“Perasaanku jadi enggak enak. Yang awalnya kedinginan jadi sepanas ini khususnya punggungku. Tubuh Ryuna sepanas ini mirip dipanggang. Astaghfirullah ...,” batin Kim yang sekadar menggendong Ryuna, seolah menggendong benda yang sangat berat. Sebab tubuh Ryuna tak hanya mendadak jadi terasa sangat panas, tapi juga sangat berat. Sepuluh kali lipat dari berat sebelumnya. Alasan yang juga membuat Kim gemetaran nyaris mundur bahkan terjatuh andai kedua pria berpakaian serba hitam dan tak lain pengawal pribadi Kim, tak menahannya sekuat tenaga.
“Ayo, Mas, sudah langsung dibawa ke rumah ki Awet saja!” yakin pak RT.
Ajakan yang sudah langsung membuat Kim terusik. “Pak RT, ... kalau boleh saya tahu, apakah kecelakaan yang Ryuna alami, sudah sampai ke telinga ki Awet?” Ia sengaja bertanya dengan hati-hati. Sementara di hadapannya, pak RT yang masih menyikapinya dengan serius khas orang dongkol, langsung mengangguk.
“Tentu. Semuanya memang harus serba terpantau oleh ki Awet karena sejauh ini, ki Awet juga yang sudah melindungi desa kami. Termasuk alasan kita bahkan kalian selamat meski sudah jatuh dari atas juga masih karena peran ki Awet!” yakin pak RT.
“Maaf Pak RT, bukannya gimana-gimana, tapi dari tadi saya terus berlindung kepada Tuhan saya. Saya terus baca doa, selain mamah saya yang memang akan makin sibuk beribadah entah semacam puasa, baca ayat-ayat suci dan juga menunaikan salat, di setiap anggota keluarga sedang berpergian,” yakin Kim dengan santun, tapi itu sudah langsung membuat pak RT tersinggung.
“Masnya diingatkan tapi masih saja enggak ngerti juga. Sama sekali tidak menghargai kami!”
“Saya tidak bermaksud begitu loh, Pak RT. Tidak ada kalimat saya yang bermaksud tidak menghargai Pak RT,” yakin Kim masih sangat santun.
“Ya sudah lah! Pokoknya nanti kalau kenapa-kenapa, saya dan masyarakat sini tidak mau ikut campur lagi!” Setelah berucap demikian, pak RT juga berkata, “Ya sudah Bapak-Bapak sekalian, kalian dengan sendiri. Jadi sekarang, lebih baik kita pulang!”
“Assalamualaikum, Pak RT, Bapak-Bapak sekalian. Terima kasih banyak untuk perhatian sekaligus segalanya,” ucap Kim agak berseru dan masih sangat santun.
Namun dari semuanya, hanya pak RT yang tidak membalas.
“Pantas pak kades wanti-wanti ke kita buat merahasiakan hubungan kita. Soalnya warga sini memang sesensitif itu. Bayangkan andai mereka tahu alasan kita menikah meski kita kor*ban salah makan jamuan,” lirih Ryuna.
Kim yang menyimak dan sampai detik ini masih melepas kepergian rombongan pak RT, berkata, “Kamu merasa panas enggak?”
“Y-yah ...,” ucap Ryuna ragu.
“Dari tadi?” lanjut Kim memastikan.
“Y-yah ... sejak rombongan pak RT datang, mendadak panas, gatal,” balas Ryuna masih dengan suara lirih dan kali ini sambil mengangguk-angguk.
“Kenapa baru bilang?” lirih Kim menyayangkan keputusan Ryuna. Ia sengaja menoleh ke sebelah kanan selaku keberadaan wajah Ryuna hingga wajah mereka berhadapan nyaris menempel.
“Digendong begini saja, aku sudah merepotkan, apalagi kalau aku ngeluh?” lirih Ryuna benar-benar pasrah, tapi detik selanjutnya ia mendengar Kim yang melafalkan ta‘awuz.
“Allahumma innii a’uudzubika annusyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syi*rik yang aku sadari. Dan, aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui.” Setelah melafalkan doa tersebut, agar mereka dihindarkan dari perbuatan syiri*k, Kim mengajak semuanya untuk melafalkan ayat kursi, tapi dari ketiga mahasiswa yang ada di sana, hanya satu yang hafal.
“Ya sudah kalian baca surat pendek saja. Surat An Nas. Kita ke rumah pak kades,” ucap Kim.
“Aku jadi merinding, Kim!” ucap mahasiswa yang mengaku tidak hafal ayat Kursi.
“Sudah enggak apa-apa. Tenang, baca sebisanya.” Kim terus menenangkan seiring ia yang terus melantunkan doa di dalam hatinya.
Percaya tidak percaya, tubuh Ryuna perlahan tak sepanas sebelumnya. Dan percaya tidak percaya, bukannya sampai di depan rumah pak kades, mereka justru sampai di depan rumah ki Awet. Di sana, di teras rumah berkeramik putih, ada pak RT dan rombongan. Ki Awet ada di sana dan sudah langsung membuat mahasiswa yang bersama Kim, ketakutan. Ketiganya kompak melipir sekaligus mundur, berlindung di balik punggung Kim yang sampai detik ini masih menggendong Ryuna.
“Kok bisa gini? Dari tadi kita jalan jauh banget dan rasanya lamaaaaa banget, eh malah sampai di sini!” bisik ketiga mahasiswa di belakang Kim membahas keanehan yang mereka alami.
Dada Kim sudah langsung bergemuruh, jengkel dan Kim sungguh merasa tak habis pikir. Namun kemudian pemuda itu teringat cerita dari sang istri yang sempat diberi air putih oleh pria tua dan sangat diagungkan oleh warga di sana.
Di mata Kim, ki Awet sudah tampak sangat tua. Wajahnya saja sangat peot, kedua mata cekung, sementara kepalanya botak bagian depan dan terbilang luas. Pria berpakaian serba hitam itu menyapanya dengan senyum ramah. Namun di mata Ryuna, Ki Awet seperti pria paruh baya yang terbilang gagah. Sementara di mata ketiga mahasiswa yang bersembunyi di balik punggung Kim, ki Awet layaknya sebaya dengan mereka—masih sangat muda. Dan di mata kedua pengawal sekaligus mafia yang melindungi Kim dan kebetulan paham agama, ki Awet layaknya apa yang Kim lihat.
“Nih orang kayaknya telanjur kepincut ke Ryuna, makanya dia melakukan segala cara buat ambil Ryuna. Apalagi Ryuna sudah minum air putih pemberiannya walau hanya sedikit. Termasuk kecelakaan Ryuna, sepertinya juga bagian dari ulahnya,” batin Kim yang kemudian meminta Ryuna untuk kembali berdoa. “Zikir merem enggak usah lihat apa pun. Nunduk biar lebih nyaman,” pinta Kim.
“Kim, kamu jangan kasih aku ke tabib duk*un itu!” panik Ryuna berbisik-bisik.
“Enggak akan. Aku cinta mati ke kamu, sudah jangan mikir macam-macam!” yakin Kim berbisik-bisik juga.
“Kim ...!” rengek Ryuna.
“Zikir Ryuna!” balas Kim kali ini mengomel dan Ryuna langsung menurut. “Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, kan? Sekarang doa dari kalian sangat dibutuhkan!”
“Lah, ... kok malah sudah ke sini. Sini ... sini. Sini sebentar lagi pukul sepuluh. Pamali. Nih, tiga menit lagi pukul sepuluh!” ucap pak RT sangat semangat. Ia merasa sangat bahagia, bangga karena akhirnya Kim berikut rombongan mau mengikuti sarannya yaitu membawa Ryuna berobat kepada ki Awet. Bahkan karenanya, ia tak segan menghampiri Kim meski halaman rumah ki Ageng terbilang becek.
Tiga menit lagi pukul sepuluh malam? Kim dan rombongan makin tak habis pikir. Jadi dari tadi, mereka muter-muter tidak jelas dan mereka yakin karena memang ada yang tidak beres!
“Kimmmmmm!” rengek Ryuna.
“Zikir, Ryuna ....,” lembut Kim penuh penekanan di tengah tatapannya yang lurus, menatap kedua mata ki Awet penuh keteduhan. “Assalamualaikum!” lantangnya sengaja menyapa, tapi yang disapa hanya kebingungan, selain ki Awet yang juga jadi diam, tak lagi tersenyum layaknya biasa.
“Kim ... kamu enggak apa-apa, kan?” seru Sonya si paling cantik, modis, bahkan ... se*ksi.
Tak disangka, Sonya datang bersama peserta KKN lainnya, termasuk itu Tiwi. Mereka juga datang dengan warga lain termasuk pak kades. Namun dari semuanya, tidak ada wanita selain peserta KKN.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Neli Allen
umtung ini hanyalah sebuah cerita tp kita ttp swsak nafas membacanya
2023-12-09
5
lily
nah loh emang semistis itu
2023-11-27
1
devaloka
baca ginian tengah kan jadi seram 😭
2023-11-26
0