Dia Datang

Di rumah Rita.

"Sial! Dia datang lagi! Dukun itu sudah membohongi aku dan suamiku!"

Otot-otot di leher perempuan itu jelas terlihat, nafasnya terengah-engah dan kedua matanya terbelalak. Ia melihat ke arah sudut kamar dengan dua sosok perempuan yang berdiri di sana memperhatikan dirinya.

Kali ini sosok itu tak memperlihatkan wujudnya yang buruk rupa. Dua sosok yang berdiri depan belakang itu terlihat cantik dengan kebaya merah dan rambut disanggul. Rangkaian bunga melati menjuntai dari arah belakang rambutnya, mereka terlihat seperti seorang pengantin kembar.

"Bulan ini seharunya kamu memberikanku tumbal! Aku ingin manusia! Jika tidak kamu ... atau anakmu harus menjadi pembantuku!"

Suara sosok itu menggema dalam pendengaran Rita, ia masih terbaring di atas ranjang dengan tenaga yang terasa habis tak tersisa.

Meskipun bibir sosok itu terlihat tak bergerak sedikitpun, namun suaranya terus menerus menggema dalam indra pendengaran Rita.

"Makan ma--" Dwi yang baru masuk ke dalam kamar menghentikan langkah kakinya.

Sebuah pemandangan yang menyeramkan ada di hadapannya saat ini. Majikannya terbaring di atas ranjang dengan kedua mata yang terbuka lebar hampir keluar dari sarangnya.

"Nyo--nyonya apa yang terjadi? Nyonya kenapa begini?"

Nampan kecil berisi makan malam itu ia letakkan di atas salah satu nakas, sementara dirinya berhambur mendekat ke arah majikannya.

Dwi menepuk-nepuk pipi Rita, namun tak kunjung bisa menyadarkan perempuan itu.

"Nyonya, kenapa bisa begini?" Ia khawatir.

Tak hanya itu, Dwi juga takut. Riani sedang ada di rumah temannya dan ia berada di rumah ini berdua saja dengan Rita.

Tak kunjung mendapatkan apa yang ia harapkan, Dwi berlari keluar dari kamar utama. Ia menuju ke kamarnya dan mulai menelepon Riani.

"Maaf, nomor yang Anda tuju--"

Dwi memutuskan sambungan telepon itu karena nomor Riani tak bisa dihubungi. Lima kali mencoba, ia terus mendapatkan hal yang sama.

"Dih, Nona Riani juga susah banget dihubungi."

Jantung Dwi berdegup kencang, ia ketakutan. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Dwi mencari-cari nomor kontak yang sepertinya bisa ia hubungi sekarang untuk membantu majikannya.

"Pak Abdul ... ya, Pak Abdul mungkin bisa membantuku."

Dwi segera melakukan panggilan telepon. Beberapa saat nada panggilan yang mencoba terhubung terdengar berulang kali.

"Aktif tapi kok nggak angkat-angkat sih?!" kesal Dwi, pada saat genting seperti ini, orang-orang yang dibutuhkan memang sangat sulit untuk dihubungi. Dwi melirik ke arah jam dinding. "Baru jam setengah delapan masa udah tidur?"

Belum merasa putus asa, Dwi kembali mencoba menghubungi Pak Abdul. Ia menanti panggilan suara itu terhubung dengan tidak sabar.

"Duh, aku ke sana aja deh. Semoga aja dia ada di rumah."

Dwi beranjak dari sisi ranjang tempat tidurnya. Ia melirik ke arah tangga menuju ke lantai dua tempat kamar majikannya berada. Dalam hatinya ia ingin pergi untuk melihat Rita sekali lagi, barangkali perempuan itu sudah tidak dalam posisi yang sama, namun ia segera mengurungkan niatnya.

Ia menghempaskan semua rasa dalam tubuhnya, bergidik ngeri. "Aku ke rumah Pak Abdul langsung aja deh, takut."

Sesampainya di depan rumah Pak Abdul, suara music terdengar cukup keras. Beberapa detik kemudian, terdengar suara laki-laki itu yang sedang berdenandung dengan asyiknya.

Suara Pak Abdul memang sangat nyaman didengar, bahkan semua warga yang ada di sekitar rumahnya juga mengakui hal itu. Meskipun Pak Abdul seringkali menyetel musik dengan volume keras dan bernyanyi, namun hampir tak ada satupun warna yang protes, mereka justru merasa senang karena seperti sedang mendengarkan lagu-lagu dari radio.

"Pantes aja ditelepon nggak diangkat-angkat," kesal Dwi yang lantas menekan sebuah tombol di sisi kiri pintu.

Seiring dengan ditekannya tombol tersebut, suara bel terdengar menggema dalam rumah. Suara Pak Abdul tak lagi terdengar menyanyi, music dengan volume yang keras itu juga mati.

"Sebentar," ujar Pak Abdul dengan sedikit berteriak dari dalam rumahnya. Tidak lama kemudian, pintu terbuka. "Dwi? Ada apa?"

"E ... a--anu ... Pak Abdul bi--bisa bantu saya?" tanya Dwi ragu.

Sementara Pak Abdul mengernyitkan dahi. Tak biasanya Dwi meminta bantuan kepadanya. "Memangnya ada apa, Dwi?"

"I--itu--"

"Dwi," panggil seseorang yang membuat kalimat Dwi terhenti.

Baik Pak Abdul maupun Dwi, keduanya menoleh ke arah sumber suara hampir bersamaan. Mereka mendapati seorang perempuan berdiri dekat dengan pintu gerbang yang masih terbuka karena Dwi yang membukanya tadi.

"Nyo--nyonya?" tanya Dwi heran.

"Kamu sedang apa di sini?" tanya Rita, ia nampak biasa saja.

Pandangan mata Dwi beralih dari Rita ke arah Pak Abdul secara bergantian. Ia kebingungan.

"E--i--ini, Nyonya. Ma--mau minta gula sama Pak Abdul," ujar Dwi, beralasan meskipun sama sekali tak masuk akal.

"Emangnya gula di rumah kita habis?" Rita mengernyitkan dahi.

"Iya, Nyonya, sudah tidak ada stok lagi dan kemarin lupa beli." Dwi lantas beralih ke arah Pak Abdul. "Ada kan, Pak?"

Laki-laki itu juga kebingungan. Tanpa mengatakan apapun, ia hanya menganggukkan kepala dan masuk ke dalam rumahnya.

Beberapa saat berlalu, Pak Abdul keluar dengan membawa seplastik kecil berisi gula. "Ini, bawa aja." Plastik berukuran seperempat itu berpindah ke tangan Dwi.

"Aduh, banyak banget ini, Pak. Saya cuma butuh sekitar dua sendok makan aja." Dwi tidak enak hati.

"Udah nggak papa bawa aja, Dwi. Lagipula stok gula pasir saya masih banyak kok."

"Makasih banyak ya, Pak Abdul."

Gula pasir pemberian Pak Abdul dimasukkan ke dalam toples khusus. Beberapa saat, Dwi menoleh ke arah majikannya yang duduk di meja makan dan terlihat biasa saja.

Merasa penasaran, Dwi memutuskan bertanya. "Hm, Nyonya ta--tadi--"

"Kamu lihat?" tanya Rita memutus pertanyaan Dwi.

Anggukkan kepala Dwi bahkan tak bisa terlihat jika Rita tak memperhatikannya dengan seksama.

Dwi menundukkan kepala. "A--apa dia datang lagi?"

"Ya," jawab Rita, ia tersenyum. "Tapi sekarang sudah aku alihkan." Rita menatap ke arah Dwi dengan tatapan yang dalam. "Kamu bersedia membantuku, kan?"

Dengan amat sangat terpaksa, Dwi mengangguk. "Apa yang bisa saya bantu, Nyonya?"

"Pergi ke kost yang dihuni oleh Tia, aku dengar dari anak kost lain jika dia sedang sakit, biar dia jadi tumbal selanjutnya."

"Ke--kenapa tu--tumbalnya se--sekarang ma--manusia, Nya?" Dwi ketakutan.

"Entahlah, dia tidak mau kambing lagi." Rita beranjak dari tempat duduknya. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah bungkusan kecil. "Bawa ini dan letakkan di bawah kasurnya. Bawa juga sop sisa tadi siang, kamu hangatkan dulu dan pastikan dia memakannya."

Bungkusan itu berupa sebuah kain berbentuk kotak berukuran sekitar lima sentimeter persegi saja, tidak besar. Di dalamnya terdapat sebuah isi yang entah apa, Dwi juga tidak mengetahuinya.

Memegang benda tersebut membuat bulu kuduk Dwi berdiri, ia merasa takut. Namun jika tidak menjalankan perintah ini, ia juga takut akan menjadi korban tumbal selanjutnya.

Dwi mengangguk. "Ba--baik, Nyonya. Se--sekarang dimana Nyi Kembar berada? Apa mereka a--akan mengikutiku?"

Episodes
1 Pesugihan Nyi Kembar
2 Mimpi Buruk
3 Penipuan
4 Omongan Tetangga
5 Rindu Ayah
6 Fella
7 Fella (2)
8 Tersadar
9 Jatuh Sakit
10 Liburan Akhir Tahun
11 Pergi Ke Gunung
12 Pendaki Lain
13 Dia Datang
14 Bungkusan Kecil
15 Selesai
16 Tak Sadar
17 Pulang
18 Salah Sasaran
19 Terbangun
20 Sampai
21 Sama Saja
22 Smartphone Nindira
23 Dua Sosok Kembar
24 Janggal
25 Bilik Kosong
26 Kedatangan Fella
27 Siluet Hitam
28 Bukan Bayu
29 Pengakuan
30 Terlambat
31 Seseorang
32 Duduk Berdua
33 Korban Kecelakaan
34 Rumah Sakit
35 Penyelidikan
36 Hilang
37 Bayu dan Riani
38 Toko Dekat Persimpangan
39 Abu
40 Menjenguk Bayu
41 Aneh
42 Meminta Izin
43 Bertemu Calon Mertua
44 Kosong
45 Cincin Berinisial
46 Hati-hati
47 Sesuatu di Dalam Kolam
48 Alga
49 Beruntung
50 Ritual
51 Bantuan
52 Kabur
53 Rumah Bayu
54 Gila
55 Putus
56 Halusinasi
57 Dipecat
58 Rumah Pak Abdul
59 PENGUMUMAN
60 Teror
61 Ayah
62 PENGUMUMAN
63 Dia Lagi
64 Sosok Ibu
65 Rusuh
66 Berlanjut
67 Mengantar Makanan
68 Kehilangan
69 Balikan
70 Jawaban
71 Panggilan Sayang
72 Liburan
73 Konser Musik
74 Pening
75 Mimpi
76 Wajah Pucat
77 Tersinggung
78 Gulungan Kertas
79 Kedatangan Nenek
80 Kabur Tengah Malam
81 Mencari
82 Menginap
83 Malam Pertama
84 Tidak Asing
85 Ancaman
86 Usil
87 Menunggu
88 Pohon Besar
89 Rumah Tua
90 Pindah
91 Obrolan Serius
92 Kemungkinan
93 Pingsan
94 Pergi
95 Hamil
96 Pesan Singkat
97 Naik Pitam
98 Sang Penyelamat
99 Ada Apa
100 Membujuk
101 Berbicara dengan Ayah
102 Pocong Ayah
103 Jawaban Pak Abdul
104 Desa Sepi
105 Dia Tahu
106 Rumah Mbah Wir
107 Jatuh Sakit
108 Bukan Sakit Biasa
109 Teror
110 Kamar Mandi
111 Kerasukan
112 Tidak Ada Jalan Lain
113 Berpisah
114 TAMAT
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Pesugihan Nyi Kembar
2
Mimpi Buruk
3
Penipuan
4
Omongan Tetangga
5
Rindu Ayah
6
Fella
7
Fella (2)
8
Tersadar
9
Jatuh Sakit
10
Liburan Akhir Tahun
11
Pergi Ke Gunung
12
Pendaki Lain
13
Dia Datang
14
Bungkusan Kecil
15
Selesai
16
Tak Sadar
17
Pulang
18
Salah Sasaran
19
Terbangun
20
Sampai
21
Sama Saja
22
Smartphone Nindira
23
Dua Sosok Kembar
24
Janggal
25
Bilik Kosong
26
Kedatangan Fella
27
Siluet Hitam
28
Bukan Bayu
29
Pengakuan
30
Terlambat
31
Seseorang
32
Duduk Berdua
33
Korban Kecelakaan
34
Rumah Sakit
35
Penyelidikan
36
Hilang
37
Bayu dan Riani
38
Toko Dekat Persimpangan
39
Abu
40
Menjenguk Bayu
41
Aneh
42
Meminta Izin
43
Bertemu Calon Mertua
44
Kosong
45
Cincin Berinisial
46
Hati-hati
47
Sesuatu di Dalam Kolam
48
Alga
49
Beruntung
50
Ritual
51
Bantuan
52
Kabur
53
Rumah Bayu
54
Gila
55
Putus
56
Halusinasi
57
Dipecat
58
Rumah Pak Abdul
59
PENGUMUMAN
60
Teror
61
Ayah
62
PENGUMUMAN
63
Dia Lagi
64
Sosok Ibu
65
Rusuh
66
Berlanjut
67
Mengantar Makanan
68
Kehilangan
69
Balikan
70
Jawaban
71
Panggilan Sayang
72
Liburan
73
Konser Musik
74
Pening
75
Mimpi
76
Wajah Pucat
77
Tersinggung
78
Gulungan Kertas
79
Kedatangan Nenek
80
Kabur Tengah Malam
81
Mencari
82
Menginap
83
Malam Pertama
84
Tidak Asing
85
Ancaman
86
Usil
87
Menunggu
88
Pohon Besar
89
Rumah Tua
90
Pindah
91
Obrolan Serius
92
Kemungkinan
93
Pingsan
94
Pergi
95
Hamil
96
Pesan Singkat
97
Naik Pitam
98
Sang Penyelamat
99
Ada Apa
100
Membujuk
101
Berbicara dengan Ayah
102
Pocong Ayah
103
Jawaban Pak Abdul
104
Desa Sepi
105
Dia Tahu
106
Rumah Mbah Wir
107
Jatuh Sakit
108
Bukan Sakit Biasa
109
Teror
110
Kamar Mandi
111
Kerasukan
112
Tidak Ada Jalan Lain
113
Berpisah
114
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!