mau catokan?"
"Boleh, deh." Riani tersenyum, ia merasa tidak enak hati.
Melirik ke arah smartphone-nya, daya baterai sudah terisi hingga lima belas persen. Riani menekan tombol power selama beberapa saat untuk menyalakannya.
"Riani ... akhirnya kamu telepon aku juga."
"Ma--maaf, Sel. Kamu di mana sekarang? Ibuku gimana kondisinya?"
"Aku masih lagi di rumah sakit nih, Ri, ibumu masih belum sadar. Tapi aku juga harus pulang, Ri, ayahku juga lagi sakit."
"Oh, ma--maaf ya, Sel." Riani merasa tidak enak hati. "Kalau gitu kamu pulang aja nggak papa, sebentar lagi aku sampai rumah sakit kok."
"Beneran, Ri?"
"Iya, lima belas menit lagi aku sampai. Kamu pulang aja dulu, kasihan ayah kamu juga lagi sakit, dia juga pasti lagi butuh kamu."
"Tapikan ibu kamu sendirian di sini, Ri. Aku nggak tega tahu ninggalinnya."
"Nggak papa, Sel, bentar lagi juga aku sampai kok. Aku udah di jalan nih, kejebak macet di persimpangan. Kamu pulang aja nggak papa lagi."
"Oke deh kalau gitu, Ri, aku tinggal ibumu ya. Maaf, aku nggak bisa jagain sampai kamu di sini."
"Iya nggak papa, Sel, santai aja."
Panggilan suara diakhiri. Riani yang belum sepenuhnya selesai berias mengambil pouch make up dari dalam tas. Ia mengambil BB cream dan lipstik untuk menunjang penampilannya agar sedikit lebih menarik.
Bibirnya kini sudah tidak terlalu gelap dan pucat. Riani menutup produk lipstik favoritnya dan memasukkan benda itu kembali ke dalam pouch make up.
Menoleh ke arah Nindira, Riani melihat dia yang tengah bersantai dengan merebahkan diri di atas spring bed.
"Kamu nggak mau mandi, Ra?"
"Bentar lagi," jawab Nindira datar.
Nampaknya Nindira sedang sibuk dengan sesuatu yang ada di dalam smartphone miliknya. Entahlah, mungkin ia sedang memperbarui status dengan foto-foto yang telah ia ambil kemarin selama di perjalanan.
Riani mengemasi kembali make up yang ia punya dan memasukkannya ke dalam tas. Bersamaan dengan itu, Nindira juga beranjak dari duduknya lantas mengambil handuk yang menggantung di balik pintu.
"Ra, aku nitip barang-barangnya dulu boleh nggak?"
Nindira berbalik, ia melihat ke arah tas yang tergeletak di sebelah meja riasnya. "Nggak papa kok, Ri, lagian kan batas sewanya sampai lusa.
"Makasih ya, Ra. Kamu baik banget. Nanti sore kalau sempat atau besok aku ambil kok."
Nindira tersenyum simpul. "Biasa aja kali, Ri. Aku mandi dulu ya, udah lengket banget nih badan."
"Seger banget tahu udah mandi mah." Riani terkekeh. "Kalau gitu aku juga mau ke rumah sakit sekarang, Ra. Kasihan ibuku sendirian, Sella udah pulang katanya ayahnya juga sakit."
"Hati-hati, Ri, maaf ya nggak bisa nganterin."
"Santai aja, Ra, lagipula kamu juga pasti capek."
Nindira tersenyum. "Nanti aja aku nyusul kalo aku udah selesai istirahat. Salam buat Tante Rita." Nindira kembali melangkah dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara itu Riani mengambil tas selempangnya. Ia memasukkan barang-barang yang mungkin akan dia butuhkan dan sisanya yang tidak ia butuhkan akan ia tinggal di kamar kost Nindira.
Suara notifikasi terdengar dari ponsel yang tergeletak di atas spring bed. Riani menoleh ke arah sumber suara. Ia mendekat.
Pandangan mata Riani sejenak melihat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup, kemudian ke arah ponsel Nindira yang menyala.
"Ternyata kamu juga sama, Ra."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments