"Aku sudah alihkan dia untuk menemui Riani."
Kedua mata Dwi terbelalak seketika. "No--Nona Riani?!"
"Ya," jawab Rita dengan santai. "Hidup dan matinya ada di tangan kamu, Dwi. Jika kamu berhasil tepat waktu membawa bungkusan itu ke tempat Tia, mereka akan pergi ke tempat bungkusan itu berada."
"Tapi Nyo--Nyonya Rita tega--"
"Lakukan saja, Dwi!" kesal Rita, membuat suaranya semakin meninggi dan bahkan ia juga menggebrak meja makan.
Hal itu membuat Dwi terkejut, ia memundurkan tubuhnya untuk menjauh.
'Demi Nona Riani, dia baik, aku tidak akan membuatnya menjadi tumbal pesugihan orangtuanya sendiri,' batin Dwi. Ia menganggukkan kepala dengan segera. "Ba--baik, Nyonya Rita."
Sup ayam yang sudah dihangatkan dibungkus terlebih dahulu menggunakan plastik sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam kotak makan. Rita membawanya dengan sangat tergesa-gesa karena bungkusan kecil itu ada di dalam saku bajunya.
"Berarti jika sosok itu akan pergi ke tempat Tia saat bungkusan ini sudah ada di sana, sosok itu sedang mengikuti aku sekarang?" Dwi bergidik ngeri. "Ya Allah, lindungi aku, Ya Allah. Maaf, aku tidak berniat menyekutukan-Mu tapi ... tapi gimana lagi? Aku nggak tahu harus gimana."
Kotak makan berisi sup ayam itu jatuh, plastik pembungkus sup ayam juga pecah yang menyebabkan sup ayam panas itu tumpah ke segala penjuru arah.
"Aw! Aw!" Dwi berusaha menghindari cipratan kuah panas itu. Tak lama, ia melihat ke depan. "Pak Abdul?!"
"Ma--maaf, maaf tidak sengaja. Kamu nggak papa, kan?" tanya Pak Abdul.
Dwi menganggukkan kepala, ia duduk untuk mengambil kotak makan dan membiarkan sup ayam yang sudah menyatu dengan tanah.
"Duh, makanan kamu jadi tumpah ya, Dwi. Maaf ya."
Dwi mengangguk ragu. "I--iya nggak papa."
"Kamu mau bawa sup ayam itu kemana emangnya?"
Pertanyaan yang membuat Dwi seketika bisu. Jika ia menjawab akan ke tempat Tia, ia takut akan dicurigai jika nanti sudah terjadi sesuatu kepada Tia. Jika ia berbohong, ia belum menemukan alasan yang tepat.
"Sa--saya mau pulang dulu ya, Pak. Sebentar." Dwi berlari ke arah rumah majikannya yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
Sesampainya di depan pintu gerbang, Dwi menoleh ke belakang. Ia sudah tidak lagi mendapati Pak Abdul ada di tempat yang tadi. Ia merasa lega.
Ia duduk begitu saja di atas tanah. "Terus sekarang harus gimana?"
Kotak makan itu sudah kosong, tak ada lagi sup ayam di dalamnya.
Tangannya merogoh saku celana, ia hanya menemukan selembar uang senilai lima ribu rupiah. "Uang segini cukup buat beli apa untuk orang yang sedang sakit? Bakso atau mie ayam saja harganya sudah hampir dua puluh ribu dan bahkan lebih."
Tubuhnya terkulai dengan kepasrahan.
Seketika ia ingat dengan bungkusan kecil yang tadi ia simpan di dalam saku baju. Tangannya merogoh saku itu, kosong.
Kedua matanya terbebalalak, mulutnya sedikit terbuka, ia merogoh saku sebelahnya lagi, masih saja ia tak menemukan apa-apa.
"Bungkusan itu mana? Apa jangan-iangan aku lupa membawanya?" Dwi mencoba untuk mengingat kembali. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Bodoh, bodoh, bodoh, kayanya ketinggalan deh di dapur." Ia beranjak, hendak masuk ke dalam rumah. "Tapi ... kalau Nyonya Rita tanya gimana?"
Pikirannya diabaikan begitu saja. Ia menutup kembali kotak makan itu seperti sup ayam tersebut masih ada di dalam kotak. Perlahan langkah kakinya masuk ke dalam rumah.
Ia melewati tangga rumah, melihat ke atas dengan harapan majikannya sudah ada di kamar. Langkah kedua kaki itu terus berjalan, melewati tangga dan sampai di meja makan.
'Sial! Nyonya Rita masih di sana!' batin Dwi seraya ia menghentikan kaki dan memejamkan matanya.
"Dwi? Kenapa kamu masih di sana?"
'Mampus! Aku ketahuan!' Dwi masih tetap memejamkan matanya.
"Dwi?!" kesal Rita, membuat nada suaranya meninggi.
"I--iya, Nyonya Rita." Dwi memberanikan diri membuka mata. "Bu--bungkusannya ke--ketinggalan, Nya."
"Kebiasaan!" kesal Rita. "Cepat ambil dan antarkan ke kamar kost milik Tia."
"I--iya, Nyonya."
Langkah kaki kecil itu dengan segera bergerak menuju dapur. Dwi tak melihatnya di sekitar kitchen set. Pandangan matanya melihat ke lantai, memeriksa bagian bawah, ia juga tak menemukan apapun di sana. Bahkan ia sampai memindahkan beberapa peralatan, namun ia tak kunjung mendapatkan bungkusan kecil itu juga.
"Dwi ... cepetan!" perintah Rita.
"I--iya, Nyonya, i--ini udah ketemu." Dwi berbohong. Ia keluar tanpa membawa bungkusan kecil yang tak berhasil ia temukan di dapur. Beruntungnya Rita juga menghiraukannya keluar dari rumah begitu saja.
Dwi melangkahkan kedua kakinya perlahan menjauh dari rumah, tanpa tujuan. Berkali-kali lidahnya membasahi bibir yang basah, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Bungkusan kain itu entah ada di mana, ia tak menemukannya di dapur meskipun sudah mencarinya. Ia hanya takut jika bungkusan itu masih ada di rumah, mungkin sosok itu akan menjadikan Dwi sebagai tumbal selanjutnya.
"Amit-amit ... amit-amit ...." Dwi mengetuk kepalanya sendiri. "Jangan sampai aku jadi korban tumbal Nyonya Rita, aku masih muda, masa depanku masih panjang."
Dwi masih terus melanjutkan langkah kakinya, benar-benar tanpa tujuan. Lima belas menit berlalu, ia akhirnya sampai di depan gerbang bangunan milik majikannya yang merupakan sebuah kost putri.
Dalam waktu yang lama, Dwi memandangi bangunan itu. Nampak ada beberapa sepeda motor matic yang terparkir, beberapa baju yang menggantung dan sandal atau sepatu yang dibiarkan berserakan.
Masing-masing kamar kost itu tidak semuanya berpenghuni. Beberapa sudah ada yang memutuskan untuk keluar dan pindah kost setelah kejadian tiga bulan yang lalu.
Kini tersisa lima kamar saja dari dua belas kamar yang tersedia dan salah satu yang menghuni di sana adalah Tia. Dia adalah seorang mahasiswa semester tiga bertubuh kecil dan memakai kacamata, cantik.
Banyak anak kost lain yang merasa minder dengan kecantikannya, beberapa yang sudah keluar bahkan dengan terang-terangan membenci Tia.
Kecantikan membuat hidupnya sengsara. Ia selalu menutupi wajahnya dengan masker kemanapun, ia tak ingin dunia tahu bahwa ia cantik.
Kondisi tempat kost itu lengang, tak ada suara aktivitas apapun, mungkin juga karena Dwi yang berdiri terlalu jauh dari lima kamar pertama yang tersisa.
"Beruntunglah kamu, Tia." Dwi berkata lirih, pandangan matanya melihat ke arah pintu ketiga dari depan sebelah kanan.
Jika dilihat dari jendela kecil dekat pintu, kamar itu menyala, mungkin Tia ada di dalam sana.
Seandainya Dwi tidak menabrak Pak Abdul dan sup ayamnya tidak jatuh berceceran, mungkin nasibnya akan buruk mulai malam ini. Beruntungnya perempuan itu masih dilindungi.
Dwi melanjutkan berjalan memutari komplek selama satu jam hingga akhirnya kembali berada di depan rumah majikannya. Jantungnya berdegup kencang, bagaimana jika majikannya yang menemukan bungkusan itu? Apa yang harus ia jelaskan?
"Dwi ... kenapa nggak masuk?" suara itu terdengar usai pintu utama dibuka.
Tentu saja Dwi terkejut mendengarnya. "Ha--i--iya, Nya. I--ini mau masuk."
"Gimana? Kamu sudah melakukan tugasku dengan baik dan benar, kan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments