"Ada apa, Ri?" tanya Nindira, nada suaranya begitu khawatir.
"Mba Dwi pulang kampung dan ibuku sendirian, aku harus segera pulang karena kemarin aku lihat kondisinya sedang tidak baik," jelas Riani.
Ia teringat pada saat ia berpamitan pergi dengan alasan merayakan tahun baru di tempat kost Nindira. Dalam hatinya merasa bersalah, tidak seharusnya ia berbohong kepada ibunya.
"Tapi bagaimana kita bisa pulang?" Tri mengernyitkan dahi. "Udah sore kaya gini, udah nggak ada kendaraan buat ke kota terdekat pulang. Paling nggak kita harus nunggu besok biar bisa numpang angkutan umum."
"Apa nggak ada warga desa yang bisa dimintai jasanya?" Riani masih tetap berusaha.
"Coba aku tanya ke Difki." Tri beranjak, ia keluar dari ruangan dan terdengar percakapan yang tidak terlalu jelas di ruangan selanjutnya. Beberapa saat kemudian, Tri kembali.
"Gimana, Tri?" tanya Riani dengan segera.
Tri menggelengkan kepala. "Warga di sini nggak ada yang punya kendaraan, Ri, mereka biasanya mengandalkan angkutan umum yang datang setiap jam enam sampai jam sepuluh pagi."
Mendengar penjelasan tersebut, Riani terdiam. Perempuan itu menundukkan kepala. Ia semakin merasa bersalah.
Andai saja Dwi memberitahukan kepadanya lebih awal, mungkin Ia memilih untuk tidak ikut pergi ke gunung dan menjaga ibunya yang sedang tidak begitu sehat.
"Apa nggak bisa kamu minta Mba Dwi buat pergi besok, Ri?" tanya Nindira dengan suara yang lembut nan menenangkan jiwa.
Seketika tatapan Riani yang semula sendu kini menggerlap, ada setitik harapan di sana.
Ia mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Dwi. Berkali-kali dicoba, panggilan suara yang ia lakukan tak kunjung terhubung.
"Duh, sinyalnya ilang lagi," kesal Riani.
Hari semakin malam, Riani sedang berada di area depan basecamp sendirian. Ia memikirkan ibunya dalam keheningan. Hanya ada gemerisik daun-daun yang saling bersentuhan di terpa angin, suasana malam itu sunyi seakan sedang dalam sebuah tempat yang tak berpenghuni.
Riani menyipitkan mata kala ia melihat sesuatu di kejauhan sana. Jauh, hingga sesuatu itu terlihat kecil dalam penglihatannya.
"Itu orang apa kain, sih?" lirih Riani.
Merasa penasaran, di bawah sinar terang cahaya bulan Riani melangkahkan kedua kakinya perlahan.
Detik demi detik berlalu dan Riani semakin dekat dengan apa yang dilihatnya.
Seketika baru ia tersadar, apa yang dilihatnya adalah dua sosok yang sama yang dia lihat seperti saat di atas gunung tadi malam.
Detak jantung Riani seketika berdegup kencang, ia menoleh ke belakang dan mendapati basecamp dengan pintu yang terbuka dengan jarak yang sangat jauh darinya.
"Ira ... Tri ... Difki ...." Riani berusaha meneriaki nama teman-temannya berulang-ulang, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Riani berlari sekuat yang ia bisa, tapi semakin cepat berlari, basecamp yang dilihatnya itu justru semakin jauh dari pandangan.
Air mata mengalir dari kedua ujung mata, bibirnya terus bergerak meneriaki nama ketiga temannya namun tak ada sedikitpun kata yang keluar dari mulutnya.
Dalam keputusasaan, Riani menoleh. Ia mendapati dua sosok yang sama persis itu sudah berada tepat di belakangnya dengan mata merah kehitaman menatap tajam.
"JANGAN!"
Meskipun tak melihat ke arah kedua tangan, namun Riani merasakan ada yang menggenggam. Kedua sosok itu berbalik badan, berjalan perlahan dengan Riani yang dipaksa mengikutinya dari belakang.
"Nggak! Aku nggak mau!" teriak Riani tanpa suara, ia berusaha menahan tubuhnya agar kembali berbalik menuju ke basecamp.
Namun apa yang dilakukan oleh Riani hanya sia-sia. Tenaganya seperti habis tak tersisa, mulutnya tak bisa bersuara dan tanpa melangkah ia mendapati dirinya semakin dekat dengan hutan yang gelap.
Riani semakin menangis sejadinya, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Hingga akhirnya lampu-lampu dari rumah penduduk tak dapat menyinari tempatnya berada lagi, Riani melewati dua pohon besar yang berdiri sejajar seperti sebuah pintu masuk. Pandangan mata Riani seketika gelap, ia tak bisa melihat atau mendengar apapun. Sunyi, sepi dalam kesendirian yang menyeramkan.
"AAAAA!!!"
Riani berteriak kencang dan terbangun di tempat yang sama seperti sebelumnya. Kedua tangannya meremas rambut yang terasa sangat lepek. Kebingungan masih terus melanda tatkala ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sebuah petunjuk.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Nindira, Tri dan Difki masuk dengan gelisah.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Ri." Nindira memeluk tubuh Riani.
"Apa--apa yang sudah terjadi, Ra?"
Mendengar kalimat Nindira, Riani yakin jika apa yang dialaminya tadi bukanlah sebuah mimpi. Apalagi ia juga mengalaminya dengan sangat nyata.
"Kamu tadi mau ke hutan, Ri? Tadi kamu ditemuin sama salah satu warga di dekat perkebunannya. Kamu ngapain ke sana, Ri?! Kamu jangan bikin kita semua khawatir dong!" kesal Tri. "Udahmah kemarin kesurupan, terus sekarang sok mau pergi ke hutan. Kamu itu maunya apa sih, Ri? Mau diperhatiin?!"
"Tri!" tegas Nindira.
Riani menundukkan kepala, ia merasa bersalah. "Maaf."
"Udahlah kita tidur lagi aja, biar besok pas perjalanan pulang nggak ngantuk dan gampang capek!" kesal Tri.
"Tri, kamu apa-apaan sih?! Bukannya bersyukur Riani udah sadar." Nindira menimpali.
Tri menghembuskan nafas. "Selama perjalanan ini Riani yang paling ngerepotin tahu nggak?! Dikit-dikit ngeluh capek, dikit-dikit istirahat, karena dia juga kita gagal ke puncak!"
"Tri!" bentak Nindira.
Tri terdiam, namun matanya memerah dan berkaca-kaca. Sebelum air matanya tumpah, Tri sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan itu disusul oleh Difki.
"Biar aku yang tangani dia," jelas Difki lirih kepada Nindira.
Sementara itu, Nindira mendekati Riani. Tubuh gadis itu bergetar seiring dengan ia yang tengah menahan isak tangisnya.
"Maafin Tri ya, Ri," ujar Nindira, memeluk tubuh Riani.
Pada saat itu pula, tangis Riani pecah. Ia tak sanggup lagi menahannya lebih lama.
Beberapa menit berlalu, Riani masih terus menangis. Ia menyadari kesalahannya, ia menyadari semua masalah yang terjadi karena dirinya.
"Kalau aja aku nggak ikut, pasti kalian udah sampai puncak hari ini." Riani berkata di sela tangisannya.
"Sshhh ... jangan salahkan dirimu, Ri, ini bukan salahmu," ujar Nindira, mengusap punggung Riani.
Riani melepaskan diri dari pelukan Nindira. Air mata sudah membasahi sebagian besar wajahnya. "Bukan salahku giman, Ra? Jelas-jelas aku yang paling menyusahkan di perjalanan ini, benar kata Tri, aku yang paling banyak ngeluh, aku yang paling banyak minta istirahat, aku juga yang bikin kalian gagal sampai puncak!"
"Jangan hiraukan dia, Ri."
"Tapi--"
Nindira kembali memeluk Riani, dengan demikian Riani juga tak melanjutkan kalimatnya.
Tangis Riani kembali pecah, hatinya merasa kesakitan atas apa yang tadi diucapkan oleh Tri. Menurutnya, semua yang diucapkan oleh perempuan itu adalah sebuah kebenaran.
"Kamu ingat kan, Ri, dia sendiri yang bilang kalau tujuan utama saat pendakian itu bukan puncak, tapi pulang ke rumah dengan selamat."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments