Hening, sunyi, senyap.
Suasana yang sangat mendukung untuk rasa takut terus menyelimuti hati beberapa orang yang ada di sekitar Riani. Mereka semua dalam ketegangan dengan pikiran yang tak bisa lagi berpikir positif terhadap apa yang sedang terjadi terhadap Riani malam ini.
"Jangan berhenti, terus bacakan ayat Al-Qur'an," ujar salah satu pendaki memerintah. Ia menoleh ke belakang, beralih ke Nindira dan Tri yang saling berpegangan dengan erat. "Kalian berdua bisa bantu doa sesuai kepercayaan masing-masing.
Bibir mereka kelu dalam ketakutan, keduanya hanya bisa menganggukkan kepala untuk menganggapi laki-laki asing yang sedang membantu temannya.
Pukul dua belas dini hari, kondisi Riani semakin menjadi.
Tubuhnya menegang dan kaku dengan kedua mata yang terbelalak, bibirnya bergetar seakan hendak mengucapkan sesuatu.
"Bertahanlah, Ri, kamu pasti bisa menghadapinya, kamu manusia, derajatmu lebih tinggi daripada dia," ujar pendaki itu.
Sedetik kemudian, tubuh Riani yang sedikit terangkat seketika ambruk. Kedua mata yang terbelalak seketika terpejam dan bibirnya yang sedikit terbuka juga sudah tertutup.
Riani seperti sedang tertidur pulas.
"Bangunkan dia."
"Ri ... Riani," ujar Difki sembari menepuk-nepuk pipi Riani.
Setelah beberapa saat kedua mata Riani perlahan terbuka. Ia nampak seperti baru bangun dari tidur.
Nindira dan Tri berhambur masuk ke dalam tenda, keduanya memeluk Riani yang baru saja beranjak dari tidurnya.
Dengan raut wajah yang kebingungan, Riani melihat ke arah Difki dan dua orang laki-laki lain di hadapannya.
"A--aku kenapa?"
Nindira melepaskan pelukannya dari tubuh Riani. "Kami tadi kesurupan, Ri, sosok yang merasuki tubuhmu bilang kalo kamu mau dibawa dia."
Mendengar penjelasan dari Nindira, Riani justru semakin mengernyitkan dahinya. "A--apa benar?"
"Beneran, Ri, itulah kenapa kami semua ada di sini," jelas Tri yang juga turut melepaskan pelukannya pada tubuh Riani.
"Te--terus mereka--"
"Mereka yang bantuin kita, Ri," jelas Difki, memotong perkataan Riani.
Sementara itu, salah satu pendaki yang sedari tadi paling banyak mengintruksi tersenyum. "Aku Gio dan ini adikku, Rafael." Seorang laki-laki di sebelahnya juga tersenyum. "Gimana keadaanmu?"
"Sekarang rasanya capek banget."
"Emang kaya gitu, lebih baik kamu istirahat dan besok pulang aja nggak usah lanjutin perjalanan."
"Tapi--"
"Benar apa kata dia, Ri," sela Nindira.
Riani hanya menganggukkan kepala.
Suara burung berkicauan beriringan dengan desir angin yang mengenai daun-daun di pepohonan. Riani membuka matanya, ia mendengar suara beberapa orang bercanda dan tertawa.
Hanya ada dirinya sendiri di dalam tenda, ia tak melihat Nindira maupun Tri di sebelahnya.
"Kalian udah bangun? Kok nggak bangunin aku juga?" tanya Riani dengan sedikit kesal karena kedua temannya sudah berada di luar tenda.
"Tadinya aku mau bangunin kamu, Ri, tapi kata Nindira udah biarin aja. Lagian kamu juga tadi tidurnya lelap banget jadi aku nggak jadi bangunin kamu deh," jelas Tri yang tengah menggoreng nugget sisa semalam. "Udah mateng nih, yuk makan."
"Makan dulu, Ri, abis itu kita siap-siap turun," ujar Difki yang keluar dari tenda dengan pakaian yang berbeda dari hari kemarin.
Matahari sudah bersinar terik, jam menunjukkan pukul sembilan pagi.
Riani tak melihat matahari terbit seperti yang sebelumnya sudah ia lihat di layar kaca laptopnya. Sebuah kekecewaan yang ia pendam dalam hati, ia gagal melihat keindahan yamg disuguhkan oleh alam.
"Kita lanjutin perjalanan aja, aku nggak papa kok," jelas Riani yang lantas menyuapkan makanan ke dalam mulut.
Nindira mengernyitkan dahi. "Beneran kamu nggak papa? Aku takut nanti kamu malah kenapa-kenapa di perjalanan."
"Aku nggak papa kok." Riani tersenyum. "Istirahat semalam udah cukup."
"Gimana, Dif?" tanya Nindira, pandangan matanya beralih ke arah laki-laki itu.
"Akumah ayo aja, asalkan Riani bisa tanggung jawab sama kata-katanya." Difki melihat ke arah Riani. "Gimana, Ri?"
Riani mengangguk. "Boleh."
Ia menghembuskan nafasnya dengan panjang, berharap hatinya turut merasa lega.
Riani merasa tak enak hati jika harus kembali. Tidak hanya dirinya, bahkan ketiga temannya juga harus menyisihkan uang tabungan dan uang gajian hanya untuk pergi ke gunung bersama. Riani tak ingin mengecewakan teman-temannya. Di sisi lain, Riani juga berharap ia bisa melihat matahari tenggelap atau matahari terbit dari ketinggian, ia masih ingin tetap berada di sini.
"Kalo gitu kita selesaikan makan dan lanjut perjalanan," ujar Difki yang semakin cepat menyantap sarapan paginya.
Perjalanan dilanjutkan dengan posisi yang sedikit berubah. Nindira masih berada di depan memimpin perjalan, di belakangnya ada Riani baru kemudian Tri dan Difki masih tetap di barisan terakhir menjadi sweeper.
Medan yang dilalui semakin curam dengan vegetasi yang sedikit tertutup. Kaki yang sudah mulai kehilangan tenaga terus menapaki tanah yang kering karena beberapa minggu ini hujan jarang turun.
Beberapa kali suara monyet terdengar, namun tidak tahu mereka ada di mana. Keempatnya terus berjalan kaki melanjutkan perjalanan.
Di depan sana terlihat dua laki-laki yang tak asing. Mereka berjalan turun dengan cepat dan bahkan sesekali berlari.
"Eh, kalian ... nggak jadi turun?" tanya Gio saat sudah dalam jarak sekitar lima meter dari rombongan Riani.
Nindira yang berada di barisan paling depan menggelengkan kepala. "Riani sudah baik-baik saja, dia juga yang meminta kita untuk terus melanjutkan perjalanan."
"Oh." Gio bergumam. Pandangan matanya melihat ke arah belakang Nindira, tempat di mana Riani berada. "Kamu nggak papa?"
Riani tersenyum dengan nafas yang tersengal-sengal karena perjalanan dengan medan yang terjal. "Aku udah nggak papa kok."
"Tapi kamu harus tetap hati-hati." Rafael menambahi.
"Pasti," lirih Riani.
"Kalau gitu kita turun dulu ya, hati-hati kalian semua," ujar Gio sembari melambaikan tangan yang dibalas hal yang sama oleh rombongan Riani.
Perjalan kembali dilanjutkan hingga akhirnya tepat pukul satu siang keempatnya sudah hampir sampai di puncak.
Cuaca sangat panas dengan matahari yang bersinar terik tepat di atas kepala. Tidak ada lagi pohon, mereka berlindung di balik sebuah batu dari angin yang berhembus kencang setiap kali angin itu datang.
"Aku capek banget," ujar Riani, lirih.
Bibirnya pucat dan pecah-pecah, ia benar-benar kekurangan air di kondisi yang terik seperti sekarang.
"Tapi puncak sebentar lagi, Ri, ayo semangat!" Nindira menyemangati.
Rasanya sudah tidak ada lagi semangat sedikitpun dalam diri Riani. Cuaca yang panas membuat kepalanya terasa pening, pandangan matanya buram melihat batu-batu kerikil yang akan dia tapaki, nafasnya berat seakan tidak banyak oksigen yang bisa ia hirup.
Sedetik kemudian, semuanya gelap. Riani hanya bisa mendengar suara Nindira, Tri dan Difki yang terus mamanggil-manggil namanya. Mereka meminta Riani untuk bangun, tapi bahkan Riani tak memiliki sedikitpun kekuatan untuk membuka matanya.
"RIANI!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments