“Andai kemarin Ryuna enggak jatuh, ....” Tiwi tak berniat melanjutkan ucapannya. Ia terlalu kecewa lantaran tragedi Sonya, ia khawatirkan akan membuat bayaran yang dijanjikan kepadanya, justru tidak jadi.
Mendengar itu, Ryuna sudah langsung menyikapinya dengan serius. “Kamu yakin, bilang seperti tadi? Aku jatuh kan gara-gara kamu. Kamu tarik kedua kaki aku, bahkan aku sampai berpikir kamu sengaja melakukannya. Lagian kan kemarin yang ke rumah ki Awet bukan hanya Sonya. Semuanya ke sana, dan aku juga enggak minta Sonya buat melakukan hal seperti itu,” kesalnya.
Disinggung sengaja menarik kedua kaki Ryuna, Tiwi langsung ketar-ketir. “Kamu kalau punya mulut dijaga yah, Ryuna. Kamu pikir, aku enggak punya kartu AS kamu?!”
Balasan Tiwi sudah langsung membuat Ryuna tersenyum getir. “Coba sebutin apa kartu AS aku!”
Detik itu juga Tiwi langsung kebingungan sambil sesekali melirik takut Ryuna.
“Jadi orang jangan toxic. Enggak usah kebanyakan muka biar kamu enggak sibuk cari muka!” tegas Ryuna yang memilih pergi dari sana. Ia tak jadi masuk meski ketujuh mahasiswi di sana dan itu selain Sonya, berusaha menenangkannya.
Ryuna yakin, alasan Tiwi toxic dan akan langsung memisahkan diri dari Ryuna ketika di depan umum karena gadis itu terlalu gengsi dekat dengan Ryuna yang merupakan anak ART, yang juga berakhir menjadi ART, hanya untuk menyambung hidup. Bisa jadi, Tiwi merasa tidak selevel dengan Ryuna hanya karena latar belakang Ryuna, tak beda dengan Dodo yang terus cari gara-gara di setiap Ryuna menolak pemuda itu.
“Mendadak aku bosan jadi manusia yang terus saja dipandang sebelah mata hanya karena aku enggak kaya. Semoga pas ketemu orang tua Kim aku masih diizinin kerja. Biar aku bisa nabung sebanyak mungkin buat masa depan anak-anakku. Ngeri kalau anak-anakku sampai merasakan apa yang aku rasakan juga. Yang namanya hidup kan memang harus jadi lebih baik, dan jangan sampai bikin anak juga merasakan susah seperti yang sudah-sudah,” batin Ryuna.
Ryuna memutuskan untuk membuatkan mereka yang masih di depan teras, minuman. Karena setelah ia amati, di sana belum ada suguhan bahkan sekadar air putih.
Kim, Candra, dan juga Rasjid masih di sana. Ketiganya masih mengobrol dengan pak kades. Di sana juga masih ada istri pak kades lengkap dengan Rukmi.
Ketika masih menunggu air di panci mendidih, Ryuna mendengar suara langkah mendekat dan itu sudah langsung membuat Ryuna parno. Ryuna refleks memastikannya, dan ternyata itu Rukmi. Masih sangat ceria seolah mereka sangat akrab, Rukmi menenteng dua kantong berbahan plastik warna hitam.
“Jujur sebenarnya aku heran, dari tadi di sini enggak ada yang kasih atau seenggaknya nawarin minum,” ujar Rukmi yang mengabarkan, dua kantong yang ia bawa berisi kue, gula, kopi, teh, dan juga telur untuk mahasiswi KKN di sana.
“Serius, sampai detik ini aku masih bertanya-tanya, kenapa mbak Rukmi mendadak akrab sekaligus terkesan mendekatiku? Apakah mbak Rukmi merasa berhutang budi karena biar bagaimanapun, aku dan Kim beserta teman-teman sudah membantunya lepas dari pengaruh ki Awet, atau gimana?” pikir Ryuna yang sudah langsung terusik lantaran kehadiran Kim juga disertai dengan suaminya itu yang menyelipkan sebuah kertas ke saku jaket almameternya.
“Ini tinggal diisi air panas?” tanya Kim sudah langsung mengambil alih. Ialah yang menuang air mendidih pada setiap gelas berisi gula dan teh tubruk.
“Eh Mas, ini sekalian ada kue. Saya taruh di piring ya. Eh Mbak Ryuna, piringnya mana, ya?” sergah Rukmi sudah langsung sibuk.
“Oh sebentar,” balas Ryuna yang sudah langsung bertanya-tanya perihal kertas yang sampai Kim selipkan ke saku jaket almameternya. Tadi, Kim melakukannya sambil agak merangkul bahunya dan tampak jelas basa-basi.
Sampai detik ini Ryuna belum menemukan maksud khusus dari perubahan Rukmi yang masih sangat hangat kepadanya, bahkan meski Kim sudah tidak bersama mereka.
“Kamu sudah makan belum, Mbak?” sergah Rukmi menunjukan perhatiannya.
Ryuna mengangguk-angguk kemudian pamit sekaligus mengajak Rukmi untuk ikut serta menyusul Kim, dan Rukmi juga langsung menyanggupi, ikut menyusul sambil sesekali bertanya. Boleh dibilang, memang ada yang berubah drastis dari sosok Rukmi terlebih saat kondangan mewakili mahasiswi saja, Ryuna sama sekali tidak disapa. Kalaupun karena saat itu Rukmi dinikahkan paksa oleh pak kades, harusnya sekadar basa basi, Rukmi yang saat itu menjadi pengantin sekaligus tuan rumah juga tetap melakukannya kepada Ryuna.
–Kamu nyaman enggak sih, tinggal di sini bareng yang lain? Kalau memang enggak, nanti aku bilang ke pak kades buat siapin temat khusus buat kamu. Tapi memang mending punya tempat tinggal khusus sih, masih dua minggu lebih kan?–
Itu menjadi tulisan di kertas yang Kim selipkan. Hingga Ryuna langsung berpikir, andai Kim sampai menyediakan tempat tinggal khusus, otomatis suaminya itu juga harus mengeluarkan biaya tambahan. Sementara mereka sama-sama sedang KKN, mereka belum memiliki pekerjaan tetap, selain mereka yang sama-sama berasal dari keluarga jauh dari kaya. Hanya saja, biar bagaimanapun mereka sudah menikah. Meski pernikahan mereka baru pernikahan secara agama, tetap saja mereka sudah terikat dan memang lebih baik selalu bersama-sama.
—Sabar dulu ya. Dua minggu lebih juga bukan waktu yang sebentar. Sementara biaya hidup di sini juga harus tetap serba uang, meski kadang, warga akan kasih makanan—
Itulah yang Ryuna tuliskan kemudian diam-diam Ryuna selipkan di jaket alamameter sang suami yang kebetulan baru saja menghampirinya untuk menyuguhkan segelas tehnya. Yang membuat Ryuna terkejut, ulah mereka dipergoki oleh Rukmi tapi wanita itu santai-santai saja menatapnya penuh senyuman.
“Kim, mbak Rukmi aneh. Kamu ngerasain juga enggak perubahannya? Jadi akrab gitu. Mendadak diakrabin gini yang ada aku jadi takut. Takut ada maksud lain,” bisik Ryuna pada Kim. Mereka tengah sama-sama memboyong bekas jamuan lantaran kebersamaan mereka sudah usai.
Kim segera meletakan nampan berisi gelas teh dan hampir semua isinya tinggal ampas tehnya. Begitu pun dengan Ryuna yang segera meletakan dua piring bekas kue dan isinya juga sudah kosong.
“Nanti aku usul ke pak kades biar tempat menginap kita enggak terlalu berjauhan agar kita bisa tetap saling kontrol. Malam ini, Candra sama Rasjid aku tinggal di sini, biar kedekatan kita enggak terlalu mencolok,” ucap Kim.
“Kas*us ki Awet dan Sonya, belum cukup jadi bukti mematahkan kepercayaan adat istiadat setempat, ya? Biar kita jujur saja kalau kita sudah nikah. Hanya mengabarkan karena ke depannya pun kita tetap fokus ke KKN dan sebisa mungkin profesional,” ucap Ryuna.
Kim yang masih menyikapi Ryuna sekaligus menatap kedua mata sang istri dengan serius, berangsur menggeleng. “Selain enggak semudah itu membuka mata masyarakat setempat buat melihat kesalahan ki Awet, biar bagaimanapun apa yang kita lakukan memang bisa jadi bahan fatal mereka melakukan sanksi. Belum lagi ke KKN yang kita jalani. Semuanya benar-benar belum baik-baik saja. Ditambah lagi, awal kita ke sini, status kita belum menikah. Pasti akan langsung dicari tahu kenapa kita mendadak menikah.” Kim menjelaskan lirih tapi sangat jelas.
Penjelasan yang baru saja Kim sampaikan sangatlah mirip dengan pemikiran Ryuna sebelum akhirnya mereka menikah.
“Iya, kan?” lirih Kim memastikan.
Ryuna mengangguk-angguk. “Iya, sih ... padahal aku pikir, yang kemarin ki Awet dan Sonya lakukan, itu sudah cukup buat matahin kepercayaan warga sini.”
Kim menggeleng. “Makanya tadi aku tanya, kamu nyaman enggak di sini bareng yang lain, soalnya kalau aku lihat, Tiwi kayak enggak beres ya? Dia kayak ingin menggiring yang lain menyalahkan kamu gara-gara apa yang menimpa Sonya, padahal kita sama-sana tahu, bukan kamu yang minta Sonya begitu dengan ki Awet, juga ... kemarin yang ikut ke sana bukan hanya Sonya. Kemarin semuanya ke sana.” Karena wajah Ryuna sudah langsung murung, kedua tangan Kim bergerak dengan sendirinya membingkai wajah Ryuna. “Kamu yang sabar ya. Coba nanti direnungkan. Namun andai kita bisa mendekatkan tempat tinggal kita dan menjadikan kejadian ki Awet dengan Sonya sebagai alasan, harusnya semuanya jauh lebih terkendali.”
Ryuna menghela napas dalam kemudian menatap kedua mata Kim. “Pilihan terakhir saja. Karena andai aku punya tempat tinggal sendiri, selain terkesan aneh, andai kamu tiba-tiba datang sendirian dan kita malah digere*bek, tentu lebih berisiko,” ucapnya yang buru-buru mundur sekaligus membelakangi Kim lantaran dari sebelah ada Rukmi yang berseru.
“Ayo Mas, Kim. Katanya mau pulang bareng!” seru Rukmi sangat bersemangat dari sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ida Ulfiana
kayaknya rukmi suka sm kim
2024-06-12
2
Bintang Gatimurni
Horor banget, sampai ikut merinding
2023-11-20
3
yenni
sepertinya ki awet harus disembur kakak ojan deh...
2023-08-28
1