Rita terbatuk-batuk di dalam kamarnya. Ia merasa tenggorokannya sangat gatal seperti ada sesuatu di dalam sana.
"Minum dulu, Nyonya," ujar Dwi dengan segelas air putih hangat di tangannya.
Air putih dalam gelas itu tersisa setengah saat Rita mengembalikannya. Ia merasa lebih baik.
Sudah hampir dua bulan lebih ia tidak jatuh sakit, namun sekarang rasa sakit itu kembali lagi.
Pintu kamar terbuka dan terlihat Riani yang melangkah masuk ke dalam. "Bagaimana keadaan Ibu hari ini?"
Rita tersenyum. "Sudah lebih baik."
Riani mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang dekat dengan tempat Rita berbaring. Ia merasa lebih baik di siang hari meskipun setiap malam ia terus dirundung rasa takut.
"Jangan lupa diminum obatnya, Bu." Riani memijat salah satu kaki ibunya.
Sementara Rita mengangguk sembari sedikit tersenyum. "Sudah hampir jam setengah delapan, nanti kamu telat." Pandangab matanya melirik ke arah jam dinding.
Riani melihat ke arah yang sama, ia melihat ke arah jam dinding berwarna oren tua dengan jarum panjang yang menunjuk ke angka empat.
"Kalau gitu aku berangkat dulu ya, Bu." Riani beranjak dari duduknya. Ia beralih melihat ke arah Dwi yang masih berdiri dekat dengan ranjang. "Mba Dwi, tolong jaga ibuku."
Asisten rumah tangga itu melakukan sikap hormat. "Siap, Nona Riani."
Perilaku Dwi membuat Riani tersenyum. Riani meraih tangan ibunya, ia mencium punggung tangan itu lebih lama daripada biasanya.
"Aku berangkat dulu, Bu," ujar Riani untuk yang kedua kalinya.
Sementara Rita menganggukkan kepala dan tersenyum. "Hati-hati, Nak."
Sebenarnya Riani tidak tega untuk meninggalkan ibunya sendirian di rumah dalam keadaan lemah tak berdaya seperti itu. Beberapa kali juga Riani meminta ibunya untuk pergi ke rumah sakit, tapi Rita menolak dengan alasan dia hanya sakit meriang biasa.
Apalagi ia terus teringat dengan pesan yang diberikan oleh Fella saat ia bertemu dengannya hampir tiga bulan yang lalu. Ia tidak ingin bernasib sama seperti Fella yang menyesal karena tidak berhasil menjaga ibunya dengan baik.
Padahal keadaan Rita jauh dari kata meriang biasa. Ia hanya bisa tergolek lemah di atas ranjang dengan wajah pucat. Setiap malam, ia berteriak-teriak keras dan saat dilihat sedang terpejam, mengalami mimpi buruk.
Namun setiap kali Riani bertanya, Rita tidak pernah mau menjawab. Hal yang sama yang selalu Rita katakan adalah lupa. Ia lupa dengan mimpi buruknya, bagaimana mungkin?
Hari ini Riani bekerja tidak sepenuh hati. Gerakannya lemah, tak ada gairah.
"Ri, kamu kenapa sih? Dari tadi dilihatin kok kaya lemes gitu?"
"Eh, Di--Difki," ujar Riani, terkejut menyadari ada laki-laki itu tidak jauh darinya. "A--aku nggak papa kok." Riani tersenyum kaku.
"Nggak papa kok lemah, letih, lesu gitu, kamu sakit?"
Riani tersenyum, ia menggelengkan kepala.
"Jangan begitu loh nanti kalau bos lihat kamu bisa kena teguran." Difki memperingati. "Aku lanjut kerja dulu kalo gitu, Ri."
"Iya, makasih, Difki."
Laki-laki itu berlalu meninggalkan Riani yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Setengah jam lagi istirahat," lirih Riani yang kemudian melanjutkan pekerjaannya meskipun ia tidak sedang bersemangat.
Waktu terasa lebih lama berlalu. Menoleh ke arah jam dinding, waktu baru menunjukkan pukul dua belas kurang lima belas menit.
Riani menghembuskan nafasnya panjang. "Lima belas menit lagi." Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Hingga pada akhirnya setelah melalui hari yang terasa lebih lama, Riani melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas tepat.
Ia beranjak dari duduknya dan terlihat Tri yang sedang melangkah mendekat ke arahnya. "Tri, kamu berangkat siang hari ini?'
"Iya nih." Tri mengangguk. "Males banget, mana besok hari Minggu. Harusnya malam ini jalan sama pacarku."
Mendengar jawaban dari Tri, Riani terkekeh. "Sabar ya, Tri."
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu istirahat, Riani segera masuk ke dalam ruang karyawan. Di dalam sana sudah ada banyak karyawan yang menempati matras untuk tidur siang selama beberapa saat.
Sementara Riani memutuskan untuk mengambil smartphone-nya di dalam loker.
Riani: Bu, gimana kabarnya?
Ia merasa sangat khawatir kepada ibunya di rumah. Pesan singkat itu dikirimkan kepada Rita namun akun perpesanan Rita sedang tidak aktif. Terlihat di kiri atas tepat di bawah nama kontak ibunya terakhir aktif pada jam sepuluh pagi tadi.
Riani: Mba, ibu baik-baik aja kan?
Tak kunjung mendapatkan balasan karena akun perpesanan milik Rita juga masih tidak aktif, Riani memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Dwi.
Setengah jam telah berlalu dan semua karyawan yang tertidur satu persatu mulai bangun. Mereka ada yang memasak dan ada juga yang baru pulang dari food court dengan membawa makanan.
Riani mengambil kotak makan di dalam loker. Siang ini ia membawa nasi dengan telor ceplok buatan Dwi.
"Aku makan bareng kamu ya, Ri." Nindira datang membawa makanan yang dibungkus kertas nasi.
"Oh, boleh, boleh, silahkan, Ra," ujar Riani yang lantas sedikit mundur untuk memberikan tempat bagi Nindira.
"Thank you, Ri." Ia mulai melahap makan siangnya dengan sangat nikmat. "Oh ya, kamu ada rencana kemana gitu nggak malam tahun baru nanti?"
Riani menggeleng. "Belum ada, Ra. Biasanya sih sewa villa gitu atau pergi ke mana sama ayah dan ibu. Tapi sekarang ayah udah nggak ada. Aku juga belum bisa ngendarain mobil, motor juga nggak ada. Kamu tahu sendiri aku kalo berangkat selalu pake angkutan umum."
"Aku udah lama nih nggak pergi pas malam tahun baru. Tahun lalu gagal pergi sama mantanku karena hujan deras, setahun sebelumnya aku lagi ada tes jadi harus belajar, sekarang aku nggak tahu deh mau kemana, padahal aku pengin kemana gitu." Nindira tampak bersedih, ia masih terus melahap makan siangnya. "Kamu ada ide nggak kemana? Nanti aku yang jemput deh, masalah transport biar aku yang urus."
Sembari mengunyah makanan, Riani berpikir selama beberapa saat. "Kemana ya enaknya?"
"Ira, Riani, kalian ada rencana kemana gitu nggak nanti pas malam tahun baru?"
"Nah, kita lagi bicarain itu tadi, Dif," timpal Nindira. "Enaknya kita kemana ya?"
"Hem ... bentar aku mikir dulu." Difki menopang dagu.
Sementara Riani masih terus menyantap makan siangnya, ia membiarkan kedua orang itu untuk berpikir.
Bagi Riani sekarang, ia tidak perduli apakah nanti akan pergi kemana dengan siapa. Rasa kehilangan ayahnya masih membekas, ia bahkan masih tidak menyangka jika ayahnya sudah tidak ada dalam beberapa waktu semenjak kepergian ayahnya.
"Tadi Bagas ngajakin aku sih, tapi tahu sendiri kan dia mah omongannya susah dipegang."
"Emang dia ngajakin kamu kemana, Dif?" tanya Nindira dengan segera. "Tapi banyak kok rencana dia yang nggak gagal, waktu Juli kemarin dia rencanain ke pantai juga kita jadi pergi kan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments