Burung-burung berkicau saling bersahut-sahutan. Dengan mata yang masih tertutup, Riani bisa mendengar keceriaan pagi yang terjadi di alam liar.
Kedua matanya terbuka perlahan, lantas mengerjap menyesuaikan dengan sinar matahari yang diterima.
Riani menarik tubuhnya, ia merasa sangat lelah padahal ia baru bangun dari tidur. Riani menoleh dan mendapati ketiga temannya tidur dengan posisi duduk.
Di sebelah kanan ada Nindira yang tertidur dengan sedikit mendengkur, sementara di sisi kiri ada Tri dan Difki yang tidur dengan posisi wajah membelakangi posisi Riani.
"Ra, Ira, bangun," ujar Riani berusaha membangunkannya. Ia beralih ke arah Tri dan Difki. "Tri, Difki ayo bangun. Udah pagi, nanti kita telat dapetin angkutan umumnya."
Ketiganya mulai terbangun.
"Gimana keadaan kamu, Ri?!" tanya Nindira yang seketika terdengar begitu khawatir.
Riani mengernyitkan dahi. "Aku baik-baik saja, tapi kok kaya capek banget gitu ya?"
"Wajar aja, Ri, semalem kamu kesurupan lagi." Difki beranjak dari duduknya, ia berjalan gontai ke luar ruangan.
Riani mengernyitkan dahi, ia melirik ke arah Nindira untuk mengetahui kebenarannya.
Nindira menganggukkan kepala. "Semalem kamu teriak-teriak, terus mau pergi ke arah hutan juga. Kami bertiga bahkan nggak kuat nahan kamu, Ri, akhirnya dibantu warga. Mereka bilang supaya kita tetap di sini jagain kamu, jadi deh kita tidur di sini bareng kamu."
"Maaf ya, Ra, Tri, aku ngerepotin kalian."
Tri menghembuskan nafas. "Aku juga minta maaf, Ri, nggak seharusnya aku ngomong kaya kemarin."
"Kamu nggak salah, Tri, apa yang kamu omongin juga bener kok." Riani tersenyum lembut. "Kamu nggak perlu minta maaf."
Tiba-tiba smartphone milik Riani kembali berdering. Daya baterainya menunjukan angka lima belas yang menyala merah.
"Sella? Ada apa?" lirih Riani sebelum mengangkat panggilan suara itu. Ia tak mendekatkan smartphone tersebut ke telinga, justru memilih untuk mengeraskan suara. "Iya, Sel, kenapa?"
"Ri, kamu dimana?! Ini loh mama kamu pingsan depan pintu rumah."
"APA?! A--AKU PULANG SEKARANG, SEL."
"Emang kamu dimana, Ri?"
Panggilan suara itu diputus oleh Riani. Ia segera beranjak dari duduknya. "Kita harus--" Riani tak melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba saja rasa pening di kepala menyerang, kedua tangannya memegangi kepala yang terasa begitu berat. Riani memejamkan mata.
"Kamu nggak papa, Ri?" tanya Nindira yang menyadari jika keadaan Riani belum pulih sepenuhnya.
Namun Riani menggelengkan kepala, ia mengerjapkan mata untuk menyesuaikan pandangan. "Aku nggak papa kok, Ra. Aku harus segera pulang, Ra, ibuku ... ibu--"
"Iya, iya, Ri, kamu tenang dulu, jangan terburu-buru. Kita siap-siap sekarang."
Barang-barang kembali dimasukkan ke dalam tas. Mereka berempat menyusuri jalanan menuju persimpangan tempat dimana angkutan umum biasa mangkal.
Cuaca hari ini tidak terlalu terik, bahkan sinar matahari sesekali terhalang oleh awan hitam yang sekedar melintas.
"Yah, angkutan umum sebelumnya udah jalan," ujar Difki yang terlebih dahulu sampai di persimpangan.
Riani yang masih berjalan perlahan menatap ke arah laki-laki itu berdiri. "Angkutan umum selanjutnya berapa lama lagi, Dif?"
"Dari yang aku dengar sih sekitar setengah jam."
"Kita tunggu di sini aja," ujar Tri yang lantas masuk ke sebuah gubuk, sepertinya itu sebuah warung atau sekedar tempat beristirahat seseorang. "Biar lebih adem juga."
Riani dan Nindira mengikuti Tri, disusul dengan Difki yang lebih memilih berada di ambang pintu.
Setengah jam berlalu dan terlihat seorang wanita tua mendekat. Ia menggendong sesuatu di balik selendang oren bermotif batil yang ia gunakan untuk menggendong.
"Nunggu angkutan, Neng?" tanyanya seraya melihat ke dalam gubuk.
"Iya, Nek," jawab Nindira sopan dengan senyuman. "Biasanya berapa lama ya?"
Pandangan wanita tua itu terpaku pada Riani, tatapannya terlihat bingung dengan dahi yang sedikit mengernyit.
Beberapa saat pertanyaan Nindira tak kunjung digubris olehnya. "Nek?"
"Eh, ke--kenapa?" tanya wanita tua itu. "Biasanya sebentar lagi kok."
Wanita tua itu beralih, ia berdiri tidak jauh di sebelah Difki.
Dari dalam gubuk, Riani dan kedua temannya bisa melihat Difki yang menganggukkan kepala. Entah apa yang dibicarakan oleh wanita tua itu, suaranya tak begitu jelas terdengar.
Banyak orang yang sudah berada di dalam angkutan umum sehingga Riani dan Difki harus duduk di ambang pintu semenyata Nindira dan Tri duduk di tengah bangku penumpang.
Angkutan umum menuruni jalanan dengan begitu pelan. Hamparan perkebunan terbentang sepanjang mata memandang dengan langit biru yang sedikit berawan. Namun keindahan itu tak berhasil mengalihkan pikiran Riani dari keadaan ibunya saat ini.
***
Situasi di sekitar masih cukup sepi kala Sella berjalan keluar dari rumahnya. Pak Abdul--ayahnya jatuh sakit semalam dan ia hendak membelikan obat di apotik.
Tanpa sebuah alasan, Sella menoleh ke arah rumah Riani dan melihat seorang perempuan tergeletak di dekat pintu rumah yang terbuka.
"Ri--Riani?!"
Pada awalnya, Sella menyangka jika itu adalah Riani. Pasalnya wajah perempuan tersebut tidak terlalu jelas terlihat karena tertutup dengan rambut panjangnya.
Tapi setelah diperhatikan lebih lama, tubuh perempuan itu tidak seperti tubuh Riani. Di tangannya melingkar sebuah gelang emas yang dengan cincin di jari manis tangan kiri dan jari tengah serta jari manis di tangan kanan.
Sella tak pernah melihat Riani memakai perhiasan sebanyak sehingga ia beralih pikiran. Perenpyan yang tergeletak itu bukanlah Riani, melainkan Rita.
"Riani ... Mba Dwi ...." Sella terus memanggil-manggil nama kedua perempuan itu, namun tak ada jawaban dari dalam rumah.
Justru tetangga samping rumah yang terganggu keluar dari balik pintu pagar rumahnya. "Pencet aja belnya, Sel!"
"E--enggak, Bu, ta--tapi i--itu ... i--itu Ta--tante Rita," ujar Sella terbata-bata.
Mendengar jawaban Sella, perempuan itu keluar dari balik pintu pagar. Ia mendekat dengan kedua kaki yang cakar ayam. Langkahnya sedikit berjinjit, mungkin telapak kaki yang tidak terbiasa menyentuh tanah secara langsung itu merasa kegelian.
"Astaghfirullahal'adzim." Ia menutup mulutnya. "Bu ... Bu Rita ngapain tidur disitu?!"
Sella menepuk pundak perempuan itu. "Tante Rita nggak sadarkan diri, Bu. Ibu tahu nggak Riani atau Mba Dwi lagi ada di mana? Dari tadi aku panggilin nggak nyaut, kayanya emang nggak ada di dalam rumah."
"Duh, nggak tau deh. Coba kamu telepon, kamu kan pasti punya nomornya Riani."
Sella mengangguk cepat, ia merogoh saku celana untuk menemukan smartphone miliknya.
"Duh, aku perpesanannya nggak aktif lagi," ujar Sella yang lantas mengecek nominal pulsa yang dia miliki.
Jumlahnya sekitar tiga ribu lima ratus rupiah, mungkin cukup untuk menelepon Riani menggunakan telepon seluler.
Suara panggilan yang berusaha terhubung terdengar, Sella menunggunya dengan sabar.
"Iya, Sel, kenapa?" suara Riani segera terdengar.
"Ri, kamu dimana?! Ini loh mama kamu pingsan depan pintu rumah."
"APA?! A--AKU PULANG SEKARANG, SEL."
Sella mengernyitkan dahi. "Emang kamu dimana, Ri?" Pertanyaannya tak mendapatkan jawaban, justru tak lagi terdengar suara Riani dari dalam smartphone. "Ri? Kamu dimana, Ri?"
Smartphone tersebut dijauhkan dari telinga, Sella mendapati panggilan suara yang sudah terputus.
Merasa belum selesai berbicara, Sella mencoba menghubungi Riani lagi.
"Maaf, sisa pulsa yang anda miliki--"
Sella memutuskan sambungan telepon. "Argh! Mana pake habis segala ini pulsa. Lagian Riani lagi dimana sih?! Mba Dwi juga, kenapa mereka berdua nggak ada di rumah?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments