Fella

Beberapa saat hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Perempuan dengan blouse berwarna biru tua yang dipadukan dengan celana hitam itu hanya tersenyum melihat ke arah Riani.

Sementara Riani tersenyum canggung. Ia merasa risih dengan tatapan wanita itu.

"Fella," katanya lirih.

"Si--siapa?" tanya Riani, memintanya untuk mengulang ucapannya.

"Fel--la." Ia berkata dengan lebih lambat, meskipun suara tetap lirih.

"Fella?" Riani mengulang. "Namamu Fella?"

Perempuan bernama Fella itu mengangguk tipis, ia tersenyum.

Begitu juga dengan Riani, meskipun ia merasa ada yang aneh dengan teman kerjanya itu. "Ayo keluar, kita kerja hari pertama harus semangat, Fel!"

Riani terkekeh berusaha mencairkan suasanya. Ia berlalu meninggalkan Fella yang mungkin sebentar lagi akan mengikutinya.

Hari ini pekerjaan cukup banyak karena ada barang datang. Riani bersama dengan pegawai yang lain bersama-sama merapikan barang-barang tersebut, menyematkan harga, dan menyimpannya di bagian stok.

Riani melihat ke arah jam dinding. "Lima menit lagi istirahat." Ia tersenyum.

Ruang karyawan tidak memiliki pencahayaan yang baik, hanya ada satu lampu di dalam ruangan berukuran sekitar enam meter persegi. Sinar matahari juga tidak masuk ke dalam ruangan ini.

Riani mendudukkan tubuhnya di salah satu matras. Ia mengambil smartphone dan ada sebuah pesan yang ia dapatkan.

Sella: Gimana kerajaanmu, Ri?

Pesan singkat itu berhasil membuat Riani tersenyum. Teman kecilnya sampai sekarang masih saja baik dan tak pernah sedikitpun berubah.

"Seru, aku berkenalan dengan karyawan lama yang. Mereka Difki, Tri, dan Nindira. Sedangkan karyawan barunya bernama Fella." Riani berbicara lirih, ia mengirimkan pesan suara.

Sella: Karyawan baru?

Riani: Iya, aku tadi berkenalan dengannya tapi aku nggak tahu dia dimana sekarang. Sudah ya, aku mau istirahat dulu, tadi lumayan capek.

Beralih dari smartphone yang ada dalam genggaman tangannya, Riani melihat ke sekeliling.

Karyawan yang lain tertidur, entah pulas atau hanya memejamkan mata saja.

Riani memutuskan untuk ikut tidur, ia juga merasa lelah dengan pekerjaan sedari tadi pagi yang datang tak ada habisnya.

Tidak seperti karyawan lain yang bahkan bisa tertidur pulas hingga terdengar mengorok, Riani tak pernah bisa tidur.

Ia memutuskan untuk kembali terjaga, mengecek smartphone miliknya.

Sella sudah tidak lagi menjawab pesan darinya, namun terlihat ada dua pesan yang belum ia baca.

Menggulir ke bawah, Riani menemukan sebuah grup alumni dengan satu pesan di sana. Pesan singkat itu berisi tautan tentang sebuah kelas online dan Riani menghiraukannya begitu saja.

Layar kembali digulir ke bawah dan ia menemukan sebuah pesan dari Gendhis. Beberapa waktu lalu ia memang pernah mendapat pesan dari Gendhis yang menanyakan apakah masih ada kamar kost yang kosong atau tidak.

Gendhis: Riani, aku Gendhis. Kamu masih save nomor aku kan? Aku boleh minta tolong sama kamu nggak?

Pesan tersebut dikirim pada tanggal lima Oktober. Dan ada dua pesan lagi yang dikirim pada tanggal sembilan sore hari.

Gendhis: Riani, maaf, tapi aku nggak tahu harus ngomong ke siapa. Aku takut mau ngomong ke Pak Abdul, aku juga nggak pernah ada kesempatan untuk bicara dengan Sella, dia terlihat cuek ke anak kost. Di sini aku hanya kenal kamu, Ri, maaf tapi aku ingin minta tolong sama kamu. Aku hamil, Ri, empat bulan sama pacar aku dan dia nggak mau tanggung jawab. Aku nggak tahu harus gimana sekarang, Ri.

Pesan selanjutnya dikirim setelah tiga puluh menit kemudian.

Gendhis: Aku minum obat tadi dan janinku keluar, rasanya sakit banget, Ri. Pas aku lihat segumpal darah itu aku langsung nyesel, Ri. Aku nggak tahu harus gimana lagi. Kalau nanti aku melakukan hal yang gila, tolong buka keramik di dekat lemari ya, aku mengubur janinku di situ. Tolong kuburkan dia dengan layak, dia anakku. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya. Tolong buka pesan aku, Ri, aku nggak punya siapa-siapa lagi di sini selain kamu. Maaf aku merepotkanmu, Ri, tapi tolong bukan pesan dariku ini. Aku membutuhkanmu."

Tubuh Riani bergetar, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia bahkan tak merasakan ada kekuatan di tangannya yang bisa membuat smartphone itu terus ada dalam genggamannya.

"Ge--Gendhis, ja--jadi maksud kamu i--ini?"

Seketika pikirannya menerawang ke beberapa hari yang lalu saat Gendhis mendatanginya lewat mimpi dan terus berkata buka.

Riani terdiam sejenak.

"Apa semua ini salahku? Apa aku yang menyebabkan dia memutuskan mengakhiri hidupnya?" lirih Riani, pandangan matanya menatap kosong ke depan.

"Ri, kamu kenapa?"

Riani menoleh, ia mendapati Nindira yang sudah duduk di atas matras yang tadi menjadi tempat tidurnya.

"Ira, kamu udah bangun?"

"Iya, aku mau makan, Ri." Ia beranjak dan mendekat ke arah meja panjang dengan kompor dan alat masak lagi di atasnya. "Jangan ngelamun, Ri, usahakan pikiranmu jangan sampai kosong dimanapun kamu berada."

Riani mengangguk, ia mengaku bersalah. "Iya, maaf."

Waktu menunjukkan pukul satu siang, artinya jam istirahat sudah berakhir dan harus kembali bekerja.

"Duh, aku belum bilang ke Sella lagi masalah Almarhumah Gendhis tadi." Ia hendak mengambil smartphone yang disimpan kembali di dalam tas.

"Ri, ayo buruan, nanti telat masuk loh."

"Em, ta--tapi ...." Riani memperhatikan lokernya yang masih terkunci. Namun ia harus meninggalkan loker tersebut karena harus kembali bekerja saat itu juga.

Sepanjang sisa waktu bekerja hari ini, Riani tidak fokus. Ia terus terpikirkan oleh Gendhis, sekarang dia menghantui pikiran Riani.

"Kenapa?"

Sebuah suara mengejutkan Riani.

"Eh, Fel. Nggak kok, nggak papa. Dari tadi kamu kemana aja, kok aku nggak lihat kamu?"

Fella tersenyum, hanya tersenyum.

Sebuah lagu terdengar di bagian belakang, lirih.

"Aku mau balik kerja lagi."

"Tapi--"

Belum sempat Riani menyelesaikan kalimatnya, Fella sudah berjalan pergi. Ia menuju ke arah toilet karyawan dan kemudian menghilang di sana.

"Kerja kenapa ke toilet?" lirih Riani bingung.

"Ri, kamu ngomong sama siapa?"

"Sama Fella," jawab Riani sembari menunjuk ke arah toilet.

"Fella? Setahuku di sini nggak ada deh yang namanya Fella."

"Ada kok, tadi pagi aku baru kenalan. Dia karyawan baru, sama kaya aku."

Nindira menganggukkan kepala. "Oh." Ia bergumam. "Tapi aku nggak lihat dia tadi pas istirahat."

"Aku juga. Nggak tahu, deh, mungkin dia keluar."

"Bisa jadi. Tapi emangnya ada dua karyawan yang diterima ya? Bukannya cuma satu dan itu kamu?"

Riani terkekeh. "Masa cuma aku doang sih yang keterima dari sekian banyak orang yang daftar."

"Ih, beneran, Ri. Bos sebenarnya cuma nyari satu orang aja."

"Masa sih?"

Nindira mengangguk yakin. "Makannya tadi aku bingung kenapa kamu bilang dia karyawan baru."

"Tapi emang iya, kok, dia karyawan baru sama kaya aku." Riani menjadi heran. "Mungkin ada dua yang cocok sama kriteria bos kali, jadi ambil aku dan dia."

"Mungkin."

Riani berjalan sendirian menuju ruang karyawan. Tri dan Nindira sudah terlebih dahulu pergi, sementara Difki masih merapikan celana laki-laki yang belum selesai ia display.

"Fella!" teriak Riani, memanggil perempuan dengan blouse biru tua itu. "Fel, kamu sebenarnya kerja di bagian mana sih? Kamu karyawan baru juga kan kaya aku? Kok ada yang nggak kenal sama kamu, Fel? Kamu nggak suka kenalan sama orang baru ya?"

Terpopuler

Comments

Diana Dwiari

Diana Dwiari

Itu hantu fella, riani.

.

2023-09-09

1

lihat semua
Episodes
1 Pesugihan Nyi Kembar
2 Mimpi Buruk
3 Penipuan
4 Omongan Tetangga
5 Rindu Ayah
6 Fella
7 Fella (2)
8 Tersadar
9 Jatuh Sakit
10 Liburan Akhir Tahun
11 Pergi Ke Gunung
12 Pendaki Lain
13 Dia Datang
14 Bungkusan Kecil
15 Selesai
16 Tak Sadar
17 Pulang
18 Salah Sasaran
19 Terbangun
20 Sampai
21 Sama Saja
22 Smartphone Nindira
23 Dua Sosok Kembar
24 Janggal
25 Bilik Kosong
26 Kedatangan Fella
27 Siluet Hitam
28 Bukan Bayu
29 Pengakuan
30 Terlambat
31 Seseorang
32 Duduk Berdua
33 Korban Kecelakaan
34 Rumah Sakit
35 Penyelidikan
36 Hilang
37 Bayu dan Riani
38 Toko Dekat Persimpangan
39 Abu
40 Menjenguk Bayu
41 Aneh
42 Meminta Izin
43 Bertemu Calon Mertua
44 Kosong
45 Cincin Berinisial
46 Hati-hati
47 Sesuatu di Dalam Kolam
48 Alga
49 Beruntung
50 Ritual
51 Bantuan
52 Kabur
53 Rumah Bayu
54 Gila
55 Putus
56 Halusinasi
57 Dipecat
58 Rumah Pak Abdul
59 PENGUMUMAN
60 Teror
61 Ayah
62 PENGUMUMAN
63 Dia Lagi
64 Sosok Ibu
65 Rusuh
66 Berlanjut
67 Mengantar Makanan
68 Kehilangan
69 Balikan
70 Jawaban
71 Panggilan Sayang
72 Liburan
73 Konser Musik
74 Pening
75 Mimpi
76 Wajah Pucat
77 Tersinggung
78 Gulungan Kertas
79 Kedatangan Nenek
80 Kabur Tengah Malam
81 Mencari
82 Menginap
83 Malam Pertama
84 Tidak Asing
85 Ancaman
86 Usil
87 Menunggu
88 Pohon Besar
89 Rumah Tua
90 Pindah
91 Obrolan Serius
92 Kemungkinan
93 Pingsan
94 Pergi
95 Hamil
96 Pesan Singkat
97 Naik Pitam
98 Sang Penyelamat
99 Ada Apa
100 Membujuk
101 Berbicara dengan Ayah
102 Pocong Ayah
103 Jawaban Pak Abdul
104 Desa Sepi
105 Dia Tahu
106 Rumah Mbah Wir
107 Jatuh Sakit
108 Bukan Sakit Biasa
109 Teror
110 Kamar Mandi
111 Kerasukan
112 Tidak Ada Jalan Lain
113 Berpisah
114 TAMAT
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Pesugihan Nyi Kembar
2
Mimpi Buruk
3
Penipuan
4
Omongan Tetangga
5
Rindu Ayah
6
Fella
7
Fella (2)
8
Tersadar
9
Jatuh Sakit
10
Liburan Akhir Tahun
11
Pergi Ke Gunung
12
Pendaki Lain
13
Dia Datang
14
Bungkusan Kecil
15
Selesai
16
Tak Sadar
17
Pulang
18
Salah Sasaran
19
Terbangun
20
Sampai
21
Sama Saja
22
Smartphone Nindira
23
Dua Sosok Kembar
24
Janggal
25
Bilik Kosong
26
Kedatangan Fella
27
Siluet Hitam
28
Bukan Bayu
29
Pengakuan
30
Terlambat
31
Seseorang
32
Duduk Berdua
33
Korban Kecelakaan
34
Rumah Sakit
35
Penyelidikan
36
Hilang
37
Bayu dan Riani
38
Toko Dekat Persimpangan
39
Abu
40
Menjenguk Bayu
41
Aneh
42
Meminta Izin
43
Bertemu Calon Mertua
44
Kosong
45
Cincin Berinisial
46
Hati-hati
47
Sesuatu di Dalam Kolam
48
Alga
49
Beruntung
50
Ritual
51
Bantuan
52
Kabur
53
Rumah Bayu
54
Gila
55
Putus
56
Halusinasi
57
Dipecat
58
Rumah Pak Abdul
59
PENGUMUMAN
60
Teror
61
Ayah
62
PENGUMUMAN
63
Dia Lagi
64
Sosok Ibu
65
Rusuh
66
Berlanjut
67
Mengantar Makanan
68
Kehilangan
69
Balikan
70
Jawaban
71
Panggilan Sayang
72
Liburan
73
Konser Musik
74
Pening
75
Mimpi
76
Wajah Pucat
77
Tersinggung
78
Gulungan Kertas
79
Kedatangan Nenek
80
Kabur Tengah Malam
81
Mencari
82
Menginap
83
Malam Pertama
84
Tidak Asing
85
Ancaman
86
Usil
87
Menunggu
88
Pohon Besar
89
Rumah Tua
90
Pindah
91
Obrolan Serius
92
Kemungkinan
93
Pingsan
94
Pergi
95
Hamil
96
Pesan Singkat
97
Naik Pitam
98
Sang Penyelamat
99
Ada Apa
100
Membujuk
101
Berbicara dengan Ayah
102
Pocong Ayah
103
Jawaban Pak Abdul
104
Desa Sepi
105
Dia Tahu
106
Rumah Mbah Wir
107
Jatuh Sakit
108
Bukan Sakit Biasa
109
Teror
110
Kamar Mandi
111
Kerasukan
112
Tidak Ada Jalan Lain
113
Berpisah
114
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!