"Iya juga sih, dia ngajakin ke gunung."
"Wah, seru tuh! Udah lama juga aku nggak ke gunung," timpal Nindira.
"Gaya banget, emang kuat naik gunung?"
"Kamu jangan ngeremehin aku ya, Dif," suara Nindira meninggi. "Kecil-kecil begini, aku kuat naik gunung. Aku udah beberapa kali juga naik gunung. Nggak percaya?" Tanpa menunggu jawaban Difki, Nindira membuka smartphone miliknya, ia menunjukkan foto-foto saat ia berada di beberapa puncak gunung di Indonesia.
"Wuih, keren juga ya. Aku aja baru mendaki satu kali dan rasanya udah capek banget."
"Lemah!" Nindira memberikan jempol ke bawah, ia lantas terkekeh. Perempuan itu beralih ke arah Riani. "Kalau kamu pernah mendaki gunung nggak, Ri?"
Riani menggelengkan kepala.
"Ya udah, brarti nanti jadi pengalaman pertama kamu mendaki gunung. Mendaki gunung itu seru banget tahu, walaupun capek sih, ngos-ngosan, tapi semua rasa capek itu terbayar dengan pemandangan yang indah." Nindira terlihat sangat bersemangat. "Dari atas kamu bisa melihat indahnya lukisan Sang Pencipta, kamu pasti nggak akan pernah berhenti bersyukur, percaya deh!"
Kalimat Nindira agaknya sedikit membuat Riani merasa penasaran juga. "Nanti aku pikir-pikir deh, Ra."
"Hem, jangan kelamaan." Nindira memperingati. "Nanti aku ajak Tri juga deh biar makin banyak temennya. Kalo mendaki gunung tuh makin banyak makin seru tahu!"
***
Smartphone berwarna biru itu terus melekat di tangan seorang perempuan dengan gambar-gambar pemandangan yang sangat menakjubkan.
Tidak puas hanya dengan gambar, kedua ibu jari itu kemudian mengetikkan sebuah kalimat di kolom pencarian video.
"Mendaki gunung" kata tersebut menampilkan banyak video pengalaman orang-orang yang sudah mendaki gunung. Dari durasi satu menit hingga setengah jam bahkan satu jam atau lebih.
Video dengan durasi yang paling sedikit yang dipilih oleh Riani. Dari depan layar kaca saja, keindahan pemandangan dari atas gunung itu sudah terlihat sangat menakjubkan.
GRUP OBROLAN RANDOM
Nindira: Halooo guys, kita bahas di sini ya.
Bagas: Haloooo, Ira semangat banget.
Nindira: Iya dong, udah lama nggak naik lagi nih. Malam tahun baru beneran jadi ya, Gas.
Bagas: Sans, bisa diatur.
Tri: Tapi aku nggak pernah ke gunung.
Notifikasi pesan masuk terus berdatangan dalam smartphone Riani. Rupanya ada sebuah grup baru yang pastinya belum ia bisukan.
Riani: Kita sama, Tri.
Nindira: Tenang, tenang, nanti tiap hari aku ajak kalian lari pagi biar ada sedikit kesiapan buat jalan jauh.
Tri: Jemput tapi ya.
Riani: Aku juga.
Nindira: Buseng, bonceng tiga gitu?
Nindira: Nggak papa deh, demi cabat. (Sahabat)
Difki: Siapin budget juga, jangan cuma fisik doang. Ye nggak bro @Bagas?
Bagas: Yoi, aku nggak nanggung biaya soalnya, cuma ngajak aja, hahaha.
Nindira: Santai aja, aku masih ada sisa gaji bulan lalu. *emoji tertawa*
Tri: Aku masih ada uang tabungan. *emoji tertawa*
Nindira: Berarti udah fix kan kita?"
Riani: Tapi gimana cara ngomong ke orang tua?
Nindira: Bilang ke gunung aja, cari aman.
Difki: Eh kita juga harus siapin alasan buat ambil cuti, masa mau bilang pergi liburan?
Nindira: Iya juga ya, gini aja deh. Aku izin ada nikahan tanteku, Tri izin mau pulang kampung, Riani izin buat jagain ibunya yang lagi sakit. Gimana?
Bagas: Aku izin apa ya?
Nindira: Kamu bolos aja.
Bagas: Bisa-bisa dipecat kalo gitu. Nanti aku izin mau jaga nenek yang lagi sakit deh.
Difki: Dih, ntar nenek kamu sakit beneran loh.
Bagas: Ya jangan diaminin dong.
Difki: Kalau gitu aku izin sakit aja deh.
Bagas: Aamiin.
Difki: Ada gila-gilanya ya kamu, Gas.
Riani membaca pesan-pesan dari grup tersebut di pagi hari. Semalam ia tertidur tidak lama setelah bertanya perihal izin ke orang tua.
Ada perasaan ragu tapi juga penasara. Riani takut ibunya tidak akan mengizinkannya pergi ke gunung, namun di sisi lain, Riani juga penasaran.
"Ibu masih di kamar, Mba?" tanya Riani pada Dwi yang sudah bolak-balik untuk kedua kalinnya menyiapkan sarapan untuk Riani.
"Masih, Non." Dwi menuangkan air putih ke dalam gelas. "Silahkan dimakan, Non."
"Terima kasih, Mba."
"Aku tinggal ya, Nona Riani, mau nganter sarapan buat Nyonya Rita," ujar Dwi dengan nampan berukuran sedang di kedua tangannya.
Riani mengangguk, ia menyelesaikan sarapan paginya sebelum memutuskan menemui Rita yang masih tebaring lemah di atas ranjang.
"Kata Dwi, kamu tadi nyariin Ibu. Ada apa, Ni?"
'Mba Dwi ngapain bilang ke ibu segala sih?!' kesal Riani dalam hati.
Langkah kakinya perlahan mendekat, ia tersenyum kaku karena terpaksa. "Hehe, iya. Aku ada mau bilang sama Ibu."
"Bilang apa, Ni?" Rita tersenyum.
"Malah tahun baru nanti aku boleh nggak pergi ke rumah Nindira? Mau bakar-bakaran di sana."
"Nindira yang dulu pernah ke sini kan?"
Riani menganggukkan kepala. "Iya, sama temen-temen yang lain juga sih nggak cuma berdua."
"Boleh dong, Riani. Kamu masih muda, emang seharusnya kamu menghabiskan waktu bersama teman-teman kamu, jangan sampai kamu malah menyesal pas udah tua nanti kaya Ibu."
"Terima kasih, Bu," ujar Riani dengan segera, ia tersenyum. Perempuan itu mendekat ke arah ibunya, memeluk wanita itu dengan erat. "Ibu baik banget."
'Kesempatan,' pikir Rita. "Iya, sama-sama, Ni. Sudah, kamu berangkat kerja sana, nanti terlambat."
Riani melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan waktu setengah delapan pagi. "Aku pergi dulu ya, Bu."
Senyum ceria Riani terlihat sepanjang jalan, ia bahkan tak melihat ke arah jalanan yang hendak dilewati karena terlalu fokus pada smartphone dalam genggaman tangannya.
Ibu jarinya bergerak cepat di atas layar smartphone yang menampilkan obrolan grup, ia tersenyum mengetikkan pesan itu, memberikan kabar bahagia untuk teman-temannya.
Hari berlalu begitu lama karena Riani sangat menunggu-nunggu jadwal kepergian mereka menuju ke sebuah gunung. Sepulang kerja, Riani tidak pulang ke rumah, melainkan ke rumah Nindira bersama dengan Tri.
"Kamu bawa semua yang udah aku bilang kan?" Nindira bertanya sembari mengemasi barang-barang.
"Bawa kok," jawab Tri dan Riani hampir bersamaan, keduanya tidak sabar untuk mencoba pengalaman pertama mereka.
"Nanti logistik kita beli di jalan aja, di basecamp kita packing ulang," jelas Nindira sembari memastikan semua barang bawaannya sudah ada di dalam tas. "Udah jam setengah empat kok Difki belum sampe ya?"
Nindira mengambil smartphone yang sedang terhubung ke pengisi daya. Membiarkan smartphone tetap terhubung dengan pengisi daya, ia mulai menelepon Difki.
Suara panggilan yang sedang mencoba untuk terhubung terdengar jelas, namun tidak ada satupun panggilan yang dilakukan oleh Nindira terhubung pada Difki.
"Argh! Kenapa pake segala nggak bisa dihubungi sih?!"
"Lagi nyetir kali, coba kamu telepon Bagas."
Nindira mengangguk, ia lantas mencoba menelepon laki-laki itu. Mencoba beberapa kali dan hasilnya sama.
"Sama aja, nggak ada yang bisa dihubungi." Nindira berkata tanpa melihat ke arah Riani atau Tri, pandangan matanya masih tetap tertuju pada layar smartphone di tangannya.
"Duh, gimana sih mereka berdua?!" kesal Tri, ia kecewa.
"Masih ada waktu setengah jam lagi kok sebelum kita berangkat," ujar Riani menenangkan, meskipun ia juga sebenarnya kecewa.
Sementara Nindira nampak sedang mengetikkan sesuatu, mungkin ia ingin mengirim pesan singkat pada dua laki-laki itu.
Suara klakson mobil terdengar dua kali.
"Itu pasti mereka," ujar Nindira yang lantas mencabut smartphone dari pengisi daya dan segera memasukkannya ke dalam tas.
Tri dan Riani sudah terlebih dahulu keluar dan Nindira adalah perempuan yang paling akhir meninggalkan kamar kost-nya.
Pertama kali melihat Difki yang keluar dari mobil sendirian, Nindira merasa kesal. "Loh, Bagas kemana, Dif?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments