Penampilannya masih sama seperti saat pagi tadi. Rambutnya masih tertata rapih begitu juga dengan pakaiannya. Make up yang flawless juga masih terlihat pada wajahnya.
Dalam hati Riani memuji Fella yang bisa menjaga penampilannya tetap stabil dari pagi hingga sore hari. Hal tersebut tidak lain dikarenakan dirinya yang tidak bisa melakukan itu.
Penampilannya tidak segar seperti waktu pagi. Rambutnya sudah acak-acakan dengan make up yang juga mulai luntur. Kemeja putih dan celana hitamnya kusut dan ada sedikit bau keringat yang sesekali tercium oleh dirinya sendiri. Penampilannya sore hari ini sangat-sangat membuat Riani tidak percaya diri sebenarnya.
Bibir pucat itu tersenyum. Fella hanya tersenyum.
"Mau nongki dulu nggak di kafe dekat sini?"
Fella menggeleng. "Terima kasih," ucapnya lirih.
Riani tersenyum untuk menyembunyikan kekecewaannya. Padahal ia tidak ingin langsung pulang ke rumah, ia juga ingin mengetahui lebih dalam tentang Fella yang menurutnya sangat aneh.
"Kamu ... lagi sedih?" tanya Riani saat ia melihat ada raut kesedihan pada wajah Fella.
Sepertinya benar dugaan Riani. Usai mendapatkan pertanyaan demikian, Fella menundukkan kepala. Ia terlihat hendak menangis.
"Ma--maaf." Riani merasa tidak enak hati.
Fella menggelengkan kepala dengan perlahan. "Tidak perlu, ini memang salahku."
"Nggak, Fel, kamu nggak salah."
"Kamu nggak tahu, Ri. Aku kehilangan ibuku karena aku tidak berhasil menyelamatkannya." Fella menunda cerita. "Aku yang terlalu berambisi dalam bekerja membuatnya pergi dengan keadaan yang mengenaskan." Fella terisak, ia tak berhasil menahan air matanya lebih lama. "Ibuku meninggal saat rumahku juga habis terbakar. Aku yang baru pulang kerja lebih memilih pergi bersama teman-temanku ke tempat-tempat hits dan menikmati sore di sana. Aku melupakan ibuku, aku membiarkannya sendirian dan kesepian di rumah."
Riani mengusap bahu perempuan yang bergetar terisak itu. "Semua sudah terjadi, Fel, kamu harus ikhlas."
Tangis Fella semakin pecah. "Aku tahu, Ri. Tapi seandainya aku langsung pulang ke rumah setelah kerja, pasti aku bisa menyelamatkan ibuku. Dia sakit, dia nggak bisa kemana-mana, itulah kenapa saat rumah kebakaran ibuku hanya bisa pasrah tubuhnya dilahap jago merah."
Riani terdiam, kisah hidup Fella sangat menyedihkan.
"Kalau ibumu masih ada, tolong jaga dia dengan baik, Ri. Lakukan semua yang ia perintahkan sebelum kamu menyesal seperti aku sekarang ini."
Riani menganggukkan kepala. "Pasti, Fel, aku pasti akan menjaga dan menuruti semua perkataan ibuku. Terima kasih kamu sudah mengingatkanku."
"Kak ... sedang apa, Kak?"
Riani menoleh ke arah sumber suara, ia melihat seorang laki-laki membawa sapu dan alat pel. "Aku lagi bicara sama--" Riani kembali beralih ke arah Fella tadi berada, namun perempuan itu sudah tidak ada lagi di hadapannya. "Loh, dimana dia?"
"Dia siapa, Kak?" tanya laki-laki itu mendekat.
"Temanku," jawab Riani, ia masih berusaha mencari keberadaan Fella. "Mungkin dia udah pergi duluan." Riani tersenyum kaku. "Aku juga mau pulang kalau gitu."
Langkah Riani berjalan cepat keluar dari ruang karyawan yang hendak dibersihkan, meninggalkan laki-laki yang hendak membersihkan ruangan itu berdiri sendirian dalam kebingungan.
"Teman mana, sih? Perasaan tadi juga aku lihat dia ngomong sendirian nggak jelas."
***
"Kamu yakin, Ri, ada pegawai baru?"
"Yakin lah, Sel, orang aku juga kenalan sama dia kok, namanya Fella." Riani menyantap sosis bakar pedas yang sudah dibelinya. "Oh, aku ingat sesuatu." Ia meletakkan sosis bakar tersebut kembali ke plastik kemudian mengambil smarphone yang ada dalam saku kardigannya. Ia menunjukkan sebuah chattingan yang dikirimkan oleh Gendhis yang baru ia baca tadi siang.
Sella mendekatkan wajahnya ke arah ponsel tersebut, ia membaca pesan itu dengan seksama. Perlahan raut wajahnya berubah. Mulutnya sedikit terbuka dan begitu juga dengan kedua matanya yang terbuka lebih lebar daripada biasanya.
"Ja--jadi Gendhis hamil?!" Ia tidak menyangka. "Astaghfirullah, aku emang cuek sama anak-anak kost, Ri, tapi kalau mereka butuh bantuan aku pasti bantuin kok. Pantesan aja di atas spreinya banyak darah gitu, tapi nggak ditemukan janin di sekitar situ."
"Tapi dia nggak enak bilang sama kamunya, Sel." Riani kembali menyantap sosis bakar miliknya. "Kamar dia masih kosong, kan?"
Sella mengangguk. "Ayo beritahu ayahku."
Keduanya beranjak dari duduknya. Sella memanggil-manggil ayahnya seraya langkah kakinya masuk ke dalam rumah.
"Ayah, kita periksa kamar bekas Gendhis. Dia ngirim pesan ke Riani." Sella berkata usai ayahnya keluar dari kamar.
"Emangnya kenapa?" tanya Pak Abdul.
Riani menyalakan smartphone miliknya, ia mengarahkan layar tersebut mendekat ke Pak Abdul.
Laki-laki itu diam sejenak, dalam hatinya membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Gendhis dalam smartphone Riani.
"Astaghfirullah, sebaiknya lapor RT dan pihak polisi dulu biar mereka yang mengurusnya. Kalau hanya aku sendiri, aku nggak berani, takutnya nanti malah salah."
"Ya udah sekarang Ayah ke rumah Pak RT sama ke kantor polisi, biar aku sama Riani yang jaga di sini."
"Kalian berani?"
Sella melirik ke arah Riani. Sedangkan Riani menganggukkan kepalanya.
Meskipun sebenarnya ia tidak terlalu berani, namun jika berdua bersama Sella, rasa takutnya tidak akan terlalu kuat.
"Aku tingga sebentar ya, Nak." Pak Abdul beralih ke arah Riani. "Riani, kamu temani Sella dulu ya."
"Iya, Pak." Riani mengangguk.
Sesuai permintaan dari Gendhis, akhirnya janinnya dikuburkan dengan layak.
Dalam hati Riani merasa lega karena akhirnya ia bisa membantu Gendhis meskipun terlambat begitu lama.
"Semoga kamu bahagia di sana, Ndhis." Riani berkata lirih.
Riani berjalan keluar dari rumah Sella. Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam dan ia berjalan sembari melihat video dalam ponselnya.
Seketika aroma wangi melati tercium begitu semerbak. Riani menghentikan langkah kakinya.
"Kok kaya bau melati?" lirih Riani, ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan pohon tersebut, namun tidak ia temui. "Perasaan nggak ada melati di sekitar sini."
Pandangan mata Riani kembali melihat ke depan. Tidak jauh di depannya dalam jarak sekitar sepuluh meter seorang perempuan berdiri di ujung jalan dekat dengan tiang listrik.
Pandangan mata Riani bertemu dengan pandangan matanya. Ia mengenal siapa perempuan itu.
"Gendhis," panggil Riani lirih, ia tahu jika suara nya tidak akan bisa didengar oleh perempuan itu.
Namun justru perkiraannya salah. Gendhis terlihat menganggukkan kepala dan tersenyum. Perlahan-lahan sosoknya itu memudar dan menghilang.
Seketika itu Riani tersadar. Ia baru saja melihat sosok Gendhis untuk kedua kalinya.
Tubuhnya merinding, bulu romanya berdiri dan ia mengusap kedua lengannya untuk menghilangkan rasa takut itu.
Riani ingin kembali ke rumah yang sudah cukup dekat, hanya berjarak sekitar dua meter saja. Namun yang terjadi adalah kedua kakinya seakan terpaku ke tanah, ia tak dapat bergerak, ia tak dapat berteriak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Diana Dwiari
Shock kaget takut.... Aduh...
2023-09-09
1