Rindu Ayah

"Bagus dong," timpal Riani. Ia mendudukkan di salah satu kursi meja makan, memperhatikan Dwi yang sedang menata belanjaan yang tadi sempat mereka beli saat perjalanan pulang.

Setelah membuat lamaran kerja dengan dia kertas folio yang harus terbuang sia-dia hanya karena salah menulis satu huruf saja, akhirnya semua yang diperlukan untuk melamar kerja sudah tersimpan dapih di dalam amplop coklat.

"Akhirnya ... selesai juga." Riani memutar tali untuk mengunci amplop coklat itu.

Pandangan matanya melirik ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu. Jam dinding model lama dengan bandul yang bergerak ke kanan dan ke kiri itu sebenarnya memiliki diameter yang kecil.

Jam tua itu berdentang setiap satu jam sekali dan kali ini berdentang dua kali yang memberitahukan bahwa waktu saat ini adalah jam dua.

"Satu jam kerasa capek banget," ujar Riani. Ia menguap.

"Kita mau ke mall kapan, Ri?"

"Sekarang? Ayo aja aku mah."

Sella beranjak dari duduknya. "Kalau gitu aku ambil motorku sekarang."

"Ya udah, aku juga mau siap-siap."

Keduanya berpisah. Riani masuk menaiki tangga masuk ke dalam rumah sementara Sella keluar dari rumah model lama tersebut.

Rumah milik Riani adalah rumah peninggalan turun-temurun. Rumah dengan arsitektur belanda itu memiliki dinding putih yang tebal membuat hawa sejuk terasa saat berada di dalam rumah tersebut.

Ruang tamu yang luas dengan lampu gantung yang sangat indah berwarna warm white jika dinyalakan. Tepat di bagian bawah tempat lampu itu menggantung, sebuah sofa modern berwarna abu-abu tertata rapih lengkap dengan meja kaca yang elegan. Sebuah perpaduan yang sangat menakjubkan.

Deru sepeda motor terdengar saat Riani keluar dari kamar usai berganti pakaian. Ia mengenakan oneset berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga kecil dengan celana kulot berwarna moka.

Ia mengambil dua amplop coklat yang ada di atas meja. "Ayo," ujarnya sembari terus melangkah keluar rumah.

Sella sudah siap di atas sepeda motornya.

"Halo, Kak. Selama siang, mau melamar kerja dimana ya?" tanya Sella dengan amplop coklat di kedua tangannya.

Seorang laki-laki yang sedang menjaga tempat penitipan itu nampak terkejut, pasalnya ia sedang melamun tadi.

"Oh, mau melamar kerja?"

"Heem." Sella menganggukkan kepala.

Ia beralih. "Kak, lamar kerja?" Kebingungan.

"Taruh aja di situ, nanti pas boss datang baru bilang."

"Oh, ok." Dia kembali kepada Sella. "Bisa dititipkan di sini dulu, Kak. Pastikan udah ada nomor telepon yang bisa dihubungi ya."

"Sudah lengkap semua kok, Kak. Terima kasih." Sella tersenyum ramah.

Riani juga memberikan amplop coklatnya dan melakukan hal yang sama.

Satu minggu kemudian, Riani berjalan-jalan di sebuah hutan yang tidak terlalu lebat. Ia melihat ada sebuah burung berwarna hitam yang berbunyi mengganggu pendengarannya.

"Apaan sih ini burung jelek ganggu banget!" kesal Riani.

Suara burung itu memang tidak enak didengarkan, tidak seperti burung yang lain. Burung itu juga menyeramkan dengan bulu, mata, paruh dan kaki yang berwarna hitam.

"Hush! Hush!"

Burung itu tidak mau pergi namun setiap kali Riani melangkah maju, burung itu mundur menghindar.

Merasa kesal seperti sedang dikerjai, Riani terus berusaha untuk membuat burung itu pergi.

Ia tak menyadari jika dirinya sudah terlalu masuk ke dalam hutan. Burung itu masuk ke dalam gua yang gelap.

Hanya ada pohon-pohon di sekitarnya, menyeramkan.

"Ini gua apa? Aku baru lihat ada gua di sini."

Rasa penasaran Riani membuat kakinya perlahan melangkah memasuki mulut gua. Ia masih bisa melihat dengan sedikit cahaya dari luar. Semakin dalam, semakin gelap dan semakin ia tidak bisa melihat apa yang ada di sekitarnya kecuali kegelapan.

"Oh." Riani teringat sesuatu. Ia merogoh saku celananya. "Kayanya aku bawa korek sisa tadi bakar sampah."

Korek api itu ia nyalakan dan dari remang api kecil itu ia bisa melihat meskipun belum terlalu jelas.

"Kemana perginya burung tadi?" Riani terus melangkahkan kedua kakinya dengan hati-hati. "Luas juga gua ini."

Saat hendak menginjak sebuah batu, kakinya terpeleset dan rupanya ada sebuah lubang yang membawa Riani semakin turun ke dalam gua.

"AAAAA!!!" Riani berteriak kencang hingga tubuhnya jatuh membentur sebuah batu yang lebih besar. Ia mengernyit. "Aneh, kok nggak sakit?"

"Tolong ... tolong ...."

Riani menajamkan pendengarannya. "Ada orang lain di sini?" lirih Riani. "Apa ada orang lain di sini?" ujar Riani lebih keras.

"Tolong ... tolong ...."

Suara itu terdengar lirih, merintih.

"Sial!" Riani meraba-raba sekitarnya, ia kehilangan koreknya. "I got it!"

Beberapa kali korek tersebut gagal dinyalakan. Tubuh Riani bergetar ketakutan, ia tak bisa mengendalikan tubuhnya seperti biasanya.

Hingga akhirnya korek api menyala. Meskipun remang, setidaknya ia bisa melihat apa saja yang ada di sekitarnya.

"A--ayah?" Riani terkejut dengan apa yang dilihatnya. "A--ayah sedang apa di sini? A--ayah kenapa dirantai? Si--siapa ya--yang me--melakukan ini, Yah?"

"Pergi ... pergi ...." Tangannya melambai lemas.

Riani tidak tega melihat ayahnya dalam keadaan lemas dengan kedua tangan diikat dengan rantai. Salah satu tangannya berusaha mencari kunci rantai tersebut, ia ingin melepaskan ayahnya sementara laki-laki itu terus memintanya untuk pergi.

"Aku akan mencari kuncinya, Ayah, barangkali ada di sekitar sini."

Jantung Riani berdegup kencang, nafasnya sesak karena oksigen yang tipis sekaligus ia menahan tangis.

Korek api di tangannya menjadi andalan. Ia menerangi jalan di depannya meskipun hanya bisa dalam jarak satu meter ke depan saja.

"Pergi ... pergi ...."

Suara ayahnya semakin terdengar, semakin membuat Riani merasa pilu dan tak dapat berpura-pura tegar.

"Ayah bertahanlah," suara Riani bergetar.

"Pergi ... pergi ...."

Sayangnya tidak ada apapun yang Riani temukan. Ruangan ini buntu dan tidak ada jalan keluar.

"Ayah, maaf. Tapi aku masih akan terus mengusahakannya."

"Pergi ... pergi ...."

Riani menangis, matanya yang berkaca-kaca memperhatikan wajah ayah yang penuh lebam dengan kedua mata yang terpejam.

"Ayah kenapa ada di sini? Siapa yang melakukan ini semua, Yah?"

Tiba-tiba saja laki-laki itu menoleh. Ia melihat ke arah Riani dengan tatapan tajam penuh amarah.

"PERGI!!!" teriaknya menggema di ruangan tersebut.

Riani terbangun dari tidurnya, sekujur tubuhnya basah karena keringan dan nafasnya juga tersendat-sendat.

Melihat ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. "Argh, sial! Bisa-bisa aku terlambat. Hari pertama udah terlambat, mau ditaruh mana mukaku?!"

Riani keluar dari rumah. Ia mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan celana hitam. Di tangannya sudah ada hand bag yang tidak terlalu besar, hanya muat untuk menyimpan ponsel, beberapa alat make up dan dompetnya saja.

"Sebentar, lipstik aku ketebalan nggak ya?" Riani mengambil smartphone di dalam tasnya.

Tanpa menyalakan benda pipih itu, ia mengaca pada pantulan layar yang gelap. "Kayanya nggak sih, udah bagus."

"Riani."

Langkahnya terhenti, ia menurunkan ponselnya dan melihat Sella ada di dekat pagar rumah.

"Sel, maaf ya aku--"

"Nggak perlu minta maap, Ri. Mungkin emang belum rezeki aku."

Riani tersenyum, ia tidak enak hati. "Tapi kan kamu yang udah ngajak aku lamar kerja di sana, Sel."

"Santai aja, Ri. Semangat kerjanya!"

"Makasih, Sel. Semoga kamu juga bisa mendapat pekerjaan segera, ya."

Sampai di mall, Riani segera masuk ke ruang karyawan. Ia meletakkan tas di dalam loker miliknya. Namun di sudut matanya, seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya.

Ia menoleh. "Huh." Riani menghambuskan nafasnya, lega. "Ngagetin aja, aku kira hantu. Kamu anak baru juga di sini?"

Perempuan dengan rambut panjang itu mengamgguk dan tersenyum.

"Kamu sakit ya? Kok pucat banget wajahnya?"

Perempuan itu kembali tersenyum, ia tak mengatakan sepatah katapun.

Riani mengernyitkan dahi, aneh. "Siapa namamu?"

Terpopuler

Comments

instagram = @authorqueenj 👑

instagram = @authorqueenj 👑

Kasihan Riani, tpi dia tangguh banget ya, jiwa keponya🤣

2023-09-23

1

instagram = @authorqueenj 👑

instagram = @authorqueenj 👑

burung gagak?

2023-09-18

0

instagram = @authorqueenj 👑

instagram = @authorqueenj 👑

ngeri kalau punya rumah kuno kaya gitu

2023-09-18

0

lihat semua
Episodes
1 Pesugihan Nyi Kembar
2 Mimpi Buruk
3 Penipuan
4 Omongan Tetangga
5 Rindu Ayah
6 Fella
7 Fella (2)
8 Tersadar
9 Jatuh Sakit
10 Liburan Akhir Tahun
11 Pergi Ke Gunung
12 Pendaki Lain
13 Dia Datang
14 Bungkusan Kecil
15 Selesai
16 Tak Sadar
17 Pulang
18 Salah Sasaran
19 Terbangun
20 Sampai
21 Sama Saja
22 Smartphone Nindira
23 Dua Sosok Kembar
24 Janggal
25 Bilik Kosong
26 Kedatangan Fella
27 Siluet Hitam
28 Bukan Bayu
29 Pengakuan
30 Terlambat
31 Seseorang
32 Duduk Berdua
33 Korban Kecelakaan
34 Rumah Sakit
35 Penyelidikan
36 Hilang
37 Bayu dan Riani
38 Toko Dekat Persimpangan
39 Abu
40 Menjenguk Bayu
41 Aneh
42 Meminta Izin
43 Bertemu Calon Mertua
44 Kosong
45 Cincin Berinisial
46 Hati-hati
47 Sesuatu di Dalam Kolam
48 Alga
49 Beruntung
50 Ritual
51 Bantuan
52 Kabur
53 Rumah Bayu
54 Gila
55 Putus
56 Halusinasi
57 Dipecat
58 Rumah Pak Abdul
59 PENGUMUMAN
60 Teror
61 Ayah
62 PENGUMUMAN
63 Dia Lagi
64 Sosok Ibu
65 Rusuh
66 Berlanjut
67 Mengantar Makanan
68 Kehilangan
69 Balikan
70 Jawaban
71 Panggilan Sayang
72 Liburan
73 Konser Musik
74 Pening
75 Mimpi
76 Wajah Pucat
77 Tersinggung
78 Gulungan Kertas
79 Kedatangan Nenek
80 Kabur Tengah Malam
81 Mencari
82 Menginap
83 Malam Pertama
84 Tidak Asing
85 Ancaman
86 Usil
87 Menunggu
88 Pohon Besar
89 Rumah Tua
90 Pindah
91 Obrolan Serius
92 Kemungkinan
93 Pingsan
94 Pergi
95 Hamil
96 Pesan Singkat
97 Naik Pitam
98 Sang Penyelamat
99 Ada Apa
100 Membujuk
101 Berbicara dengan Ayah
102 Pocong Ayah
103 Jawaban Pak Abdul
104 Desa Sepi
105 Dia Tahu
106 Rumah Mbah Wir
107 Jatuh Sakit
108 Bukan Sakit Biasa
109 Teror
110 Kamar Mandi
111 Kerasukan
112 Tidak Ada Jalan Lain
113 Berpisah
114 TAMAT
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Pesugihan Nyi Kembar
2
Mimpi Buruk
3
Penipuan
4
Omongan Tetangga
5
Rindu Ayah
6
Fella
7
Fella (2)
8
Tersadar
9
Jatuh Sakit
10
Liburan Akhir Tahun
11
Pergi Ke Gunung
12
Pendaki Lain
13
Dia Datang
14
Bungkusan Kecil
15
Selesai
16
Tak Sadar
17
Pulang
18
Salah Sasaran
19
Terbangun
20
Sampai
21
Sama Saja
22
Smartphone Nindira
23
Dua Sosok Kembar
24
Janggal
25
Bilik Kosong
26
Kedatangan Fella
27
Siluet Hitam
28
Bukan Bayu
29
Pengakuan
30
Terlambat
31
Seseorang
32
Duduk Berdua
33
Korban Kecelakaan
34
Rumah Sakit
35
Penyelidikan
36
Hilang
37
Bayu dan Riani
38
Toko Dekat Persimpangan
39
Abu
40
Menjenguk Bayu
41
Aneh
42
Meminta Izin
43
Bertemu Calon Mertua
44
Kosong
45
Cincin Berinisial
46
Hati-hati
47
Sesuatu di Dalam Kolam
48
Alga
49
Beruntung
50
Ritual
51
Bantuan
52
Kabur
53
Rumah Bayu
54
Gila
55
Putus
56
Halusinasi
57
Dipecat
58
Rumah Pak Abdul
59
PENGUMUMAN
60
Teror
61
Ayah
62
PENGUMUMAN
63
Dia Lagi
64
Sosok Ibu
65
Rusuh
66
Berlanjut
67
Mengantar Makanan
68
Kehilangan
69
Balikan
70
Jawaban
71
Panggilan Sayang
72
Liburan
73
Konser Musik
74
Pening
75
Mimpi
76
Wajah Pucat
77
Tersinggung
78
Gulungan Kertas
79
Kedatangan Nenek
80
Kabur Tengah Malam
81
Mencari
82
Menginap
83
Malam Pertama
84
Tidak Asing
85
Ancaman
86
Usil
87
Menunggu
88
Pohon Besar
89
Rumah Tua
90
Pindah
91
Obrolan Serius
92
Kemungkinan
93
Pingsan
94
Pergi
95
Hamil
96
Pesan Singkat
97
Naik Pitam
98
Sang Penyelamat
99
Ada Apa
100
Membujuk
101
Berbicara dengan Ayah
102
Pocong Ayah
103
Jawaban Pak Abdul
104
Desa Sepi
105
Dia Tahu
106
Rumah Mbah Wir
107
Jatuh Sakit
108
Bukan Sakit Biasa
109
Teror
110
Kamar Mandi
111
Kerasukan
112
Tidak Ada Jalan Lain
113
Berpisah
114
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!