Fella (2)

Penampilannya masih sama seperti saat pagi tadi. Rambutnya masih tertata rapih begitu juga dengan pakaiannya. Make up yang flawless juga masih terlihat pada wajahnya.

Dalam hati Riani memuji Fella yang bisa menjaga penampilannya tetap stabil dari pagi hingga sore hari. Hal tersebut tidak lain dikarenakan dirinya yang tidak bisa melakukan itu.

Penampilannya tidak segar seperti waktu pagi. Rambutnya sudah acak-acakan dengan make up yang juga mulai luntur. Kemeja putih dan celana hitamnya kusut dan ada sedikit bau keringat yang sesekali tercium oleh dirinya sendiri. Penampilannya sore hari ini sangat-sangat membuat Riani tidak percaya diri sebenarnya.

Bibir pucat itu tersenyum. Fella hanya tersenyum.

"Mau nongki dulu nggak di kafe dekat sini?"

Fella menggeleng. "Terima kasih," ucapnya lirih.

Riani tersenyum untuk menyembunyikan kekecewaannya. Padahal ia tidak ingin langsung pulang ke rumah, ia juga ingin mengetahui lebih dalam tentang Fella yang menurutnya sangat aneh.

"Kamu ... lagi sedih?" tanya Riani saat ia melihat ada raut kesedihan pada wajah Fella.

Sepertinya benar dugaan Riani. Usai mendapatkan pertanyaan demikian, Fella menundukkan kepala. Ia terlihat hendak menangis.

"Ma--maaf." Riani merasa tidak enak hati.

Fella menggelengkan kepala dengan perlahan. "Tidak perlu, ini memang salahku."

"Nggak, Fel, kamu nggak salah."

"Kamu nggak tahu, Ri. Aku kehilangan ibuku karena aku tidak berhasil menyelamatkannya." Fella menunda cerita. "Aku yang terlalu berambisi dalam bekerja membuatnya pergi dengan keadaan yang mengenaskan." Fella terisak, ia tak berhasil menahan air matanya lebih lama. "Ibuku meninggal saat rumahku juga habis terbakar. Aku yang baru pulang kerja lebih memilih pergi bersama teman-temanku ke tempat-tempat hits dan menikmati sore di sana. Aku melupakan ibuku, aku membiarkannya sendirian dan kesepian di rumah."

Riani mengusap bahu perempuan yang bergetar terisak itu. "Semua sudah terjadi, Fel, kamu harus ikhlas."

Tangis Fella semakin pecah. "Aku tahu, Ri. Tapi seandainya aku langsung pulang ke rumah setelah kerja, pasti aku bisa menyelamatkan ibuku. Dia sakit, dia nggak bisa kemana-mana, itulah kenapa saat rumah kebakaran ibuku hanya bisa pasrah tubuhnya dilahap jago merah."

Riani terdiam, kisah hidup Fella sangat menyedihkan.

"Kalau ibumu masih ada, tolong jaga dia dengan baik, Ri. Lakukan semua yang ia perintahkan sebelum kamu menyesal seperti aku sekarang ini."

Riani menganggukkan kepala. "Pasti, Fel, aku pasti akan menjaga dan menuruti semua perkataan ibuku. Terima kasih kamu sudah mengingatkanku."

"Kak ... sedang apa, Kak?"

Riani menoleh ke arah sumber suara, ia melihat seorang laki-laki membawa sapu dan alat pel. "Aku lagi bicara sama--" Riani kembali beralih ke arah Fella tadi berada, namun perempuan itu sudah tidak ada lagi di hadapannya. "Loh, dimana dia?"

"Dia siapa, Kak?" tanya laki-laki itu mendekat.

"Temanku," jawab Riani, ia masih berusaha mencari keberadaan Fella. "Mungkin dia udah pergi duluan." Riani tersenyum kaku. "Aku juga mau pulang kalau gitu."

Langkah Riani berjalan cepat keluar dari ruang karyawan yang hendak dibersihkan, meninggalkan laki-laki yang hendak membersihkan ruangan itu berdiri sendirian dalam kebingungan.

"Teman mana, sih? Perasaan tadi juga aku lihat dia ngomong sendirian nggak jelas."

***

"Kamu yakin, Ri, ada pegawai baru?"

"Yakin lah, Sel, orang aku juga kenalan sama dia kok, namanya Fella." Riani menyantap sosis bakar pedas yang sudah dibelinya. "Oh, aku ingat sesuatu." Ia meletakkan sosis bakar tersebut kembali ke plastik kemudian mengambil smarphone yang ada dalam saku kardigannya. Ia menunjukkan sebuah chattingan yang dikirimkan oleh Gendhis yang baru ia baca tadi siang.

Sella mendekatkan wajahnya ke arah ponsel tersebut, ia membaca pesan itu dengan seksama. Perlahan raut wajahnya berubah. Mulutnya sedikit terbuka dan begitu juga dengan kedua matanya yang terbuka lebih lebar daripada biasanya.

"Ja--jadi Gendhis hamil?!" Ia tidak menyangka. "Astaghfirullah, aku emang cuek sama anak-anak kost, Ri, tapi kalau mereka butuh bantuan aku pasti bantuin kok. Pantesan aja di atas spreinya banyak darah gitu, tapi nggak ditemukan janin di sekitar situ."

"Tapi dia nggak enak bilang sama kamunya, Sel." Riani kembali menyantap sosis bakar miliknya. "Kamar dia masih kosong, kan?"

Sella mengangguk. "Ayo beritahu ayahku."

Keduanya beranjak dari duduknya. Sella memanggil-manggil ayahnya seraya langkah kakinya masuk ke dalam rumah.

"Ayah, kita periksa kamar bekas Gendhis. Dia ngirim pesan ke Riani." Sella berkata usai ayahnya keluar dari kamar.

"Emangnya kenapa?" tanya Pak Abdul.

Riani menyalakan smartphone miliknya, ia mengarahkan layar tersebut mendekat ke Pak Abdul.

Laki-laki itu diam sejenak, dalam hatinya membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Gendhis dalam smartphone Riani.

"Astaghfirullah, sebaiknya lapor RT dan pihak polisi dulu biar mereka yang mengurusnya. Kalau hanya aku sendiri, aku nggak berani, takutnya nanti malah salah."

"Ya udah sekarang Ayah ke rumah Pak RT sama ke kantor polisi, biar aku sama Riani yang jaga di sini."

"Kalian berani?"

Sella melirik ke arah Riani. Sedangkan Riani menganggukkan kepalanya.

Meskipun sebenarnya ia tidak terlalu berani, namun jika berdua bersama Sella, rasa takutnya tidak akan terlalu kuat.

"Aku tingga sebentar ya, Nak." Pak Abdul beralih ke arah Riani. "Riani, kamu temani Sella dulu ya."

"Iya, Pak." Riani mengangguk.

Sesuai permintaan dari Gendhis, akhirnya janinnya dikuburkan dengan layak.

Dalam hati Riani merasa lega karena akhirnya ia bisa membantu Gendhis meskipun terlambat begitu lama.

"Semoga kamu bahagia di sana, Ndhis." Riani berkata lirih.

Riani berjalan keluar dari rumah Sella. Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam dan ia berjalan sembari melihat video dalam ponselnya.

Seketika aroma wangi melati tercium begitu semerbak. Riani menghentikan langkah kakinya.

"Kok kaya bau melati?" lirih Riani, ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan pohon tersebut, namun tidak ia temui. "Perasaan nggak ada melati di sekitar sini."

Pandangan mata Riani kembali melihat ke depan. Tidak jauh di depannya dalam jarak sekitar sepuluh meter seorang perempuan berdiri di ujung jalan dekat dengan tiang listrik.

Pandangan mata Riani bertemu dengan pandangan matanya. Ia mengenal siapa perempuan itu.

"Gendhis," panggil Riani lirih, ia tahu jika suara nya tidak akan bisa didengar oleh perempuan itu.

Namun justru perkiraannya salah. Gendhis terlihat menganggukkan kepala dan tersenyum. Perlahan-lahan sosoknya itu memudar dan menghilang.

Seketika itu Riani tersadar. Ia baru saja melihat sosok Gendhis untuk kedua kalinya.

Tubuhnya merinding, bulu romanya berdiri dan ia mengusap kedua lengannya untuk menghilangkan rasa takut itu.

Riani ingin kembali ke rumah yang sudah cukup dekat, hanya berjarak sekitar dua meter saja. Namun yang terjadi adalah kedua kakinya seakan terpaku ke tanah, ia tak dapat bergerak, ia tak dapat berteriak.

Terpopuler

Comments

Diana Dwiari

Diana Dwiari

Shock kaget takut.... Aduh...

2023-09-09

1

lihat semua
Episodes
1 Pesugihan Nyi Kembar
2 Mimpi Buruk
3 Penipuan
4 Omongan Tetangga
5 Rindu Ayah
6 Fella
7 Fella (2)
8 Tersadar
9 Jatuh Sakit
10 Liburan Akhir Tahun
11 Pergi Ke Gunung
12 Pendaki Lain
13 Dia Datang
14 Bungkusan Kecil
15 Selesai
16 Tak Sadar
17 Pulang
18 Salah Sasaran
19 Terbangun
20 Sampai
21 Sama Saja
22 Smartphone Nindira
23 Dua Sosok Kembar
24 Janggal
25 Bilik Kosong
26 Kedatangan Fella
27 Siluet Hitam
28 Bukan Bayu
29 Pengakuan
30 Terlambat
31 Seseorang
32 Duduk Berdua
33 Korban Kecelakaan
34 Rumah Sakit
35 Penyelidikan
36 Hilang
37 Bayu dan Riani
38 Toko Dekat Persimpangan
39 Abu
40 Menjenguk Bayu
41 Aneh
42 Meminta Izin
43 Bertemu Calon Mertua
44 Kosong
45 Cincin Berinisial
46 Hati-hati
47 Sesuatu di Dalam Kolam
48 Alga
49 Beruntung
50 Ritual
51 Bantuan
52 Kabur
53 Rumah Bayu
54 Gila
55 Putus
56 Halusinasi
57 Dipecat
58 Rumah Pak Abdul
59 PENGUMUMAN
60 Teror
61 Ayah
62 PENGUMUMAN
63 Dia Lagi
64 Sosok Ibu
65 Rusuh
66 Berlanjut
67 Mengantar Makanan
68 Kehilangan
69 Balikan
70 Jawaban
71 Panggilan Sayang
72 Liburan
73 Konser Musik
74 Pening
75 Mimpi
76 Wajah Pucat
77 Tersinggung
78 Gulungan Kertas
79 Kedatangan Nenek
80 Kabur Tengah Malam
81 Mencari
82 Menginap
83 Malam Pertama
84 Tidak Asing
85 Ancaman
86 Usil
87 Menunggu
88 Pohon Besar
89 Rumah Tua
90 Pindah
91 Obrolan Serius
92 Kemungkinan
93 Pingsan
94 Pergi
95 Hamil
96 Pesan Singkat
97 Naik Pitam
98 Sang Penyelamat
99 Ada Apa
100 Membujuk
101 Berbicara dengan Ayah
102 Pocong Ayah
103 Jawaban Pak Abdul
104 Desa Sepi
105 Dia Tahu
106 Rumah Mbah Wir
107 Jatuh Sakit
108 Bukan Sakit Biasa
109 Teror
110 Kamar Mandi
111 Kerasukan
112 Tidak Ada Jalan Lain
113 Berpisah
114 TAMAT
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Pesugihan Nyi Kembar
2
Mimpi Buruk
3
Penipuan
4
Omongan Tetangga
5
Rindu Ayah
6
Fella
7
Fella (2)
8
Tersadar
9
Jatuh Sakit
10
Liburan Akhir Tahun
11
Pergi Ke Gunung
12
Pendaki Lain
13
Dia Datang
14
Bungkusan Kecil
15
Selesai
16
Tak Sadar
17
Pulang
18
Salah Sasaran
19
Terbangun
20
Sampai
21
Sama Saja
22
Smartphone Nindira
23
Dua Sosok Kembar
24
Janggal
25
Bilik Kosong
26
Kedatangan Fella
27
Siluet Hitam
28
Bukan Bayu
29
Pengakuan
30
Terlambat
31
Seseorang
32
Duduk Berdua
33
Korban Kecelakaan
34
Rumah Sakit
35
Penyelidikan
36
Hilang
37
Bayu dan Riani
38
Toko Dekat Persimpangan
39
Abu
40
Menjenguk Bayu
41
Aneh
42
Meminta Izin
43
Bertemu Calon Mertua
44
Kosong
45
Cincin Berinisial
46
Hati-hati
47
Sesuatu di Dalam Kolam
48
Alga
49
Beruntung
50
Ritual
51
Bantuan
52
Kabur
53
Rumah Bayu
54
Gila
55
Putus
56
Halusinasi
57
Dipecat
58
Rumah Pak Abdul
59
PENGUMUMAN
60
Teror
61
Ayah
62
PENGUMUMAN
63
Dia Lagi
64
Sosok Ibu
65
Rusuh
66
Berlanjut
67
Mengantar Makanan
68
Kehilangan
69
Balikan
70
Jawaban
71
Panggilan Sayang
72
Liburan
73
Konser Musik
74
Pening
75
Mimpi
76
Wajah Pucat
77
Tersinggung
78
Gulungan Kertas
79
Kedatangan Nenek
80
Kabur Tengah Malam
81
Mencari
82
Menginap
83
Malam Pertama
84
Tidak Asing
85
Ancaman
86
Usil
87
Menunggu
88
Pohon Besar
89
Rumah Tua
90
Pindah
91
Obrolan Serius
92
Kemungkinan
93
Pingsan
94
Pergi
95
Hamil
96
Pesan Singkat
97
Naik Pitam
98
Sang Penyelamat
99
Ada Apa
100
Membujuk
101
Berbicara dengan Ayah
102
Pocong Ayah
103
Jawaban Pak Abdul
104
Desa Sepi
105
Dia Tahu
106
Rumah Mbah Wir
107
Jatuh Sakit
108
Bukan Sakit Biasa
109
Teror
110
Kamar Mandi
111
Kerasukan
112
Tidak Ada Jalan Lain
113
Berpisah
114
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!