Tak Sadar

Riani membuka mata, ia melihat sebuah langit-langit berwarna putih yang terbuat dari anyaman. Ia mengernyitkan dahi, lantas beranjak dari tidurnya.

Tak ada satupun di sekitarnya saat ini. Sebuah lemari berdiri tepat di sisi kiri ranjang, sementara di sebelah kanannya sudah dibatasi dengan anyaman juga.

"Aku ada dimana?" Riani berkata lirih, ia memperhatikan ke sekitar.

Tidak ada apapun di dalam kamar ini selain sebuah ambin dari kayu dengan tikar anyaman di atasnya dan sebuah lemari pakaian model lama.

Riani memutuskan untuk turun dari ranjang, ia mendapati lantai rumah masih berupa tanah.

Kaki putihnya sangat kontras dengan warna tanah yang coklat gelap. Riani mengurungkan niat, kedua kakinya kembali diangkat ke aras ranjang.

Tiba-tiba saja suara pintu yang terbuka mengejutkannya. Pandangan mata Riani melihat ke arah pintu kayu itu berada. Seorang perempuan berusia lima puluh tahunan masuk ke dalam kamar dengan membawa potongan bambu.

Perempuan itu berjalan sembari melihat ke arah Riani, ia tersenyum. "Kamu sudah bangun?" ujarnya dengan suara yang sangat lembut.

"Ka--kamu siapa? Dimana teman-temanku?"

"Tenanglah, Nak. Temanmu masih ada di sini bersamamu." Ia menyodorkan potongan bambu itu. "Minumlah supaya kamu lebih bertenaga."

Potongan bambu itu seperti sebuah gelas, di dalamnya ada sebuah cairan pekat seperti kopi.

"Apa ini?" Riani ragu untuk menerimanya.

"Minumlah, ini ramuan penambau tenaga yang aku buatkan khusus untukmu."

Perempuan itu masih terus tersenyum, tatapan matanya terlihat tulus dan suaranya yang lembut berhasil membuat Riani mau meminum minuman pemberiannya.

Namun baru saja satu teguk, Riani segera memuntahkannya kembali. "Apa ini? Rasanya aneh!"

Perempuan itu terus tersenyum. "Memang rasanya seperti itu, namanya juga ramuan. Kalau kuat, dihabiskan."

"Nggak, aku nggak mau," ujar Riani yang kemudian mengembalikan potongan bambu berisi cairan pekat yang tersisa setengah.

Riani masih tetap duduk di atas ranjang saat perempuan itu berjalan keluar. Pintu kamar dari kayu tanpa cat dan amplas kembali tertutup.

Pandangan mata Riani melihat ke arah cairan pekat yang perlahan hilang meresap ke dalam tanah.

"Sial, aku lupa nanya dimana teman-temanku berada."

Kali ini Riani memutuskan untuk turun dari ranjang. Ia membiarkan kaki putih nan mulusnya menyentuh lantai tanah itu. Sensasi awal yang ia rasakan sangat aneh, dingin dan kerikil kecil yang ada di permukaan tanah itu terasa sedikit menggelitik telapak kakinya.

Pintu kayu itu ternyata cukup berat. Riani membukanya dan ia langsung melihat bagian luar.

Pohon-pohon yang rindang tumbuh dalam jarak sekitar dua puluh meter dari tempat Riani berdiri. Menatap ke arah langit rasanya sangat aneh. Langit tersebut berwarna jingga seperti sore hari hari yang cerah, tak ada awan sedikitpun.

Suara tertawa dari dua anak perempuan menyita perhatian Riani. Kedua anak perempuan itu sedang berlari saling mengejar, rambut panjangnya mengikuti arah lari mereka, keduanya nampak gembira.

Perlahan Riani mendekat ke arah dua anak perempuan yanh sedang bermain dengan ceria, ia ingin mengajak mereka untuk berkenalan. Mungkin mereka adalah anak perempuan tua yang tadi memberikannya ramuan.

Baru beberapa langkah saja, Riani terpaksa harus menghentikan langkah kakinya.

"HEY, SIAPA YANG MENYURUHMU KELUAR?!"

Riani menoleh, ia mendapati perempuan itu mendekat dan berusaha mengejarnya. Riani yang ketakutan berlari sekuat tenaga yang tersisa, meskipun beberapa kali ia harus terjatuh yang membuat jarak perempuan itu semakin dekat dengannya.

"TIDAK, JANGAN!" Riani menutup wajah tatkala perempuan itu sudah ada tepat di depannya dan hendak melayangkan sebuah pukulan.

"Riani ... ada apa, Ri? Riani, bangun!"

Riani terbangun dan segera terduduk. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mendapati Nindira dan Tri yang duduk di masing-masing sisi.

Dengan air mata yang berderai, Riani memeluk kedua temannya.

"Jangan tinggalin aku, Ira, Tri, kumohon jangan."

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Ri, tidak akan." Nindira mengusap punggung Riani.

"Aku juga, kita bertiga akan terus bersama." Tri menambahi.

Riani melepaskan pelukan dari kedua teman baiknya itu. Ia mengusap air mata yang sebelumnya mengalir bebas ke kedua pipi.

"Ki--kita di mana?" tanya Riani, ia takut jika masih berada dalam tempat yang sama.

"Kita lagi ada di klinik desa, Ri," jawab Nindira.

Jawaban itu membuat Riani merasa sedikit lega. Setidaknya ia sedang tidak berada di rumah warga atau semacamnya.

Pintu ruangan terbuka memperluhatkan Difki yang datang dengan dua plasti kresek berwarna putih di tangannya.

"Udah sadar, Ri?" tanya Difki pertama kali melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Belum," timpal Tri kesal. "Udahlah, pake nanya."

"Biasa aja kali, Tri." Difki meletakkan kedua plastik itu di atas nakas. "Nih, makan siangnya, sego pecel, adanya ini, kalau nggak mau ya nggak usah makan." Difki mengambil salah satu bungkusan di dalamnya dan kembali keluar.

Nindira beranjak dari duduknya, ia menghampiri plastik kresek itu dan mulai membagikan ketiga bungkusan yang tersisa untuk Riani, Tri dan juga dirinya sendiri.

"Makasih, Ra," ujar Riani yang lantas mengubah posisi duduknya senyaman mungkin.

Makan siang di sore hari terasa tidak begitu nikmat seperti waktu makan sebelumnya. Riani menyantap makanannya perlahan-lahan.

"Maaf ya, Ra, Tri," ujar Riani di sela-sela santapan.

Nindira menoleh dengan mulut yang penuh dengan makanan. "Minta maaf kenapa?"

"Aku cuma ngerepotin kalian berdua aja, harusnya aku nggak ikut," jelas Riani.

"Apa-apaansih kamu, Ri? Kamu sama sekali nggak ngerepotin kok. Lagian kan sebelumnya kita udah jogging bareng, udah olahraga bareng udah siapin ini semua dengan matang. Masa kamu mau batalin perjalanan gitu aja kaya Bagas? Malah aku lebih kesal sama si Bagas, dia itu nggak tanggung jawab. Dia yang ngajak, tapi dia juga yang ngebatalin, mana udah di hari keberangkatan dan nggak bilang apa-apa sama kita lagi!" kesal Nindira.

Riani menundukkan kepala. "Tapikan karena aku juga kita gagal ke puncak, padahal sebentar lagi sampai."

"Santai aja lah, Ri. Lagipula tujuan utama mendaki gunung itu bukan puncaknya, tapi bisa pulang ke rumah dengan selamat," jelas Tri tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.

Nindira yang merasa aneh dan ada yang tidak biasa dengan Tri mengernyitkan dahi. "Kata siapa kamu, Tri?"

Pandangan mata Tri melihat ke arah Nindira. "Kata Kak Gio."

"Kak?" Riani dan Nindira bersuara hampir bersamaan. Keduanya lantas terkekeh.

"Lah, iyakan namanya Kak Geo?"

Nindira mengangguk. "Setua itu dipanggil kak?"

"Nggak papa kali, lagian masih single. Kalau udah nikah baru dipanggil om." Tri fokus dengan makanannya kembali.

Sementara itu, Riani dan Nindira saling menatap. Keduanya sudah tahu apa yang ada dalam pikiran masing-masing.

Dering telepon terdengar dalam ruangan yang sunyi. Riani menyingkirkan makanan dari pangkuannya, ia hendak beranjak mengambil ponsel dalam tas selempang yang ada dekat nakas, namun Nindira membantunya.

"Makasih, Ra." Riani melihat ke arah layar ponsel, sebuah panggilan seluler dari Dwi. Riani mengernyitkan dahi, perasaannya sudah tidak enak. "Dwi? Ada apa dia telepon?"

Riani mengusap layar ke atas, ia lantas mendekatkan ponselnya ke telinga.

"APA?! AKU PULANG SEKARANG, MBA."

Episodes
1 Pesugihan Nyi Kembar
2 Mimpi Buruk
3 Penipuan
4 Omongan Tetangga
5 Rindu Ayah
6 Fella
7 Fella (2)
8 Tersadar
9 Jatuh Sakit
10 Liburan Akhir Tahun
11 Pergi Ke Gunung
12 Pendaki Lain
13 Dia Datang
14 Bungkusan Kecil
15 Selesai
16 Tak Sadar
17 Pulang
18 Salah Sasaran
19 Terbangun
20 Sampai
21 Sama Saja
22 Smartphone Nindira
23 Dua Sosok Kembar
24 Janggal
25 Bilik Kosong
26 Kedatangan Fella
27 Siluet Hitam
28 Bukan Bayu
29 Pengakuan
30 Terlambat
31 Seseorang
32 Duduk Berdua
33 Korban Kecelakaan
34 Rumah Sakit
35 Penyelidikan
36 Hilang
37 Bayu dan Riani
38 Toko Dekat Persimpangan
39 Abu
40 Menjenguk Bayu
41 Aneh
42 Meminta Izin
43 Bertemu Calon Mertua
44 Kosong
45 Cincin Berinisial
46 Hati-hati
47 Sesuatu di Dalam Kolam
48 Alga
49 Beruntung
50 Ritual
51 Bantuan
52 Kabur
53 Rumah Bayu
54 Gila
55 Putus
56 Halusinasi
57 Dipecat
58 Rumah Pak Abdul
59 PENGUMUMAN
60 Teror
61 Ayah
62 PENGUMUMAN
63 Dia Lagi
64 Sosok Ibu
65 Rusuh
66 Berlanjut
67 Mengantar Makanan
68 Kehilangan
69 Balikan
70 Jawaban
71 Panggilan Sayang
72 Liburan
73 Konser Musik
74 Pening
75 Mimpi
76 Wajah Pucat
77 Tersinggung
78 Gulungan Kertas
79 Kedatangan Nenek
80 Kabur Tengah Malam
81 Mencari
82 Menginap
83 Malam Pertama
84 Tidak Asing
85 Ancaman
86 Usil
87 Menunggu
88 Pohon Besar
89 Rumah Tua
90 Pindah
91 Obrolan Serius
92 Kemungkinan
93 Pingsan
94 Pergi
95 Hamil
96 Pesan Singkat
97 Naik Pitam
98 Sang Penyelamat
99 Ada Apa
100 Membujuk
101 Berbicara dengan Ayah
102 Pocong Ayah
103 Jawaban Pak Abdul
104 Desa Sepi
105 Dia Tahu
106 Rumah Mbah Wir
107 Jatuh Sakit
108 Bukan Sakit Biasa
109 Teror
110 Kamar Mandi
111 Kerasukan
112 Tidak Ada Jalan Lain
113 Berpisah
114 TAMAT
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Pesugihan Nyi Kembar
2
Mimpi Buruk
3
Penipuan
4
Omongan Tetangga
5
Rindu Ayah
6
Fella
7
Fella (2)
8
Tersadar
9
Jatuh Sakit
10
Liburan Akhir Tahun
11
Pergi Ke Gunung
12
Pendaki Lain
13
Dia Datang
14
Bungkusan Kecil
15
Selesai
16
Tak Sadar
17
Pulang
18
Salah Sasaran
19
Terbangun
20
Sampai
21
Sama Saja
22
Smartphone Nindira
23
Dua Sosok Kembar
24
Janggal
25
Bilik Kosong
26
Kedatangan Fella
27
Siluet Hitam
28
Bukan Bayu
29
Pengakuan
30
Terlambat
31
Seseorang
32
Duduk Berdua
33
Korban Kecelakaan
34
Rumah Sakit
35
Penyelidikan
36
Hilang
37
Bayu dan Riani
38
Toko Dekat Persimpangan
39
Abu
40
Menjenguk Bayu
41
Aneh
42
Meminta Izin
43
Bertemu Calon Mertua
44
Kosong
45
Cincin Berinisial
46
Hati-hati
47
Sesuatu di Dalam Kolam
48
Alga
49
Beruntung
50
Ritual
51
Bantuan
52
Kabur
53
Rumah Bayu
54
Gila
55
Putus
56
Halusinasi
57
Dipecat
58
Rumah Pak Abdul
59
PENGUMUMAN
60
Teror
61
Ayah
62
PENGUMUMAN
63
Dia Lagi
64
Sosok Ibu
65
Rusuh
66
Berlanjut
67
Mengantar Makanan
68
Kehilangan
69
Balikan
70
Jawaban
71
Panggilan Sayang
72
Liburan
73
Konser Musik
74
Pening
75
Mimpi
76
Wajah Pucat
77
Tersinggung
78
Gulungan Kertas
79
Kedatangan Nenek
80
Kabur Tengah Malam
81
Mencari
82
Menginap
83
Malam Pertama
84
Tidak Asing
85
Ancaman
86
Usil
87
Menunggu
88
Pohon Besar
89
Rumah Tua
90
Pindah
91
Obrolan Serius
92
Kemungkinan
93
Pingsan
94
Pergi
95
Hamil
96
Pesan Singkat
97
Naik Pitam
98
Sang Penyelamat
99
Ada Apa
100
Membujuk
101
Berbicara dengan Ayah
102
Pocong Ayah
103
Jawaban Pak Abdul
104
Desa Sepi
105
Dia Tahu
106
Rumah Mbah Wir
107
Jatuh Sakit
108
Bukan Sakit Biasa
109
Teror
110
Kamar Mandi
111
Kerasukan
112
Tidak Ada Jalan Lain
113
Berpisah
114
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!