Secangkir teh hangat berada di tangan, ia berjalan perlahan menuju ke sofa dengan tv yang menyala tepat di depannya.
Malam ini rasanya sunyi, hening dan sangat sepi. Tak ada suara apapun yang terdengar, seram.
"Untung saja malam ini ada acara kesukaanku," lirih Rita sembari meletakkan secangkir teh di atas meja.
Ia mengambil remote tv lantas menekan tombol yang ada dalam remot tersebut. Ia menambah volume televisi sehingga keadaan rumahnya tidak terlalu sepi.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Rita tertawa geli melihat tingkah laku seorang laki-laki dalam sebuah acara lawak. Wajahnya putih karena bedak bayi dan ia bertingkah layaknya anak kecil.
Tiba-tiba saja tawa Rita terhenti tatkala ia mendengar suara benda jatuh dari arah dapur. Rita menoleh, suara tawa masih terus terdengar di latar belakang.
"Apa jangan-jangan ada kucing masuk ya?" Rita mencoba untuk berpikiran positif.
Ia beranjak dari sofa dan perlahan melangkahkan kedua kaki ke dapur. Tangannya masih menggenggam remote dengan erat.
"Miaw!"
Suara kucing berhasil mengagetkannya.
Namun beberapa detik selanjutnya, Rita menghela nafas lega. Tebakannya benar, hanya kucing yang menciptakan suara jatuh itu dan memang seringkali ada kucing masuk lewat ventilasi udara yang ada di dapur.
"Hush ... hush!"
Kucing berwarna hitam dengan sedikit bercak putih itu melangkah cepat ke menjauhi Rita. Pintu rumah dibuka dan kucing tersebut berhasil keluar.
Rita kembali masuk ke dalam rumah, ia tak lagi merasa takut seperti sebelumnya, apalagi ia juga sudah merasa lega karena berhasil mengirim bungkusan itu kepada Tia.
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya.
Dwi: Aku sudah ada di bus, Nyonya, sebentar lagi bus akan berangkat.
Rita: Hati-hati, Dwi. Kamu tidak sendirian kan?"
Dwi: [mengirimkan foto] Aku sama temenku yang kerja di perumahan sebelah, Nyonya.
Rita tersenyum melihat foto yang dikirimkan oleh Dwi. Ia turut merasa senang kareha sekian lama tidak pulang, Dwi akhirnya bisa bertemu dengan keluarga. Meskipun ia juga merasa sedih karena sekarang harus sendirian di rumah dan besok harus mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa dilakukan oleh Dwi.
Pesan terakhir yang dikirimkan oleh Dwi tidak dibalas oleh Rita. Pandangan matanya kembali melihat ke arah televisi untuk lanjut menonton acara kesukaannya.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam saat Rita terbangun dari tidur yang tidak disengaja. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, suara televisi masih terus terdengar di latar belakang.
Sebuah iklan yang sangat asing sedang diputar, Rita menoleh ke arah jam dinding.
"Ya ampun aku ketiduran, udah jam setengah dua belas lagi," ujar Rita, ia membersihkan matanya.
Teh yang sudah dingin tak dihabiskan, bahkan cangkirnya dibiarkan di atas meja. Televisi dimatikan dan seketika suasana rumah berubah menjadi sangat hening.
Rita terdiam sejenak, merasakan sesuatu asing yang terjadi saat ini.
'Wajar aja kalau sepi, kan ini udah malam,' pikir Rita yang berusaha tidak perduli dengan suasana yang seketika berubah.
Meskipun bulu kuduknya berdiri, namun Rita tetap berusaha untuk menghiraukannya.
Ia berjalan menuju kamar, membuka pintu dan mendapati ruangan yang masih gelap gulita.
Tepat di sebelah jendela, ia melihat ada sesuatu yang berdiri di sana. Tidak jelas, hanya sebatas siluet hitam berbentuk tubuh seorang laki-laki.
Ia merasa penasaran, tapi juga takut. Semilir angin yang ia rasakan semakin membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Siapa kamu?!" Rita memberanikan diri, namun hanya keheningan yang ia dapatkan.
Perlahan perempuan itu melangkah masuk ke dalam kamar, ia mendekat ke bagian belakang pintu dengan tangan yang meraba-raba tembok untuk menemukan saklar.
Lampu menyala terang menyilaukan pandangan. Tak ada apapun di sebelah jendela. Masih merasa penasaran, Rita mematikan kembali lampu kamarnya dan bayangan itu kembali terlihat.
Tiba-tiba saja sebuah angin kencang mengakibatkan pintu kamar tertutup keras. Rita tersentak.
Pandangan matanya beralih ke arah pintu kamar yang sudah tertutup. Kembali ke arah siluet hitam itu, bayangan tersebut masih tetap terlihat di sana, dalam kegelapan.
Rita menyalakan lampu, bayangan itu menghilang. Ia mematikan lampu, bayangan itu kembali datang.
"Apa mungkin ini efek cahaya?" tanya Rita lirih, entah kenapa pikirannya selalu berpikir logis sejak tadi.
Ia menyalakan dan mematikan lampu dalam tempo yang cepat hingga akhirnya ia melihat bayangan itu masih tetap ada meskipun lampu menyala. Bayangan itu merupakan seorang laki-laki yang berdiri membelakangi dirinya dengan pakaian serba hitam. Namun Rita hanya melihat bayangan itu beberapa detik saja karena tangannya kembali mematikan lampu.
"Sial!" Rita kembali menyalakan lampu, namun sosok itu tidak ada.
Rasa penasaran yang kian memuncak membuat Rita kembali menyalakan dan mematikan lampu. Ia menanti saat-saat bayangan itu bisa terlihat dalam keadaan lampu menyala dan ia akan berusaha agar tangannya tidak terlalu cepat mematikan lampu tersebut.
Baru beberapakali, Rita melihat bayangan itu kian mendekat hingga akhirnya tepat saat ia menekan saklar agar lampu menyala bayangan itu berada tepat di depan wajahnya.
Keadaan kamar yang terang dengan lampu yang menyala membuat Rita bisa melihat dengan jelas apa yang ada tepat di hadapannya. Seorang laki-laki berpakaian hitam mirip suaminya, namun wajahnya rusak parah dengan salah satu mata yang seakan hendak keluar dari sarangnya.
Melihat hal tersebut kedua lutut Rita terasa lemas, air mata mengalir dari kedua sudut matanya tanpa ia sadari, tubuhnya terasa kaku tak bisa digerakkan dan bibirnya juga kelu tak bisa menyuarakan satu patah katapun.
"HARUSNYA KAMU YANG SEPERTI INI!"
Rita tidak lagi ingat dengan apa yang selanjutnya terjadi. Ia membuka mata karena mendengar suara seseorang yang sedang menyantap sesuatu dengan berisik.
Sembari beranjak, Rita mencari-cari sumber suara. Rupanya suara itu berasal tidak jauh dari tempatnya tergeletak. Terlihat dua orang perempuan sedang membelakangi dirinya.
Setelah diamati beberapa saat, kedua perempuan itu menoleh. Matanya menatap tajam ke arah Rita dengan pupil yanh sangat kecil, mulutnya belepotan dengan sesuatu yang kenyal berwarna merah. Melihat ke bagian depan sosok itu, Rita melihat sosok berbaju hitam yang tadi membuatnya pingsan.
"SETELAH IN GILIRAN KAU!"
Rita menggelengkan kepala. "Ti--tidak ... tidak!!!"
Dengan lutut yang terasa sangat lemas, Rita berjalan mendekat ke arah pintu kamar yang tertutup. Ia berusaha sekuat mungkin untuk membukanya, namun seperti ada yang menahan pintu itu dari arah berlawanan.
"Kenapa nggak bisa dibuka sih?! Padahal nggak aku kunci," ujar Rita.
Peluh membanjiri pelipisnya, nafasnya tersengal-sengal seiring dengan jantung yang berdetak cepat tak beraturan.
Sementara di bagian belakang, sosok itu menertawai Rita yang sedang kesulitan.
"HAHAHAHAHA ... HAHAHAHAHA."
Rita menoleh, sosok itu sudah berada tepat di belakangnya. Bau busuk yang menyengat seketika tercium membuat Rita beberapakali ingin muntah.
Tidak tahan dengan bau tersebut, Rita terus berusaha membuka pintu kamar hingga akhirnya terbuka.
"HEY, MAU KEMANA KAMU?!"
"KEMANAPUN KAMU PERGI, KAMU TAK AKAN BISA LARI DARIKU, HAHAHAHA!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments