Jawaban yang diberikan oleh Difki sama sekali tidak masuk akal.
Riani menoleh ke arah sosok itu dan bahkan sekarang terlihat dalam pandangan matanya jika sosok itu tidak sendirian, melainkan ada satu sosok lain yang berdiri di belakangnya.
Keberadaan sosok baru itu memang tidak terlalu jelas, hanya saja Riani bisa melihat ada sesosok dengan tampilan yang serupa berdiri di belakang sosok yang pertama.
Riani mengernyitkan dahi. "Tidak mungkin itu pendaki lain, Difki."
Lagi-lagi Riani menoleh ke arah sosok itu berada. Kini rambut panjang yang berwarna hitam itu sudah tidak lagi menutupi separuh wajah. Riani bisa melihat dengan jelas wajahnya yang putih mulus, namun matanya berwarna merah dan tersirat ada amarah dalam tatapan itu.
Kedua sosok itu melihat ke arah Riani, sementara perempuan itu menepuk-nepuk bahu Difki.
"Kenapa, Ri? Kamu kenapa?"
Terlihat Riani dengan kedua mata yang terbuka lebih lebar dari biasanya. Ia terus menepuk-nepuk bahu Difki dengan mulut yang terbuka seakan hendak mengatakan sesuatu.
Difki melihat ke arah yang sama dengan Riani. Ia melihat ada dua orang pendaki dengan headlamp yang menerangi jalan yamh akan mereka lalui.
Tidak aneh dalam penglihatan Difki, namun berbeda dengan penglihatan Riani.
Kedua sosok itu tersenyum dengan bibir yang terbuka lebar hampir mencapai telinga. Bagian dalam mulutnya bewarna merah kehitaman dengan gigi-gigi yang tak terlalu jelas terlihat.
Bau busuk tercium seiring dengan sosok itu yang semakin melebarkan senyumannya dengan kedua mata yang masih tetap terbuka menatap tajam ke arah Riani berada.
"Dif ... Dif ...." Riani tak bisa mengatakan banyak kata.
Dalam hati ia memaksa mulut untuk berbicara, namun otaknya sedang dalam keadaan sangat ketakutan. Ia hanya bisa menggerakkan tangannya untuk memukul bahu Difki selagi ia belum bisa bersuara.
Kegagalan yang dialami oleh Riani sepertinya menjadi sebuah lelucon bagi dua sosok itu. Mereka tertawa dan bau busuk semakin tercium jelas saat perlahan-lahan ia mendekat ke arah Riani.
Melihat kedua sosok itu saja Riani sudah ketakutan, sekarang justru kedua sosok itu mendekat ke arahnya.
Sekuat tenaga Riani berteriak, namun suaranya tak keluar dari mulut. Ia hanya bisa berteriak dan memanggil-manggil nama Difki dalam hati.
Tiba dalam jarak sekitar dua setengah meter, sosok itu seketika merubah kecepatannya. Ia mendekat dengan cepat ke arah Riani hingga berajarak beberapa sentimeter saja dari permukaan wajahnya.
"AAAAA!!!"
Suara Riani kembali, ia bisa berteriak, ia merasa lega. Namun sosok itu tak kunjung menjauh dari hadapannya. Ia justru semakin mendekat dan wajah mulus itu berubah rusak. Warnanya kecoklatan dengan beberapa luka menganga di beberapa bagian. Salah satu matanya hampir terlepas dan sebuah tengkoran terlihat menghitam di sekitarnya. Kedua mata itu besar, tajam menatap mata Riani.
"Hahahaha."
Tubuh Riani ambruk ke tubuh Difki. Untung saja dengan cukup cekatan Difki menangkap tubuh perempuan yang tidak terlalu berat tersebut.
"Ira ... Tri ... tolong bantu aku!" Difki berteriak.
"Kenapa dia, mas?" tanya salah seorang dari kedua pendaki yang datang.
Kedua pendaki itu berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, mereka melihat ke arah Riani yang ambruk di atas pangkuan Difki.
"Kesurupan ini mah," timpal yang lain.
"Iya nih kayanya, gimana ya?" Difki kebingungan, melihat ke arah tenda, dua orang temannya tak kunjung keluar.
"Bawa ke tenda aja dulu," ujar salah satu pendaki itu lagi. "Biar kami bantu."
Keduanya melepaskan tas dan mulai membantu Difki mengangkat tubuh Riani. Perempuan itu masih saja tertawa-tawa dengan suara yang serak dan berat.
Sementara di dalam tenda, Tri terbangun terlebih dahulu saat mendengar suara keributan di luar. Ia mendengar suara langkah kaki yang cepat dan berhenti tepat di sebelahnya.
"Ra, Ira, kayanya terjadi sesuatu deh di depan." Tri menepuk-nepuk lengan Nindira.
Namun Nindira tertidur sangat pulas. Ia hanya bergerak untuk mengubah posisinya saja. Kedua matanya masih terpejam dan seakan ada lem yang merekatkan matanya agar tetap terpejam.
"Duh, susah banget sih dibangunin. Ra, Ira!" Merasa kesal, Tri memanggilnya dengan suara yang lebih keras.
Usaha Tri tidak sia-sia. Kedua mata Nindira terbuka lebar dan ia segera beranjak.
Dengan eskpresi yang sangat kebingungan, ia menoleh ke kanan dan ke kiri seakan sedang mencari sesuatu.
"Apa? Kenapa, Tri?"
"Kayanya ada sesuatu terjadi deh di depan, aku nggak berani keluar sendirian, Ra." Sayup-sayup terdengar suara orang melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. "Nah, tuh kan. Coba ayo kita cek."
Nindira mengusap kedua matanya yang masih berat karena mengantuk. Ia lantas menjadi orang pertama yang keluar dari tenda sebeluk Tri menyusulnya.
Keluar dari tenda, hal pertama yang dia lihat adalah keberadaan dua orang asing di tenda Difki. Terdapat juga Difki yang duduk di bagian dalam tenda dan suara lantunan ayat itu berasal dari dirinya. Sementara dua orang asing itu sibuk menekan-nekan jempol kaki Riani.
"A--ada apa ini?" Nindira mengernyitkan dahi.
"Dia kesurpan."
Keadaan malam semakin mencekam, suara hewan malam terdengar besahut-sahutan.
Bintang di atas langit yang sangat indah itu tak lagi menjadi perhatian utama karena mereka semua terfokus pada hal menyeramkam yang terjadi tepat di depan mereka.
"HAHAHAHA."
"HAHAHAHA."
"Bacaanmu itu salah, Bodoh!"
Riani menertawakan Difki yang terus mencoba untuk fokus.
"Jangan hiraukan dia, baca aja terus," kata salah satu pendaki.
Difki hanya menganggukkan kepala, ia terus melantunkan ayat-ayat Qur'an yang tersedia dalam ponselnya.
"Nyenyenyenye." Riani yang sedang kerasukan sosok itu meledek setiap ayat yang dibacakan Difki. "Akan kubawa dia, akan kubawa anak ini bersamaku. Selamanya. HAHAHA."
Suara serak dan berat itu semakin lama berubah menjadi melengking. Bahkan membuat telinga kelima orang lain merasa sakit.
Tubuh Riani terangkat, kedua matanya terbelalak melihat ke bagian atas tenda.
"Teruskan, teruskan bacaannya," kata salah satu pendaki.
Difki terus melantunkan ayat Al-Qur'ane meskipun dengan suara yang bergetar. Ia takut dan juga sedih.
Nindira dan Tri hanya bisa melihat Riani yang terlihat sedang mengalami rasa sakit yang hebat.
Kedua mata Riani masih terbelalak dengan tubuh yang sedikit terangkat. Bibirnya sedikit bergerak, mungkin ia ingin mengatakan sesuatu.
Tak terasa air mata menetes dari kedua sudut mata Tri, ia tak tega melihat Riani seperti orang yang hampir pergi dari dunia ini.
"Apa yang terjadi sama dia, Ra?" tanya Tri terisak. "Aku takut sosok itu benar-benar bisa membawa Riani ke alamnya."
Nindira hanya bisa diam, dalam hatinya ia juga merasakan kepiluan. Ia hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak tahu juga dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Raina.
"Akan kubawa anak ini, kubawa dia menjadi pembantuku, aku pastikan akan kubawa dia!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments