"Bukan, Riani. Saudara Agus benar-benar mengalami kecelakaan di jalan Merpati. Mobil yang dia kendarai--"
"BOHONG!" pekik Riani lagi. "Aku tidak percaya kepadamu, penipu!"
Riani menekan ikon untuk mematikan panggilan suara. Perempuan itu melangkahkan kakinya cepat keluar dari rumah sakit.
Melihat ke sekitarnya, ada banyak gerobak-gerobak pedagang kaki lima dengan lampu yang masih menyala.
"Makan soto mungkin lebih enak," ujar Riani yang lantas mendekat. "Sotonya masih, Bu?"
"Masih, mau berapa?'
Seorang wanita berusia empat puluh tahunan itu tersenyum dengan ramah. Ia mengenakan kerudung berwarna blushpink, wajahnya tak mengenakan riasan apapun sehingga keriput, flek hitam dan bekas jerawatnya terlihat jelas. Kedua matanya juga menghitam, bukti bahwa ia lebih sering terjaga daripada tidur.
"Satu makan di sini aja, Bu."
Wanita itu lantas mengambil menyiapkan kursi plastik dekat meja berukuran satu meter persegi. "Silahkan duduk."
Riani tersenyum, ia mendudukkan tubuhnya dan kembali membuka smartphone-nya.
Nomor asing yang tadi menghubunginya dan mengaku sebagai polisi itu ia blokir, ia tidak ingin berurusan dengan penipu untuk saat ini.
Sembari menunggu soto pesanannya disiapkan, Riani menonton video pendek sembari sesekali tertawa atas kelucuan yang ada dalam video tersebut.
"Info laka lantas mobil tertabrak truk di jalan--"
"Silahkan dinikmati," ujar penjual soto yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Riani dengan semangkuk soto yang dia letakkan di atas meja.
Sontak Riani mematikan ponselnya, ia tersenyum ramah. "Terima kasih."
Rasa lapar membuat Riani segera menyantap soto tersebut, ditambah lagi aroma soto yang sangat menggoda selera membuat Riani ingin segera menghabiskan makanannya.
Sepuluh menit berlalu dan Riani beranjak dari duduknya. Ia teringat dengan ibunya, barangkali Rita sudah kembali sadar dan sedang mencari dirinya.
"Sebuah kecelakaan terjadi di jalan Merpati menewaskan satu orang laki-laki berinisial AB. Kecelakaan terjadi saat sebuah truk melaju dengan cepat dan menghantam mobil milik AB yang hendak menyalip sebuah bus--"
Riani terdiam di lobi rumah sakit. Perempuan itu menghentikan langkah kakinya dan melihat ke layar televisi berukuran 50 inch yang sedang menayangkan sebuah berita.
Smarphone yang ada dalam genggaman tangannya berdering tanda panggilan masuk. Di layar smartphone yang menyala itu nama Sella terpampang dengan jelas.
"Ni, kamu udah denger kabar belum?"
Banyaknya orang di sekitar Riani membuatnya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Sella. "Sebentar, Sel." Riani berjalan ke arah depan, mencari tempat yang lebih sepi. "Kenapa? Tadi kamu ngomong apa?" Kini Riani sudah duduk di salah satu bangku taman dekat dengan tanaman hias dan ayunan.
"Kamu udah denger kabar tentang ayah kamu belum, Ri?"
"Kabar apa sih, Sel? Ayah aku tadi habis dari rumah dan katanya sekarang lagi perjalanan ke rumah sakit," jelas Riani, sebenarnya ia kesal dengan Sella yang menanyakan hal demikian.
"Tapi sudah ada beritanya juga, Ri."
"Berita apa, Sel? Kecelakaan di jalan Merpati? Itu bukan ayahku. Lagipula tujuan ayah itu ke rumah sakit, nggak mungkin dia sampai ke jalan Merpati."
"Tapi tadi ada polisi yang telepon ke ayahku."
"Itu penipu, Sel!" kesal Riani. "Kamu jangan percaya sama dia. Ayahku baik-baik aja!"
Terlalu kesal dengan temannya, Riani memutus sambungan panggilan suara tersebut begitu saja.
Langkah kedua kakinya hendak kembali ke dalam rumah sakit, namun lagi-lagi harus terhenti.
Suara sirine ambulan terdengar begitu keras dan beberapa detik kemudian sebuah mobil berwarna putih datang mendekat.
Pegawai rumah sakit yang berada dekat dengan mobil ambulance segera mendekat, kemudian sebuah brangkar dikeluarkkan dengan seorang laki-laki yang tergeletak dengan penuh darah.
Riani yang sedang berdiri di dekat pintu masuk rumah sakit terdiam bersama orang-orang yang lain. Pandangan matanya melihat ke arah brangkar yang sedang didorong dengan seorang yang terbaring ditutup kain. Kain tersebut sedikit tersingkap, namun Riani tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena penuh dengan darah.
"Innalillahi, kasihan banget ya."
"Astaghfirullah, innalillahi."
Beberapa orang turut mengatakan kalimat bela sungkawanya, begitu juga dengan Riani yang mengatakannya di dalam hati.
Mobil ambulan kembali menjauh dari halaman depan rumah sakit dan datang lagi mobil ambulan yang lain.
"Riani," panggil seseorang.
Mendengar namanya dipanggil, Riani menoleh dan mendapati seorang laki-laki mendekat ke arahnya.
"Pak Abdul?" lirih Riani. Ia juga melihat anak Abdul -- Sella yang berlari tidak jauh di belakang ayahnya. "Sella?"
"Riani, apa ayahmu sudah sampai?" Pak Abdul terengah-engah.
Dengan santai Riani menggelengkan kepala. "Belum, masih di perjalanan."
"Ri, kenapa kamu nggak percaya sih? Aku punya foto yang sangat jelas, tersebar di sosial media, Ri." Sella sibuk membuka smarphone-nya dan mencari sesuatu di dalam sana. "Lihat ini."
Kedua mata Riani sedikit menyipit dengan harapan gambar pada smartphone Sella semakin jelas.
Seorang laki-laki tergeletak dengan darah yang berlumuran di area wajahnya, kedua matanya terbuka lebar seakan memberitahukan bahwa ia meregang nyawa saat sedang terkejut.
"Itu ...."
"Iya, ini Om Agus, Ri, ayahmu."
Riani menjauhkan diri dari Sella, ia melangkah mundur. "Nggak, nggak mungkin, Sel!"
Pak Abdul mendekat, ia merengkuh tubuh Riani dan memeluknya. "Kamu yang sabar, Riani. Pak Abdul tahu, ini pasti sangat berat untuk kamu."
Sella juga turut mendekat.
Seketika sekujur tubuh Riani merasa lemas dan tidak memiliki kekuatan lagi. Ia hampir terjatuh, namun Pak Abdul dan Sella sigap menangkap tubuhnya.
Air matanya mengucur deras begitu saja saat Pak Abdul dan Sella mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi tunggu lobi rumah sakit.
"Nggak, nggak mungkin," lirih Riani, ia tidak punya cukup banyak kekuatan.
Sekarang yang bisa dia lakukan hanya menggelengkan kepala, merasa belum percaya dan masih berharap ayahnya akan datang ke rumah sakit dan memanggil namanya.
"Kalau kamu mau ikut acara pemakaman ayah, biar nanti Pak Agus bilang ke Dwi buat jaga ibumu di sini, Nak."
Riani hanya bisa diam.
Proses pemakaman berjalan dengan lancar. Satu persatu orang mulai pergi meninggalkan area pemakaman menyisakan Riani yang masih duduk di samping makam sembari melihat ke arah batu nisan bertuliskan nama ayahnya.
Agus Budiono bin Muhammad Budiono
Lahir: 9 Januari 1984
Wafat: 6 Oktober 2022
Setetes air hangat mengalir dari sudut mata Riani. Ia diam, membiarkan air mata itu mengalir dan jatuh ke tanah.
"Kemarin baru aja ada kasus perempuan gantung, sekarang Pak Agus mati tidak wajar. Apa banyak banget ya orang di daerah kita yang pake pesugihan apa itu namanya? Pesugihan kembar?"
"Pesugihan Nyi Kembar, jangan dihilangin, kamu mau didatengin dia?"
"Ih, amit-amit, mending hidup susah deh daripada harus pesugihan gitu. Dosa, tahu! Ingat sama yang di atas." Wanita itu menunjuk ke arah langit. "Kamu tahu nggak sih toko yang ada di depan itu? Baru buka langsung laris manis. Apa dia juga pake pesugihan Nyi Kembar ya? Jangan-jangan iya lagi, baru buka udah ngambil dua tumbal sekaligus, ngeri ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
instagram = @authorqueenj 👑
Riani yg tabahh
2023-09-12
1
instagram = @authorqueenj 👑
turut berduka cita🥺🙏🏻
2023-09-12
1