Pergi Ke Gunung

"Tuh kan bener apa yang udah aku bilang, Bagas tuh pasti nggak akan jadi kalo udah berencana kaya gini." Difki masih saja merasa kesal hingga saat ia dalam perjalanan menuju puncak.

Langkah kaki mereka bergerak dengan perlahan menapaki tanah yang kering dengan rerumputan yang ada di sisi kanan dan kirinya. Nafas mereka tersengal-sengal merasakan oksigen yang terasa semakin tipis.

"Udahlah, Dif, lagian kita ke sini juga bayar sendiri, apa-apa ngurus sendiri," ujar Tri yang tidak ingin masalah ini semakin panjang.

Nindira menghembuskan nafas. "Bener sih kata kamu, Tri. Tapikan dia yang ngajakin, harusnya dia tanggung jawab, jangan malah mundur pas udah mau jalan."

"Kamu sih, Nin, mauan aja diajakin dia," kesal Difki. "Kan aku jadi laki-laki sendirian di sini, nanti kalau ada apa-apa di atas gimana?"

"Hus!" timpal Nindira. "Di gunung jangan ngomong sembarangan, Difki!"

Riani hanya diam mendengar obrolan mereka. Ia fokus pada jalan setapak yang akan dilalui olehnya.

Posisi Riani saat ini berada di baris ketiga. Nindira berada di baris pertama sebagai seseorang yang sudah berpengalaman mendaki, Tri berada di belakang Nindira dan Difki menjadi sweeper yang berarti dia berjalan di barisan terakhir.

Jam menunjukkan pukul empat sore saat mereka berempat sampai di sebuah pos. Rasa lelah memaksa mereka berempat untuk beristirahat.

"Kita masak-masak dulu di sini yuk," ajak Nindira, ia menyipitkan mata dengan nafas yang tak beraturan.

Tri berjalan gontai menyusul Nindira dan merobohkan tubuhnya tepat di atas sebuah batu, begitu juga dengan Riani namun ia duduk di sebuah pondokan sementara Difki menenggak air sembari terus melangkah mendekat.

Difki menganggukkan kepala. "Boleh, laper juga aku."

Ia duduk di sebelah Riani.

Perlengkapan masak yang dibawa oleh Nindira dikeluarkan dari dalam tas. Ia mulai bersiap untuk memasak.

"Makanan kaya gini aja rasanya udah enak banget ya kalau dimakan di atas gunung kaya gini," ujar Difki, ia meniup mie instan yang sudah ia sendok.

Mereka berempat makan dalam satu wadah dengan sendok yang berbeda agar tidak banyak peralatan kotor karena tidak ada banyak air juga untuk mencucinya. Keempatnya berbagi setelah sekian lama bersama.

Tri menganggukkan kepala. "Lebih terasa kebersamaannya."

"Bener banget, apalagi biasanya kan dua bungkus buat sendiri tapi ini kaya ada rasa aku harus nyisain gitu deh." Difki kembali menyantap mie dalam sendoknya.

"Kamu nggak papa kan, Ri?" tanya Nindira, ia menyadari jika Riani sedari tadi terus diam sama.

Riani mengangguk, ia tersenyum.

"Iya deh, kamu kaya nggak seneng banget," timpal Tri.

"Nggak kok, aku seneng bisa ke sini bareng kalian." Riani tersenyum. "Eh, kalo misalkan lagi di gunung kaya gini boleh nggak sih nyalain kembang api?"

"Sebaiknya jangan, soalnya kan kalau salah-salah bisa kebakan hutan," jawab Nindira.

Riani menganggukkan kepala, paham.

Pukul lima sore, keempatnya sudah selesai mengemasi barang-barang. Tas sudah kembali digendong dan mereka sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.

Suara burung dan hewan malam yang lain mulai terdengar seiring dengan matahari yang semakin tenggelam di ufuk barat. Hutan dengan vegetasi yang lebat semakin gelap. Semilir angin membuat bulu kuduk berdiri antara dingin dan merinding.

"Kita mau buka tenda dimana, Nin?" tanya Difki, suaranya bergetar, ia kedinginan.

"Pos selanjutnya aja kan, Dif?" Nindira menjawab tanpa menoleh.

Tidak ada jawaban lagi dari Difki.

Keempatnya berjalan dalam keheningan malam, menapaki tanah dengan sisa-sisa tenaga yang masih tersisa.

"Huh, akhirnya ...." Nindira menjatuhkan tubuhnya di atas tanah, disusul oleh Tri.

Sementara Riani masih berdiri. Kedua kakinya terasa pegal, namun perasaan itu sedikit sirna terkalahkan oleh rasa takjub dalam dirinya.

Semburat jingga di ujung barat dengan matahari yang tersisa setengah terlihat sangat menakjubkan. Sinar jingganya tak lagi menyilaukan, justru sangat indah dan menjadi candu untuk tetap dilihat dalam waktu lebih lama.

"Cepetan bikin tenda sebelum gelap," ujar Difki yang lantas menjatuhkan tas dan membukanya.

Detik-detik berikutnya, daun-daun di pohon sudah tak lagi berwarna hijau. Seiring dengan matahari yang beranjak pergi, warna itu berubah menjadi hitam seperti sebuah siluet. Warna hijau itu tak bisa dilihat tanpa bantuan cahaya dari api atau senter.

Dengan bantuan headlamp yang sudah dikenakan sejak awal kepergian mereka dari pos sebelumnya, akhirnya dua tenda telah selesai dibuat.

"Udah matang, Tri?" tanya Difki, ia menggerakkan dagunya ke arah perempuan itu.

"Bentar lagi," jawab Tri usai memeriksa nasi yang tengah ia masak.

Sembari menunggu, Tri juga menggoreng nugget, sarden dan juga sambal instan. Makanan yang hangat akan lebih terasa nikmat disantap dalam suasana yang dingin seperti ini.

Langit sudah sepenuhnya gelap, tidak ada lagi semburat jingga di ujung barat. Tanpa ada angin pun, udara terasa sangat dingin dan bahkan membuat nafas mereka mengeluarkan asap.

Jaket yang mereka bawa sudah dikenakan dan secangkir kopi menemani malam yang panjang dengan api unggun yang menyala-nyala memberi sedikit kehangatan.

"Sayang banget nggak bawa gitar, Dif," ujar Tri. "Padahal seru banget kalo nyanyi-nyanyi sambil diiringi gitar."

"Repot, Tri. Ini aja bawaan aku udah banyak, kalau kamu mau bawain mah boleh."

"Iya juga sih, andai aja di sini ada tukang sewa gitar."

Ketiganya tertawa kecuali Riani yang hanya tersenyum.

Ia mengalami penglihatan yang berbeda daripada ketiga tempat lainnya. Tidak jauh, dalam jarak sekitar lima meter saja di hadapannya, ia melihat seorang perempuan dengan baju terusan berwarna merah. Wajahnya tak terlalu jelas, tapi tambutnya panjang hampir sampai di pinggulnya.

Setelah sekian lama memperhatikan ketiga temannya, sepertinya baik Nindira, Difki ataupun Tri tidak ada yang melihat perempuan itu.

Beberapa kali pandangan mata mereka ke arah yang sama, namun mereka tak memberitahukan kepada Riani jika melihat hal yang serupa. Mungkinkan mereka memilih menyembunyikannya?

'Dari yang aku baca, jika melihat sesuatu di gunung itu sebaiknya disimpan saja sendiri, baru ceritakan saat sudah di bawah,' pikir Riani. Ia lantas mengangguk. 'Dari pada mereka ketakutan, nanti malah jadi takut semua.'

"Riani," panggil Nindira.

Riani tersadar dari lamunannya. "I--iya ada apa, Ra?"

"Jangan ngelamun, Ri. Jangan biarkan pikiran kamu kosong." Nindira memperingati.

Mendengar hal tersebut, Riani menganggukkan kepala. "Ma--maaf," ujarnya dengan sedikit tersenyum, ia mengakui kesalahan.

"Gimana kalau kita tidur aja? Udah jam sembilan juga," usul Tri.

"Boleh, sana kalian masuk tenda dulu aku mau ngabisin kopi." Difki menyeruput kopi dalam cangkir yang masih tersisa setengah.

"Tapi, Dif--" Riani tak melanjutkan kalimatnya.

"Kenapa, Ri?" Difki mengernyitkan dahi. "Kalau kamu belum ngantuk nggak papa kok kamu di sini dulu aja." Ia beralih ke arah Tri dan Nindira. "Nggak papa kan?"

"Iya nggak papa, aku udah lumayan ngantuk sih, emang jam tidurku jam sembilan," jelas Tri.

"Kalau aku persiapan aja sih buat besok, kan masih harus lanjutin perjalanan. Kalau emang kamu belum ngantuk kamu di sini aja sama Difki, nanti kalau udah mau tidur tinggal nyusul kami berdua ke tenda."

Riani mengangguk ragu. "Kalau gitu nanti aku nyusul kalian aja, aku juga belum ngantuk."

Nindira dan Tri berjalan ke arah tenda yang berada tidak jauh dari mereka.

Kini tersisa Riani dan Difki saja tidak jauh dari api unggun yang sudah hampir mati. Keduanya diam.

"Kamu biasanya tidur jam berapa, Ri?" tanya Difki memulai pembicaraan setelah beberapa saat.

"Jam ... sepuluh atau sebelas." Riani sempat terdiam untuk berpikir.

Sebenarnya ia juga sudah merasa mengantuk, namun sosok berbaju merah itu membuatnya tidak ingin meninggalkan Difki sendirian.

Riani melihat ke arah sosok perempuan yang masih berdiri di sana, hanya berdiri, memperhatikan dirinya dan Difki yang masih berada di luar tenda.

"Hm ... Di--Difki, ka--kamu li--lihat se--sesuatu di sana nggak sih?" tanya Riani, keraguan membuat kalimatnya terbata-bata.

Pandangan mata Difki melihat ke arah yang ditunjuk oleh Riani. Ia tersenyum. "Oh, itu, lah itumah pendaki, Ri. Kamu kenapa ketakutan begitu sih? Itu pendaki lain."

Episodes
1 Pesugihan Nyi Kembar
2 Mimpi Buruk
3 Penipuan
4 Omongan Tetangga
5 Rindu Ayah
6 Fella
7 Fella (2)
8 Tersadar
9 Jatuh Sakit
10 Liburan Akhir Tahun
11 Pergi Ke Gunung
12 Pendaki Lain
13 Dia Datang
14 Bungkusan Kecil
15 Selesai
16 Tak Sadar
17 Pulang
18 Salah Sasaran
19 Terbangun
20 Sampai
21 Sama Saja
22 Smartphone Nindira
23 Dua Sosok Kembar
24 Janggal
25 Bilik Kosong
26 Kedatangan Fella
27 Siluet Hitam
28 Bukan Bayu
29 Pengakuan
30 Terlambat
31 Seseorang
32 Duduk Berdua
33 Korban Kecelakaan
34 Rumah Sakit
35 Penyelidikan
36 Hilang
37 Bayu dan Riani
38 Toko Dekat Persimpangan
39 Abu
40 Menjenguk Bayu
41 Aneh
42 Meminta Izin
43 Bertemu Calon Mertua
44 Kosong
45 Cincin Berinisial
46 Hati-hati
47 Sesuatu di Dalam Kolam
48 Alga
49 Beruntung
50 Ritual
51 Bantuan
52 Kabur
53 Rumah Bayu
54 Gila
55 Putus
56 Halusinasi
57 Dipecat
58 Rumah Pak Abdul
59 PENGUMUMAN
60 Teror
61 Ayah
62 PENGUMUMAN
63 Dia Lagi
64 Sosok Ibu
65 Rusuh
66 Berlanjut
67 Mengantar Makanan
68 Kehilangan
69 Balikan
70 Jawaban
71 Panggilan Sayang
72 Liburan
73 Konser Musik
74 Pening
75 Mimpi
76 Wajah Pucat
77 Tersinggung
78 Gulungan Kertas
79 Kedatangan Nenek
80 Kabur Tengah Malam
81 Mencari
82 Menginap
83 Malam Pertama
84 Tidak Asing
85 Ancaman
86 Usil
87 Menunggu
88 Pohon Besar
89 Rumah Tua
90 Pindah
91 Obrolan Serius
92 Kemungkinan
93 Pingsan
94 Pergi
95 Hamil
96 Pesan Singkat
97 Naik Pitam
98 Sang Penyelamat
99 Ada Apa
100 Membujuk
101 Berbicara dengan Ayah
102 Pocong Ayah
103 Jawaban Pak Abdul
104 Desa Sepi
105 Dia Tahu
106 Rumah Mbah Wir
107 Jatuh Sakit
108 Bukan Sakit Biasa
109 Teror
110 Kamar Mandi
111 Kerasukan
112 Tidak Ada Jalan Lain
113 Berpisah
114 TAMAT
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Pesugihan Nyi Kembar
2
Mimpi Buruk
3
Penipuan
4
Omongan Tetangga
5
Rindu Ayah
6
Fella
7
Fella (2)
8
Tersadar
9
Jatuh Sakit
10
Liburan Akhir Tahun
11
Pergi Ke Gunung
12
Pendaki Lain
13
Dia Datang
14
Bungkusan Kecil
15
Selesai
16
Tak Sadar
17
Pulang
18
Salah Sasaran
19
Terbangun
20
Sampai
21
Sama Saja
22
Smartphone Nindira
23
Dua Sosok Kembar
24
Janggal
25
Bilik Kosong
26
Kedatangan Fella
27
Siluet Hitam
28
Bukan Bayu
29
Pengakuan
30
Terlambat
31
Seseorang
32
Duduk Berdua
33
Korban Kecelakaan
34
Rumah Sakit
35
Penyelidikan
36
Hilang
37
Bayu dan Riani
38
Toko Dekat Persimpangan
39
Abu
40
Menjenguk Bayu
41
Aneh
42
Meminta Izin
43
Bertemu Calon Mertua
44
Kosong
45
Cincin Berinisial
46
Hati-hati
47
Sesuatu di Dalam Kolam
48
Alga
49
Beruntung
50
Ritual
51
Bantuan
52
Kabur
53
Rumah Bayu
54
Gila
55
Putus
56
Halusinasi
57
Dipecat
58
Rumah Pak Abdul
59
PENGUMUMAN
60
Teror
61
Ayah
62
PENGUMUMAN
63
Dia Lagi
64
Sosok Ibu
65
Rusuh
66
Berlanjut
67
Mengantar Makanan
68
Kehilangan
69
Balikan
70
Jawaban
71
Panggilan Sayang
72
Liburan
73
Konser Musik
74
Pening
75
Mimpi
76
Wajah Pucat
77
Tersinggung
78
Gulungan Kertas
79
Kedatangan Nenek
80
Kabur Tengah Malam
81
Mencari
82
Menginap
83
Malam Pertama
84
Tidak Asing
85
Ancaman
86
Usil
87
Menunggu
88
Pohon Besar
89
Rumah Tua
90
Pindah
91
Obrolan Serius
92
Kemungkinan
93
Pingsan
94
Pergi
95
Hamil
96
Pesan Singkat
97
Naik Pitam
98
Sang Penyelamat
99
Ada Apa
100
Membujuk
101
Berbicara dengan Ayah
102
Pocong Ayah
103
Jawaban Pak Abdul
104
Desa Sepi
105
Dia Tahu
106
Rumah Mbah Wir
107
Jatuh Sakit
108
Bukan Sakit Biasa
109
Teror
110
Kamar Mandi
111
Kerasukan
112
Tidak Ada Jalan Lain
113
Berpisah
114
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!