Mimpi Buruk

"Hah! Huh ... huh ... huh ...!"

Ruang kamar sudah tidak lagi begitu gelap. Menoleh ke arah jendela, sinar matahari pagi nampak berusaha masuk menembus korden yang ada di balik jendela itu.

Keringat mengucur pada beberapa bagian tubuh. Riani menyeka kening yang basah dengan bulir-bulir keringat.

"Huh ... mimpi buruk," ujar Riani, masih berusaha mengatur nafasnya.

Ia merasa jantungnya masih berdegup kencang dengan nafas yang berhembus tak beraturan. Mimpi buruk itu terasa sangat nyata.

"Rest in peace, Ndhis, jangan seperti ini," lirih Riani. "Jangan menghantuiku, jangan menghantui orang lain. Kita sudah berbeda alam, kamu sudah memilih jalanmu sendiri, kamu harus bertanggung jawab dengan pilihanmu itu, Ndhis."

Korden yang menutupi jendela kamar ia singkap dan sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamar. Jendela kamar juga ia buka dan udara pagi yang segar ia hirup dalam-dalam.

Semua pintu kamar masih tertutup saat Riani menuruni anak tangga. Menuju ke ruang makan, meja makan masih kosong tanpa ada sedikitpun makanan di atasnya.

"Mba ... Mba Dwi," panggil Riani beberapa kali.

Dari balik ruang santai, seorang perempuan keluar dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa, Non?" Ia berkata sembari menundukkan kepalanya.

"Kok belum ada makanan, Mba?"

"Nyonya Rita belum bangun, saya bingung mau belanja apa. Ada tukang sayur juga nggak bisa belanja karena nggak ada duitnya."

"Ibu belum bangun?" tanya Riani kemudian.

Dwi yang merupakan asisten rumah tangga sejak lima tahun lalu hanya menganggukkan kepala.

Pintu kamar utama masih tertutup rapat, beberapa kali Riani mengetuk dan memanggil ibunya. Tidak sabar karena pintu kamar tidak kunjung dibuka, Riani membuka pintu yang ternyata hanya tertutup tanpa dikunci.

Di atas tempat tidur, ibunya masih terbaring dengan tubuh yang menggigil kedinginan. Bibirnya biru dan wajahnya putih pucat.

"Bu ... Ibu sakit?" tanya Riani berhambur mendekat.

Kedua mata perempuan itu terpejam. Bibirnya sedikit terbuka, mungkin ingin mengatakan sesuatu.

"Bu, Ibu kenapa? Apa yang sudah terjadi?" Riani beralih ke arah ayah yang tertidur lelap di samping ibunya. "Ayah, Ibu kenapa? Bangun, Yah!"

Suara berisik dari arah luar semakin membuat pikiran Riani tak karuan.

"Ada apa, Ni?"

"Ibu, Yah, ibu sakit kenapa?"

Kedua matanya baru saja terbuka, bahkan nyawanya belum berkumpul semua. Ia melihat ke arah istrinya, terkejut.

"Kamu kenapa, Rit?" Ia berusaha menyadarkan Rita--istrinya.

"Ini ada apa sih di luar?!" Riani beralih ke luar kamar.

Ia menuruni tangga dengan terburu-buru.

Dwi sudah ada di depan pintu, menghalau beberapa orang yang ada di luar.

"Ada apa, Mba?"

"Ini, Non, mereka mau ngembaliin kunci kamar."

Riani mengernyit. "Emang kenapa?"

"Kita mau pindah kost, Riani, kita nggak mau lagi ngekost di sini. Iya kan, teman-teman?"

"Iya."

"Betul."

"Tapi kenapa?" Riani semakin tidak mengerti.

"Intinya kami mau pindah kost, Riani. Dimana Ibu dan Ayah?"

"Kamar," jawab Riani, ia masih tetap mengernyitkan dahi. "Ibu sedang sakit."

"Kalau begitu titip salam saja untuk mereka, aku mau pindah kost. Maaf ya, Riani."

Perempuan itu menyerahkan kunci kamarnya, disusul dengan yang lain.

"Tu--tunggu, i--ini kenapa sih?"

Tidak ada satupun dari mereka yang mau menjawab semua pertanyaan Riani. Mereka menyerahkan kunci kamar dan pergi membawa barang-barang yang sudah mereka kemasi.

"Ini ada apa, Mba?" tanya Riani yang masih kebingungan.

Dwi menggelengkan kepala. "Saya juga tidak tahu, Non." Ia berkata dengan menunduk, takut. "Mungkin tidak ingin menjadi koran pesugihan Nyi Kembar."

"Maksud kamu apa, Mba? Kan Pak Abdul yang melakukan itu!"

"Mu--mungkin me--mereka ta--takut, Non." Ia berkata dengan terbata-bata. "Maaf, Non."

Dwi meninggalkan Riani begitu saja, menghilang dari balik tangga meninggalkan Riani berdiri sendirian di tempat yang sama.

"Riani," panggil Agus dengan keras.

Pandangan mata Riani melihat ke arah sumber suara. Dilihatnya Agus yang sedang berdiri di salah satu anak tangga.

"Buka pintu mobil, Ayah akan bawa ibumu ke rumah sakit."

Kunci mobil dilemparkan olehnya dari atas dan dengan cekatan Riani mendapatkannya.

Kondisi Ibu masih sama, menggigil kedinginan dengan bibir yang biru dan wajah pucat, namun kali ini kedua matanya sudah terbuka.

"Jangan ... jangan ...," rintihnya.

Riani yang ketiduran di sofa seketika beranjak dan mendekat.

"Ibu ... Ibu sudah sadar? Gimana kondisi Ibu sekarang?"

Pandangan mata Rita melihat ke arah yang sama, ada ketakutan di sana.

"Jangan ... jangan ... tolong ... jangan."

Ia selalu mengatakan hal yang sama berulang-ulang dengan mata yang tidak berkedip dalam waktu yang lama. Bahkan terlihat air mata juga mulai terkumpul pada pelupuk matanya.

"Ibu kenapa, Bu? Jangan apa? Beritahu aku, Bu," isak Riani, namun ibunya tetap saja mengatakan hal yang sama. "Ibu tenanglah, di sini hanya ada kita berdua, aku tidak mungkin melakukan hal jahat kepada Ibu, aku sayang Ibu, aku mencintai Ibu."

Tidak kunjung mendapat jawaban dan Rita juga masih terus melakukan hal yang sama, Riani beralih mengambil ponselnya.

Ia berusaha menghubungi ayahnya yang pulang ke rumah sekitar setengah jam yang lalu untuk mengambil pakaian ganti dan membeli makan malam.

"Halo, Yah," ucap Riani sesudah panggilan suara itu terhubung. "Yah, Ibu sudah sadar, tapi aneh banget.

"Aneh gimana maksud kamu, Ni?"

"Ibu terus berkata jangan," jelas Riani. "Aku nggak tahu, Yah, ini gimana?"

"Kamu tunggu sebentar lagi Ayah kesana."

Panggilan suara ditutup dan Riani kembali berhambur ke arah ibunya. Ia memeluk tubuh yang terbaring di atas ranjang tempat tidur dengan terus berkata jangan dengan suara yang lirih.

"Tidak ada yang hendak menyakitimu, Ibu. Katakan kepadaku dengan jelas, katakan, Bu," tegas Riani, namun ibunya masih saja terus berkata jangan.

Jam menunjukkan pukul tujuh lebih seperempat. Riani melihat ke arah luar ruangan, ia masih belum mendapati ayahnya datang.

Sementara keadaan Rita sudah mulai tenang setelah Riani memanggil dokter. Dengan ponsel di genggaman tangan, Riani melangkah menyusuri lorong panjang dengan penerangang cukup baik.

"Eh!" kaget Riani saat tiba-tiba salah satu pintu mati. "Sialan, bikin kaget aja!"

Ia kembali melangkah namun tiba-tiba ada lagi yang mengejutkannya.

"Ya ampun, siapa lagi ini?!" gerutu Riani melihat ponsel di tangannya yang tengah berdering.

Ia mengusap layar ponsel ke samping kanan untuk menerima panggilan.

"Halo," kesal Riani atas dering panggilan suara yang telah mengagetkannya.

"Halo, benar ini dengan Nona Riani?"

"Ya, ini saya, ada apa? Ini siapa ya?"

"Sebelumnya kami mohon maaf telah mengganggu waktunya, Nona Riani. Saya dari pihak kepolisian ingin memberutahukan bahwa saudara yang diketahui bernama Agus yang tidak lain adalah ayah Anda telah mengalami kecelakaan di jalan Merpati."

"Apa?!" pekik Riani. "Nggak mungkin, Ayah sedang di rumah, lagipula untuk apa Ayah ke jalan merpati? Itu terlalu jauh dari daerah tempat tinggal kami. Ini pasti penipuan, kan?! Ngaku!"

Terpopuler

Comments

instagram = @authorqueenj 👑

instagram = @authorqueenj 👑

semakin tegang😩

2023-09-12

1

instagram = @authorqueenj 👑

instagram = @authorqueenj 👑

Pintu mati? Wah gimana itu?

2023-09-12

1

instagram = @authorqueenj 👑

instagram = @authorqueenj 👑

typo nih kak, harusnya korban😆

2023-09-12

1

lihat semua
Episodes
1 Pesugihan Nyi Kembar
2 Mimpi Buruk
3 Penipuan
4 Omongan Tetangga
5 Rindu Ayah
6 Fella
7 Fella (2)
8 Tersadar
9 Jatuh Sakit
10 Liburan Akhir Tahun
11 Pergi Ke Gunung
12 Pendaki Lain
13 Dia Datang
14 Bungkusan Kecil
15 Selesai
16 Tak Sadar
17 Pulang
18 Salah Sasaran
19 Terbangun
20 Sampai
21 Sama Saja
22 Smartphone Nindira
23 Dua Sosok Kembar
24 Janggal
25 Bilik Kosong
26 Kedatangan Fella
27 Siluet Hitam
28 Bukan Bayu
29 Pengakuan
30 Terlambat
31 Seseorang
32 Duduk Berdua
33 Korban Kecelakaan
34 Rumah Sakit
35 Penyelidikan
36 Hilang
37 Bayu dan Riani
38 Toko Dekat Persimpangan
39 Abu
40 Menjenguk Bayu
41 Aneh
42 Meminta Izin
43 Bertemu Calon Mertua
44 Kosong
45 Cincin Berinisial
46 Hati-hati
47 Sesuatu di Dalam Kolam
48 Alga
49 Beruntung
50 Ritual
51 Bantuan
52 Kabur
53 Rumah Bayu
54 Gila
55 Putus
56 Halusinasi
57 Dipecat
58 Rumah Pak Abdul
59 PENGUMUMAN
60 Teror
61 Ayah
62 PENGUMUMAN
63 Dia Lagi
64 Sosok Ibu
65 Rusuh
66 Berlanjut
67 Mengantar Makanan
68 Kehilangan
69 Balikan
70 Jawaban
71 Panggilan Sayang
72 Liburan
73 Konser Musik
74 Pening
75 Mimpi
76 Wajah Pucat
77 Tersinggung
78 Gulungan Kertas
79 Kedatangan Nenek
80 Kabur Tengah Malam
81 Mencari
82 Menginap
83 Malam Pertama
84 Tidak Asing
85 Ancaman
86 Usil
87 Menunggu
88 Pohon Besar
89 Rumah Tua
90 Pindah
91 Obrolan Serius
92 Kemungkinan
93 Pingsan
94 Pergi
95 Hamil
96 Pesan Singkat
97 Naik Pitam
98 Sang Penyelamat
99 Ada Apa
100 Membujuk
101 Berbicara dengan Ayah
102 Pocong Ayah
103 Jawaban Pak Abdul
104 Desa Sepi
105 Dia Tahu
106 Rumah Mbah Wir
107 Jatuh Sakit
108 Bukan Sakit Biasa
109 Teror
110 Kamar Mandi
111 Kerasukan
112 Tidak Ada Jalan Lain
113 Berpisah
114 TAMAT
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Pesugihan Nyi Kembar
2
Mimpi Buruk
3
Penipuan
4
Omongan Tetangga
5
Rindu Ayah
6
Fella
7
Fella (2)
8
Tersadar
9
Jatuh Sakit
10
Liburan Akhir Tahun
11
Pergi Ke Gunung
12
Pendaki Lain
13
Dia Datang
14
Bungkusan Kecil
15
Selesai
16
Tak Sadar
17
Pulang
18
Salah Sasaran
19
Terbangun
20
Sampai
21
Sama Saja
22
Smartphone Nindira
23
Dua Sosok Kembar
24
Janggal
25
Bilik Kosong
26
Kedatangan Fella
27
Siluet Hitam
28
Bukan Bayu
29
Pengakuan
30
Terlambat
31
Seseorang
32
Duduk Berdua
33
Korban Kecelakaan
34
Rumah Sakit
35
Penyelidikan
36
Hilang
37
Bayu dan Riani
38
Toko Dekat Persimpangan
39
Abu
40
Menjenguk Bayu
41
Aneh
42
Meminta Izin
43
Bertemu Calon Mertua
44
Kosong
45
Cincin Berinisial
46
Hati-hati
47
Sesuatu di Dalam Kolam
48
Alga
49
Beruntung
50
Ritual
51
Bantuan
52
Kabur
53
Rumah Bayu
54
Gila
55
Putus
56
Halusinasi
57
Dipecat
58
Rumah Pak Abdul
59
PENGUMUMAN
60
Teror
61
Ayah
62
PENGUMUMAN
63
Dia Lagi
64
Sosok Ibu
65
Rusuh
66
Berlanjut
67
Mengantar Makanan
68
Kehilangan
69
Balikan
70
Jawaban
71
Panggilan Sayang
72
Liburan
73
Konser Musik
74
Pening
75
Mimpi
76
Wajah Pucat
77
Tersinggung
78
Gulungan Kertas
79
Kedatangan Nenek
80
Kabur Tengah Malam
81
Mencari
82
Menginap
83
Malam Pertama
84
Tidak Asing
85
Ancaman
86
Usil
87
Menunggu
88
Pohon Besar
89
Rumah Tua
90
Pindah
91
Obrolan Serius
92
Kemungkinan
93
Pingsan
94
Pergi
95
Hamil
96
Pesan Singkat
97
Naik Pitam
98
Sang Penyelamat
99
Ada Apa
100
Membujuk
101
Berbicara dengan Ayah
102
Pocong Ayah
103
Jawaban Pak Abdul
104
Desa Sepi
105
Dia Tahu
106
Rumah Mbah Wir
107
Jatuh Sakit
108
Bukan Sakit Biasa
109
Teror
110
Kamar Mandi
111
Kerasukan
112
Tidak Ada Jalan Lain
113
Berpisah
114
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!