Tersadar

Kedua mata Riani terbuka dengan segera. Ia mendapati langit-langit kamar yang berwarna putih. Ia tahu betul bahwa sekarang sedang berada di dalam kamarnya.

Dengan segera Riani beranjak dari tidurnya. Melihat ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul tiga malam.

Riani menghembuskan nafas dengan berat. "Ternyata aku mimpi lagi."

Tangannya mengusap kening, basah. Hawa panas terasa dalam kamarnya meskipun AC sudah dinyalakan.

"Aku senang bisa membantumu, Ndhis." Riani berkata lirih.

Ia teringat saat pulang dari rumah Sella beberapa jam lalu. Pandangan matanya memang terfokus dengan video pendek yang sedang ditayangkan dalam smartphone-nya. Bahkan hingga ia masuk ke dalam kamar.

Smartphone berwarna biru itu tergeletak di dekat bantal tempat ia tidur. Riani mengambil dan menyalakannya. Terlihat presentase baterai tersisa 20%.

***

Hari kedua bekerja, Riani masih tetap merasa semangat. Jam setengah delapan pagi, ia sudah keluar dari rumahnya agar tidak ketinggalan angkutan umum yang akan dia gunakan untuk pergi ke mall.

Halte bus pada hari ini lebih ramai daripada kemarin, bahkan Riani tidak mendapatkan tempat duduk sembari ia menunggu kendaraan yang akan dia tumpangi.

Jam menunjukkan angka delapan kurang lima belas menit. Riani berlari kecil menuju ruang karyawan untuk terlebih dahulu meletakkan tas dan kotak makan siang.

"Katanya anak baru itu kemarin ngomong sendirian."

"Kamu kata siapa?"

"Kata OB."

"Eh, tapi Ira juga katanya lihat dia ngomong sendirian.

"Apa jangan-jangan dia lihat--"

"Hush, udahlah jangan bahas. Aku takut."

Riani meletakkan tas dan kotak makan di dalam loker. Ia lantas mendekat ke dua orang yang tadi tengah membicarakannya.

"Maksudnya apa ya ngomong kata gitu? Jelas-jelas aku lagi ngomong sama temenku, Fella!" kesal Riani.

Kedua perempuan itu terbelalak tak percaya. "Ka--kamu lihat Fella?"

Riani mengangguk, ia tak mengerti dengan apa yang membuat kedua perempuan itu terkejut.

Kedua perempuan itu saling melihat, merasa tak percaya.

Kabar tentang Riani dan Fella tersebar hingga hampir ke semua karyawan. Pada saat jam istirahat, mereka tidak tidur, melainkan bertanya pada Riani tentang Fella.

"Ri, dia itu memang karyawan di sini, tapi dia sudah meninggal." Nandira meletakkan tangannya di bahu Fella. "Dia meninggal karena ingin menolong ibunya. Mereka berdua meninggal bersama karena kebakaran rumah itu."

"Ja--jadi--" Riani tak bisa melanjutkan kalimatnya.

Nindira menganggukkan kepala. "Fella yang kamu lihat itu sudah bukan lagi menusia, Ri."

"Tapi aku melihat dia begitu jelas, Ra. Aku bahkan bisa memegang bahunya saat aku bilang suapaya dia harus ikhlas dan sabar."

"Apa sebelumnya kamu bisa melihat makhluk-makhluk kaya gitu juga?"

Riani menggelengkan kepala. Selama ia hidup, ia tak pernah melihat makhluk apapun apalagi sampai berinteraksi. Paling tidak ia hanya melihat sekelebat bayangan saja, itupun Riani tidak mempercayainya sebagai hantu, roh atau apapun.

Jam istirahat telah berakhir dan semua orang kembali keluar dari ruang karyawan. Mereka tersebar di beberapa titik untuk melayani pelanggan yang datang.

Riani berdiri di salah satu rak pakaian. Ia juga melihat-lihat display kaos yang ada di belakangnya, mungkin saja ada satu kaos dengan model yang cocok, ia hendak segera membeli saat gajian pertamanya telah ia dapatkan.

"Kak, cari yang warna pink ada?" tanya seseorang dengan menggendong bayi.

Di tangannya sudah ada satu potong pakaian berupa one set untuk anak usia 1-3 tanun bergambar kartun dengan warna biru.

Riani tersenyum. "Sebentar saya carikan terlebih dahulu ya."

Ia beralih ke arah stok pakaian, mencoba mencari one set yang sama dengan warna pink. Namun ia tak menemukannya.

"Di sebelahnya, yang plastik kecil," bisik seseorang.

Riani menganggukkan kepala. "Oh." Ia kembali mencari one set tersebut di tempat yang sudah ditunjukkan tadi.

Benar saja, one set berwarna pink itu sudah ada di sana. Riani berbalik badan. "Ada nih."

"Wah, terima kasih ya, Kak. Saya emang suka warna pink jadi saya pengin anak saya pake warna pink. Makasih banyak, Kak."

Riani mengangguk dan tersenyum dengan lembut. "Sama-sama, Kak."

Perempuan itu pergi dari hadapan Riani. Ia berjalan ke arah kasir, mungkin ia hanya membeli satu setelan untuk anaknya saja.

Masih dengan senyuman yang sama, Riani kembali menolehnke arah rak berisi stok pakaian anak. Ia merapikan kembali stok yang sempat berantakan karena ia mencari satu setelan itu tadi.

"Eh, tapi ...." Riani tak melanjutkan kalimatnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sesuatu. "Perasaan tadi ada yang ngasih tahu aku deh kalau setelannya ada di sini." Riani meletakkan tangannya di tumpukan one set anak yang sudah kembali ia rapikan. "Tapi kan aku di sini sendirian. Kakak yang tadi juga nggak mungkin tahu dimana stoknya kan? Kan dia bukan karyawan toko ini, dia pembeli, dia orang asing. Terus tadi yang kasih tahu aku siapa?"

Riani beranjak dan ia melihat ke sekeliling.

"Tri, kamu tadi ke sana?" Riani menunjuk ke arah ia sebelumnya berdiri.

Sementara Tri menggelengkan kepala. "Nggak tuh, aku dari tadi di sini, Ri. Aku lagi ngelayanin ibu ini." Ia mengarahkan dagunya ke arah seorang perempuan yang sedang melihat baju tidur.

Perempuan itu menoleh ke arah Riani. "Kenapa, Kak?"

Riani menggelengkan kepala. "Nggak papa, kirain tadi temen saya ke sana."

"Nggak, dari tadi kakak ini di sini terus kok sama saya. Pegawai lain kali."

"Iya kali ya," ujar Riani tak percaya, ia mengusap keningnya.

Riani kembali ke tempatnya tadi. Ia melihat Difki yang sedang berjalan cepat dengan celana jeans di tangannya.

"Dif ... Difki," panggil Riani segera, laki-laki itu menoleh.

"Kenapa, Ri?"

"Kamu tadi ke sini?"

"Iya tadi aku bolak-balik ke sini, kenapa?"

Riani merasa lega. "Oh, makasih ya."

"Makasih?" Difki mengernyitkan dahi. "Makasih buat apa, Ri?"

"Kamu kan yang nunjukin letak stok one set anak tadi?" tanya Riani, ia masih tersenyum.

Sementara Difki justru semakin mengernyitkan dahinya. "Hah? Yang bener aja kamu, Ri." Difki terkekeh. "Aku emang bolak-balik dari tadi, tapi aku nggak ada ngomong sama kamu, aku tahu stok one set itu juga nggak kok, Ri. Kan aku khusus di bagian cowok."

"Iya juga ya, terus siapa dong?"

Difki mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Nggak tahu tuh, Ri. Tapi tadi aku lihat Ira ke sini sih, barangkali Ira yang ngasih tahu. Aku ke sana dulu ya, Ri."

Riani mengangguk, ia merasa kembali lega dengan jawaban Difki.

Namun tiba-tiba Riani ingin buang air kecil. Ia berjalan cepat ke arah kamar mandi.

"Kamu tadi ke depan, Ra?" tanya Riani yang kebetulan melewati tempat Nindira berjaga.

"Nggak, Ri." Ia menggelengkan kepala. "Kenapa emang?"

Riani menceritakan apa yang sudah terjadi.

"Mungkin Fella."

"Fella?"

"Kata yang udah lama kerja di sini, Fella kadang suka bantu karyawan, Ri. Aku belum tahu sih beneran apa nggak, kan dia udah meninggal sebelum aku masuk kerja di sini, tapi ya aku nggak mau juga kalau harus sampai kenal sama dia, aku penakut, Ri."

Pikiran Riani terus tertuju pada Fella. Ia masih belum sepenuhnya percaya jika Fella sudah tidak ada di dunia.

Langkah kaki Riani memasuki ruang karyawan yang gelap. Ia menyalakan lampu dan ....

Terlihat seorang perempuan dengan blouse biru tua dan rambut panjang yang lurus.

"Fe--Fella ka--kamu--"

Fella menyeringai, wajahnya gelap di beberapa bagian karena ia menunduk dan berdiri tepat di bawah lampu sehingga cahaya itu tak menyinari seluruh permukaan wajahnya. Pandangan matanya menatap tajam ke arah Raini, seram. "Kamu sudah tahu ya?"

Terpopuler

Comments

Diana Dwiari

Diana Dwiari

Aduh, horor sih

2023-09-09

1

lihat semua
Episodes
1 Pesugihan Nyi Kembar
2 Mimpi Buruk
3 Penipuan
4 Omongan Tetangga
5 Rindu Ayah
6 Fella
7 Fella (2)
8 Tersadar
9 Jatuh Sakit
10 Liburan Akhir Tahun
11 Pergi Ke Gunung
12 Pendaki Lain
13 Dia Datang
14 Bungkusan Kecil
15 Selesai
16 Tak Sadar
17 Pulang
18 Salah Sasaran
19 Terbangun
20 Sampai
21 Sama Saja
22 Smartphone Nindira
23 Dua Sosok Kembar
24 Janggal
25 Bilik Kosong
26 Kedatangan Fella
27 Siluet Hitam
28 Bukan Bayu
29 Pengakuan
30 Terlambat
31 Seseorang
32 Duduk Berdua
33 Korban Kecelakaan
34 Rumah Sakit
35 Penyelidikan
36 Hilang
37 Bayu dan Riani
38 Toko Dekat Persimpangan
39 Abu
40 Menjenguk Bayu
41 Aneh
42 Meminta Izin
43 Bertemu Calon Mertua
44 Kosong
45 Cincin Berinisial
46 Hati-hati
47 Sesuatu di Dalam Kolam
48 Alga
49 Beruntung
50 Ritual
51 Bantuan
52 Kabur
53 Rumah Bayu
54 Gila
55 Putus
56 Halusinasi
57 Dipecat
58 Rumah Pak Abdul
59 PENGUMUMAN
60 Teror
61 Ayah
62 PENGUMUMAN
63 Dia Lagi
64 Sosok Ibu
65 Rusuh
66 Berlanjut
67 Mengantar Makanan
68 Kehilangan
69 Balikan
70 Jawaban
71 Panggilan Sayang
72 Liburan
73 Konser Musik
74 Pening
75 Mimpi
76 Wajah Pucat
77 Tersinggung
78 Gulungan Kertas
79 Kedatangan Nenek
80 Kabur Tengah Malam
81 Mencari
82 Menginap
83 Malam Pertama
84 Tidak Asing
85 Ancaman
86 Usil
87 Menunggu
88 Pohon Besar
89 Rumah Tua
90 Pindah
91 Obrolan Serius
92 Kemungkinan
93 Pingsan
94 Pergi
95 Hamil
96 Pesan Singkat
97 Naik Pitam
98 Sang Penyelamat
99 Ada Apa
100 Membujuk
101 Berbicara dengan Ayah
102 Pocong Ayah
103 Jawaban Pak Abdul
104 Desa Sepi
105 Dia Tahu
106 Rumah Mbah Wir
107 Jatuh Sakit
108 Bukan Sakit Biasa
109 Teror
110 Kamar Mandi
111 Kerasukan
112 Tidak Ada Jalan Lain
113 Berpisah
114 TAMAT
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Pesugihan Nyi Kembar
2
Mimpi Buruk
3
Penipuan
4
Omongan Tetangga
5
Rindu Ayah
6
Fella
7
Fella (2)
8
Tersadar
9
Jatuh Sakit
10
Liburan Akhir Tahun
11
Pergi Ke Gunung
12
Pendaki Lain
13
Dia Datang
14
Bungkusan Kecil
15
Selesai
16
Tak Sadar
17
Pulang
18
Salah Sasaran
19
Terbangun
20
Sampai
21
Sama Saja
22
Smartphone Nindira
23
Dua Sosok Kembar
24
Janggal
25
Bilik Kosong
26
Kedatangan Fella
27
Siluet Hitam
28
Bukan Bayu
29
Pengakuan
30
Terlambat
31
Seseorang
32
Duduk Berdua
33
Korban Kecelakaan
34
Rumah Sakit
35
Penyelidikan
36
Hilang
37
Bayu dan Riani
38
Toko Dekat Persimpangan
39
Abu
40
Menjenguk Bayu
41
Aneh
42
Meminta Izin
43
Bertemu Calon Mertua
44
Kosong
45
Cincin Berinisial
46
Hati-hati
47
Sesuatu di Dalam Kolam
48
Alga
49
Beruntung
50
Ritual
51
Bantuan
52
Kabur
53
Rumah Bayu
54
Gila
55
Putus
56
Halusinasi
57
Dipecat
58
Rumah Pak Abdul
59
PENGUMUMAN
60
Teror
61
Ayah
62
PENGUMUMAN
63
Dia Lagi
64
Sosok Ibu
65
Rusuh
66
Berlanjut
67
Mengantar Makanan
68
Kehilangan
69
Balikan
70
Jawaban
71
Panggilan Sayang
72
Liburan
73
Konser Musik
74
Pening
75
Mimpi
76
Wajah Pucat
77
Tersinggung
78
Gulungan Kertas
79
Kedatangan Nenek
80
Kabur Tengah Malam
81
Mencari
82
Menginap
83
Malam Pertama
84
Tidak Asing
85
Ancaman
86
Usil
87
Menunggu
88
Pohon Besar
89
Rumah Tua
90
Pindah
91
Obrolan Serius
92
Kemungkinan
93
Pingsan
94
Pergi
95
Hamil
96
Pesan Singkat
97
Naik Pitam
98
Sang Penyelamat
99
Ada Apa
100
Membujuk
101
Berbicara dengan Ayah
102
Pocong Ayah
103
Jawaban Pak Abdul
104
Desa Sepi
105
Dia Tahu
106
Rumah Mbah Wir
107
Jatuh Sakit
108
Bukan Sakit Biasa
109
Teror
110
Kamar Mandi
111
Kerasukan
112
Tidak Ada Jalan Lain
113
Berpisah
114
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!