Riani beranjak dari duduknya, ia menoleh ke arah beberapa ibu-ibu yang masih ada di sekitar makan.
"Sshh ... kayanya dia denger deh, cepet pergi dari sini."
Salah satu dari mereka berbisik dan mengajak yang lainnya untuk pergi. Beberapa pasang mata melihat ke arah Riani dan bertemu dengan pasang mata perempuan itu, namun tidak lama kemudian mereka segera mengalihkan pandangan.
"Apa mungkin yang dikatakan oleh ibu-ibu itu benar?" lirih Riani.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang saat Riani keluar dari rumahnya. Seorang dengan helm berwarna hijau sudah ada di seberang rumah menunggangi sepeda motor matic berwarna merah.
"Riani, ya?" Ia membaca nama tersebut dari layar smartphone.
Riani menganggukkan kepala. "Iya, ke rumah sakit ya, Pak."
"Baik."
Lak-laki itu memberikan helm kepada Riani sebelum naik ke sepeda motor matic itu. Perlahan sepeda motor melaju menyusuri jalanan perumahan yang sepi itu.
"Tunggu, tunggu, Pak," ujar Riani yang teringat sesuatu. Ia menepuk punggu supir ojek itu beberapa kali. "Saya kelupaan bawa sesuatu mau beli dulu di toko itu. Sebentar ya, Pak."
Saat sedang melangkah dengan tergesa-gesa, langkah Riani seketika terhenti saat pandangan matanya melihat selembar uang dengan nominal paling besar.
"Ini uang siapa, Pak?" tanya Riani menemui seorang laki-laki yang duduk di area kasir. "Saya nemu di depan."
Kepalanya botak, hanya ditumbuhi sedikit rambut saja, namun janggutnya cukup tebal. Ia menggelengkan kepala. Bibirnya yang tebal dan kecoklatan itu lantas bergerak. "Bukan, bukan punya saya."
"Terus punya siapa ya, Pak?"
"Nggak tahu juga, deh."
"Kalau begitu saja nitip di sini deh, Pak, barangkali nanti ada yang nyariin."
"Kenapa nggak buat kamu aja?"
Riani tersenyum kaku. "Saya nggak bisa ngambil sesuatu yang buka menjadi hak aku, Pak."
"Loh, tapi itukan hak kamu."
"Ma--maksudnya?" Riani mengernyitkan dahi.
"Iya dong, uang itu jatuh terus kamu temuin, berarti kan itu hak kamu."
"Tapi saya--"
"Mba Riani, udah belum? Jangan lama-lama, Mba," potong supir ojek yang menunggu di seberang toko.
"Oh." Riani menoleh ke arah supir ojek yang tengah memicingkan mata karena silau. "I--iya, sebentar, Pak."
***
Satu minggu kemudian, kondisi Rita berangsur-angsur membaik. Bahkan dokter sudah memperbolehkannya untuk pulang besok. Namun yang tidak baik adalah kondisi keuangan keluarga karena sudah habis untuk biaya perawatan Rita.
"Mba Dwi, besok jam sepuluhan ke sini bawa baju ganti buat aku sama Ibu, ya," ujar Riani yang tengah memakan es krim cup sembari menonton siara di televisi.
"Baik, Non." Dwi beralih ke arah Rita. "Besok Nyonya pulang, kan?"
"Ya pulanglah, kalo nggak pulang keenakan kamu bisa santai-santai nggak ada yang ngatur."
Dwi tersenyum dengan kedua tangan yang masih memijat kaki majikannya. "Ya, sekali-kali, Nya."
Rita melirik sinis ke arah Dwi. "Oh, jadi kamu mau aku sakit terus, Dwi?"
"Oh, e--enggak, buka begitu maksudnya, Nya."
"Terus apa maksudnya perkataan kamu tadi, hah?"
"Ma--maaf, Nya."
Dari sofa, Riani hanya bisa tertawa melihat kedua wanita itu. Sebuah drama lain yang tidak ditampilkan di televisi kini ada di hadapannya.
"Makannya kalau ngomong dipikir dulu, Dwi."
Dwi menundukkan kepala, ia tidak lagi tersenyum seperti sebelumnya. "Ma--maaf, Nya," sesalnya.
"Udah, lanjut pijitin kaki aku."
Smartphone milik Riani berdering singkat. Ada sebuah pesan di sana.
Sella: Riani, kamu bilang kemarin kamu lagi butuh uang, kan? Aku ada lowongan, nih, kita bisa daftar bareng.
"Kesempatan." ujar Riani yang dengan segera membalas pesan tersebut.
Riani: Boleh, Sel. Kerja di mana?
Sella: Mall Biru Jaya.
Riani: Kapan mau ke sana?
Sella: Besok juga boleh, nanti kita siapin lamarannya dulu bareng-bareng.
Riani: Boleh deh, tapi aku bisanya siang soalnya besok ibuku pulang dari rumah sakit siangan.
Sella: Tante Rita mau pulang besok?
Riani: Iya, Sel, nanti kalau aku udah di rumah aku kabari kamu, kita bikin lamaran bareng terus ke mall itu juga, gimana?
Sella: Oke, Ri.
Tidur di rumah sakit tidak senyaman tidur di kamar sendiri. Apalagi Riani tidur di sofa sehingga beberapa bagian tubuhnya terutama punggung terasa pegal-pegal.
Pintu kamar terbuka dan Dwi terlihat masuk dengan membawa sebuah tas. Penampilannya acak-acakan, rambutnya dikuncir asal, matanya masih kotor dan ia juga masih mengenakan daster tipis.
"Loh, Mba Dwi, kok udah ke sini pagi-pagi banget?" tanya Riani heran.
Pandangan matanya mengikuti arah Dwi yang melihat ke ranjang pasien dan di sana Rita masih tertidur pulas.
"Ada Bapak di rumah, Non."
"Bapak? Maksudnya?"
Nafas Dwi tak beraturan. "Iya ... tadi aku denger suara bapak. Di--dia minta tolong. Dia manggil-manggil namaku," ucapnya saat masih tersengal-sengal.
Sementara Riani terkekeh lucu melihat perempuan yang sedang ketakutan itu. "Mana mungkin, Mba Dwi. Mana mungkin orang yang sudah dikubur bisa bangkit lagi, mana minta tolong pula."
"Serius, Non." Mba Dwi mengangkat tangannya dengan jari telunjuk dan jari tengah yang ditegakkan, sementara jari yang lain dibiarkan menekuk. "Aku nggak bohong, Non, demi Tuhan."
"Nggak perlu bawa-bawa Tuhan, Mba Dwi. Udahlah, nggak usah dipikirin." Riani masih sedikit terkekeh. "Kalau Mba Dwi udah kesini sepagi ini brarti belum sempat rapihin rumah dong?"
Dwi menggeleng. "Belum, Non. Aku takut, makannya langsung ke sini."
"Nanti dimarahin Ibu loh."
"Ah, aku nggak perduli, Non, yang penting aku udah nggak sendiri, aku udah sama Nona Riani dan Nyonya Rita di sini. Nanti ke rumahnya juga bareng-bareng ya, Non. Aku nggak mau deh kalau harus di rumah sendirian, takut."
Riani terkekeh. "Iyadeh."
Pukul sebelas lebih seperempat, mobil taksi berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar kayu berwarna coklat.
Riani keluar terlebih dahulu dan disusul dengan Dwi. Mereka dibantu oleh supir taksi untuk mengangkat barang bawaan mereka ke dalam rumah.
"Akhirnya ... aku sampai juga di rumahku lagi." Rita tersenyum, ia nampak begitu bahagia.
"Iya, tapi kali ini pasti berbeda." Kedua mata Riani berkaca-kaca. "Soalnya ayah udah nggak ada."
Rita merengkuh tubuh anak perempuan semata wayangnya. "Kamu harus sabar, Ni, kamu harus ikhlas biar ayah di sana juga tenang."
Di dalam dekapan sang ibu, Riani hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Riani, Tante Rita, kalian udah sampai?"
Pelukan itu terlepas, keduanya menoleh ke arah sumber suara.
"Sella," panggil Rita yang lantas memeluk perempuan itu juga. "Bagaimana kabarmu, Nak? Sudah lama ya kita nggak bertemu, sudah lama juga kita nggak saling kirim makanan, biasanya hampir setiap hari."
Sella terkekeh. "Hehehe, iya, Tante. Aku baik, kok. Tante Rita gimana keadaannya?"
"Tante sudah sembuh, Sel."
"Ny--nyo--nyonya ...."
Ketiganya menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Dwi yang sedang berdiri di depan pintu rumah dengan dahu yang mengerut dan kepala yang menunduk.
"Kamu kenapa masih di situ, Dwi? Cepat buka masuk."
"Ta--tapi, Nyonya--"
"Mba Dwi nggak berani masuk rumah sendirian, Bu, katanya dia denger suara ayah minta tolong."
"Kamu ini apa-apaan, Dwi? Suamiku pasti sudah tenang, dia nggak mungkin menghantui orang seperti itu!"
"Tapi saya nggak bohong, Nya." Dwi menunduk, ia memang sangat ketakutan.
"Aih, ayo kita masuk sama-sama."
"Dimana denger suara ayah, Mba?" tanya Riani, ia berjalan mengikuti asisten rumah tangganya.
"Di kamar mandi, Non."
Riani berjalan menuju kamar mandi, saat membuka pintu ia merasakan ada angin yang berhembus menerpa wajahnya. "Mana? Nggak ada apa-apa di sini, Mba. Padahal aku ngarep ada ayah, aku mau bilang aku kangen."
"Jangan gitu, Non, nanti Nona Riani didatangi bapak beneran gimana?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Diana Dwiari
Tumbal pesugihan, kasihan jiwanya ga tenang
2023-09-09
1