“Ryuna, nanti kamu ke gunung bantu ibu-ibu panen kolang-kaling.” Kim sengaja memutuskan secara sepihak. Ia tak mau sang istri kelelahan jika harus bantu pembangunan jalan secara langsung.
“Kenapa begitu?” Ryuna menatap sebal Kim lantaran pemuda itu sudah mulai mengatur-atur dirinya.
“Ryuna!” Mulut Sonya sudah tidak bisa dijaga. Sonya tidak tahan, terlebih di matanya, cara Ryuna menatap Kim, seolah Ryuna merasa dekat dengan Kim. Padahal sebelumnya, sebelum keduanya justru kondangan ke pernikahan anak pak kades mewakili anak-anak KKN, Ryuna cuek-cuek saja kepada Kim, layaknya kepada yang lain.
Ryuna menghela napas sambil menatap si cantik Sonya yang ia pergoki tengah menghampirinya.
“Karena Sonya sudah ada di sini, otomatis kelompok mahasiswi kehilangan pemimpin!” Itulah alasan yang Kim berikan agar kecurigaan semuanya atas keputusannya, termasuk kecurigaan Ryuna, menjadi tak berkepanjangan. Walau sampai detik ini, ia terus ditatap sebal oleh kedua mata lebar milik sang istri.
“Oke!” sergah Ryuna menyanggupi. Ia tidak mau membuang-buang waktu yang baginya akan jauh lebih berguna jika dimanfaatkan untuk bekerja.
Ryuna melipir dan langsung dihampiri Dodo yang sampai lari. Membuat Kim yakin, di balik sikap Dodo yang mirip bayi, pemuda itu jauh lebih berbahaya. Padahal belum lama, Dodo tak segan mengata-ngatai Ryuna.
“Si Ryuna bela*gu banget!” batin Sonya yang memang sudan telanjur membenci Ryuna semenjak ia mengetahui, Ryuna justru kondangan bahkan sampai menginap di rumah pak kades, bersama Kim.
“Do, kamu tetap di kelompok cowok, ya! Aku enggak mau, dengan waktu kita yang terbatas dalam KKN ini, kita cuma numpang mengarang buat dijadikan nilai kelulusan. Pokoknya, di bawah kepimpinanku, kita semua wajib bikin bangga. Pekerjaan kita mencerminkan kualitas kita!” tegas Kim.
Ketika para mahasiswi langsung terpesona bersama otak mereka yang langsung transmigrasi ke taman penuh bunga yang mana mendadak ada sosok Kim yang menatap mereka penuh cinta, Dodo justru merasa terzal*imi.
Setelah pembagian kelompok dan tak ada satu pun mahasiswi yang mau ikut ke Ryuna, mereka sengaja membantu warga masak besar. Acara masaknya dilakukan di depan rumah pak kades. Dan di acara tersebut, para mahasiswi kompak sibuk mencuri perhatian Kim. Padahal, Ryuna saja sibuk belajar masak sambil bantu-bantu kepada ibu-ibu di sana. Eh, yang lain malah dengan sengaja membuatkan Kim minum, atau malah mengambil sebagian suguhan yang sudah jadi di meja.
“Kalian ini, yah, aku sudah nikah!” kesal Kim yang langsung pergi ke Ryuna. Ia membantu istri rahasianya itu yang sedang menggoreng bawang merah.
“Jadi ingat kisah nabi Yusuf, ya? Ketampanan nabi Yusuf justru jadi sumber cobaan terbesar,” ucap Ryuna lirih dan sengaja mengajak Kim berbicara, meski melakukannya dengan gaya seolah-olah tak terjadi apa-apa, agar tidak ada yang curiga.
Mendengar apa yang baru saja Ryuna katakan, Kim refleks menunduk kemudian melongok wajah Ryuna. “Kamu bilang seperti tadi, dengan kata lain, kamu mengakui kalau aku ini tampan?”
Seketika, kedua mata Ryuna membola, menatap tak percaya suaminya yang menahan senyum dan perlahan tersenyum tepat di hadapan wajahnya. “Ih ... begini amat?” batinnya yang tetap tidak ada rasa kepada Kim, meski pada kenyataannya, Kim memang setampan itu dan memang nyaris sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan.
“Ini kalau bikin bawang goreng harus rajin dibolak-balik, diaduk gini,” lanjut Kim sambil memegang tangan kanan Ryuna yang memegang sendok penggorengan. Ia menuntun tangan kanan Ryuna untuk mempraktikkan apa yang ia arahkan. Ibarat pepatah, sambil menyelam minum air. Manfaatkanlah kesempatan yang ada, sebaik-baiknya.
Namun, apa yang Kim lakukan justru membuat Ryuna jengkel. Apalagi setelah asal memegang sekaligus menggenggam tangan kanan Ryuna, Kim yang tak segan menepuk-nepuk punggung Ryuna, justru pergi sambil menahan tawa.
“Eh tapi bener sih, gorengan bawangnya jadi cantik gini. Kemampuan masaknya Kim boleh juga. Padahal, dia kan anak petani yang merangkap jadi tukang bangunan!” batin Ryuna.
“Kalau Ryuna tahu sebenarnya aku anak orang kaya raya, dan aku bahkan sudah terbiasa urus usaha kuliner karena orang tuaku punya banyak restoran, ... habislah aku diKDRT sama dia!” batin Kim jadi senyum-senyum sendiri. Senyum yang akan bertambah di setiap tatapannya kepada Ryuna, langsung dibalas lirikan sinis oleh Ryuna.
“Do, sekali lagi kamu mepet Ryuna maupun mahasiswi lainnya, aku kasih rok pink!” ancam Kim sambil menghabiskan menu sarapan yang tengah dimakan ramai-ramai sambil duduk lesehan di teras masjid sebelah rumah pak kades. Ia sengaja berkata seperti itu lantaran Dodo masih saja memepet Ryuna.
Akan tetapi, Kim sudah langsung tersedak ketika ia yang tak sengaja menoleh pada pak Kades di sebelahnya, malah tengah meliriknya sambil tersenyum sekaligus berkata lirih, “ciee ....”
“Pak kades ih ... kan Bapak sendiri yang minta ini buat dirahasiakan,” lirih Kim sambil meminum air minumnya tanpa menerima pemberian air minum dari mahasiswi lainnya, termasuk itu Sonya yang duduk persis di sebelahnya. Posisi yang harusnya ditempati Ryuna sebagai istri Kim. Padahal Ryuna saja memilih duduk di antara ibu-ibu.
“Wajib dirahasiakan, Mas. Takutnya, Mas dan mbaknya kena hukum adat dan sebagainya. Kalau sudah begitu, saya beneran enggak bisa bantu!” balas pak Kades makin berbisik-bisik tepat di sebelah telinga kanan Kim.
Bersamaan dengan itu, Kim tetap diam-diam mengawasi Ryuna, meski lagi-lagi, lirikan cuek yang ia dapatkan.
Tak lama kemudian, mereka benar-benar berpisah. Ryuna ditemani oleh seorang mahasiswi bernama Tiwi dan itu pun secara paks*a lantaran awalnya, Tiwi juga ingin usaha mencuri perhatian Kim.
“Nanti aku susul,” ucap Kim lirih ketika Ryuna lewat di hadapannya. Namun karena Ryuna tetap melangkah buru-buru menyusul ibu-ibu yang sudah ditemani Tiwi, tangan kanannya dengan cekatan menarik ikat rambut Ryuna hingga rambut Ryuna yang tampak kusut karena sudah berkeringat akibat sibuk bantu memasak, tergerai.
“Kenapa sih, tangan kamu enggak bisa diem banget?!” omel Ryuna sambil merebut ikat rambut merahnya dari Kim.
“Tadi aku ngomong sama kamu!” lirih Kim.
“Aku tahu!” balas Ryuna penuh penekanan meski ia melakukannya dengan berbisik-bisik.
“Ya jawab jangan cuma didiemin!” bisik Kim jadi gemas sendiri kepada Ryuna.
“Aku sudah ketinggalan karena tadi nyuci gerabah sebanyak itu. Sudah, ah. Lagian, tanpa aku jawab, kamu tahu balasannya. Tuh kan ada orang yang lihat kita dan aku jadi makin ketinggalan. Kamu ya!” sebal Ryuna. Ia buru-buru lari menyusul ibu-ibu di depan sana dan makin jauh darinya.
“Masa Ryu sama sekali enggak ingat aku? Dia lupa ...?” batin Kim yang sudah langsung menghela napas dalam lantaran lagi-lagi, Sonya menghampirinya.
“Kim, kita mulai bikin pondasi, itu apa apa sih, namanya?” Sonya langsung memulai obrolan.
Kim mengangguk-angguk, mengajak Sonya ke lokasi dan itu jalan di belakang mereka agar mereka tidak membuang-buang waktu. Padahal, jelas Kim hanya beralasan agar tidak terus dipepet Sonya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Lina Suwanti
wah ternyata Kim ingat siapa Ryuna
2025-01-23
0
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
😆😝
2023-12-11
2
Susanty
bacanya mesem² sendiri akunya 🤭
2023-09-03
3